Perkembangan Kognitif dan Bahasa

Perkembangan Kognitif dan Bahasa, Perkembangan

Sosioemosional serta Implikasinya dalam Pembelajarannya

 

  1. Teori perkembangan kognitif

Teori perkembangan kognitif dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

  • Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
  • Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
  • Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
  • Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
  1. Periode Sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:

  1. Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
  2. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
  3. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
  4. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
  5. Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
  6. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
  1. Periode Praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra) Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

  1. Periode Operasional Konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:

  1. Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
  2. Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan).
  3. Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
  4. Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
  5. Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
  6. Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
  1. Periode Operasional Formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada “gradasi abu-abu” di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif.

Dalam posting (Wiriana, 2008) pun dijelaskan tentang faktor  yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah:

  1. Gaya Pengasuhan.

Baumrind menekankan tiga tipe gaya pengasuhan yang dapat mempengaruhi    perkembangan kognitif,  pada anak (Wiriana, 2008), yaitu :

  1. Gaya pengasuhan Otoriter (authoritarian parenting)

Gaya pengasuhan otoriter adalah suatu gaya yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orangtua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orangtua yang otoriter menetapkan batasan-batasan yang tegas dan tidak memberikan peluang pada anak untuk berbicara atau bermusyawarah. Perkembangan kognitif anak juga menjadi kurang optimal karena kurang ada kesempatan untuk mengekspresikan rasa ingin tahu, mengembangkan kreativitas serta menyelesaikan masalah secara mandiri.

  1. Gaya pengasuhan Otoritatif (authoritative parenting)

Gaya pengasuhan Otoritatif adalah merupakan pengasuhan yang mendorong anak untuk tetap mandiri tapi masih menetapkan batas-batas dan pengendalian atas tindakan-tindakan mereka.  Orangtua mampu menunjukkan kehangatan dan kasih sayang sekaligus memungkinkan untuk melakukan musyawarah dalam menghadapi persoalan.

Pengasuhan otoritatif diasosiasikan dengan kompetensi sosial yang baik pada anak. Perkembangan kognitif diprediksikan menjadi lebih optimal karena anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, kemampuan untuk menyelesaikan masalah (problem solving) namun tetap mengetahui norma atau aturan yang berlaku, maupun mengembangkan rasa ingin tahu tanpa mengalami ketakutan.

  1. Gaya pengasuhan Permisi (permissive parenting)

Gaya pengasuhan permisi dibagi menjadi dua yaitu :

  • Pengasuhan permissive indulgent

Pengasuhan permissive indulgent merupakan suatu gaya pengasuhan dimana orangtua menjadi sangat terlibat dalam kehidupan anak tetapi menetapkan sedikit batasan atau kendali terhadap perilaku mereka.  Perkembangan kognitif ini menjadi kurang optimal karena tidak mengetahui mana hal yang benar dan kurang benar. Biasanya mereka jarang menaruh hormat pada orang lain, cenderung egois (selfistype), dan mengalami kesulitan untuk mengendalikan perilaku mereka.

  • Pengasuhan permissive indifferent

Pengasuhan permissive indifferent adalah gaya pengasuhan dimana orangtua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak.   Mereka berkembang menjadi pribadi yang cenderung liar, kurang mampu mengenal aturan serta menjadi kurang mampu membangun kemandirian dengan baik.

  1. Pengaruh Lingkungan.

Pengaruh lingkungan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan kognitif anak. Lingkungan dalam konteks ini adalah lingkungan di luar rumah atau keluarga. Lingkungan pertama yang berpengaruh adalah sekolah, pengaruh teman sebaya (peers), status sosial ekonomi, peran gender dalam keluarga, dan media masa.

Lingkungan yang kondusif bagi perkembangan kognitif anak adalah lingkungan yang mampu merangsang rasa ingin tahu, kemampuan untuk mengamati serta menyelesaikan masalah serta mengembangkan alternative penyelesaian masalah.

Beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan kognitif pada anak (Wiriana, 2008), antara lain :

  1. Asupan gizi yang memadai dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.
  2. Melakukan beberapa latihan fisik dan relaksasi seperti, brain gym.
  1. Perkembangan Bahasa

Terdapat banyak faktor antara bilogis dan pengalaman yang berperan dalam perkembangan bahasa.  Kita mengetahui bahwa budaya berperan penting dengan menentukan perangkat bahasa yang dibutuhkan dalam kehidupan orang-orang. Anak- anak mengembangkan bahasa selama mereka membangun kemampuan kognitif lain dengan secara aktif memahami apa yang mereka dengar, mencari pola-pola dan menyusun aturan-aturan.

Kejadian penting bayi dalam perkembangan bahasa adalah menangis (lahir), mendekut (usia 1-2 bulan), celotehan (usia 6 bulan),transisi dari seorang ahli linguistik universal menjadi pendengar bahasa yang spesifik (6 hingga 12 bulan), menggunakan bahasa (8-12 bulan),pemahaman kata ( 8 hingga 12 bulan), pengucapan kata-kata pertama(13 bulan), ledakan kosa kata (18 bulan), perkembangan pemahaman kata-kata dengan pesat (18 hingga 24 bulan) dan ucapan-ucapan dua kata (18 hingga 24 bulan ).

Sementara itu perkembangan bahasa anak-anak selama usia sekolah pada usia 5 atau 6 tahun ( kanak-kanak menengah dan akhir), kebanyakan sudah menguasai dasar-dasar bahasa aslinya. Maka pada fase ini, anak-anak semestinya menguasai tentang pelafalan,tata bahasa, perbendaharaan kata dan arti kata, pragmatika dan kesadaran metalinguistik.

Di masa remaja, perubahan bahasa mencakup penggunaan kata-kata yang lebih efektif, peningkatan kemampuan memahami metafora dan karya-karya literatur dewasa,serta peningkatan kemampuan menulis. Pada masa remaja, individu-individu sangat mahir memvariasikan gaya bahasanya agar pas dengan situasinya. Jadi, mereka dapat berbicara dengan teman sebayanya dengan bahasa slang yang bagi orang dewasa terdengar tidak ada artinya, tetapi bahasa itu merupakan tanda bahwa remaja yang bersangkutan adalah anggota kelompok tertentu.

Bagaimana kita bisa menjawab “ Apa kaitan antara bahasa dan berfikir?”. Secara emosional, terdapat dua isu utama dan terpisah terkait eksplorasi hubungan antara bahasa dan kognisi yaitu apakah kognisi penting untuk bahasa dan apakah bahasa penting untuk kognisi. Untuk persoalan pertama, beberapa ahli menyatakan bahwa perkembangan bahasa dan kognitif terjadi secara beriringan namun independen, dan kognisi tidak penting untuk perkembangan bahasa.

Sementara pada persoalan yang kedua, para ahli mengambil hasil studi terhadap anak-anak tuli yang menunjukkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah pada tingkat yang sama dengan anak seusianya yang tidak mengalami gangguan pendengaran, bahkan anak tuli tersebut tidak memiliki penguasaan bahasa isyarat. Jadi dapat disimpulkan bahwa bahasa tidak penting bagi perkembangan kognitif.

Meskipun demikian, tetap ada kaitanya antara aktivitas kognitif dan bahasa pada anak. Pemikiran (kognitif) tampaknya dapat mempengaruhi bahasa dan begitu juga sebaliknya,namun bukti yang terus bermunculan menunjukkan bahwa bahasa dan pemikiran bukan bagian dari sebuah sistem kognitif tunggal dan otomatis, melainkan berevolusi sebagai modul-modul yang terpisah, yang secara biologis mempersiapkan komponen pemikiran.

1.        Perkembangan Bahasa Anak

Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput juga dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya.  Pemerolehan bahasa oleh anak-anak merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan. Oleh sebab itulah masalah ini mendapat perhatian besar. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak-anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan bahasa.

  1. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum
    1. Reflexsive Vocalization

Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeuarkan suara tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.

  1. Babling

Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.

  1. Lalling

Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: “ba….ba…, ma..ma….

  1. Echolalia

Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.

  1. True Speech

Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.

  1. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Menurut Beberapa Ahli

Lundsteen, membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap, yaitu:

  1. Tahap pralinguistik

– Pada usia 0-3 bulan, bunyinya di dalam dan berasal dari tenggorok.

–  Pada usia 3-12 bulan, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.

  1. Tahap protolinguitik

– Pada usia 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).

  1. Tahap linguistic

– Pada usia 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.

Sedangkan Bzoch  membagi tahapan perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium, yaitu:

  1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik

Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk, dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik.

  1. Kata – kata pertama : transisi ke bahasa anak

Terjadi pada umur 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol, dan interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak.

Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.

  1. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal.

Terjadi pada umur 9-18 bulan. Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar umur 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk, dan pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.

  1. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.

Terjadi pada umur 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan benda, orang, dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik. Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa

  1. Perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, yaitu:
    1. Perkembangan Pragmatik

Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya.

  • Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial.
  • Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan.
  • Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.
  • Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah.
  • Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan benda-benda.
  • Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. -Pada usia 2 tahun,  anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru.
  • Lewat umur 3 tahun, anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan.
  • Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial yang melibatkan orang diluar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri serta menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan.
    1. Perkembangan Semantik

Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti pemakaian, dan lokasi. Definisi kata kerja anak prasekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar.

Anak prasekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.

  1. Perkembangan Sintaksis

Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.

  1. Perkembangan Morfologi

Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.

  1. Perkembangan Fonologi

Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna. Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anak dalam Berbahasa

Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu  biologis, kognitif,dan linkungan

  1. Evolusi Biologi

Evolusi biologis menjadi salah satu landasan  perkembangan bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa  manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup. Selain itu, adanya periode penting dalam mempelajari bahasa  bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini, jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa negara yang baru dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari (Asher & Gracia, 1969).

  1. Faktor kognitif

Individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya (Piaget,1954). Tahap awal perkembangan intelektual anak terjadi dari lahir sampai berumur 2 tahun. Pada masa itu anak mengenal dunianya melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan membentuk persepsi mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya. Misalnya, sapaan lembut dari ibu/ayah ia dengar dan belaian halus, ia rasakan, kedua hal ini membentuk suatu simbol dalam proses mental  anak. Perekaman sensasi  nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan bahasa yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya ibu yang mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya dengan melihat/mencermati bahasa simbol yang dikeluarkan oleh anak. Simbol yang dikeluarkan anak dan dibahasakan oleh ibu itulah yang nanti membuat suatu asosiasi, misalnya saat bayi lapar, ia menangis dan memasukkan tangan ke mulut, dan ibu membahasakan, “lapar ya.. mau makan?”

  1. Lingkungan Luar

Sementara itu, di sisi lain proses penguasaan bahasa tergantung dari stimulus dari lingkungan. Pada umumnya, anak diperkenalkan bahasa sejak awal perkembangan mereka, salah satunya disebut motherse, yaitu cara ibu atau orang dewasa, anak belajar bahasa melalui proses imitasi dan perulangan dari orang-orangdisekitarnya.

E.            PERKEMBANGAN SOSIOEMOSIONAL MASA KANAK-KANAK AWAL

Beberapa ahli pendidikan dan psikologi memandang bahwa masa kanak-kanak awal ini adalah periode yang sangat penting yang perlu penanganan sebaik mungkin. Maria Montessori (Elizabeth B.Hurlock, 1978 : 13) berpendapat bahwa usia 3 – 6 tahun merupakan periode sensitive atau masa peka yaitu suatu periode dimana suatu fungsi tertentu perlu dirangsang, diarahkan sehingga tidak terhambat perkembangannya. Sementara itu, Erikson, E. H (Helms & Turner, 1994 : 64) memandang periode ini sebagai fase sense of initiative.

Pada periode ini anak harus didorong untuk mengembangkan inisiatifnya, seperti kesenangan untuk mengajukan pertanyaan dari apa yang dilihat, didengar dan dirasakan. Jika anak tidak mendapat hambatan dari lingkungannya, maka anak akan mampu mengembangkan inisiatif, dan daya kreatifnya, dan hal-hal yang produktif dalam bidang yang disenanginya.

Tahap perkembangan pada masa kanak-kanak awal ini terdapat dalam empat tahap dari delapan tahapan perkembangan yang disebutkan oleh Erik Erikson (1950) dalam Papalia dan Old, 2008:370 dan empat tahap tersebut yaitu :

  1. Tahap 1: Basic Trust vs Mistrust (percaya vs curiga), usia 0-2 tahun.Dalam tahap ini bila dalam merespon rangsangan, anak mendapat pengalaman yang menyenangkan akan tumbuh rasa percaya diri, sebaliknya pengalaman yang kurang menyenangkan akan menimbulkan rasa curiga;
  2. Tahap 2 : Autonomy vs Shame & Doubt (mandiri vs ragu), usia 2-3 tahun. Anak sudah mampu menguasai kegiatan meregang atau melemaskan seluruh otot-otot tubuhnya.Anak pada masa ini bila sudah merasa mampu menguasai anggota tubuhnya dapat meimbulkan rasa otonomi, sebaliknya bila lingkungan tidak memberi kepercayaan atau terlalu banyak bertindak untuk anak akan menimbulkan rasa malu dan ragu-ragu;
  3. Tahap 3 : Initiative vs Guilt (berinisiatif vs bersalah), usia 4-5 tahun.Pada masa ini anak dapat menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orang tua, anak dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kondisi lepas dari orang tua menimbulkan rasa untuk berinisiatif, sebaliknya dapat menimbulkan rasa bersalah;
  1. Tahap 4 : industry vs inferiority (percaya diri vs rasa rendah diri), usia 6 tahun – pubertas. Anak telah dapat melaksanakan tugas-tugas perkembangan untuk menyiapkan diri memasuki masa dewasa. Perlu memiliki suatu keterampilan tertentu. Bila anak mampu menguasai suatu keterampilan tertentu dapat menimbulkan rasa berhasil, sebaliknya bila tidak menguasai, menimbulkan rasa rendah diri.

Anak usia 3 th sudah bisa diajak berdialog sampai mencapai suatu kesepakatan.Interaksi sosialnya juga semakin baik.Ia menunjukan apa yang dirasakannya pada orang lain dan juga memerhatikan apa yang dirasakan orang lain. Sedangkan pada usia 5 sampai 6 tahun anak tidak saja mulai bisa mengatakan mana yang salah,mana yang benar,tetapi juga mulai untuk mengerjakan hal yang benar.Kebutuhan untuk mengatasi emosi yang bertentangan mengenai diri sendiri adalah inti tahap ketiga dari perkembangan kepribadian yang disebutkan oleh Erikson (1950): inisiatif versus rasa bersalah (initiative versus guilt).Pertentangan timbul dari tumbuhnya perasaan mengenai tujuan yang mendorong anak untuk membuat perencanaan dan melakukannya, dan dari tumbuhnya rasa sedih anak mengenai berbagai perencanaan ini.

Pertentangan ini menandai terpisahnya dua bagian kepribadian; satu bagian yang tetap sebagai anak-anak, penuh gairah dan keinginan untuk mencoba berbagai hal dan mencoba kekuatan baru, dengan bagian yang menjadi dewasa, secara terus-menerus menguji hal-hal yang berkaitan dengan motif dan tindakan. Anak yang belajar mengatur kedua dorongan yang bertentangan ini akan mengembangkan sebuah “kebajikan”, yaitu tujuan, keberanian untuk membayangkan dan mengejar sebuah tujuan tanpa dikekang oleh perasaan bersalah atau ketakutan terhadap hukuman (Erikson, 1982).

  1. Pola Asuh Orang Tua

Anak-anak tumbuh dewasa dalam keluarga yang berragam. Setiap keluarga mempunyai pola asuh yang bebeda-beda dalam mengasuh anaknya. Gaya pengasuhan orang tua snagat berpengaruh terhadap pembentukan sosioemosional anak. Baumrind mengatakan bahwa ada empat bentuk utama gaya pengasuhan orang tua yaitu:

  1. Authoritarian

Orang tua berlaku sangat ketat dan mengontrol anak dengan mengajarkan standar dan          tingkah laku. Pola asuh ini mengakibatkan kurangnya hubungan yang hangat dan komunikatif dalam keluarga. Anak dari pola asuh ini cenderung moody, murung, ketakutan, sedih, menggambarkan kecemasan dan rasa tidak aman dalam berhubungan dengan lingkungannya, menunjukkan kecenderungan bertindak keras saat tertekan dan memiliki harga diri yang rendah.

  1. Authoritative

Orang tua memiliki batasan dan harapan yang jelas terhadap tingkah laku anak, mereka  berusaha untuk menyediakan paduan dengan menggunakan alasan dan aturan dengan reward dan punishment yang berhubungan dengan tingkah laku anak secara jelas. Orang tua sangat menyadari tanggung jawab mereka sebagai figur yang otoritas, tetapi mereka juga tanggap terhadap kebutuhan dan kemampuan anak. Pola asuh ini dapat menjadikan sebuah keluarga hangat, penuh penerimaan, mau saling mendengar, peka terhadap kebutuhan anak, mendorong anak untuk berperan serta dalam mengambil keputusan di dalam keluarga.

Anak dengan pola asuh ini berkompeten secara sosial, enerjik, bersahabat, ceria, memiliki keingintahuan yang besar, dapat mengontrol diri, memiliki harga diri yang tinggi, serta memiliki prestasi yang tinggi.

  1. Permissive
    Orang tua cenderung mendorong anak untuk bersikap otonomi, mendidik anak berdasarkan logika dan memberi kebebasan pada anak untuk menentukan tingkah laku dan kegiatannya. Anak dengan pola asuh ini cenderung tidak dapat mengontrol diri, tidak mau patuh, tidak terlibat dengan aktivitas di lingkungan sekitarnya.
  2. Pola Asuh tidak Terlibat

Orang tua sama sekali tidak melakukan kontrol pada anak, hanya memberikan materi, cenderung untuk lebih memperhatikan dan mementingkan kebutuhan dirinya dengan menunjukkan sedikit perhatian kepada anaknya karena orang tua merasa ada baiknya menolak keberadaan anak karena mereka sendiri memiliki banyak masalah dan cenderung merespon anak dengan sadis. Anak dengan pola asuh ini akan memiliki keterbatasan dalam akademis dan sosial.

  1. Permainan

Dalam suatu studi klasik tentang prasekolah, Mildred Parten (1932) menidentifikasi empat kategori permainan yang mencerminkan peningkatan tingkat interaksi dan kecanggihan sosial.

  1. Bermain sendirian (solitary play) merupakan permainan yang dilakukan sendirian, sering dengan mainan, dan tidak bergantung pada apa yang sedang dilakukan peserta didik-peserta didik lain
  2. Permainan Paralel (parallel play) termasuk melibatkan peserta didik-peserta didik dalam kegiatan yang sama dan dilakukan saling berdampingan namun dengan amat sedikit intervensi atau saling mempengaruhi.
  3. Permainan associative (associative play) banyak kemiripannya dengan permainan parallel namun dengan penambahan tingkat-tingkat interaksi dalam bentuk keberbagian, penggiliran, dan kesamaan minat dengan teman sepermainan.
  4. Permainan Kooperatif (cooperative play) terjadi apabila peserta didik-peserta didik bergabung menjadi satu untuk mencapai suatu tujuan bersama, sebagai misal membangun sebuah istana besar dan yang dibuat tiap peserta didik merupakan bagian dari seluruh bangunan istana itu. Sebagai misal, Howes dan Matheson (1992) mengikuti satu keompok peserta didik selama 3 tahun, mengamati permainan mereka pada saat mereka berusia 1 sampai 2 tahun hingga mereka berusia 3 sampai 4 tahun. Mereka menemukan bahwa peserta didik-peserta didik terlibat dalam jenis permainan artikel yang lebih kompleks pada saat mereka tumbuh semakin besar, terjadi kemajuan dari bentuk-bentuk permainan paralel ke permainan berpura-pura (pretend play) di mana peserta didik­peserta didik bekerja sama dalam merencpeserta didikan dan melakukan kegiatan (Roopnarine et al., 1992).

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ali, M. dan Asrori, M. (2005). Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Bjorklund, D.F. (2000) Children’s Thinking: Developmental Function and individual differences. 3rd ed. Bellmont, CA : Wadsworth

Budiamin, A., Hafidz, D. dan Daim. (2006). Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI Press.

Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.

Johnson, M.H. (2005). Developmental cognitive neuroscience. 2nd ed. Oxford : Blacwell publishing

Piaget, J. (1954). “The construction of reality in the child”. New York: Basic Books.

Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books.

Piaget, J. (1983). “Piaget’s theory”. In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.

Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.

Piaget, J. (2000). “Commentary on Vygotsky”. New Ideas in Psychology, 18, 241–259.

Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.

Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar. (1998). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud.

__________Rhayu karmla. 2012., Analisis Artikel Sosial Emosional Anak. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013 di http://rhayukarmla.blogspot.com

_________Newjoesafira. 2012., Beberapa-Faktor-Yang-Mempengaruhi Perkembangan Sosial Dan Emosional Anka Usia Dini. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013 di http://newjoesafirablog.blogspot.com

_________Rossafirmansyah. 2012., Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 3-4 Tahun. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013 di http://rossafirmansyah.blogspot.com

_________Rizal Adriene. 2013., Makalah Perkembangan Sosial Dan Emosional. Diunggah pada tanggal 26 Juni 2013 di http://rizaladriene.blogspot.com

_________Admin. 2010. Perkembangan Emosional Anak. Diakses pada tanggal 26 Juni 2013 di http://www.sarjanaku.com

Seifer, Calvin “Educational Psychology

Yusuf, LN. S. (2011). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam