Menurut Permanarian Somad dan Tati Hernawati klasifikasi anak tuna rungu berdasarkan Anatomi Fisiologis terdiri dari tiga jenis yaitu :
a. Tunarungu Hantaran (Konduksi), ialah ketunarunguan yang di-sebabkan kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat penghantar getaran suara pada telinga bagian tengah. Ketunarunguan konduksi (conductive hearing loss) terjadi karena pengurangan intensitas bunyi yang memcapai telinga bagian dalam dimana syaraf pendengaran berfungsi. Proses pendengaran terjadi melalui masuknya suara ke liang telinga dan diteruskan ketulang malius, incus dan stapes, kemudian diteruskan ketelinga dalam. Jika getaran tidak mencapai syaraf pendengaran maka terjadi tunarungu konduksi yang disebabkan oleh gendang telinga pecah atau rusaknya tulang pendengaran atau adanya gangguan lain padad telinga tengah. Tunarungu konduksi jarang menyebabkan kehilangan kemampuan mendengar lebih dari 60 dB atau 70 dB. Tunarungu konduksi dapat segera diatasi atau dikurangi secara efektif melalui amflikasi atau alat bantu dengar.
b. Tunarungu Syaraf (Sensorineural), ialah tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat-alat pendengaran bagian dalam syaraf pendengaran yang menyalurkan getaran kepusat pendengaran pada lobos temporalis.
c. Tunarungu Campuran, adalah kelainan pendengaran yang disebabkan pada penghantar suara dan kerusakan pada syaraf pendengaran.
SUMBER :
Permanarian Somad, Orthopedagogik Anak Tunarungu, (Jakarta : Depdikbud, 1996), h. 32
KONTRIBUTOR :
Admin/Webmaster
Leave a Reply