Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif

Supriadi, M.Pd

Supriadi, M.Pd

Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Kondusif

dan Pengelolaan Kelas

 

  1. PENDAHULUAN

Kegiatan pembelajaran yang baik, tidak terlepas dari kondisi lingkungan pembelajaran yang kondusif dan mendukung terjadinya proses belajar mengajar yang baik dan efektif. Kondisi lingkungan yang dimaksud di sini termasuk kondisi lingkungan di sekolah itu sendiri maupun kondisi pendukung berupa lingkungan sekitar sekolah berada.

Sekolah diharapkan sebagai tempat yang nyaman bagi terjadinya proses pembelajaran, kondisi ini tidak lepas dari peran kepala sekolah dan guru untuk menciptakannya, keberadaan kepala sekolah dan guru memegang peranan penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Optimalisasi proses pembelajaran menunjukan bahwa keterlaksanaan serangkaian kegiatan pembelajaran (instructional activities) yang sengaja direkayasa oleh pendidik dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam memfasilitasi peserta didik sampai dapat meraih hasil belajar sesuai harapan. Hal ini dimungkinkan, karena berbagai macam bentuk interaksi yang terbangun memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar (learning experiences) dalam rangka menumbuh-kembangkan kemampuannya (kompetensi), yaitu spiritual, mental: intelektual, emosional, sosial, dan fisik (indera) atau kognitif, afektif, dan psikomotorik.

  1. PENGERTIAN LINGKUNGAN BELAJAR

Lingkungan belajar ialah segala sesuatu yang terdapat di tempat belajar Hutabarat (1986). Sedangkan Nasution (1993), membagi lingkungan belajar menjadi dua yaitu lingkungan alami dan lingkungan sosial. Lingkungan alami seperti keadaan suhu, kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia dan representatifnya maupun berwujud hal-hal lain. Prestasi belajar itu salah satunya dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Menurut Dunn dan Dunn (dalam Mudhofir, 1999) kondisi belajar dapat mempengaruhi konsentrasi, pencerapan, dan penerimaan informasi. Senada dengan hal di atas Rachman (1998/1999) menyatakan lingkungan fisik tembat belajar mempunyai pengaruh penting terhadap hasil pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan belajar berpengaruh terhadap hasil belajar.

Belajar adalah kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi. Tempat dan lingkungan belajar yang nyaman akan memudahkan peserta didik untuk berkonsentrasi. Dengan mempersiapkan lingkungan yang tepat, peserta didik akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan dapat menikmati proses belajar yang peserta didik lakukan.

Menata lingkungan belajar pada hakekatnya melakukan pengelolaan lingkungan belajar. Aktivitas pembelajar dalam menata lingkungan belajar lebih terkonsentrasi pada pengelolaan lingkungan belajar di dalam kelas. Oleh karena itu pembelajar/guru dalam melakukan penataan lingkungan belajar di kelas tiada lain melakukan aktivitas pengelolaan kelas atau manajemen kelas (classroom management). Menurut Rianto (2007:1), pengelolaan kelas merupakan upaya pendidik untuk menciptakan dan mengendalikan kondisi belajar serta memulihkannya apabila terjadi gangguan dan/atau penyimpangan, sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.

Indra Djati Sidi (2005:148–150), menegaskan dalam menata lingkungan belajar di kelas yang menarik minat dan menunjang peserta didik dalam pembelajaran erat kaitannya dengan keadaan lingkungan fisik kelas, pengaturan ruangan, pengelolaan peserta didik dan pemanfaatan sumber belajar, pajangan kelas, dan lain sebagainya.” Oleh karena itu dapat ditegaskan lebih lanjut bahwa secara fisik lingkungan belajar harus menarik dan mampu membangkitkan gairah belajar serta menghadirkan suasana yang nyaman untuk belajar. Kelas belajar harus bersih, tempat duduk ditata sedemikian rupa agar anak bisa melakukan aktivitas belajar dengan bebas. Dinding kelas dicat berwarna sejuk, terpampang gambar-gambar atau foto yang mendukung kegiatan belajar seperti gambar pahlawan, lambang negara, presiden dan wakil presiden, kebersihan lingkungan, famlet narkoba, dan sebagainya.

Salah satu aspek penting keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh pembelajar/guru menurut Muhammad Saroni (2006:81-82), adalah penciptaan kondisi pembelajaran yang efektif. Kondisi pembelajaran efektif adalah kondisi yang benar-benar kondusif, kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung kelancaran serta kelangsungan proses pembelajaran.

Indra Djati Sidi (1996) dalam Cope (No. 02 tahun VI Desember 2002 : 36), menegaskan bahwa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran, setiap pembelajar harus dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, suasana interaksi pembelajaran yang hidup, mengembangkan media yang sesuai, memanfaatkan sumber belajar yang sesuai, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran, dan lingkungan belajar di kelas yang kondusif. Agar pembelajaran benar-benar kondusif maka pembelajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam menciptakan kondisi pembelajaran tersebut. Di antara yang dapat diciptakan pembelajar untuk kondisi tersebut adalah penciptaan lingkungan belajar. Lingkungan belajar menurut Muhammad Saroni (2006:82-84), adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Lingkungan ini mencakup dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial, kedua aspek lingkungan tersebut dalam proses pembelajaran haruslah saling mendukung, sehingga peserta didik merasa kerasan di sekolah dan mau mengikuti proses pembelajaran secara sadar dan bukan karena tekanan ataupun keterpaksaan.

Berbagai penelitian lingkungan belajar di atas dapat bahwa lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Dengan demikian lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar, dan dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik. Menurut I Made Alit Mariana (2005:13), lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi untuk kesuksesan seluruh peserta didik. Lingkungan tersebut mengacu pada ruang secara fisik tempat belajar, lingkungan sosial dan psikologi peserta didik yang mendorong belajar, perlakuan dan etika dalam menggunakan makhluk hidup, dan keamanan (dalam area belajar yang berhubungan dengan pembelajaran sains).

Berdasarkan uraian pendapat tentang lingkungan belajar tersebut di atas maka dapat disarikan bahwa lingkungan belajar yang dikelola adalah terutama bagaimana mengemas suasana kelas belajar, kelas belajarnya, dan sumber-sumber belajar yang ada di sekolah ataupun yang dapat diadakan dari dibuat/alam lingkungan sekolah. Lingkungan belajar dalam hal terutama di kelas adalah sesuatu yang diupayakan atau diciptakan oleh guru agar proses pembelajaran kondusif dapat mencapai tujuan pembelajaran yang semestinya. Lingkungan belajar di kelas sebagai situasi buatan yang berhubungan dengan proses pembelajaran atau konteks terjadinya pengalaman belajar, dapat diklasifikasikan yang menyangkut : 1) lingkungan (keadaan) fisik, dan 2) lingkungan sosial.

Dengan demikian lingkungan belajar merupakan situasi buatan yang menyangkut lingkungan fisik maupun yang menyangkut lingungan sosial. Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikain rupa, sehingga mampu memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kegiatan belajar. Selanjutanya lingkungan belajar dapat dilihat dari interaksi dalam proses pembelajaran yang merupakan konteks terjadinya pengalaman belajar,

  1. MACAM-MACAM LINGKUNGAN

Lingkungan belajar tersebut dapat berupa lingkungan fisik dan lingkungan non fisik.

  1. Lingkungan Fisik

Menurut Muhammad Saroni (2006:82-83), yang intinya bahwa lingkungan fisik adalah lingkungan yang memberi peluang gerak dan segala aspek yang berhubungan dengan upaya penyegaran pikiran bagi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran yang sangat membosankan. Lingkungan fisik ini meliputi saran prasarana pembelajaran yang dimiliki sekolah seperti lampu, ventilasi, bangku, dan tempat duduk yang sesuai untuk peserta didik, dan lain sebagainya. Hal yang senada Suprayekti (2003:18), juga menegaskan bahwa “lingkungan fisik yaitu lingkungan yang ada di sekitar peserta didik baik itu di kelas, sekolah, atau di luar sekolah yang perlu di optimalkan pegelolaannya agar interaksi belajar mengajar lebih efektif dan efisien. Artinya lingkungan fisik dapat difungsikan sebagai sumber atau tempat belajar yang direncanakan atau dimanfaatkan. Yang termasuk lingkungan fisik tersebut di antanya adalah kelas, laboratorium, tata ruang, situasi fisik yang ada di sekitar kelas, dan sebagainya.”

  1. Lingkungan Sosial

Muhammad Saroni (2006:83), menjelaskan bahwa: ”lingkungan sosial berhubungan dengan pola interaksi antarpersonil yang ada di lingkungan sekolah secara umum. Lingkungan sosial yang baik memungkinkan para peserta didik untuk berinteraksi secara baik, peserta didik dengan peserta didik, guru dengan peserta didik, guru dengan guru, atau guru dengan karyawan, dan peserta didik dengan karyawan, serta secara umum interaksi antar personil. Dan kondisi pembelajaran yang kondusif hanya dapat dicapai jika interaksi sosial ini berlangsung secara baik. Lingkungan sosial yang kondusif dalam hal ini, misalnya adanya keakraban yang proporsional antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.” Oleh karena itu dalam lingkungan sosial kelas hendaknya juga diciptakan sekondusif mungkin, agar suasana kelas dapat digunakan sebagai ajang dialog mendalam dan berpikir kritis yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip manusiawi, empati, dan lain-lain, demokratis serta religius. Selanjutnya lingkungan non fisik/lingkungan sosial dapat dikembangkan fungsinya yaitu untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif seperti adanya musik yang digunakan sebagai latar pada saat interaksi proses pembelajaran berlangsung. Musik tersebut digunakan menjadikan suasana belajar terasa santai, peserta didik dapat belajar dan siap terkonsentrasi.

  1. LINGKUNGAN BELAJAR
  2. Lingkungan Rumah

Lingkungan rumah terutama orang tua, memegang peranan penting serta menjadi guru bagi anak dalam mengenal dunianya. Orang tua adalah pengasuh, pendidik dan membantu proses sosialisasi anak. Utami Munandar (1999) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka semakin baik prestasi anak. Termasuk juga sejauh mana keluarga mampu menyediakan fasilitas tertentu untuk anak (televisi, internet, dan buku bacaan).

Lingkungan belajar di rumah mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan belajar anak di rumah, yang pada akhirnya mempengaruhi prestasi belajar anak di sekolah. Lingkungan belajar menurut Pidarta (1995) adalah benda-benda disekitar tempat belajar itu yang teratur rapi dan sedap dipandang serta lengkap peralatan belajarnya.

  1. Ruang Belajar

Pada umumnya anak-anak tidak mempunyai ruangan belajar khusus, yaitu suatu ruangan belajar milik pribadi anak, sehingga kegiatan belajar biasanya dilaksanakan di ruang keluarga atau di ruang tidur anak. The Liang Gie (1994) “kalau ruang studi khusus tidak dapat disediakan, maka ruang tidur dapat juga dipakai untuk keperluan studi sekaligus”.

Sebaiknya anak-anak mempunyai ruang belajar khusus walaupun tidak bagus, karena dengan memiliki ruang belajar pribadi peralatan belajar anak akan lebih aman dan tidak diganggu orang lain. Dengan memiliki ruang belajar pribadi anak akan merasa bangga, sebagaimana dinyatakan oleh Semiawan (2002) ” suatu ruang atau pojok yang nyaman dan strategis, meskipun dengan meja dan kursi yang sederhana yang khusus kepunyaan anak, akan sangat menjadikannya merasa memilikinya” Di samping anak merasa memiliki dengan ruang belajarnya, di ruang ini anak dapat belajar lebih leluasa untuk menambah pengetahuan lain yang disukai. Semiawan (2002) mengungkapkan “di tempat ini ia dapat melepaskan dirinya secara bebas dalam menjelajahi khazanah ilmu pengetahuan, apalagi kalau diserta rak buku yang rapi”

  1. Penerangan

Ruang belajar harus mendapat cahaya baik cahaya mata hari mupun cahaya dari lampu listrik. Cahaya sangat penting bagi kegiatan belajar, dengan cahaya kita dapat membaca dan menulis dengan jelas. De Porter (2001) menyatakan, ruangan anda harus mendapatkan cukup cahaya supaya mata anda tidak cepat lelah. Cahaya mata hari hendaknya datang dari sebelah kiri agak kebelakang maksudnya agar apa yang kita tulis dan kita baca tidak gelap karena terhalang oleh tangan kita dan agak kebelakang agar tidak menyilaukan. Sebagaimana yang disarankan The Liang Gie (1994) cahaya yang berasal dari mata hari hendaknya diusahakan agar datang dari arah kiri agak ke belakang. Pendapat senada dikemukakan oleh Rachman (1999) dalam mengatur cahaya penerangan mestinya harus datang dari sebelah kiri agar tidak menyilaukan.

  1. Ventilasi dan Suhu Udara

Ventilasi atau pertukaran udara merupakan hal penting dalam ruang belajar. Ventilasi dapat menjadikan udara di ruangan menjadi bersih dan segar. Ruangan belajar dengan udara yang bersih dan segar akan menjadi pendukung kegiatan belajar yang nyaman. Sebagaimana Rachman (1998/1999) mengatakan “suhu, ventilasi dan penerangan adalah aset penting untuk teriptanya belajar yang nyaman”. Pertukaran udara dapat melalui jendela maupun lubang ventilasi.

Suhu udara di ruangan belajar yang ber AC akan mudah disesuaikan dengan yang kita kehendaki, namun bagi kebanyakan orang suhu dapat diatur melalui jendela, yaitu bila panas jendela dibuka dan bila dingin jendela ditutup. Mengenai suhu yang nyaman dan sejuk untuk belajar Sudarmanto (1995) menyatakan.

  1. Kebisingan

Tempat belajar sebaiknya tenang tidak banyak gangguan suara bising dan gaduh. Suara bising dan gaduh dapat mengganggu konsentrasi belajar. Slameto (1995) “Rumah yang bising dengan suara radio, tape recorder atau TV pada waktu belajar, juga mengganggu belajar anak, terutama untuk konsentrasi. Hal senada dikemukakan Sudarmanto (1995) suara-suara gaduh-radio, TV- membuat perhatian tidak sepenuhnya pada bahan yang dipelajari. Reaksi seseorang berbeda-beda terhadap pengaruh lingkungan, ada yang terganggu dengan suara-suara bising di sekitarnya, ada yang tidak menurut Dunn dan Dunn (dalam Mudhofir, (1999) seperti pengaruh kondisi lingkungan tempat belajar terhadap seseorang dapat mengakibatkan reaksi yang berbeda-beda. Ada anak – anak lebih suka (comfortable) belajar sambil mendengarkan musik dari radio atau tape corder di sampingnya, dengan volume yang besar. Walaupun reaksi setiap individu berbeda-beda Sudarmanto (1995) mengingatkan bahwa energi yang dikeluarkan akan lebih banyak karena perhatian terbagi dua.

  1. Perabotan belajar

Perabotan yang disediakan dan ditata dengan baik sangat mendukung terhadap hasil belajar. Mengenai jumlah dan jenis perabotan belajar beberapa ahli mengemukakan berbeda-beda, namun pada intinya sama yaitu peralatan yang menunjang belajar. The Liang Gie (1994) perabotan belajar yaitu meja studi, kursi belajar, dan lemari buku serta kemungkinan perabot mebel lainnya yang diperlukan untuk studi khusus, misalnya meja gambar. Sedangkan Djamarah (2002) Fasilitas dan perabot belajar yang dimaksud tentu saja berhubungan dengan masalah materil berupa kertas buku catatan, meja dan kursi belajar, mesin ketik, kertas karbon, dan sebagainya. Sedang menurut Stainback (1999) perabotan pada lingkup belajar meliputi kursi dan bangku.

  1. Perlengkapan Belajar

Dengan tersedianya perlengkapan belajar seseorang dalam belajar tidak begitu mengalami kesulitan bila memerlukan peralatan. Menurut The Liang Gie (1995) perlengkapan studi merupakan faktor kebendaan. Kalau perlengkapan studi tidak ada manfaatnya, sebaiknya perlengkapan itu tidak dipakai saja. Perlengkapan belajar banyak ragamnya seperti balpoint, karet penghapus, buku tulis, buku notes, pensil, pengaris, dan sebagainya.

  1. Tanaman dan Pohon Pelindung

Tanaman dan pohon pelindung bila kita pelihara dengan baik akan bermanfaat bagi manusia terutama dapat membuat lingkungan belajar menjadi sejuk dan nyaman. Oleh karena itu pohon pelindung harus ditanam dan diatur agar memenuhi fungsinya yaitu untuk keindahan, penyejuk, menghasilkan oksigen, melindungi sengatan mata hari. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Pidarta di Australia (1995) tentang manfaat pohon-pohon pelindung, yang sengaja diatur agar memenuhi fungsinya.

  1. Lingkungan Sekolah

Dalam proses pembelajaran, pengajar tidak lagi hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi peserta didik sendiri yang harus membangun pengetahuannya (knowledge is constructed by human). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap diterima dan diingat oleh peserta didik. Peserta didik harus mengonstruksi pengetahuannya sendiri dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Peserta didik perlu dibiasakan untuk memunculkan ide-ide baru, memecahkan masalah, dan menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya serta menciptakan dirinya menjadi diri sendiri (learning to be).

Belajar adalah merupakan proses aktif untuk membangunkan pengetahuan, dalam ide-ide konstruktif, biarkan peserta didik mengonstruksi sendiri pengetahuannya. Hal ini sejalan dengan esensi konstruktivisme bahwa peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain.

Apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Melihat konsep dasar tersebut, pembelajaran saat ini setidaknya menggeser paradigma dari pembelajaran yang berdasar kacamata pengajar menjadi pembelajaran yang berdasarkan kacamata peserta didik. Pengajaran merupakan suatu proses membangunkan pengetahuan dan mengkomunikasikan pengetahuan. Artinya, saat ini bukan bagaimana pengajar mengajar, tetapi bagaimana agar peserta didik dapat belajar. Pengertian belajar, menurut konstruktivisme, adalah perubahan proses mengonstruksi pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata yang dialami peserta didik sebagai hasil interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan yang mereka peroleh sebagai hasil interpretasi pengalaman yang disusun dalam pikirannya. Berpikir reflektif ini menjadi dasar proses konseptualisasi di dalam memahami dan mengaplikasikan pengalaman yang didapat pada situasi dan kontek yang lain. Secara psikologis, tugas dan wewenang pembelajar adalah mengetahui karakteristik peserta didik, memotivasi belajar, menyajikan bahan ajar, memilih metode belajar, dan mengatur kelas.

Menurut Ormrod (2006) untuk menciptakan peserta didik belajar maka perlu diciptakan lingkungan sekolah yang baik adalah lingkungan yang nyaman sehingga anak terdorong untuk belajar peserta didik berprestasi serta membangun pengetahuannya sendiri. Ada beberapa karakteristik lingkungan sekolah yang nyaman sebagai tempat belajar (Burstyn & Stevens dalam Ormrod, 2006), yaitu:

  • Sekolah mempunyai komitmen untuk mendukung semua usaha peserta didik agar sukses baik dalam bidang akademik maupun sosial.
  • Adanya kurikulum yang menantang dan terarah.
  • Adanya perhatian dan kepercayaan peserta didik serta orang tua terhadap sekolah.
  • Adanya ketulusan dan keadilan bagi semua peserta didik, baik untuk peserta didik dengan latar belakang keluarga yang berbeda, beda ras maupun etnik.
  • Adanya kebijakan dan peraturan sekolah yang jelas. Misalnya panduan perilaku yang baik, konsekuensi yang konsisten, penjelasan yang jelas, kesempatan menjalin interaksi sosial serta kemampuan menyelesaikan masalah.
  • Adanya partisipasi peserta didik dalam pembuatan kebijakan sekolah.
  • Adanya mekanisme tertentu sehingga peserta didik dapat menyampaikan pendapatnya Secara terbuka tanpa rasa takut.
  • Mempunyai tujuan untuk meningkatkan perilaku prososial seperti berbagi informasi, Membantu dan bekerja sama.
  • Membangun kerja sama dengan komunitas keluarga dan masyarakat.
  • Mengadakan kegiatan untuk mendiskusikan isu-isu menarik dan spesial yang berkaitan dengan peserta didik.
  1. PENGELOLAAN KELAS

Sekolah sebagai organisasi kerja terdiri dari beberapa kelas, baik yang bersifat paralel maupun yang menunjukkan penjenjangan. Setiap kelas merupakan bentuk kerja yang berdiri sendiri dan berkedudukan sebagai sub sistem yang menjadi bagian dari sebuah sekolah sebagai total sistem. Pengembangan sekolah sebagai total sistem atau satu kesatuan organisasi, sangat tergantung pada penyelenggaraan dan pengelolaan kelas. Baik di lingkungan kelas masing-masing sebagai unit kerja yang berdiri sendiri maupun dalam hubungan kerja antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.

Oleh karena itu setiap guru kelas atau wali kelas sebagai pimpinan menengah (middle manager) atau administrator kelas, menempati posisi dan peran yang penting, karena memikul tanggung jawab mengembangkan dan memajukan kelas masing-masing yang berpengaruh pada perkembangan dan kemajuan sekolah secara keseluruhan, setiap murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktivitas kelas, harus didayagunakan secara maksimal agar sebagai suatu kesatuan setiap kelas menjadi bagian yang dinamis di dalam organisasi sekolah.

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsure-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik. Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode  mengajar yang tepat sehingga mampu mengelola kelas dengan baik agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar.

Keharmonisan hubungan guru dan anak didik, tingginya kerjasama diantara siswa tersimpul dalam bentuk interaksi. Lahirnya interaksi yang optimal bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas. (Djamarah 2006:179)

Pengelolaan Kelas adalah berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru agar mampu mengelola kelas dengan baik supaya tujuan pembelajran kita tercapai serta dapat mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar. Sedangkan untuk pengajaran adalah segala jenis kegiatan yang dengan sengaja kita lakukan dan secara langsung dimaksudkan untuk mencapai tujuan- tujuan khusus pengajaran.

  1. PENGERTIAN DAN KOMPONEN PENGELOLAAN KELAS

Definisi pertama didasarkan pada prinsip-prinsip pengubahan tingkah laku (behavioral modification). Dalam kaitan ini pengelolaan kelas dipandang sebagai proses pengubahan tingkah laku siswa. Peranan guru ialah mengembangkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement). Definisi yang didasarkan pada pandangan ini dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan.

Definisi kedua, memandang pengelolaan kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif didalam kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci. Dengan demikian peranan guru ialah mengembangkan iklim sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal yang sehat. Dalam kaitan ini definisi keempat dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif.

Definisi ketiga, bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap sebagai proses individual. Peranan guru ialah mendorong berkembangnya dan berprestasinya sistem kelas yang efektif. Definisi kelima dapat berbunyi: pengelolaan kelas ialah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan mempertahankan organisasi kelas yang efektif.

Definisi diatas masing-masing bertitik tolak dari dasar pandangan yang berbeda. Manakah yang terbaik diantara ketiga definisi itu? Dari ketiga pandangan itu tidak satupun pernah dibuktikan sebagai pandangan yang terbaik. Oleh karena itu adalah bermanfaat apabila guru mampu membentuk suatu pandangan yang bersifat pluralistic, yaitu pandangan yang merangkum tiga dasar pandangan itu (pandangan tentang pengubahan tingkah laku, iklim sosio-emosional, dan proses kelompok).

  1. KOMPONEN KOMPONEN PENGELOLAAAN KELAS
  2. Kondisi dan Situasi Belajar yang Mendukung
  3. Kondisi Fisik
  • Ruangan tempat berlangsungnya proses belajar mengajar
    • Jenis Kegiatan (didalam kelas / di ruang Praktikum )
    • Jumlah Siswa yang melakukan kegiatan
  • Pengaturan tempat duduk
    • Berbaris
    • Pengelompokan / individu
    • Membentuk setengah lingkaran / lingkaran penuh
    • Berbentuk Lingkaran
    • Ruang kelas yang normal
  • Ventilasi dan pengaturan cahaya

Ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa anatara lain jendela yang cukup besar agar cahaya matahari masuk dan udara sehat.

  • Pengaturan penyimpanan barang – barang

Penyimpanan barang hendaknya disimpan ditempat khusus yang mudah dicapai, dan diatur sedemikian rupa sehingga barang – barang tersebut segera dapat digunakan

  1. Kondisi Emosional
  • Tipe Kepemimpinan

Type Otoriter (dictator) yang dengan kondisi ini siswa hanya akan aktif kalau ada guru sedangkan kalau tidak ada maka tidak akan aktif. Aktivitas belajar mengajar sangat tergantung pada guru dan menuntut banyak perhatian dari guru.

Type demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan antara siswa dan guru. Sikap ini dapat membantu. Menciptakan iklim yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi proses belajar mengajar yang optimal.

  • Sikap Guru

Sikap guru menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar dan bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa dapat diperbaiki

  • Suara Guru

Hendaknya dengan suara yang rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh.

  1. Administrasi teknik
  • Absensi
  • Tempat bimbingan siswa
  • Tempat Baca siswa
  • Tempat Sampah
  • Catatan Pribadi Siswa

 

  1. DIMENSI PENGELOLAAN KELAS
  2. Dimensi Pencegahan

Dimensi Pencegahan (preventif) dapat merupakan tindakan guru dalam mengatur siswa dan peralatan atau format belajar mengajar yang tepat. Dalam rangka pembinaan pengelolaan di sekolah kita dapat menempuh berbagai usaha anatara lain :

  1. Meningkatkan Kesadaran diri dari guru
  2. Meningkatkan Kesadaran Siswa
  3. Sikap Tulus daru guru
  4. Menemukan dan pengenalan alternatif pengelolaan
  5. Membuat Kontrak Sosial
  6. Dimensi Tindakan (action)

Dimensi tindakan merupakan kegiatan yang dilakukan guru bila terjadi masalah pengelolaan. Adapun hal yang bisa dijadika pertimbangan bagi guru adalah :

  1. Lakukan tindakan dan bukan Ceramah
  2. Gunakan “Kontrol” Kerja
  3. Nyatakan peraturan dan konsekuensinya
  4. Dimensi Penyembuhan
  5. Dimensi Penyembuhan

Dimaksudkan untuk membina kontrak social yang tidak jalan. Bentuk dari situasi ini :

–       Siswa melanggar sejumlah peraturan sekolah

–       Siswa menolak konsekuensi

–       Siswa menolak sama sekali aturan khusus yang sudah dibuat

–       Dan lainnya

 

  1. KETERAMPILAN PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN KONDISI BELAJAR
  2. Sikap Tanggap, sikap ini dapat dilakukan dengan cara :
  3. Memandang Secara Seksama

Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik kontak pandang dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerjasama,dan menunjukkan  rasa persahabatan.

  1. Gerak Mendekati

Gerak guru adalah posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, minat, dan perhatian guru yang duberikan terhadap tugas serta aktivitas anank didik. Gerak mnedekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan hukuman.

  1. Memberi Pertanyaan

Pertanyan guru terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa  tanggapan, komentar, ataupun yang lain.

  1. Memberi Reaksi terhadap Gangguan dan Kekacauhan

Teguran perlu diberikan oleh guru jika suasana kelas tidak tenang. Teguran guru memberikan tanda bahwa guru ada bersama anak didik. Teguran haruslah diberikan pada saat yang tepat dan sasaran yang tapat pula, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan  tingkah laku.

  1. Membagi Perhatian
  2. Visual

Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama sedemikian rupa sehingga ia dapat melirik ke kegiatan kedua, tanpa kehilangan pehatian pada kegiatan yang pertama. Kontak pandangan ini bias dilakukan terhadap kelompok anak didk atau anak didik secara individual.

  1. Verbal

Guru dapat memberikan komentar, penjelasan, pertanyaan, dan sebagainya terhadap aktifitas anak didik  pertama sementara ia memimpin dan terlibat supervise pada aktivitas anak didik yang lain.

  1. Pemusatan Perhatian Kelompok
  2. Memberi Tanda

Dalam memulai proses belajar mengajar  guru  memusatkan pada peerhatian kelompok terhadap suatu tugas dengan  memberi beberapa tanda, misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan objek, pertanyaan, atau topic, dengan memilih anak secara random untuk meresponsnya.

  1. Pertanggungan Jawab

Guru meminta pertanggung jawaban anak didik atas kegiatan dan  keterlibatannya dalam suatu kegiatan. Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggungjawab terhadap kegiatan sendiri, maupun kegiatan kelompoknya. Misalnya dengan meminta kepada anak didik untuk memperagakan, melaporkan hasil dan memberikan tanggapan.

  1. Pengarahan dan Petunjuk yang Jelas

Guru harus seringkali memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga tidak terajadi  kebingungan  pada diri anak didik. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.

  1. Penghentian

Tidak semua gangguan tingkah laku dapat dicegah atau di hindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menanggulangi terhadap anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu untuk aktif dalam kegiatan di kelas. Bila anak didik menyela kegiatan anak didik lain dalam kelompoknya, guru secara verbal mengomeli atau menghentikan gangguan anak didik itu.

Teguran yang dilakukan guru adalah salah satu cra untuk untuk menghentikan gangguan anak didik. Teguran verbal yang efektif adalah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  • tegas dan jelas tertuju kepda anak didik yang mengganggu serta kepada tingkah lakunya yang menyimpang.
  • Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau mengandung penghinaan.
  • Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.
  1. Penguatan

Untuk menanggulangi anak didik yang menggangu atau tidak melakukan tugas, dapat dilakukan dengan memberikan penguatan yang di pilih ssuai dengan masalahnya. Penguatan untuk mengubah tingkah laku merupakan strategi remedial untuk mengatasi anak didik yang terus mengganggu atau tidak melakukan tugas seperti :

  • dengan memberikan penguatan positif bila anak didik telah menghentikan gangguan atau kembali pad atugas yang di minta.
  • Dengan memberikan penguatan positf terhadap anak didik yang lain yang tidak mengganggu dan di pakai sebagai model tingkah laku yang baik bagi anak didik yang suka mengganggu.
  1. Kelancaran

Kelancaran atau  kemajuan anak didk dalam belajarsebagai indicator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan di kelas. Ada beberapa kesalahan yang harus dihindari oleh guru.

  • campur tangan yang berlebihan ( teacher instruction )
  • kelenyapan (fade away )
  • penyimpangan ( degression )
  • ketidak tepatan berhenti dan memulai kegiatan
  1. Kecepatan (pacing)

Kecepatan disini diartikan  sebagai tingkat kemajuan yang d capai anak didik dalam pelajaran. Yang perlu dihindari oleh guru adalah kesalahan menahan kecepatan yang tidak perlu, atau menahan penyajian bahan pelajaran yang sedang berjalan, atau  kemajuan tugas. Ada dua hal kesalahan kecepatan yang harus dihindari bila kecepatan yang tepat mau dipertahankan. Yaitu :

  • Bertele-tela (mengulang, memperpanjang, mengubah-ubah )
  • Mengulang penjelasan yang tidak perlu
  1. Keterampilan Pengembangan Kondisi Belajar
    1. Modifikasi Tingkah Laku

Guru menganalisis tingkah laku anak didik yang mengalami  masalah atau kesulitan dan berusaha memodifikasi tingkah laku tersebut dengan mengiplikasikan pemberian penguatan secara sistematis.

  1. Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok

Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara :

  1. memperlancar tugas-tugas : mengusahakan terjadinya kerjasama yang baik dalam pelaksanaan tugas
  2. memelihara kegiatan-kegiatan kelompok : memelihara dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul.
  1. INDIKATOR PENGELOLAAN KELAS YANG BERHASIL

Ada beberapa indicator yang bisa digunakan sebagai tolak ukur bahwa pengelolaan kelas dapat dikatakan berhasil adalah sebagai berikut :

  1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas
  2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.
  3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.
  4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
  5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)
  6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari

Dalam prosesnya ada juga guru yang belum pandai dalam mengelola kelas, sehingga tujuan pembelajarannya tidak bisa tercapai. Disini akan dijelaskan hal-hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak :

  1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.
  2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur

 

  1. KESIMPULAN

Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah suatu proses dalam mencapai tujuan pengajaran. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik. Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode  mengajar yang tepat sehingga mampu mengelola kelas dengan baik agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar. Pengelolaan Kelas adalah berbagai kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru agar mampu mengelola kelas dengan baik supaya tujuan pembelajran kita tercapai serta dapat mempertahankan kondisi yang optimal bagai terjadinya proses belajar mengajar. Adapun Komponen Komponen Pengelolaan Kelas meliputi : Kondisi dan Situasi Belajar yang Mendukung, Administrasi teknik yang sistemik, Dimensi pengelolaan kelas yang pas dan Disiplin

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam