Tes Objektif dan Esay

Tes Objektif dan Esay

 

Tujuan, type dan karakteristik

Tes Objektif

Istilah tes objektif sesuai dengan sifat tes, yaitu jelas, terhindar dari unsur rekayasa, dan nilai yang dihasilkan apa adanya dan siapa saja mudah melakukannya (Anwar, 2009: 30).

Tujuan tes objektif, adalah untuk menilai hasil belajar (Sudjana, 1995: 44),  yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau oleh dosen kepada mahasiswa, dalam jangka waktu tertentu (Purwanto, 1994: 33), dan dalam pemeriksaannya dilakukan secara obyektif (Arikunto, 1997: 165).

Bentu-bentuk (Sudjana, 1995: 44) atau type tes objektif antara lain: pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, dan melengkapi atau jawaban singkat. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menggunakan bentuk tes, yaitu: ketersediaan waktu, kemampuan siswa, target pembelajaran, dan kemampuan kognitif apa yang akan digali dari siswa atau mahasiswa (Anwar, 2009: 30—31).

Tes Esay

Kubiszyn dan Borich dalam Anwar (2009: 71) soal esay, adalah soal yang menuntut jawaban dengan kemampuan kognitif yang kompleks. Linn dan Grounlund dalam Anwar (2009: 71), soal esay adalah, soal yang digunakan untuk mengukur (tujuan) pencapaian hasil belajar aspek yang kompleks. Dan dianjurkan perancang tes mengukur kemampuan peserta tes dalam bentuk analisis, mengorganisasi dan mengekspresikan ide-ide tentang sesuatu (Anwar, 2009: 71). Disebut juga essay examination merupakan alat penilaian hasil belajar, dalam bentuk pertanyaan tertulis yang menuntut jawaban: menguraikan, menjelaskan, membandingkan, memberi alasan, dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri atau mengekspresikan gagasan melalui bahasa tulisan (Sudjana, 1995: 35).

Perbedaan tes objektif dan tes esay adalah (Purwanto, 1994: 36):

Perbedaan Tes Objektif dan Tes Esay
Ditinjau dari Tes Objektif Tes Esay
Taksonomi hasil yang diukur
  • Baik untuk mengukur hasil belajar tingkat knowledge, comprehension, aplikasi, dan analisis.
  • Tidak cocok untuk tingkat sintesis dan evaluasi.
  • Tidak efisien untuk knowledge.
  • Baik untuk komprehensif, aplikasi dan analisis.
  • Sangat baik untuk tingkat sintesis dan evaluasi.
Sampling isi/bahan Karena menggunakan item jumlah yang banyak, dapat mencakup atau mewakili bahan pelajaran yang luas pula. Karena menggunakan jumlah soal yang relatif kecil, hanya mencakup bahan yang terbatas (tidak dapat mewakili isi bahan yang luas).
Persiapan membuat soal Mempersiapkan item adalah yang sukar dan memakan waktu. Mempersiapkan item yang baik adalah sukar, tetapi lebih mudah daripada mempersiapkan soal objektif.
Penskoran Objektif, sederhana, dan keandalannya tinggi. Subyektif, sukar, dan kurang andal.
Kemungkinan Mendorong siswa untuk mengingat, menginterpretasikan, dan menganalisis ide-ide orang lain. Mendorong siswa untuk mengorganisasi dan mengintegrasikan ide-idenya sendiri.

 

 

 

 

  1. Tes Objektif

Karakteristik

Tes Objektif
Menurut

Ahli Evaluasi

Karakteristik
Purwanto (1994: 34, 36)
  • Ditinjau dari taksonomi hasil yang diukur adalah

untuk mengukur hasil belajar tingkat pengetahuan,

pemhaman, aplikasi, dan analisis.

  • Dari segi isi bahan dapat mencakup bahan pelajaran

yang luas karena jumlah item yang banyak.

  • Dari persiapan membuat soal, sukar dan memakan waktu. • Penskoran objektif, sederhana, dan keandalannya tinggi.
  • Kemungkinan mendorong siswa untuk mengingat,

menginterpretasikan, dan menganalisis ide-ide orang lain.

  • Dinilai oleh siapapun akan menghasilkan skor yang

sama.

  • Jawabannya pendek, ringkas (short-answer test).
  • Si penjawab soal hanya memilih, mengisi,

menjodohkan, dengan menggunakan tanda-tanda

seperti tertera dalam soal atau suruhan.

Sudjana (1995: 44)
  • Mudah menilai jawaban.
  • Luas bahan yang dapat dicakup dalam tes.
Arikunto (1997: 166)
  • Soal lebih banyak daripada tes essay.
  • Kadang-kadang untuk tes yang berlangsung 60 menit

dapat diberikan 30 – 40 butir soal.

Hamalik (1989: 50—51)
  • Tersedia sejumlah kemungkinan jawaban.
  • Memilih salah satu jawaban yang benar dan terbaik.
  • Alternatif jawaban yang lain berfungsi sebagai alat

pendeteksi.

 

 

 

 

Kelebihan/Kekurangan Tes Objektif

Secara umum kelebihan atau kebaikan dan kelemahan tes objektif adalah tertera pada bagan berikut (Arikunto, 1997: 166):

Tes  Objektif
Kebaikan/kelebihan Kekurangan/kelemahan
Lebih banyak segi-segi positif, representatif mewkili isi, luas bahan, objektif, dapat dihindari unsur subyektif dari siswa maupun segi guru yang memeriksa. Persiapan untuk menyusun butir tes lebih sulit daripada tes esay karena soalnya banyak, harus teliti.
Mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja, sukar untuk mengukur proses mental yang lebih tinggi.
Pemeriksaannya dapat diserahkan kepada orang lain. Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subyektif yang mempengaruhinya. “Kerjasama” antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.

 

Arikunto (1997: 166) menyatakan cara mengatasi kelemahan tes objektif, adalah:

  1. Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan banyak berlatih terus menerus hingga betul-betul mahir.
  2. Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan dalam mempersiapkan dan menyusun butir tes dan kecenderungan hanya mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan saja.
  3. Menggunakan norma (standar) penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulasi.

 

 

Ragam tes  objektif dan teknik penyusunannya

  1. Multiple Choice (Pilihan Ganda)

Tes pilihan ganda yaitu tes yang terdiri atas satu pernyataan soal dengan

beberapa alternatif jawaban. Dari alternatif jawaban yang ditawarkan, hanya

satu jawaban yang benar, yang lainya adalah pengecoh. Tes ini juga dikatakan

objektif karena opsi pilihannya hanya ada satu jawaban benar, selain itu opsi

yang salah (Anwar, 2009: 31).

 

Teknik menyusun tes pilihan ganda

Dalam membuat tes pilihan ganda McBeath (1992) dalam Anwar (2009: 31)

menyarankan tujuh aturan yaitu:

  1. Buatlah pernyataan soal yang tidak membingungkan.
  2. Hindari pernyataan soal yang tidak relevan dengan materi.
  3. Pernyataan soal mengarah kepada satu jawaban benar.
  4. Hindari pernyataan negatif yang membingungkan.
  5. Alternatif jawaban yang mungkin tetapi tidak benar.
  6. Hindari pernyataan soal yang mengarahkan ke jawaban benar.
  7. Hindari alternatif jawaban “semua di atas benar” atau “semua di atas salah”.

Contoh-contoh soal pilihan ganda (Anwar, 2009: 32–36):

  1. Buatlah pernyataan soal tidak membingungkan peserta tes

Bandingkan dua soal berikut ini

  • Di bagian Barat Daya,….
  1. Timah merupakan industri yang utama
  2. Rata-rata curah hujanb 1400 mm pertahun
  3. Pendapatan perkapita penduduk rendah
  4. Seatle adalah kota yang paling padat penduduknya*
  • Di bagian Barat Daya Amerika kota yang terpadat penduduknya adalah,….
  1. Eugene
  2. Portland
  3. Spokane
  4. Seatle*

Keterangan:

Pernyataan soal pertama tidak jelas, sehingga semua alternatif jawaban berpeluang untuk dipilih. Pernyataan soal kedua lebih jelas, sehingga peserta tes lebih mudah untuk memhami arah pertanyaan.

  1. Buatlah pernyataan soal relevan dengan materi

Bandingkan dua soal berikut ini.

  • Kondisi geomorfologi, kesuburan tanah, iklim, dan lingkungan lainnya akan berpengaruh terhadap corak kehidupan masyarakat setempat. Hal ini merupakan faktor,….
  1. Lingkungan Geografis*
  2. Lingkunga geologis
  3. Lingkungan strategis
  4. Lingkungan geomorfologis

 

  1. geografis*
  2. geologis
  3. strategis
  4. geomorfologis
  • Geomorpologi suatu tempat dapat dipengaruhi corak hidup masyarakatnya, hal ini disebut sebagai faktor lingkungan,…

Keterangan:

Dengan menyebut geomorfologi saja sudah mewakili indikator keadaan tanah, kesuburan dan sebagainya. Begitu juga alternatif jawaban, cukup menempatkan kata “lingkungan” di akhir pernyataan, sehingga tidak disebut secara berulang kali dalam pilihan.

  1. Buatlah pernyataan soal mengarah ke satu jawaban benar

Bandingkan dua soal berikut ini

  • Kepadatan penduduk di pulau Irian dan pulau Kalimantan termasuk,….
  1. geografis*
  2. geologis
  3. strategis
  4. geomorfologis
  • Kepadatan penduduk di pulau Irian termasuk, ….
  1. tinggi
  2. sedang
  3. rendah*
  4. padat

Keterangan:

Pernyataan pertama tidak tegas, karena ada dua pulau yang dikemukakan. Dengan menyebut pulau Kalimantan peserta tes akan bingung karena mungkin saja Kalimantan sudah mulai padat penduduknya. Dengan demikian ada kemungkinan dua jawaban yaitu pulau Irian dan pulau Kalimantan. Sedangkan pernyataan soal kedua lebih tegas, sehingga peserta tes tidak bingung menentukan pilihannya, karena mereka sudah terarah untuk menentukan ke satu pilihan benar.

  1. Hindarilah pernyataan negatif yang membingungkan peserta tes.

–  Negara yang berbatasan darat dengan Indonesia yaitu, kecuali

  1. Philipina
  2. Malaysiya
  3. Brunai*
  4. Singapu

–  Negara yang berbatasan laut dengan Indonesia yaitu, kecuali

  1. Philipina
  2. Malaysiya
  3. Brunai*
  4. Singapura

       Keterangan:

Pernyataan “kecuali” pada soal pertama tidak tepat/tidak perlu, karena

negara yang berbatasan darat dengan Indonesia ada dua yaitu Brunai dan

Timur Leste. Pernyataan “kecuali” lebih tepat pada soal yang kedua, karena tiga

Negara lain (Philipina, Malaisya, dan Singapura) berbatas laut dengan Indonesia

Kecua di Brunai Darussalam.

  1. Gunakanlah alternatif jawaban yang berfungsi pengecoh

Bandingkan dua soal berikut ini.

  • Apabila Anda mendaki gunung, peralatan yang paling penting dibawa adalah,….
  1. globe
  2. theodolit
  3. pantograph
  4. peta top*
  • Apabila Anda mendaki gunung, peralatan yang paling penting dibawa adalah,….
  1. peta morpologi
  2. thermometer
  3. peta geologi
  4. peta top*

Keterangan:

Bagi siswa yang sudah mempeljari alat bantu Geografi, pilihan mereka sudah tentu menjawab “d”. Karena sedikitpun di antara pilihan lain tidak ada hubungannya dengan pendakian gunung. Alternatif pada soal kedua punya kemungkinan untuk dipilih, karena semua peralatan tersebut lebih masuk akal untuk dibawa. Tetapi karena yang diminta adalah yang paling penting, maka alat tersebut adalah peta top.

  1. Hindarilah petunjuk yang mengarah ke jawaban benar

Bandingkan dua soal berikut ini.

  • Geografi industri merupakan bagian penting dari:
  1. Geografi Fisik
  2. Geografi Ekonomi*
  3. Geografi Regional
  4. Geografi Budaya

Geografi industri merupakan bagian penting dari:

  1. Geografi sumber daya alam
  2. Geografi Ekonomi*
  3. Geografi Perdagangan
  4. Geografi Transportasi

 

Keterangan:

Bagi siswa yang sudah mempelajari cabang-cabang Geografi, alternatif jawaban membantu siswa untuk memilih jawaban “b”, dan mudah ditebak. Karena di antara alternatif yang ada kata “Geografi ekonomi” berkonotasi “industri”. Soal kedua mempunyai kemungkinan sebagai pilihan, tetapi karena berbicara tentang cabang-cabang ilmu maka Geografi industri adalah cabang dari “Geografi ekonomi”.

 

  1. Hindarilah menggunakan alternatif jawaban “semua di atas benar” dan “semua

jawaban di atas salah”.

Bandingkan dua soal berikut ini.

  • Media paling utama dalam Pembelajaran Geografi adalah
  1. Globe
  2. Peta
  3. Lembar foto udara
  4. Semua jawaban di atas benar

 

 

 

  • Media paling utama dalam Pembelajaran Geografi adalah

 

  1. Globe
  2. Lembar foto udara
  3. Kompas
  4. Peta*

 

 

 

Keterangan:

Pada soal pertama siswa yang suka tergesa-gesa biasanya akan langsung memilih jawaban “d”. Karena semua media terebut memang penting dalam pembelajaran Geografi. Mereka sering lupa yang diminta oleh si pembuat soal adalah media paling utama yaitu “peta”. Pada soal kedua siswa biasanya akan berpikir sejenak, sebelum menentukan pilihannya.

Persyaratan lain yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes pilihan ganda (Anwar, 2009: 36), adalah: (1) semua alternative jawaban mempunyai panjang yang sama, dan (2) semua pengecoh berpeluang untuk dipilih, (3) apabila alternative jawabannya dalam bentuk angka, usahakan dengan angka yang mirip (misalnya: A = 1962, B = 1692, C = 1269, D = 1926, E = 1296), (4) usahakan pula angka yang dibuat berurutan (misalnya: A = 1269, B =  1296, C = 1626, D = 1962, dan E = 1992).

Menurut Nitko (1996) dalam Anwar (2009: 36—37) keuntungan dan kelemahan tes pilihan ganda antara lain.

Tes Pilihan Ganda
Keuntungan Kelemahan
  1. Dapat menilai banyak target pembelajaran, sehingga lebih representatif untuk menilai seluruh materi yang dipelajari.
. Membuat tes obyektif lebih rumit

dan lebih lama dibandingkan tes

esay.

  1. Hanya berfokus pada kemampuan membaca soal dan proses berpikir
  2. Kurang mampu mengukur
    kemampuan kognitif tingkat

tinggi.

  1. Si perancang soal semakin terhindar dari pengaruh hallo effect lebih objektif.
  2. Berpeluang untuk memberikan
    jawaban spekulatif dan bekerja

sama.

  1. Cara koreksinya lebih mudah, lebih cepat, bahkan dapat diwakilkan kepada pihak lain.
  2. Unsur subjektifitasnya lebih
  tinggi. (mungkin maksudnya: unsur

objektifitasnya lebih tinggi).

  1. Mutu soalnya lebih mudah untuk dianalisis (taraf sukar, daya beda, validitas empiris, dan keberfungsian pengecohnya).

 

 

 

 

 

 

 

  1. Tes benar – salah (true-false test)

Tes objektif benar-salah terdiri atas satu pernyataan soal, dan untuk   menjawabnya peserta tes hanya diminta untuk memberikan keputusan apakah pernyataan soal itu benar atau salah. Bentuk tes benar salah boleh saja diganti dengan istilah ya-tidak, yang penting dengan pernyataan soal yang sesuai pula. Tes objektif benar salah mempunyai sisi kelebihan dan kelemahan tidak jauh berbeda dengan kelebihan dan kelemahan tes objektif pada umumnya (Anwar (2009: 41).

Wiersma dan Jurs (1990) dalam Anwar (2009: 41) menganjurkan ada empat teknik membuat soal dengan jawaban benar – salah. Teknik yang dimaksud antara lain: (1) Buatlah pernyataan soal yang jelas sehingga jawabannya tidak membingungkan. Soal berikut ini merupakan contoh soal yang membingungkan peserta tes. Peningkatan jumlah curah hujan akan meningkatkan hasil panen di suatu wilayah (Benar – Salah). Bagi siswa pintar soal ini membingungkan, karena mereka mengetahui bahwa, tidak semua hasil pertanian meningkat bila curah hujannya meningkat. Bahkan sebaliknya apabila hasil pertanian terus menerus menerima hujan, justru produksi akan menurun, karena hujan yang jatuh sudah di atas ambang kebutuhan. (2) Hindarilah menggunakan bahasa baku. Hal ini menekan sekecil mungkin peluang untuk buka buku selama ujian, dan siswa merasa tertantang untuk belajar. (3) Hindari menggunakan penentu spesifik (selalu, tidak pernah, semua, tidak satupun, dan lain sebagainya). (4) Buatlah panjang soal yang sama (Anwar, 2009: 41–42).

  1. Tes menjodohkan (mathing test)

Tes objektif menjodohkan yaitu tes objektif yang menutut kemampuan asosiasi siswa. Tes ini ditampilkan dalam bentuk dua kolom. Kolom pertama terdiri atas  premis-premis atau pernyataan, dan kolom kedua terdiri atas respon. Premis pernyataan dan jawaban tidak dibuat sejajar, tetapi berbeda urutan. Misalnya, jika premis dibuat pada nomor 1, respon soal dibuat pada nomor tujuh. Untuk fungsi pengecoh, antara jumlah soal dengan jawaban boleh berbeda. Misalnya, jumlah pernyataan ada 10 butir, maka jumlah jawaban boleh 11 atau 12(Anwar, 2009: 42—42).

Syarat menyusun tes menjodohkan di antaranya: (1) pernyataan soal terdiri dari materi yang homogen. Kehomogenan bertujuan untuk menjadikan semua alternatif jawaban berpeluang untuk dipilih. (2) Respon item terdiri atas jawaban yang berfungsi pengecoh. (3) Panjang soal dan respon relatif sama (Anwar, 2009: 42).

Berikut contoh soal menjodohkan tentang karakteristik kota di Indonesia (Anwar, 2009: 43).

____________________________________________________________

Jawaban                      Pernyataan                              Alternatif

____________________________________________________________1. ……..            1. Kota besar di luar pulau Jawa           A. Palembang

  1. …….. 2. Kota di pantai Timur Sumatera B. Yogyakarta
  2. …….. 3. Kota pahlawan di Indonesia C. Solo
  3. …….. 4. Kota industri batik D. Medan
  4. …….. 5. Kota pendidikan E. Surabaya
  5. …….. 6. Kota penghasil kayu, besi F. Pekan Baru
  6. Jakarta

___________________________________________________________

  1. 4. Tes melengkapi atau jawaban singkat (completion or short answert test)

Tes jawaban singkat dikelompokkan sebagai tes objektif karena pemberian

skornya dapat dilakukan secara objektif. Tes ini hanya membutuhkan satu

jawaban singkat, sehingga dengan cepat langsung diketahui benar atau

salahnya jawaban peserta tes. Oleh sebab itu syarat   menyusun tes adalah

membuat pernyataan yang tegas, spesifik, dan hanya butuh satu jawaban

singkat. Pernyataan yang membingungkan akan membingungkan pula bagi

peserta tes dalam memberikan jawabannya (Anwar, 2009: 43).

Berikut adalah contoh-contoh tes jawaban singkat.

1). Peristiwa naiknya bintik air ke udara akibat panas Matahari disebut? ……..

2). Pengikisan tebing pantai oleh gelombang laut disebut? …………………..

Tes seperti ini juga dapat disusun terbalik namun dalam bentuk asosiatif

(association form)  yang sederhana, sebagaimana contoh berikut ini.

1). …………… adalah peristiwa naiknya bintik air ke udara akibat panas Matahari.

2). …………… adalah pengikisan tebing pantai oleh gelombang laut. (Anwar,

2009: 43—44).

 

 

 

 

 

 

 

  1. Tes Esay

Karakteristik tes esay

Karakteristik tes esay adalah berikut ini.

Tes Esay
Pakar evaluasi Karakteristik
Kubisyn dan Borich (2003: 127) dalam Anwar (2009: 71) Soal yang menuntut jawaban dengan kemampuan kognitif yang kompleks.

Non objektive test karena sifat penilaian atau pemberian skornya berpeluang berbeda jika dinilai oleh orang yang berbeda.

Nitko (1996) dalam Anwar (2009: 71) Metode penilaian yang subyektif.
Linn dan Grounlund (1995: 234) dalam Anwar (2009: 71)
  • Soal yang digunakan untuk mengukur pencapaian hasil belajar melalui aspek yang kompleks.
  • Mengukur kemampuan peserta tes dalam bentuk analisis, mengorganisasi dan mengekspresikan ide-ide tentang sesuatu.

 

      Kelebihan dan kekurangan tes esay

Keuntungan dan kelemahan soal esay (Anwar, 2009: 71—72), adalah seperti dalam bagai berikut.

Tes Esay
Keuntungan Kelemahan
  1. Dapat menilai kemampuan peserta didik yang lebih komplek secara efektif.
  2. Lebih mudah dikonstruk.
  3. Menghindari tebakan.
  4. Sulit dalam penyekoran, karena penilai harus membaca jawaban tes dari halaman ke halaman lain, belum lagi akibat kerancuan atau kekacauan bahasa peserta tes.
  5. Penyekoran menjadi tidak reliabel, karena tidak konsisten dan tidak ada kriteria sebagai panduan untuk semua peserta tes.
  6. Berpeluang terjadi hallo effect atau pengaruh persepsi evaluator terhadap peserta didiknya.
  7. Pengaruh keputusan pribadi yang bernuansa subjektifitas.

 

Teknik menyusun soal esay

McBeath (1992) dalam Anwar (2009: 72) menganjurkan lima strategi untuk menghasilkan pertanyaan soal esay yang baik, untuk menghindari kelemahan-kelemahannya, yaitu: (1) Gunakan kata-kata kunci yang mengarah pada proses berpikir spesifik. (2) Kemukakan persyaratan soal secara jelas. (3). Sebutkan panjang/bentuk respon yang diharapkan. (4). Kemukakan limit waktu, dan (5) Beri bobot pertanyaan.

Berikut contoh soal-soal esay (Anwar, 2009: 72–73), yaitu:

  1. Gunakan kata-kata kunci yang mengarah pada proses berpikir spesifik

Kata-kata kunci untuk pertanyaan tingkat rendah berhubungan

dengan menyebutkan kembali  (recall) antara lain: definisikan, sebutkan,

         gambarkan, dan jelaskan.  Kata kunci pertanyaan tingkat tinggi

berhubungan dengan aplikasi (application) antara lain: aplikasikan,

        organisasikan, interpretasikan, dan beri penilaian. Sebagai contoh

bandingkan dua soal esay pada mata pelajaran geografi pokok bahasan

iklim berikut ini:

Pertanyaan 1: Gambarkan keadaan iklim Indonesia secara umum,

dan jelaskan lima unsur cuaca yang Anda ketahui.

Pertanyaan 2 : Perhatikan data cuaca pada tabel di bawah ini, dan

Kemukakan interpretasi saudara berdasarkan data

tersebut.

 

Keadaan cuaca pada daerah X pukul 17.00 WIB

_________________________________________________

No.      Unsur cuaca                Keadaan          Keterangan____

  1. Suhu                            33 C
  2. Kelembaban                95 %                Keadaan
  3. Angin                          1 knot/hr          diperkirakan …. ?
  4. Jenis awan                    Commulonimbus

Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa, pertanyaaan pertama tidak membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, karena untuk menjawab soal tersebut hanya membutuhkan kemampuan mengingat informasi. Pertanyaan seperti ini cocok untuk peserta tes pada sekolah tingkat dasar dan menengah. Pertanyaan kedua selain membutuhkan kemampuan mengingat infromasi, tetapi juga membutuhkan kemampuan menginterpretasi data, membuat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan. Pertanyaan ini dapat diberikan pada mahasiswa, khususnya yang tengah mengambil subjek iklim dan cuaca (klimatologi) di perguruan tinggi.

Pada bagian berikut ini (Anwar, 2009: 74–75), dikemukakan dua contoh soal esay untuk pertanyaan tingkat rendah dan tingkat tinggi.

 

 

Contoh rancangan soal esay dengan pertanyaan tingkat rendah dan kriteria penyekorannya.

No Skema

Penyekoran

Deskripsi Keterangan
1 Tujuan Siswa mampu menyebutkan

dan menggambarkan lima

unsur cuaca.

 

 

 

 

 

 

Bobot soal =

5+5 = 10

2 Item soal Sebut dan jelaskan lima unsur

cuaca yang penting (skor 10,

jawaban tidak lebih dari ½

halaman folio).

3 Kriteria
  1. Bila siswa dapat menyebut

penyekoran   kelima unsur

cuaca, masing-masing unsur = 1

poin, maka kelima unsur = 5  poin.  2.  Bila siswa dapat       5+5 = 10

menjelaskan kelima unsur

cuaca, masing-masing unsur =

1 poin, maka kelima unsur = 5

Poin.

 

Untuk soal esay tipe luas dengan kemampuan kognitif yang lebih

tinggi  maka kriteria skor yang diberikan menjadi lebih komplek. Contoh

berikut ini.

No Skema penyekoran Deskripsi Keterangan
1 Tujuan Peserta mampu menjelaskan, dan mengemukakan analisisnya tentang keterkaitan antara unsur-unsur sehingga membentuk keadaan cuaca tertentu, serta membuat ramalan-ramalan (minimal dengan dua contoh) Bobot Soal = 5+5+10+10 = 30
2 Item soal Jelaskan lima unsur cuaca yang penting, kemukakan analisis bagaimana keterkaitan antar unsur cuaca sehingga membentuk kondisi tertentu, dan buat contoh/model ramalan cuaca tersebut (bobot jawaban adalah 30).
3 Kriteria penyekoran
  1. Bila peserta tes dapat menyebutkan kelima unsur cuaca masing-masing unsur = 1 poin maka kelima unsur = 5 poin.
  2. Bila peserta dapat menjelaskan masing-masing (lima) unsur cuaca maka diperoleh poin 5.
  3. Bila mampu menganalisis keterkaitan antar unsur cuaca, diperoleh poin 10.
  4. Bila mampu membuat model ramalan cuaca berdasarkan unsur-unsur cuaca tersebut, diperoleh poin 10. Jadi bobot soal adalah 30.

 

  1. Kemukakan persyaratan soal secara jelas

Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kekaburan dan kerancuan bahasa, yang menyulitkan peserta tes memberikan jawabannya. Selain itu, juga memudahkan evaluator dalam memeriksa dan memberi nilai jawaban peserta tes (Anwar, 2009: 76), contoh soal berikut ini.

Pertanyaan 1: Kemukakan pendapat saudara tentang terjadinya tsunami di Aceh.

Pertanyaan 2: Kemukakan beberapa faktor penyebab gempa, macam-macam

gempa di Indonesia dan hubungannya dengan kejadian tsunami di

provinsi Aceh.

Pertanyaan pertama menyulitkan penilai untuk memberi skor peserta tes, karena yang ditanya adalah pendapat. Tidak ada batasan benar-salah apabila seseorang diminta berpendapat. Peserta didik sendiri tentu akan lebih leluasa mengemukakan pendapatnya, karena itulah menurut mereka. Dalam pertanyaan kedua, peserta tes diminta mengeluarkan potensi diri yang menurut level kognitif yang tinggi. Peserta tes akan lebih terarah memberikan jawabannya. Penilai sendiri akan lebih mudah dalam membaca dan memahami jawaban peserta tes. Dalam hal ini yang dinilai adalah kemampuan mengemukakan faktor-faktor penyebab gempa, bentuk-bentuk gempa, potensi gempa di Indonesia, dan bagaimana mereka menghubungkannya dengan kejadian tsunami di Aceh.

  1. Sebutkan panjang/bentuk respon yang diharapkan

Menyebutkan panjang atau bentuk respon yang diharapkan bertujuan membantu

peserta tes mengembangkan ide-ide pokoknya, sehingga mengurangi peluang

untuk memberikan jawaban yang tanpa arah  (Anwar, 2009: 76–77), contoh soal

berikut ini. Dua contoh soal untuk dibandingkan dan dengan soal sebelumnya .

Pertanyaan 1: Kemukakan pendapat saudara tentang terjadinya tsunami di Aceh.

Pertanyaan 2: Kemukakan beberapa faktor penyebab gempa, macam-macam

gempa, potensi gempa di Indonesia dan hubungannya dengan

kejadian tsunami di provinsi Aceh (Jawaban tidak lebih dari 1

lembar  folio, atau lebih kurang 500 kata).

Sama dengan soal yang sebelumnya, pada pertanyaan pertama peserta tes berpeluang untuk lebih leluasa mengemukakan pendapatnya, dan tidak disalahkan secara mutlak. Pertanyaan kedua lebih terarah bahkan peserta tes akan hati-hati dengan jawaban yang diberikan, karena ada batasan jawaban yang diharapkan. Peserta tes akan berusaha mengarahkan pada hal-hal yang dianggap lebih tepat, padat dan tidak berbelit.

  1. Kemukakan batas pengerjaan soal

Mengemukakan batas waktu dalam mengerjakan soal bertujuan membantu

peserta tes memenej waktunya dari waktu yang disediakan. Mengemukakan batas

waktu dapat mengurangi kecemasan tes (tes anxiety). Peserta tes akan berusaha

mengerjakan hal-hal yang mudah terlebih dahulu, kemudian mengerjakan soal-soal

yang dianggap lebih sulit. Biasanya waktu tes dicantumkan pada informasi tes, atau

dengan cara mengumumkannya di depan kelas (Anwar, 2009: 77).

  1. Beri bobot pertanyaan   

Soal yang lebih sulit diberi bobot lebih tinggi, dan soal yang lebih mudah diberi

bobot yang lebih rendah. Memberi bobot pertanyaan bertujuan selain memberi tahu siswa mana soal yang lebih mudah dan mana soal yang lebih sulit, juga memberi bantuan kepada peserta tes dalam memilih strategi menjawab soal, apakah akan menjawab soal yang memiliki bobot yang lebih tinggi terlebih dahulu atau sebaliknya. Untuk mendapatkan bobot soal yang benar sebaiknya perancang tes menyiapkan alat bantu yang disebut dengan rubric skor (scoring rubrics).

Tabel …. memperlihatkan contoh membuat rubrik skor dalam menilai tes esay (Anwar, 2009: 77).

Tipe tes esay

            Ahli evaluasi membedakan soal esay dalam dua tipe (Anwar, 2009: 78–79), yaitu tipe respon item restriksi/terbatas dan tipe respon item restriksi/luas. Berikut perbedaan antara dua tipe tes esay.

Pendapat pakar evaluasi Tipe tes esay
Tipe respon item terbatas Tipe respon item luas
Syafri Anwar (2009: 78) Ada limit kepada  peserta tes

tentang jawaban yang

diberikan, yaitu:

  • batasan kemampuan kognitif
  • batasan jumlah jawaban
  • batasan jumlah halaman
  • waktu mengerjakan tes
  • tidak membatasi jawaban
   peserta tes.

  • kadang-kadang diminta

menjawab pertanyaan

beruntun.

 

Pophan (1995) dalam Anwar (2009: 78)
  • pertanyaan lebih sederhana
-
Wiersman dan Jurs (1990) dalam Anwar (2009: 78)
  • cocok diberikan pada

peserta didik tingkat dasar

  • cocok untuk sekolah menengah
  • cocok untuk perguruan tinggi

 

Berikut contoh-contoh soal esay tipe terbatas dan tipe luas.

Contoh item soal esay tipe terbatas untuk siswa tingkat dasar dan menengah

No Skema penyekoran Deskripsi Keterangan
1 Tujuan Peserta didik mampu menyebutkan dan menggambarkan sekurang-kurangya lima unsur cuaca. Bobot soal 10.

Jawaban tidak lebih dari ½ halaman folio.

2 Item soal Sebut dan gambarkan lima unsur pembentuk cuaca

 

Soal yang sama dapat disusun menjadi soal esay tipe luas dengan cara mengubah deskripsi tujuan dan pertanyaan soal.

Contoh item soal esay tipe luas untuk mahasiswa di Perguruan tinggi.

No Skema penyekoran Deskripsi Keterangan
1 Tujuan Peserta didik mampu menjelaskan, dan mengemukakan analisisnya tentang keterkaitan unsur-unsur cuaca lalu merumuskan keadaan cuaca tertentu, serta membuat ramalan-ramalan (minimal dengan dua contoh). Bobot soal 30.

Jawaban maksimal 1½ halaman folio.

2 Item soal Jelaskan lima unsur cuaca, kemukakan analisis saudara bagaimana kelima unsur cuaca tersebut saling mempengaruhi, lalu membentuk suatu kondisi tertentu, dan buat dua ramalan cuaca sesuai analisis saudara tersebut.

 

Dari dua contoh soal esay tersebut di atas diketahui bahwa, terbatas dan luasnya sebuah soal ditentukan oleh target pembelajaran/tujuan yang hendak dicapai, yang disesuaikan dengan usia dan tingkat sekolah peserta didik. Makin tinggi level seseorang, makin tinggi tuntutan aspek kognitif yang diharapkan.

Teknik Penilaian Tes Esay

            Tugas evaluator yang lain adalah memberi nilai terhadap jawaban tes esay. Untuk mempertahankan penilaian yang objektif, maka penilaian harus terukur (measurable). Untuk mendapatkan penilaian yang terukur si perancang tes terlebih dahulu membuat rubric penyekoran (scoring rubrics) atau kriteria penyekoran (scoring criteria) yang jelas (Anwar, 2009: 79).

 

 

 

 

Contoh item soal esay tipe terbatas untuk siswa tingkat dasar dan menengah, dan kriteria skornya (Anwar, 2009: 80–81).

No Skema

Penyekoran

Deskripsi Keterangan
1 Tujuan Peserta didik mampu menyebutkan dan menggambarkan sekurang-kurangnya lima unsur cuaca  

 

 

Bobot soal 10.

Jawaban tidak lebih dari ½ halaman folio.

2 Item soal Sebut dan gambarkan lima unsur pembentuk cuaca.
3 Kriteria skor Bila peserta tes dapat:

  1. Menyebutkan kelima unsur cuaca (masing-masing unsur = 1 poin) maka bobotnya 5.
  2. Menjelaskan kelima unsur cuaca (masing-masing unsur = 1 poin) maka bobotnya = 5.

Bobot soal = 10.

 

Untuk soal esay tipe luas dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi maka kriteria skornya menjadi lebih komplek.

Contoh item soal esay tipe luas untuk mahasiswa di Perguruan tinggi dengan kriteria skornya.

No Skema penyekoran Deskripsi Keterangan
1 Tujuan Peserta didik mampu menjelaskan, dan mengemukakan analisinya tentang keterkaitan unsur-unsur cuaca lalu merumuskan keadaan cuaca tertentu, serta membuat ramalan-ramalan (minimal dengan dua contoh).  

 

 

 

 

Bobot soal 30, jawaban maksimal  1 ½  halaman folio.

2 Item soal Jelaskan lima unsur cuaca, kemukakan analisis saudara bagaimana kelima unsur cuaca tersebut saling mempengaruhi, lalu membentuk suatu kondisi tertentu, dan buat dua ramalan cuaca sesuai analisis saudara tersebut.
3 Kriteria skor Bila peserta tes dapat:

  1. Menyebutkan kelima unsur cuaca (masing-masing unsur = 1 poin) maka skornya = 5.
  2. Menjelaskan kelima unsur cuaca (masing-masing unsur = 1 poin) maka skornya = 5.
  3. Menganalisis keterkaitan antar unsur cuaca memperoleh skor = 10.
  4. Membuat dua model ramalan cuaca memperoleh skor = 10.

Bobot soal = 30.

 

Cara lain dalam menilai soal esay adalah membuat rubric skor berdasarkan kelengkapan yang diinginkan oleh pembuat soal. Rubrik skor yang dimaksud adalah sebagai berikut (Anwar, 2009: 82).

 

Rubrik skor: Soal nomor 1 tentang unsur-unsur cuaca. Skor maksimal 5 dan minimum 1

 

  1. Skor 5 = Sangat lengkap (100%) dapat menyebutkan lima macam unsur cuaca,

menjelaskan kesaling terkaitan, terjadi kondisi tertentu, dan membuat satu

contoh ramalan cuaca.

 

  1. Skor 4 = Lengkap, sebagian besar (80%) dapar menyebutkan empat macam unsur

cuaca, menjelaskan kesaling terkaitan, terjadi kondisi tertentu, tidak mampu

membuat ramalan cuaca.

 

  1. Skor 3 = Kurang lengkap (60%) dapat menyebutkan tiga macam unsur cuaca,

menjelaskan kesaling terkaitan, tidak mampu menyebutkan kondisi

tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.

 

  1. Skor 2 = Tidak lengkap (40 %) dapat menyebutkan dua macam unsur cuaca, kurang

mampu menjelaskan kesaling terkaitan, tidak mampu menyebutkan kondisi

tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.

 

  1. Skor 1 = Sangat tidak lengkap (20%) dapat menyebutkan satu macam unsur cuaca,

tidak mampu menjelaskan kesaling terkaitan, tidak mampu menyebutkan

kondisi tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.

 

Perbedaan Tes Objektif dan Tes Esay

Perbedaan tes objektif dan tes esay (Anwar, 2009: 82–83), seperti berikut.

Perbedaan tes objektif dan tes esay
Tes Objektif Tes Esay
Jumlah butir soal lebih banyak, sehingga lebih mewakili materi. Jumlah butir soal sedikit, kurang dapat mewakili materi.
Untuk membuat soal yang bermutu, butuh waktu yang lebih lama. Untuk membuat soal tidak terlalu membutuhkan waktu yang lebih lama.
Cara pemeriksaannya lebih mudah. Cara pemeriksaannya lebih sulit, kecuali membuat rubric scornya terlebih dahulu.
Mudah menghindar dari unsur subyektifitas penilai atau pengaruh hallo effect Sulit menghindar dari unsur subyektifitas penilai atau pengaruh hallo effect.
Dapat diolah dan dianalisis menggunakan unsur teknologi (anates, iteman, SPSS, Exel). Sulit dan bahkan tidak dapat diolah dan dianalisis menggunakan unsur teknologi (anates, iteman, SPSS, dan Exel) sekurang-kurangnya untuk sampai saat ini.
Berpeluang unsur rekayasa (tebakan dan menyontek). Lebih terhindar dari unsur rekayasa (tebakan dan menyontek).

 

Uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa masing-masing bentuk tes memiliki keunggulan dan kelemahan. Dianjurkan agar dalam setiap proses pembelajaran dapat mengkombinasikan kedua bentuk tes tersebut. Membuat tes objektif, juga ada esaynya. Dianjurkan jumlah butir tes esay tidak lebih dari 10 butir, atau berkisar antara 5 – 8 butir.

 

 

 

Daftar Pustaka

Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.

 

Anwar, Syafri. 2009. Penilian Berbasis Kompetensi. Padang: UNP Press.

Hamalik, Oemar. 1989. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan, Bandung: Mandar Maju.

 

Purwanto, Ngalim. 1994. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

Sudjana, Nana, 1995. Penilaian Hasil Belajar, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam