Strategic Planning in Schools

STRATEGIC PLANNING IN SCHOOLS

(Perencanaan Strategis di Sekolah)

Oleh : Supriadi

  1. Pendahuluan

Sebagaimana yang telah umum diketahui bahwa manajemen itu menurut George R. Terry memiliki 4 fungsi, yaitu fungsi Perencanaan (Planning), fungsi Pengorganisasian (Organizing), fungsi Pelaksanaan (Actuiting) dan fungsi Pengawasan (Controling). (Goerge R Terry, 2003 : 2) Fungsi yang pertama adalah fungsi perencanaan, perencanaan dapat diartikan sebagai proses penyusunan tujuan dan sasaran organisasi serta penyusunan “peta kerja” yang memperlihatkan cara pencapaian tujuan dan sasaran tersebut (Paul Hersey & Kenneth H Blanchard, 1992 : 4). Apabila rencana telah tersusun, maka selanjutnya pengorganisasian menjadi penting. Hal ini merupakan proses penghimpunan sumber daya manusia, modal dan peralatan dengan cara yang efektif untuk mencapai tujuan. Oleh sebab itu, pengorganisasian merupakan upaya pemaduan sumber daya

Dalam kajian yang lebih mendalam, kajian tentang perencanaan terus berkembang menjadi banyak sekali kajian, diantaranya : (1) perencanaan komprehensif (comprehensive planning); (2) perencanaan induk (master planning); (3) perencanaan ekuiti (equity planning); (4) perencanaan advokasi (advocacy planning); dan (5) perencanaan inkrimental (incremental planning); dan (6) perencanaan strategis (strategic planning).  Namun makalah yang sederhana ini hanya akan mengupas mengenai apa yang dimaksud dengan perencanaan strategis di sekolah secara teori dan menjelaskan aplikasi perencanaan strategis pada lembaga pendidikan (sekolah, madrasah atau perguruan tinggi).

 

  1. Macam-macam Perencanaan

Menurut Stephen P. Robbinns, Mery K. Coulter (2009), Seorang ahli manajemen menjelaskan bahwa perencanaan itu dapat dilihat dari tiga sudut pandang, ada dari sudut pandang keluasan (breath), sudut pandang kerangka waktu (time frame) dan sudut pandang kekhususan (specificity). Untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu-persatu.

  1. Dari sudut pandang keluasannya, perencanaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu ; perencanaan strategis (strategic planning) dan perencanaan operasional (operational planning).

Perencanaan strategis mengacu pada rencana yang meliputi organisasi secara menyeluruh, membentuk tujuan organisasi secara menyeluruh dan mencari posisi organisasi di tengah lingkungannya. Sedangkan perencanaan operasional merupakan rencana yang versifat  khusus dan detail tentang bagaimana tujuan-tujuan tersebut dicapai. Rencana operasional mencakup rentangan waktu yang lebih pendek, seperti rencana bulanan, mingguan dan harian. Sedangkan perencanaan strategis cendrung meliputi periode waktu yang lebih ekstensif, biasanya tahunan, tiga tahunan, lima tahunan atau lebih. Ia juga mencakup area yang lebih luas. Sasaran akhir dari perencanaan strategis adalah pengembangan tujuan, sedangkan perencanaan operasional berasumsi bahwa tujuan sudah ada, jadi perencanaan operasional memberikan arahan tentang cara mencapai tujuan tersebut.

  1. Dari sudut pandang cakupan waktu, rencana organisasi dapat dibagi atas dua bagian, yaitu rencana jangka pendek (short-term plans) dan rencana jangka panjang (long-term plans). Dari segi finansial, rencana jangka pendek mencakup jangka waktu kurang dari datu tahun, sedangkan rencana jangka panjang mencakup waktu yang lebih dari lima tahun. Namun dari segi fleksibilitas, rencana jangka panjang membantu manejer melakukan arahan yang fundamental terhadap tujuan organisasi dan cara mencapainya. Sedangkan rencana jangka pendek kurang fleksibel.
  2. Dari sudut sifat kekhususannya, rencana organisasi dapat dibedakan atas dua : rencana khusus (spesific plans) dan rencana direksional (directional plans). Spesific plan biasaya sangat jelas, tidak ada kerancuan dan mengacu langsung ke tujuan tertentu, misalnya seorang guru menetapkan KKM semester ini adalah 8.0, maka guru harus membuat perencanaan yang matang mengenai pencapaian tujuan tersebut dengan berbagai usaha, seperti menyiapkan pembelajaran, melengkapi pembelajaran dengan media, merubah metode mengajar dan sebagainya. Sedangkan directional plans mengidentifikasikan petunjuk umum, ia memberikan fokus dan tidak mengunci manajemen ke suatu tindakan atau tujuan khusus, misalnya seorang kepala sekolah menetapkan bahwa sekolah tahun ini harus mempertahankan prestasi sebagai sekolah nomor satu di wilayahnya, namun kepala sekolah tidak menjelaskan rancangan program-program khusus yang mesti dilakukan sekolah.
  3. Pengertian Perencanaan Strategis

Banyak definisi yang telah diungkapkan oleh para ahli untuk menjelaskan mengenai perencanaan strategik ini, antara lain seperti yang dijelaskan oleh Rowley, Lujan & Dolence (1997) berikut ini :

Strategic Planning is a formal process design to help an organization maintain an optimal alignment with the most important element of it environment”

Dari definisi yang diungkapkan di atas, maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan perencanaan strategis itu adalah suatu desain proses  formal yang digunakan untuk membantu aparatur organisasi agar mengoptimalkan seluruh kemampuan yang dimiliki oleh seluruh unsur penting organisasi dan lingkungannya.

Kemudian diperkuat oleh Steiner (1997) yang mengungkapkan bahwa perencanaan strategis itu adalah : the strategic planning process supplies the organization with tools that promote future thinking, applies the system approach, allow form setting, provodes a common framework for decision and communication and relies on measuring performance.

Perencanaan strategis pada hakikatnya adalah suatu cara yang dipilih dan dijalankan oleh organisasi, dengan memanfaatkan seluruh sumber dayanya untuk mengembangkan dan mencapai program-program yang telah ditetapkan organisasi.

Sedangkan Pearce & Robinson (1994) dua sejoli pakar manajemen ini mengungkapkan bahwa perencanaan strategis dipahami sebagai kumpulan keputusan dan tindakan yang menghasilkan formulasi dan implementasi dari rencana yang dirancang untuk mencapai tujuan suatu perusahaan. Strategi menjelaskan pengertian suatu perusahaan tentang bagaimana, kapan, dan di mana perusahaan tersebut berkompetisi, terhadap siapa perusahaan tersebut berkompetisi, dan untuk tujuan apa perusahaan tersebut berkompetisi.

Dari bacaan penulis ketika menjelajah mencari teori tentang perencanaan strategis, penulis menemukan hal yang menarik, ternyata disamping istilah perencanaan strategis, penulis menemukan ada yang menyebut dengan istilah manajemen strategis, sebuah istilah yang kemudian merangsang munculnya banyak pertanyaan, antara lain ; (1) apakah yang dimaksud dengan manajemen strategis, (2) apa perencanaan strategis berbeda dengan manajemen strategis, (3) apa kelebihan masing-masing dan (4) untuk apa masing-masing istilah tersebut.

Untuk melihat apa itu manajemen strategik, maka ikutilah pembahasan berikut ;

Manajemen strategik diungkapkan sebagai suatu proses yang dinamik karena berlangsung secara terus-menerus dalam suatu organisasi. Setiap strategi selalu memerlukan peninjauan ulang dan bahkan mungkin perubahan di masa depan. Salah satu alasan utama mengapa demikian halnya ialah karena kondisi yang dihadapi oleh satu organisasi, baik yang sifatnya internal maupun eksternal selalu berubah-ubah pula. Dengan kata lain strategi manajemen dimaksudkan agar organisasi menjadi satuan yang mampu menampilkan kinerja tinggi karena organisasi yang berhasil adalah organisasi yang tingkat efektifitas dan produktivitasnya makin lama makin tinggi.

Sedangkan menurut David (1997), manajemen strategis itu diartikan sebagai suatu seni dan ilmu untuk memformulasikan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan-keputusan lintas fungsional yang memungkinkan organisasi mencapai tujuan yang diinginkan

 

  1. Perbedaan Dasar antara Perencanaan Strategik dan Konvensional

Logika dasar dari perencanaan strategik adalah bahwa dalam lingkungan dunia yang berubah secara pesat dan tak menentu, suatu organisasi memerlukan kemampuan untuk perubahan perencanaan dan manajemen secara cepat. Maka kemampuan untuk senantiasa melakukan penangkapan lingkungan eksternal dari organisasi, serta upaya terus-menerus untuk senantiasa melakukan penelaahan kemampuan dan kelemahan internal, menjadi prasyarat bagi organisasi untuk tetap strategik dan relevan.

Pada perencanaan konvensional yang merupakan paradigma lama, perencanaan berangkat dari penetapan tujuan jangka panjang. Berdasarkan tujuan tersebut, segenap daya dikelola untuk mencapai tujuan tersebut. Sebaliknya, perencanaan strategik memiliki logika yang berbeda. Justru perencanaan strategik berangkat dari misi, mandat, dan nilai-nilai yang menjadi dasar suatu organisasi untuk berkembang, serta visi organisasi di masa mendatang.

Analisis yang mengaitkan antara misi dan visi, serta perkembangan lingkungan eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal ini, akan membawa organisasi menemukan arah menuju yang paling strategik. Dengan begitu, organisasi akan tetap menjadi relevan. Di sisi lain, organisasi juga tidak mungkin menjadi pendukung yang efektif bagi kesejahteraan komunitasnya, kecuali organisasi tersebut meningkatkan kemampuannya untuk berpikir dan bertindak strategik.

Ada empat hal pokok yang membedakan perencanaan strategik dengan perencanaan jangka panjang (konvensional) bagi organisasi. Yaitu : Pertama, meskipun keduanya berfokus pada organisasi dan apa yang harus dikerjakan organisasi untuk memperbaiki kinerjanya, perencanaan strategik lebih memfokuskan pada pengidentifikasian dan pemecahan isu-isu. Sedangkan perencanaan jangka panjang lebih memfokuskan pada pengkhususan sasaran (goals) dan tujuan (objectives), serta menerjemahkannya ke dalam anggaran dan program kerja.

Kedua, perencanaan strategik lebih menekankan pada penilaian terhadap lingkungan di luar dan di dalam organisasi, daripada yang dilakukan perencanaan jangka panjang. Para perencana jangka panjang cenderung menganggap bahwa kecenderungan masa kini akan berlanjut hingga masa depan. Sedangkan perencana strategik memperkirakan munculnya kecenderungan baru, diskontinuitas dan berbagai kejutan.

Ketiga, para perencana strategik lebih mungkin untuk mengumpulkan versi yang diidealkan –“visi keberhasilan”—dan mengusahakan bagaimana visi itu dapat tercapai, ketimbang perencana jangka panjang. Karena rencana-rencana sering diarahkan oleh visi keberhasilan, maka arah pada perencanaan strategik sering mencerminkan perubahan kualitatif. Sebaliknya, pada perencanaan jangka panjang, arah sering kali merupakan ekstrapolasi garis lurus dari keadaan sekarang, yang berlanjut lurus ke masa depan berdasarkan kecenderungan yang ada sekarang.

Keempat, perencanaan strategik lebih berorientasikan tindakan (action oriented) ketimbang perencanaan jangka panjang. Perencana strategik biasanya mempertimbangkan suatu rentang masa depan yang mungkin, dan memfokuskan pada implikasi keputusan dan tindakan masa sekarang, sehubungan dengan rentang tersebut. Maka para perencana strategik dapat mempertimbangkan berbagai arus yang mungkin dalam keputusan dan tindakan, untuk berusaha menangkap sebanyak mungkin peluang yang terbuka bagi organisasi, agar organisasi dapat menanggapi kemungkinan yang tak terduga dengan tepat dan efektif.

 

  1. Manfaat Perencanaan Strategis

Perencanaan memberikan manfaat yang sangat besar dalam pencapaian tujuan, manfaat-manfaat yang diberikan tersebut diantaranya adalah :

  1. Memberikan arah tindakan pada o Tanpa rencana yang memiliki tujuan sebuah organisasi tidak akan sampai kemanapun.
  2. Memfokuskan perhatian pada sasaran-sasaran dan hasil-hasil yang hendak dicapai. Rencana membantu baik manajer dan maupun karyawan untuk memusatkan perhatian mereka pada sebuah gambaran besar yang disebut rencana.
  3. Menetapkan dasar bagi kerjasama tim. Sebuah rencana mengintegrasikan berbagai bagian/unit dalam organisasi untuk mencapai tujuan yang sama.
  4. Membantu mengantisipasi permasalahan dengan memperhitungkan situasi dan perubahan lingkungan yang akan terjadi
  5. Rencana juga memberikan arahan dalam pembuatan keputusan. Keputusan selalu berorientasi ke masa depan, jika manajemen tidak memiliki rencana untuk masa depan maka keputusan keputusan yang dibuatpun hanya sedikit yang dapat berorientasi ke masa depan.
  6. Merupakan prasyarat bagi terlaksananya fungsi-fungsi manajemen yang lain. Melalui perencanaan, manajemen akan mengetahui pengorganisasian apa yang harus ditangani, karyawan apa dan bagaimana yang dibutuhkan, bagaimana memimpin, memotivasi karyawan, dst.

 

  1. Manfaat Perencanaan Strategik Berdasarkan Pengalaman Empiris

Selain sudah terbukti bagi organisasi militer dan perusahaan bisnis, perencanaan strategik juga dapat bermanfaat bagi lembaga pendidikan, organisasi sosial, lembaga swadaya masyarakat (LSM), ataupun organisasi nirlaba (non-profit) lainnya.

Berdasarkan pengalaman empiris, ada sejumlah indikasi manfaat perencanaan strategik bagi lembaga pendidikan atau organisasi sosial yang menggunakannya, yaitu:

Pertama, perannya sangat berarti dalam membantu organisasi untuk menetapkan isu strategik yang perlu dan relevan untuk diperjuangkan. Banyak lembaga pendidikan dan organisasi sosial tidak mampu menetapkan isu strategik, sehingga perjalanan organisasi bersifat rutin ataupun reaktif.

Kedua, perencanaan strategik bermanfaat untuk menyadarkan keseluruhan anggota ataupun pemangku kepentingan (stake-holders) organisasi mengenai visi, misi, mandat, serta nilai-nilai yang dianut oleh organisasi. Hal ini penting untuk menghindari organisasi tanpa kejelasan visi dan misi, atau hanya sebagian kecil elit organisasi yang memahami misi dan visi organisasi, sementara sebagian besar anggotanya tidak memahami atau tidak terlibat dalam menetapkannya.

Ketiga, organisasi sosial yang memiliki perencanaan strategik tidak hanya dapat membantu suatu organisasi tetap relevan dengan perubahan lingkungan sosial-politik, namun bahkan mampu mempengaruhi, mengarahkan dan membentuk sistem sosial, politik, dan ekonomi, sesuai dengan visi dan misi organisasi.

Terakhir, perencanaan strategik sangat bermanfaat untuk memungkinkan konsolidasi organisasi secara berkala, yang akan membawa pada suasana meningkatnya partisipasi keseluruhan anggota dalam proses pengambilan keputusan yang mendasar, serta menghindarkan terjadinya proses keterasingan (alienasi) bagi elit organisasi terhadap massa anggotanya.

 

  1. Proses Perumusan Rencana Strategis

 Ada sembilan langkah dalam merumuskan perencanaan strategis ini menurut P. Robbinns, Mery K. Coulter (2009), yaitu :

  1. Pendefinisian Misi Organisasi

Misi adalah pernyataan tentang dan untuk apa suatu organisasi atau lembaga didirikan. Atau bisa juga dikatakan bahwa misi merupakan justifikasi tentang kehadiran suatu lembaga, mengapa lembaga tersebut mengerjakan apa yang mesti dikerjakannya.

Langkah pertama adalah mendefinisikan atau menjelaskan misi organisasi. Setiap organisasi selalu memiliki sebuah misi yang menjelaskan tujuan umum (purpose) dari organisasi tersebut, dan secara esensial mencari jawaban atas pertanyaan : Apa lembaga yang sedang kita urus?, pertanyaan ini akan mendorong untuk melakukan pendefinisian misi organisasi oleh manejer melalui pengidentifikasian cakupan produk dan layanan yang perlu dibuat oleh lembaga tersebut.

  1. Pembuatan Tujuan

Langkah kedua dari proses permusan rencana strategis adalah pembuatan tujuan (objectives). Tujuan merupakan dasar dari semua program perencanaan, tujuan akan menerjemahkan misi ke dalam terminologi yang lebih kongkrit.

  1. Analisis Sumber Daya Organisasi

Langkah ketiga adalah melakukan analisis sumber daya organisasi. Apa yang dapat dilakukan oleh manejemen, selalu dibatasi oleh ketersediaan sumber daya yang dimiliki oleh organisasi tersebut. Keterbatasan sumber daya ini meliputi ; sumber daya manusia, dana dan fisik.

  1. Memperhatikan Lingkungan

Manajemen harus memperhatikan lingkungan organisasi untuk melakukan identifikasi berbagai faktor seperti faktor politik, sosial, ekonomi dan pasar yang memiliki dampak terhadap organisasi

  1. Membuat Perkiraan

Langkah kelima adalah suatu usaha lebih detil untuk memperkirakan kemungkinan kejadian pada masa yang akan datang. Perkiraan ini mencakup faktor eksternal seperti yang dibahas pada langkah empat di atas dan faktor internal, seperti proyeksi pengeluaran organisasi, perkiraan kebutuhan modal kerja dan investasi dan perkiraan prasyarat tenaga kerja yang dibutuhkan untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.

  1. Memperkirakan Peluang dan Ancaman

Analisis sumber daya organisasi dan perkiraan faktor internal dan eksternal, akan membentuk sebuah pangkalan data yang dapat digunakan untuk memperkirakan peluang dan ancaman.

  1. Mengidentifikasi dan Mengevaluasi Strategi

Setelah peluang dan ancaman dirumuskan, manejer harus mampu merumuskan alternatif strategi yang dapat digunakan untu mempertahankan dan meneruskan apa yang selama ini dilakukan.

  1. Memilih Strategi

Setelah strategi alternatif dirumuskan, seorang manejer mestinya mampu membuat keputusan mengenai strategi akan akan digunakan sebagai strategi baru organisasi, manejer harus yakin bahwa strategi yang dipilih tidak bertantangan dengan misi dan tujuan organisasi.

  1. Mengimplementasikan Strategi

Langkah terakhir dari proses pembuata rencana strategis adalah mengimplementasikan strategi yang telah dipilih, Strategi yang baik bisa saja menjadi menyimpang dari yang diharapkan bila manejer gagal menerjemahkan strategi tersebut ke dalam bentuk program, kebijakan dan rencana jangka pendek maupun jangka panjang. Tahap implemenasi membutuhkan komunikasi yang baik ke semua tingkat manajemen.

  1. Implementasi Perencanaan Strategik pada Sistem Pendidikan Nasional

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, perencanaan strategik juga dapat diimplementasikan pada sistem pendidikan nasional. Perencanaan pendidikan sendiri adalah salah satu kebijakan pemerintah yang terkait dengan kebijakan-kebijakan publik lainnya. Fungsi dari setiap keputusan publik juga diintegrasikan dengan keputusan-keputusan lainnya. Proses perencanaan pendidikan di Indonesia diarahkan pada relevansi, efisiensi, dan efektivitas pendidikan, sehinga sasaran pendidikan akan tercapai sesuai dengan tujuan yang telah digariskan. Ini pada awalnya adalah pendekatan perencanaan konvensional.

Hanya saja dalam tataran implementasi, apa yang telah digariskan seringkali berbeda dengan kenyataan di lapangan, sehinga optimalisasi kinerja manajemen pendidikan belum berjalan sesuai harapan. Dalam hal inilah, diperlukan perencanaan strategik yang tanggap terhadap tuntutan perubahan, tanpa melupakan misi, visi, mandat dan nilai-nilai yang telah ditetapkan.

Paradigma perencanaan lama yang bersifat sentralisasi juga telah bergeser dengan lahirnya Undang-undang No. 22 Tahun 1999 jo No. 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah dan Undang-undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah.

UU ini memberi kewenangan yang lebih luas pada provinsi, kabupaten dan kota untuk mengelola daerahnya masing-masing sesuai dengan aspirasi masyarakat dan potensi yang dimilikinya. Dan, tentu juga, agar pemerintah daerah bisa bersikap adaptif dan kreatif terhadap perubahan lingkungan eksternal yang cepat dan dinamis. Dengan digariskannya kebijakan tentang Otonomi Daerah, termasuk di bidang penyelenggaraan pendidikan, maka implikasinya berdampak pada perubahan sistem perencanaan.

  1. Proses Penyusunan Rencana Strategis (Renstra) di Lembaga Pendidikan

Proses penyusunan Rencana Strategis (Renstra) dapat dilakukan dengan sembilan langkah penting, yaitu

  1. Kesepakatan Awal

Rencana Strategis merupakan suatu dokumen yang harus disepakati bersama antara semua komponen yang berkepentingan di suatu lembaga, pengakuan terhadap isi, proses penyusunannya harus disapekati bersama, karena dokumen tersebut tidak semata dilihat sebagai dokumen teknis dan praktis yang mewadahi dan mengakomodasi berbagai kepentingan dalam lembaga pendidikan tersebut.

  1. Pernyataan Mandat

Mandat merupakan apa yang diharuskan atau diwajibkan oleh pihak yang lebih tinggi otoritasnya, seperti Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama yang merupakan dua lembaga yang mewadahi pendidikan di Indonesia. Mandat ini sangat penting karena dengan demikian renstra yang disusun tidak menjadi sesuatu yang liar atau ilegal.

  1. Perumusan Visi

Setiap lembaga pendidikan diharuskan memiliki visi tertentu, yaitu gambaran tentang kondisi ideal yang diinginkan pengguna pada masa mendatang atau dalam kurun waktu tertentu. Visi juga menunjukkan bagaimana orang melihat, menilai atau memberikan prediket terhadap lembaga pendidikan setelah lembaga tersebut berhasil mengemban misinya.

Nilai-nilai yag termuat dalam rumusan visi tersebut memiliki konsekuensi untuk ditindaklanjuti dalam implementasinya, tidak hanya disebut sebagai hiasan kata-kata semata, karena visi yang ditetapkan harus realistis dan tidak muluk-muluk. Disamping itu nilai yang ditetapkan dalam visi ini harus memperhitungkan kemampuan yang ada dan waktu yang tersedia. Untuk itu, disarankan agar suatu rumusan visi dapat dikoreksi atau direvisi sesuai dengan kondisi objektif lembaga masing-masing.

  1. Perumusan Misi

Misi adalah pernyataan tentang untuk apa suatu organisasi atau lembaga didirikan. Atau bisa juga dikatakan bahwa misi adalah justifikasi tentang kehadiran suatu lembaga, mengapa lembaga tersebut mengerjakan apa yang dikerjakannya. Untuk penyusunan misi sekolah, maka dapat menjadi pertimbangan adalah, tingkat satuan pendidikannya, misalnya SD, SLTP, SLTA atau PT serta tingkat kekhususan dari sekolah tersebut, seperti SMK, SMEA, MTs, MA dan lain sebagainya.

Namun yang perlu diingat adalah bahwa rumusan misi merupakan, uraian pencapaian dari rumusan visi yang telah dirumuskan sebelumnya.

  1. Analisa Kondisi Internal

Untuk dapat mewujudkan visi dan misi yang telah disusun, maka diperlukan sekali dukungan secara internal dari pihak lembaga berupa kajian mendalam tentang kondisi internal yang mampu menggambarkan tentang kekuatan dan kelemaha yang dimiliki oleh lembaga masing-masing.

  1. Analisa Kondisi Eksternal

Disamping analisa kondisi internal yang mesti dilakukan, maka manejer juga harus melakukan analisis kondisi eksternal. Analisis ini merupakan kajian mendalam mengenai kendala-kendala yang bakal dihadapi organisasi secara eksternal yang mungkin saja akan menjadi peluang, sekaligus pada kesempatan berikutnya akan menjadi ancaman bagi lembaga.

  1. Penentuan isi-isu strategis

Dari hasil analisis faktor-faktor interal dan eksternal di atas, dikemukakan banyak isu dengan tingkat kestrategisan yang berbeda-beda, dibutuhkan satu ketajaman berfikir untuk menilai apakah suatu isu dapat dianggap strategis atau tidak

  1. Perumusan Strategi, Kebijakan dan Program Strategis

Kesalahan yang paling fatal adalah mengemban misi dan merealisasikan visi tetapi tidak melalui suatu strategi yang jelas. Strategi adalah cara komrehensif yang ditempuh oleh lembaga pendidikan berdasarkan pertimbangan situasi dan kondisi tertentu dalam rangka mengemban misi dan mencapai visi.

Sedangkan kebijakan merupakan pilihan terbaik untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan (pengembagan stabilitas atau penghematan.

  1. Prinsip Implementasi Stragi, kebijakan dan program strategis

Dalam bagian ini ditetapkan mengenai bagaimana prinsip-prinsip ang harus dijalankan dalam rangka mengimplementasikan program-program strategis di atas setiap tahunnya.

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bryson, John M (2008). Perencanaan Strategis Bagi Organisasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dorothy M. Stewart (1989), Seri Pedoman Manajemen, Keterampilan Manajemen, Jakarta : Transito Asri Media

George R. Terry (2003), Dasar-dasar Manajemen, Jakarta : Bina Aksara

Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard (1988), Management of Organizational Behavior,  Pearson Prentice Hall

Sa’ud, Udin Syaefudin, dan Abin Syamsuddin Makmun (2007). Perencanaan Pendidikan: Suatu Pendekatan Komprehensif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Stephen P. Robbinns, Mery K. Coulter (2009), Management Jilid I, Pearson Prentice Hall

 

 

Download File .Doc        Download File .PPt

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam