Model Evaluasi Program 2

MODEL EVALUASI PROGRAM

 

  1. Konsep Evaluasi Program

Evaluasi merupakan suatu proses menyediakan informasi yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menentukan harga dan jasa dari tujuan yang dicapai, desain, implementasi dan dampak untuk membantu membuat keputusan, membantu pertanggungjawaban dan meningkatkan pemahaman terhadap fenomena. Menurut rumusan tersebut, inti dari evaluasi adalah penyediaan informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Sedangkan program didefinisikan sebagai suatu unit atau kesatuan kegiatan yang merupakan realisasi atau implementasi dari suatu kebijakan, berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu organisasi yang melibatkan sekelompok orang (Arikunto dan Syafruddin, 2004: 3). Dalam kosepsi ini, terdapat tiga pengertian penting yang perlu ditekankan dalam menentukan suatu program, yakni: 1) realisasi atau implementasi suatu kebijakan, 2) terjadi dalam waktu yang relative lama, bukan kegiatan tunggal tetapi jamak berkesinambungan, dan 3) terjadi dalam organisasi yang melibatkan orang banyak. Sebuah program bukan hanya kegiatan tunggal, melainkan kegiatan yang berkesinambungan karena melaksanakan suatu kebijakan. Dengan demikian program terdiri dari komponen yang saling kain mengkait dan saling menunjang dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Berdasarkan pengertian di atas, evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Menurut Cronbach and Stufflebeam, evaluasi program merupakan upaya menyediakan informasi untuk disampaikan pada pengambil keputusan (Arikunto dan Safruddin, 2004: 4). Dalam bidang pendidikan, Tyler mengemukakan bahwa evaluasi program merupakan proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan dapat terealisasikan (Arikunto dan Safruddin, 2004: 4). Dengan demikian evaluasi program pendidikan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan secara cermat untuk mengetahui mengetahui efektivitas masing-masing komponennya. Ada empat kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program keputusan yaitu menghentikan program, merevisi program, melanjutkan program, atau menyebarluaskan program.

  1. Model GOE (Goal Oriented Evaluation)

Goal Oriented Evaluation Model dikembangkan oleh Tyler yang merupakan model yang paling awal muncul. Dalam model Tyler ini, yang menjadi objek pengamatan adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai (Arikunto dan Safruddin, 2004: 12). Evaluasi dilakukan secara berkesinambungan, dalam rangka mengevaluasi sejauh mana tujuan yang sudah ditetapkan sudah tercapai atau terlaksana di dalam proses pelaksanaan program. Dalam pembelajaran sejarah sebagai suatu program, maka model Tyler ini menilai apakah materi pelajaran yang dikembangkan guru terarah pada pencapaian tujuan pembelajaran sejarah. Selanjutnya pengembangan materi pelajaran tersebut diimplementasikan dalam pelaksanaan pembelajaran melalui langkah-langkah yang berkesinambungan.

Evaluasi berorientasi tujuan dari Tyler didesain untuk menggambarkan sejauh mana tujuan program telah dicapai. Tyler menggunakan kesenjangan antara apa yang diharapkan dan apa yang berhasil diamati untuk memberikan masukan terhadap kekurangan dari suatu program. Pendekatan ini memfokuskan pada tujuan spesifik dari program dan sejauh mana program ini telah berhasil mencapai tujuan tersebut.

Dalam bidang pendidikan, kegiatan yang bisa dievaluasi oleh pendekatan ini bisa saja sesimpel kegiatan harian di kelas atau bahkan kegiatan kompleks yang melibatkan seluruh sekolah. Hasil yang diperoleh dari evaluasi ini nantinya dapat dipakai untuk merumuskan kembali tujuan dari kegiatan, mendefinisikan kembali kegiatan/program, prosedur penilaian dan perangkat yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan.

Berikut ini langkah-langkah dari Tyler untuk menentukan sejauh mana tujuan program/kegiatan pendidikan telah dicapai

  1. Menetapkan tujuan umum
  2. Menggolongkan sasaran atau tujuan
  3. Mendefinisikan tujuan dalam konteks istilah perilaku
  4. Menentukan situasi dimana pencapaian tujuan dapat ditunjukkan
  5. Mengembangkan atau memilih tenik pengukuran
  6. Mengumpulkan data kinerja
  7. Membandingkan data kinerja dengan perilaku yang menggambarkan tujuan.

Setelah langkah terakhir ini selesai, kesenjangan antara kinerja dan tujuan yang diinginkan dapat diketahui. Kemudian hasil ini digunakan untuk mengoreksi kekurangan program. Saat program koreksi berjalan, berikutnya siklus evaluasi ini bisa diulang kembali.

Pemikiran Tyler ini secara logis bisa diterima dan juga mudah dipakai oleh para praktisi evaluasi pendidikan. Dalam kegiatan belajar mengajar seorang guru/praktisi pendidikan pasti akrab denga tujuan umum dan tujuan khusus setiap kegiatan pendidikan. Tyler juga menggunakan pre-test dan post-test untuk digunakan sebagai salah satu teknik pengukuran. Tyler juga mendeskripsikan 6 tujuan dari sekolah (khususnya sekolah di amerika):

  1. Menguasai informasi
  2. Mengembangkan kebiasan kerja dan keteramilan belajar
  3. Mengembangkan cara berpikir yang efektif
  4. Menginternalisasikan sikap, minat, apresiasi dan kepekaan sosial
  5. Menjaga kesehatan fisik
  6. Mengembangkan filsafat hidup

Tyler menekankan perlu penyaringan tujuan umum sebelum menerimanya sebagai basis untuk mengevaluasi kegiatan. Dalam bidang pendidikan, cara mengnyaringnya dengan mengajukan pertanyaan yang bermakna mengenai filsafat, sosial dan pedagogis.

  1. Model CIPP (Context, Input, Process, and Product)

Konsep evaluasi model CIPP (Context, Input, Process and Product) pertama kali ditawarkan oleh Stufflebeam pada tahun 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act). Konsep tersebut ditawarkan oleh Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki. The CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but to improve (Madaus, Scriven, Stufflebeam, 1993: 118).

Evaluasi model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan, manajemen, perusahaan sebagainya serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek, program maupun institusi. Dalam bidang pendidikan Stufflebeam menggolongkan sistem pendidikan atas 4 dimensi, yaitu context, input, process dan product, sehingga model evaluasinya diberi nama CIPP model yang merupakan singkatan ke empat dimensi tersebut. Context evaluation dimaksudkan untuk mengevaluasi konteks misalnya mengevaluasi kurikulum yang berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Input evaluation dimaksudkan untuk mengevaluasi masukan seperti kompetensi guru, sumber-sumber belajar atau sarana pembelajaran, karakteristik sekolah, dan lain-lain. Process evaluation dimaksudkan untuk mengevaluasi proses belajar mengajar, fungsi manajemen, efisiensi administrasi, dan lain-lain. Sedangkan product evaluation adalah untuk mengevaluasi keberhasilan outcome sebuah program. Sudjana dan Ibrahim (2004: 246) menterjemahkan masing-masing dimensi tersebut dengan makna sebagai berikut:

  • Context: situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam sistem yang bersangkutan, seperti masalah pendidikan yang dirasakan, keadaan ekonomi negara, dan pandangan hidup masyarakat.
  • Input: sarana/modal/bahan dan rencana strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
  • Process: pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana/modal/bahan di dalam kegiatan nyata di lapangan.
  • Product: hasil yang dicapai baik selama maupun pada akhir pengembangan sistem pendidikan yang bersangkutan.

Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP tersebut merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. Dengan kata lain, model CIPP adalah model evaluasi yang memandang program yang dievaluasi dengan sebuah sistem. Dengan demikian, jika tim evaluator sudah menentukan model CIPP sebagai model yang akan digunakan untuk mengevaluasi  program yang akan ditugaskan maka mau tidak mau mereka harus menganalisis  program tersebut berdasarkan komponen-komponennya. Keempat komponen tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Context Evaluation (Evaluasi Konteks)

Evaluasi konteks dimaksud untuk menilai kebutuhan, masalah, asset, dan peluang guna membantu pembuat kebijakan menetapkan tujuan dan  prioritas, serta membantu kelompok pengguna lainnya untuk mengetahui tujuan,  peluang, dan hasilnya. Orientasi utama dari evaluasi konteks adalah mengidentifikasi latar belakang perlunya mengadakan perubahan atau munculnya program dari beberapa subjek yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

Evaluasi konteks merupakan penggambaran dan spesifikasi tentang lingkungan program, kebutuhan yang belum dipenuhi, karakteristik populasi dan sampel dari individu yang dilayani dan tujuan program. Evaluasi konteks membantu merencanakan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai oleh program dan merumuskan tujuan program. Ada 4 pertanyaan yang dapat diajukan sehubungan dengan evaluasi konteks, yaitu:

  • Kebutuhan apa saja yang belum terpenuhi oleh program, misalnya jenis makanan dan siswa yang belum menerima?
  • Tujuan pengembangan apakah yang belum dapat tercapai oleh program, misalnya peningkatkan kesehatan dan prestasi siswa karena adanya makanan tambahan?
  • Tujuan pengembangan apakah yang dapat membantu mengembangkan masyarakat, misalnya kesadaran orang tua untuk memberikan makanan bergizi kepada anak-anaknya?
  • Tujuan-tujuan yang mana sajakah yang paling mudah dicapai, misalnya  pemerataan makanan, ketepatan penyediaan makanan?
  1. Input Evaluation (Evaluasi Masukan)

Evaluasi masukan dilaksanakan untuk menilai alternatif  pendekatan, rencana tindak, rencana staf dan pembiayaan bagi kelangsungan  program dalam memenuhi kebutuhan kelompok sasaran serta mencapai tujuan yang ditetapkan. Evaluasi ini berguna bagi pembuat kebijakan untuk memilih rancangan,  bentuk pembiayaan, alokasi sumber daya, pelaksana dan jadwal kegiatan yang  paling sesuai bagi kelangsungan program. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk program pendidikan yang berkenaan dengan masukan, antara lain:

  • Apakah makanan yang diberikan kepada siswa berdampak jelas bagi  perkembangan siswa?
  • Berapa siswa yang menerima dengan senang hati atas makanan tambahan itu?
  • Bagaimana reaksi siswa terhadap pelajaran setelah menerima makanan tambahan?
  • Seberapa tinggi kenaikan nilai siswa setelah menerima makanan tambahan?
  1. Process Evaluation (Evaluasi Proses)

Evaluasi proses ditujukan untuk menilai implementasi dari rencana yang telah ditetapkan guna membantu para pelaksana dalam menjalankan kegiatan dan kemudian akan dapat membantu kelompok pengguna lainnya untuk mengetahui kinerja program dan memperkirakan hasilnya. Evaluasi proses digunakan untuk mendeteksi atau memprediksi rancangan prosedur atau rancangan implementasi selama tahap implementasi, menyediaan informasi untuk keputusan program dan sebagai rekaman atau arsip prosedur yang telah terjadi. Evaluasi proses meliputi koleksi data penilaian yang telah ditentukan dan diterapkan dalam praktek pelaksanaan program.

Pada dasarnya evaluasi proses untuk mengetahui sampai sejauh mana rencana telah diterapkan dan komponen apa yang perlu diperbaiki dalam tindak lanjut. Oleh Stufflebeam diusulkan pertanyaan-pertanyaan untuk proses antara lain sebagai berikut:

  • Apakah pelaksanaan program sesuai dengan jadwal?
  • Apakah staf yang terlibat di dalam pelaksanaan program akan sanggup menangani kegiatan selama program berlangsung dan kemungkinan jika dilanjutkan?
  • Apakah sarana dan prasarana yang disediakan dimanfaatkan secara maksimal?
  • Hambatan-hambatan apa saja yang dijumpai selama pelaksanaan program dan kemungkinan jika program dilanjutkan?
  1. Product Evaluation (Evaluasi Hasil)

Evaluasi hasil dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi dan menilai hasil yang dicapai yang diharapkan dan tidak diharapkan, jangka pendek dan jangka panjang baik bagi pelaksana kegiatan agar dapat memfokuskan diri dalam mencapai sasaran program maupun bagi pengguna lainnya dalam menghimpun upaya untuk memenuhi kebutuhan kelompok sasaran. Menurut Stufflebeam, evaluasi hasil ini dapat dibagi ke dalam penilaian terhadap dampak (impact), efektivitas (effectiveness), keberlanjutan (sustainability), dan daya adaptasi (trasnportability).  Menurut Tayibnapis (2000: 14) evaluasi produk untuk membantu membuat keputusan selanjutnya, baik mengenai hasil yang telah dicapai maupun apa yang dilakukan setelah program itu berjalan. Berdasarkan pendapat di atas dapat diketahui bahwa evaluasi produk merupakan penilaian yang dilakukan untuk mengukur keberhasilan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sangat menentukan apakah program diteruskan, dimodifikasi atau dihentikan (Widoyoko, 2007).

Dalam evaluasi hasil, pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain:

  • Apakah tujuan-tujuan yang ditetapkan sudah tercapai?
  • Pertanyaan-pertanyaan apakah yang mungkin dirumuskan berkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan?
  • Dalam hal-hal apakah berbagai kebutuhan siswa sudah dapat dipenuhi selama  proses pemberian makanan tambahan (misalnya variasi makanan, banyaknya ukuran makanan, dan ketepatan waktu pemberian)?
  • Apakah dampak yang diperoleh oleh siswa dalam waktu yang relatif panjang dengan adanya program makanan tambahan ini?

Untuk dapat merancang kegiatan evaluasi pada masing-masing level itu, Stufflebeam mengajukan beberapa langkah yang perlu ditempuh sebagai berikut:

  1. Membuat Fokus Evaluasi
  2. Identifikasi, level keputusan apa yang utama akan dilayani dengan evaluasi tersebut, apakah tingkat local, regional, atau nasional?
  3. Untuk tiap level pengambilan keputusan, perkirakan situasi keputusan yang akan dilayani dan gambarkan masing-masing focus, tingkat kekritisan, waktu, dan alternative komposisinya
  4. Definisikan criteria untuk masing-masing situasi keputusan dengan membuat: (1) spesifikasi variable untuk kepentingan pengukuran dan (2) standar-standar yang akan digunakan dalam memberi pertimabagan alternative
  5. Definisikan pada area kebijakan mana evaluator harus melakukan seluruh kegiatan penilaian
  6. Mengumpulkan Informasi
  7. Spesifikasikan sumber-sumber informasi yang akan digunakan
  8. Spesifikasikan instrument-instrumen dan metode pengumpulan data yang diperlukan
  9. Spesifikasikan prosedur penentuan sample yang akan dilakukan
  10. Spesifikasikan kondisi dan jadwal pelaksanaan pengumpulan data. 3)
  11. Mengorganisasikan Informasi
  12. Sediakan format-format untuk merekap informasi yang akan dikumpulkan
  13. Analisis terhadap informasi yang diperoleh
  14. Menganalisis Informasi
  15. Pilih prosedur analisis yang akan digunakan
  16. Tentukan teknik-teknik yang dipergunakan dalam analisis
  17. Melaporkan Informasi
  18. Definisikan siapa yang menjadi sasaran laporan evaluasi ini
  19. Tentukan teknik penyajian informasi yang akan dipakai
  20. Tetapkan format laporan
  21. Buat jadwal pelaporan
  22. Administrasi Evaluasi
  23. Rangkum jadwal evaluasi
  24. Tetapkan keperluan staf dan sumberdaya serta jadwal pengadaanya
  25. Tentukan teknik-teknik untuk mengadakan keperluan-keperluan  pelaksanaan evaluasi
  26. Menilai rancangan evaluasi yang potensial untuk menyediakan informasi yang valid, reliable, kredibel, tepat waktu, dan pervasive
  27. Menentukan dan mejadwalkan updating rancangan evaluasi secara  periodic
  28. Menyediakan angaran biaya untuk kegiatan evaluasi program secara total

Kelebihan dan Kekurangan Evaluasi Model CIPP

Berdasarkan kajian terhadap model ini, maka jika dibandingkan dengan model-model evaluasi yang lain, model CIPP memiliki beberapa kelebihan antara lain: lebih komprehensif, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan (input), proses, maupun hasil. Selain memiliki kelebihan model CIPP juga memiliki kerbatasan, antara lain penerapan model ini dalam bidang program pembelajaran di kelas mempunyai tingkat keterlaksanaan yang kurang tinggi jika tanpa adanya modifikasi. Hal ini dapat terjadi karena. untuk mengukur konteks, masukan maupun hasil dalam arti yang luar akan melibatkan banyak pihak yang akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih sehingga kurang dalam hal efektivitas dan efisiensinya.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arikunto, Suharsimi & Cepi Safruddin AJ. 2004. Evaluasi Program Pendidikan, Panduan Teoritis Praktis bagi Praktisi Pendidikan.. Jakarta: Bumi Aksara

Madaus, G.F., Scriven, M.S., dan Stufflebeam, D.L. 1993. Evaluation Models, Viewpoints on Educational and Human Services Evaluation. Boston: Kluwer-Nijhoff Publishing

Sudjana, Nana dan Ibrahim. 2004. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo

Tayibnapis, Farida Yusuf. 2000. Evaluasi Program. Jakarta: Rineka Cipta

Widoyoko, S.E.P. (2007). Pengembangan Model Evaluasi Pembelajaran IPS SMP. Yogyakarta: PPS UNY.

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam