Hakikat & Konsep Dasar Psikologi Pendidikan

Supriadi, M.Pd

Supriadi, M.Pd

“Hakikat dan Konsep Dasar Psikologi Pendidikan, Belajar, dan Pembelajaran, serta Faktor–faktor

yang Mempengaruhinya”

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan dikenal adanya pendidik dan peserta didik. Sebagaimana yang diamanatkan di dalam kurikulum, bahwa proses pembelajaran yang sebenarnya berpusat pada peserta didik. Peserta didik merupakan subjek belajar yang berusaha mengekplorasi hingga menguasai kompetensi pembelajaran yang ditetapkan. Dalam hal ini, peserta didik tidak dibiarkan secara sendiri dalam hal belajar tersebut. Oleh karena itu, pendidik merupakan fasilitator yang mengontrol dan membimbing peserta didik dalam belajar.

Keberhasilan proses pembelajaran pada dasarnya ditentukan oleh pendidik. Artinya, pendidik merupakan tiang keberhasilan pencapaian belajar peserta didik. Sehubungan dengan pencapaian tersebut, hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik peserta didik sebagai individu juga merupakan bagian yang mempengaruhi jalannya proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik perlu mengupayakan proses pembelajaran dengan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik peserta dirik. Peserta didik merupakan kumpulan individu dalam sebuah kelas yang heterogen.

Dalam memahami karakteristik peserta didik tersebut, psikologi pendidikan merupakan pemandu utama bagi pendidik dalam menentukan pendekatan atau strategi pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran dengan maksimal. Output proses pembelajaran atau pendidikan itu sebenarnya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas baik dari aspek inteligen spiritual, dan sosial.

Berdasarkan hal tersebut, psikologi pendidikan bersinergi secara holistik di dalam proses pembelajaran. Psikologi pendidikan dapat dikatakan sebagai kompas atau penunjuk arah bagi guru untuk menentukan pendekatan ataupun strategi pembelajaran berdasarkan gaya belajar peserta didik dengan tepat.

  1. Tujuan

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka terdapat tiga pokok yang dipaparkan di dalam makalah ini, antara lain sebagai berikut.

  1. Mendeskripsikan hakikat dan kosep-konsep dasar psikologi pendidikan.
  2. Mendeskripsikan hakikat belajar beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
  3. Mendeskripsikan hakikat pembelajaran beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

BAB II

HAKIKAT DAN KONSEP-KONSEP DASAR PSIKOLOGI PENDIDIKAN, BELAJAR DAN PEMBELAJARAN, SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA

 

  1. Hakikat dan Konsep Dasar Psikologi Pendidikan
  2. Pengertian Psikologi Pendidikan

Psikologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah, psikologi berarti ilmu tentang jiwa atau ilmu jiwa. Defenisi berikut ini menunjukkan beragamnya pendapat para ahli tentang psikologi (Sobur, 2003: 32).

  1. Ernesrt Hilgert (1957) dalam bukunya Introduction to Psychology:

Psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other animal” etc. (psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan lainnya).

  1. George A. Miller dalam bukunya Psychology and Communication:

Psychology is the science that attempts to describe, predict, and control mental and behavioral events” (Psikologi merupakan ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku).

  1. Clifford T. Morgan dalam bukunya Introduction to Psychology:

Psychology is the science of human and animal behavior” (Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dan hewan)

  1. Robert S. Woodworth dab Marquis DG dalam bukunya Psychology:

Psychology is the scientifict studies of individual activities relation to the inveronment” (Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas atau tingkah laku individu dalam hubungan dengan alam sekitar).

Sedangkan menurut Crow and Crow (dalam Djamarah, 2013: 1), psychology is the study of human behavior and human relationship. Berdasarkan defenisi tersebut, psikologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya, baik yang berupa manusia lain maupun yang bukan manusia.

Dari beberapa pendapat di atas menunjukkan rentangan makna psikologi dalam berbagai perspektif. Jika dilihat, terdapat beberapa perbedaan makna dari psikologi itu sendiri. Perbedaan tersebut boleh jadi disebabkan karena perkembangan psikologi itu sendiri. Apabila diamati berbagai defenisi psikologi di atas, terutama defenisi dari Morgan dan Hilgert, ternyata bahwa studi psikologi tidak hanya terbatas pada tingkah laku manusia saja, tetapi juga tingkah laku hewan. Hal ini semakin dipertegas oleh Chaplin (dalam Sobur, 2003: 33) dalam Dictionary of psychology, yang mendefenisikan psikologi sebagai “…the science of human and animal behavior, the study of organism in all its variety and complexity as it respond to the flux andflow of the physical and social events which make up the environment” (…psikologi adalah ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia dan hewan, juga penyelidikan terhadap organisme dalam segala ragam dan kemitraannya ketika mereaksi arus dan perubahan alam sekitar dan peristiwa-peristiwa kemasyarakatan yang mengubah lingkungan).

Jadi pada dasarnya, psikologi itu menyentuh banyak bidang kehidupan dan organisme, baik manusia maupun hewan. Namun, meskipun demikian, secara lebih spesifik psikologi sering dikaitkan dengan kehidupan organisme manusia.

Psikologi beserta sub-sub ilmunya, pada dasarnya mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lainnya. Misalnya hubungan psikologi dengan sosiologi, antropologi, ilmu politik, ilmu komunikasi, biologi, ilmu alam, filsafat, dan ilmu pendidikan. Hubungan ini biasanya bersifat timbal balik. Salah satu contohnya adalah hubungan psikologi dengan ilmu pendidikan, sehingga lahirlah namanya psikologi pendidikan.

Pendidikan merupakan suatu usaha untuk memanusiakan manusia. Artinya, ditujukan untuk membentuk sikap dan mental peserta didik ke arah yang lebih baik. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam UU RI No. 20 Tahun 2003, bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa pskologi sangat diperlukan dalam mengembangkan potensi diri peserta didik.

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi pendidikan adalah disiplin ilmu yang mempelajari tentang pemahaman gejala kejiwaan dalam tigkah laku manusia untuk kepentingan mendidik atau membina perkembangan kepribadian manusia. Jadi segala gejala-gejala yang berhubungan dengan proses pendidikan dipelajari secara mendalam pada psikologi pendidikan.

  1. Hubungan Psikologi dengan Ilmu Pendidikan

Psikologi dan ilmu pendidikan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena antara psikologi dengan ilmu pendidikan mempunyai hubungan timbal balik. Ilmu pendidikan sebagai suatu disiplin bertujuan memberikan bimbingan hidup manusia sejak ia lahir sampai mati. Pendidikan tidak akan berhasil dengan baik jika tidak dibarengi dengan psikologi. Demikian pula watak dan kepribadian seseorang ditunjukkan oleh psikologi. Oleh karena begitu eratnya hubungan antara psikologi dengan ilmu pendidikan, maka lahirlah yang namanya psikologi pendidikan.

Dasar-dasar psikologis ini sangat dibutuhkan para pendidik untuk mengetahui prilaku anak didiknya, apakah anak didiknya dalam keadaan yang baik saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran, atau dalam keadaan yang tidak baik. Kalau demikian, pendidik sangat membutuhkan pengetahuan ini untuk mengatasi anak didik yang seperti itu dan memotivasinya agar tetap dalam keadaan yang semangat dalam belajar. Selain untuk mengetahui prilaku anak didiknya, dasar-dasar psikologis ini juga dapat mengendalikan prilaku para pendidik dan memberikan prilaku yang lebih bijaksana dalam menghadapi keanekaragaman karakteristik anak didiknya. Seorang pendidik memang sangat membutuhkan pengetahuan seperti ini, agar dalam proses pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan dan tentunya dapat berhasil mencapai tujuan dengan cemerlang sesuai dengan lembaga pendidikan itu.

Reber (dalam Sobur, 2003: 71) menyebut psikologi pendidikan sebagai subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal berikut:

  1. Penerapan dalam prinsip-prinsip belajar dalam kelas

Prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik. Untuk itu antara psikologi dengan ilmu pendidikan tidak dapat dipisahkan, karena tanpa adanya psikologi, maka seorang guru atau pendidik tidak akan mampu menerapkan prinsip-prinsip belajar di dalam kelas.

  1. Pengembangan dan pembaruan kurikulum
  2. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan
  3. Sosialisasi proses dan interaksi dengan pendayagunaan ranah kognitif
  4. Penyelenggaraan pendidikan keguruan.

Dari penjelasan tersebut, maka jelas bahwa adanya keterkaitan antara psikologi dengan ilmu pendidikan, yang mana fokus utama dari psikologi pendidikan ini adalah interaksi pendidik dan peserta didik.

  1. Kontribusi Psikologi Pendidikan bagi Teori dan Praktek Pendidikan
    1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum  merupakan salah satu usaha untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional. Pengembangan kurikulum dilaksanakan karena pengembangan kurikulum merupakan bagian yang sangat esensial dalam proses pembelajaran, karena dalam proses pembelajaran itu tedapat empat bagian penting dalam kurikulum meliputi: tujuan, isi/materi, strategi pembelajaran, dan evaluasi. Keempat bagian tersebut saling berkaitan untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional.Pengembangan kurikulum tidak dilaksanakan hanya sesuai dengan kehendak seseorang atau suatu pihak, tetapi harus berpijak pada landasan-landasan (filosofis, psikologis, sosiologis, dan IPTEK) dan prinsip-prinsip (umum dan khusus) yang telah ada.

Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks pembelajaran. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana input, proses dan output pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.

Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Manusia sebagai makhluk yang unik, memiliki karakteristik masing-masing, kemampuan yang berbeda, serta kebutuhan yang berbeda pula. Maka bukanlah hal yang mengejutkan jika ada sekelompok siswa yang tidak cocok dengan sistem pendidikan formal. Jika siswa tidak dapat mengikuti pendidikan formal di sekolah karena alasan tertentu, ia berhak untuk memilih pendidikan alternatif lain yang dapat memenuhi haknya sebagai warga negara untuk belajar, karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, dalam bentuk apapun. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaaan serta karakterisktik-karakteristik individu lainnya.

Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya. Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum 2013, yang pada intinya diperlukan tidak hanya pengetahuan saja, tetapi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Sebenarnya ketiga domain ini sudah ada pada kurikulum sebelumnya, tetapi ternyata belum membawa dampak yang cukup signifikan, karena apa yang ada belum diimplementasikan secara utuh. Kurikulum 2013 dirancang untuk mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerja sama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.

Berdasarkan penjelasan di atas, terlihat bahwa psikologi pendidikan sangat berkontribusi dalam pengembangan kurikulum.

  1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Pengembangan Program Pendidikan

Kontribusi psikologi pendidikan terhadap pengembangan program pendidikan antara lain sebagai berikut.

  • Pengembangan program pendidikan, misalnya penyusunan jadwal pelajaran, jadwal ujian, dst. Hal ini tidak bisa lepas dari aspek psikologis peserta didik;
  • Untuk menyusun jadwal pelajaran diperlukan pengetahuan psikologi pendidikan.Tingkat kesukaran mata pelajaran berbeda-beda untuk setiap mata pelajaran. Agar seluruh materi pelajaran dapat diterima dengan baik oleh siswa, perlu penyusunan jadwal pelajaran dengan mempertimbangkan tingkat kesukarannya baik urutannya maupun waktunya. Misalnya mata pelajaran matematika ditempatkan pada jam pertama agar dapat diterima dengan baik oleh siswa, sedangkan mata pelajaran seni ditempatkan pada jam terakhir untuk meningkatkan gairah belajar siswa yang sudah lelah oleh berbagai materi pelajaran yang berat sebelumnya
  • Penentuan jurusan atau program;
  • Pengembangan program harus mengacu pada upaya pengembangan kemampuan potensial peserta didik.
    1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Pembelajaran

Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran.Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran.Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran. Di samping itu, kajian psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran. Kontribusi psikologi pendidikan terhadap sistem pembelajaran adalah dalam hal:

  • pemilihan teori belajar yang akan diaplikasikan;
  • pemilihan model-model pembelajaran;
  • pemilihan media dan alat bantu pembelajaran; dan
  • penentuan alokasi waktu belajar dan pembelajaran.
    1. Kontribusi Psikologi Pendidikan terhadap Sistem Evaluasi

Penilaiain pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melalui kajian psikologis kita dapat memahami perkembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.

Di samping itu, kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya. Ada sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu. Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal.

Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan pendidik dalam melaksanakan tugas profesionalnya, karena pendidik harus mampu memahami perubahan yang terjadi pada diri individu, baik perkembangan maupun pertumbuhannya. Atas dasar itu pula pendidik perlu memahami landasan pendidikan dari sudut psikologis. Dengan demikian, psikologi adalah salah satu landasan pokok dari pendidikan. Antara psikologi dengan pendidikan merupakan satu kesatuan yang sangat sulit dipisahkan. Subyek dan obyek pendidikan adalah manusia, sedangkan psikologi menelaah gejala-gejala psikologis dari manusia. Dengan demikian, keduanya menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

  1. Metode-metode dalam Psikologi Pendidikan

Metode (Yunani: methodos) adalah cara atau jalan (Sobur: 2003: 42). Dalam konteks ilmiah, metode menyangkut cara kerja, yaitu cara kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.

Ilmu pengetahuan psikologi secara metodis dan secara prinsipil sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan alam (Kartono, 1981: 15). Penyebabnya adalah pada ilmu pengetahuan alam orang meneliti objeknya secara murni ilmiah dengan menggunakan hukum-hukum dan gejala-gejala penampakan yang dapat diamati dengan cermat. Sebaliknya psikologi berusaha mempelajari diri manusia bukan sebagai objek murni, tetapi meninjau manusia dalam kemanusiaannya, mempelajari manusia sebagai subjek yang aktif dan mempunyai sifat-sifat tertentu. Psikologi mempunyai banyak metode. Beberapa diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Metode Eksperimental

Metode ekperimental merupakan observasi atau pengamatan terhadap suatu kejadian atau gejala yang berlangsung di bawah kondisi atau syarat tertentu. Dalam psikologi, metode ini bermaksud menyelidiki pengaruh kondisi tertentu terhadap tingkah laku individu.

  1. Metode Non Eksperimen
  • Metode Observasi

Metode observasi dalam psikologi banyak dilakukan untuk mempelajari tingkah laku anak-anak, interaksi sosial, aktivitas keagamaan, peperangan, aktivitas kejahatan, dan kejadian lain yang tidak dapat dieksperimenkan. Pada hakikatnya, metode eksperimen merupakan metode observasi yang dibatasi dengan menciptakan kondisi-kondisi tertentu.

  • Metode Studi Kasus

Metode ini terutama digunakan oleh dokter atau ahli psikologi klinis ketika mereka mengobati pasien. Si ahli psikologi mencoba untuk mengkontruksi kehidupan masa lalu subjek berdasarkan ingatannya, laporan anggota keluarga, dan rekaman lain.

Studi kasus dalam psikologi merupakan suatu penjelasan tentang seseorang dalam suatu situasi, dan suatu rekonstruksi dan interpretasi terhadap suatu episode penting dalam kehidupan seseorang. Studi kasus tidak harus tentang seseorang yang menyimpang atau situasi yang tidak biasa, tapi bisa tentang seseorang yang biasa dalam situasi yang biasa, misalnya bagaimana cara seseorang mengatasi masalahnya dalam pekerjaan. Studi kasus biasanya penelaahan secara mendalam terhadap suatu episode singkat, penting, atau kritis dalam kehidupan seseorang.

  • Metode Survey

Survey adalah suatu metode yang bertujuan mengumpulkan sejumlah besar variabel mengenai sejumlah besar individu melalui alat pengukur wawancara (Vrendenbregt, 1981: 44). Defenisi tersebut dapat diurakan sebagai berikut:

  1. Individu adalah satuan penelitian.

Data dikumpulkan melalui individu dengan tujuan agar melalui generalisasi, kita dapat menarik kesimpulan mengenai suatu kelompok masyarakat.

  1. Variabel yang dikumpulkan dalam metode survey pada prinsipnya tidak terhingga banyaknya, mulai dari variabel seperti latar belakang responden berupa jenis kelamin, agama, dll, sampai sikap dan pandangan responden, lingkungan sosial manusia, kelakuan manusia, dan juga mengenai ciri-ciri khas demografis dari suatu kelompok manusia.
  2. Alat pegukur yang dipakai adalah wawancara berupa daftar pertanyaan yang berbentuk suatu schedule atau suatu kuisiner, yang biasanya sangat berstruktur.

Pada dasarnya, survey mempunyai dua lingkup, yaitu survey sensus dan survey sampel.Sensus adalah survey yang meliputi seluruh populasi yang diinginkan; sedangkan survey sampel adalah survey yang hanya dilakukan pada sebagian kecil dari suatu populasi yang bersifat representative.

Survey berguna bagi politikus dan pengiklan, serta bermanfaat juga bagi ahli psikologi, terutama jika hendak meneliti topic-topik seperti efek perumahan pada kemampuan membaca atau berbagai cara mendisiplinkan anak pada berbagai etnis.

  • Metode Korelational

Metode ini digunakan untuk meneliti hubungan di antara berbagai variabel. Dengan kata lain,metode korelasional bermaksud mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasinya (Usman & Akbar, 1996: 5).

Contoh:

Studi yang mempelajari tentang hubungan kedisiplinan orang tua dengan prestasi belajar peserta didik

Metode korelasi bertujuan mengungkapkan peristiwa-peristiwa yang berhubungan satu sama lainnya secara positif dan negatif, meskipun tidak ada hubungan sebab akibat di antara peristiwa tersebut. Jika ditemukan korelasi, ini tidak berarti bahwa satu peristiwa pasti menyebabkan peristiwa lainnya.

  1. Belajar
    1. Pengertian dan Hakikat Belajar
  2. Pengertian Belajar

Berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada  proses belajar yang dialami siswa sebagai peserta didik.  Adapun proses belajar yang dilakukan seseorang, tergantung dari pandangannya tentang aktivitas belajar. Ada orang yang berpandangan bahwa belajar adalah suatu kegiatan menghafal fakta-fakta, sehingga seseorang sudah merasa puas bila mampu menghafal sejumlah fakta di luar kepala. Ada pula yang berpandangan bahwa belajar adalah suatu aktivitas latihan, sehingga untuk memperoleh kemajuan, seseorang melatih diri dengan berbagai aspek  tingkah laku meskipun tidak memiliki pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut.

Para ahli berusaha merumuskan tentang belajar. Di bawah ini dikemukan beberapa pengertian tentang belajar (Sobur, 2003: 219).

  1. Dalam bukunya Conditioning and Instrumental Learning (1967), Walker mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yakni “Perubahan perbuatan sebagai akibat dari pengalaman”.
  2. T Morgam, dalam Introduction to Psychology (1961), merumuskan belajar sebagai “Suatu perubahan yang reatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu”.
  3. Crow & Crow, dalam buku Educational Psychologi (1958), menyatakan “Belajar adalah memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap”.
  4. Hilgard & Bower dalam Theories of Learning, mengemukakan “Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dan perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respons pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, atau pengaruh obat).

Sedangkan menurut Howard L. Kingskey (dalam Djamarah, 2011: 13) mengatakan bahwa “Learning is the process by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training” (Belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau dirubah melalui praktek atau latihan).

Berdasarkan beberapa defenisi belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya melalui praktik atau latihan.

  1. Hakikat Belajar

Hakikat belajar sangat penting diketahui untuk dijadikan pegangan dalam memahami secara mendalam masalah belajar. Dari sejumlah pengertian belajar yang telah diuraikan ada kata yang sangat penting untuk dibahas, yaitu kata “Perubahan”. Ketika kata “Perubahan” dibicarakan dan dipermasalahkan, maka pembicaraan sudah menyangkut permasalahan mendasar dari masalah belajar. Apapun formasi kata dan kalimat yang dirangkai oleh para ahli untuk memberikan pengertian belajar, maka intinya tidak lain adalah masalah “Perubahan” yang terjadi dalam diri individu yang belajar.

Oleh karena itu, seorang yang melakukan aktivitas belajar dan diakhir dari aktivitasnya itu telah memperoleh perubahan dalam dirinya dengan pemilikan pengalaman baru, maka individu itu dikatakan telah belajar.Tapi perlu diingatkan, bahwa perubahan yang terjadi akibat belajar adalah perubahan yang bersentuhan dengan aspek kejiwaan dan mempengaruhi tingkah laku. Jadi, hakikat belajar adalah perubahan dan tidak setiap perubahan adalah sebagai hasil belajar.

  1. Ciri-ciri Belajar
    1. Perubahan yang terjadi secara sadar.
    2. Perubahan dalam belajar bersifat fungsional.
    3. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif.
    4. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara.
    5. Perubahan dalam belajar bertujuan dan terarah.
    6. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku.
  1. Teori-teori Belajar
  1. Teori Conditioning

Bentuk paling sederhana dalam belajar adalah conditioning, karena conditioning sangat sederhana bentuknya dan sangat luas sifatnya. Conditioning adalah suatu bentuk belajar yang kesanggupan untuk berespon terhadap stimulus tertentu dapat dipindahkan pada stimulus lain. Menurut teori conditioning, belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat (conditions) yang kemudian menimbulkan respon. Ada dua teori tentang condotioning, yaitu condotioning classic dan condotioning operan.  Berikut ini dipaparkan kedua teori tentang condotioning tersebut.

  • Conditioning Classic

Classical conditioning atau kondisioning klasik, ditemukan oleh Ivan P. Pavlov, seorang ahli fisiologi Rusia. Waktu Pavlov melakukan penelitian proses pencernaan pada anjing melihat daging, atau mendengar langkah kaki majikannya mendekat. Berdasarkan penemuan ini, Pavlov mengadakan eksperimen di laboratorium, dengan cara sebagai berikut :

Anjing yang telah dioperasi kelenjar ludahnya, supaya diukur sekresi ludahnya, kemudiaan dilaparkan. Setelah itu, bel dibunyikan selama 30 detik, kemudian tepung daging diberikan kepada anjing. Pada saat bel dibunyikan, anjing tidak mengeluarkan air liur, tetapi pada saat daging didekatkan pada ajing, anjing mengeluarkan air liur. Percobaan ini dilakukan berulang-ulang dengan jarak 15 menit. Setelah diulang sampai 32 kali, baru mendengar bel, anjing sudah mengeluarkan air liur. Setelah daging diberikan kepada anjing, keluarnya air liur bertambah banyak.

Berdasarkan eksperimen ini, Pavlov memberi nama stimulus dan respon sebagai berikut :

  1. Daging yang dapat menimbulkan keluarnya air liur pada anjing, disebut perangsang tak bersyarat, perangsang wajar, perangsang alami, atau unconditioned stimulus (US). Disebut demikian, karena memang sudah sewajarnya, kalau daging dapat merangsang anjing.
  2. Air liur yang keluar karena anjing melihat daging atau mencium bau daging, disebut respon tak bersyarat, unconditioned respons (UR), respons alami, respons wajar.
  3. Bunyi bel yang menyebabkan anjing mengeluarkan air liur, disebut conditioning stimulus (CS), perangsang tak wajar, perangsang tak alami, perangsang bersayarat.
  4. Air liur yang keluar karena anjing mendengar bel, disebut respons bersyarat, conditioning respons ( CR ), respon tak wajar, respon tak alami.

Dengan uraian ini, maka eksperimen Pavlov secara ringkas dapat diterangkan sebagai berikut :

US ___________________ UR

CS1+ US1 ___________________ UR1

CS2+ US2 ___________________ UR2

CS3+ US3 ___________________ UR3

CS32+US32 ___________________ UR32

CSn            ____________________ CRn

US merupakan stimulus yang secara biologis dapat menyebabkan adanya respons dalam bentuk refleks atau UR. Kalau dengan bantuan CS terbentuk CR, berarti sudah ada proses belajar.

Apabila pemberian CS tanpa adanya US terus-menerus diberikan kadar CR makin menurun, dan dapat hilang sama sekali. Proses ini disebut proses extinction, atau proses hilangnya respons yang diharapkan. Tetapi apabila US diberikan lagi, maka dalam waktu yang relatif singkat, CR akan muncul kembali kembali. Hal ini disebut spontaneous recovery.

Supaya conditioning dapat terjadi, CS harus bersifat informatif bagi organisme. Berarti, CS harus merupakan tanda kalau US akan datang. Walaupun pengulangan penyajian CS-US menyebabkan CR yang timbul makin lama makin teratur dan kuat (diketahui dari banyaknya air liur yang keluar), tetapi pada suatu saat, pengulangan CS-US tidak menyebabkan penambahan kekuatan CR. Tingkat CR yang stabil ini disebut asimtot kurve belajar.

Selain istilah-istilah ini, masih ada istilah lain dalam classical conditioning, yaitu generalisasi stimulus dan diskriminasi stimulus. Kecenderungan organisme memberi respon tidak hanya pada stimulus yang dilatihkan, tetapi juga pada stimulus lain yang berhubungan, disebut generalisasi.

Contohnya, seekor anjing yang dilatih untuk mengeluarkan air liur dengan cara mendengar nada tertentu, maka setelah berhasil dia juga mengeluarkan air liur, kalau mendengarkan nada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Hal ini berlawanan dengan yang terjadi dalam diskriminasi, dalam diskriminasi, organisme hanya memberi respon pada stimulus tertentu, sehingga tidak memberi respon pada stimulus yang lain, walaupun stimulus tersebut berhubungan dangan stimulus sebelumnya. Untuk terjadinya generalisasi atau diskriminasi, perlu ada latihan khusus yang berulang-ulang dan berbeda-beda.

Pavlov dalam penelitiannya juga dapat menciptakan conditioning tingkat tinggi, atau disebut higher order conditioning, dengan cara sebagai berikut :

Setelah bunyi bel (CS) dapat menyebabkan keluarnya air liur (CR) pada anjing, maka pada penelitian selanjutnya, sebelum bel dibunyikan, dinyalakan terlebih dahulu lampu berkedip-kedip di dekat anjing. Ketika lampu berkedip-kedip, anjing sudah mengeluarkan air liur meskipun makanan belum disajikan. Kondisi tersebut digambarkan sebagai berikut:

  1. Lampu berkedip-kedip ( CS* ) + bunyi bel ( CS ) ® air liur (CR).
  2. Lampu berkedip-kedip ( CS* ) ® air liur ( SR ).

Kelemahan conditioning klasik adalah sebagai berikut (Purwanto, 1955).

  1. Teori ini meganggap bahwa belajar hanyalah terjadi secara otomatis, keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukan
  2. Peranan latihan/kebiasaan terlalu ditonjolkan; sedangkan kita tahu bahwa dalam bertindak dan berbuat sesuatu, manusia tidak semata-mata bergantung pada pengaruh dari luar.
  3. Teori ini memang tepat kalau kita hubungkan dengan kehidupan binatang. Namun, pada manusia teori ini hanya dapat kita terima dalam hal-hal belajar tertentu saja.
  • Conditioning Operan

Istilah conditioning operan diciptakan oleh Skinner dan memiliki arti umum conditioning perilaku. Seperti Pavlov, Skinner memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dengan respon, tetapi Skinner memikirkan tingkah laku sebagai hubungan antara perangsang dengan respon, tetapi Skinner membedakan dua macam respons, yaitu:

  1. Respons yang ditimbulkan oleh perangsang tertentu dan disebut respondent respons. Jadi respon ini timbulnya karena didahului perangsang tertentu. Perangsang seperti ini disebut eleciting stimuli, dan hanya dapat menimbulkan respons secara relatif menetap. Misalnya makanan hanya dapat menyebabkan keluarnya air liur.
  2. Respon yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Respons seperti ini disebut operant respons atau instrumental respons. Perangsangnya disebut reinforcer, karena perangsang tersebut memperkuat respons yang telah dilakukan oleh organisme. Fokus teori Skinner pada jenis operant respon, sehingga teori belajarnya disebut teori belajar operant conditioning.
  3. Teori Psikologi Gestalt

Teori belajar menurut psikologi Gestalt seringkali disebut insignt full learning atau field theory.Ada pula istilah lain yang sebetulnya identik dengan teori ini, yaitu organismic, pattern, holistic, integration, configuration, dan closure.

Belajar dalam pandangan teori Gestalt bukan sekedar proses asosiasi antara stimulus – respons yang kian lama kian kuat disebabkan adanya berbagai latihan atau ulangan-ulangan. Menurut aliran ini, belajar itu terjadi apabila terdapat pengertian (insign).Pengertian ini muncul jika seseorang, setelah beberapa saat, mencoba memahami suatu masalah, tiba-tiba muncul adanya kejelasan, terlihat olehnya hubungan antara unsur-unsur yang satu dengan yang lain, kemudian dipahami sangkut pautnya, untuk kemudian dimengerti maknanya.

Kesimpulan dari teori psikologi Gestalt adalah sebagai berikut (Sobur, 2003: 234).

  • Belajar dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju bagian-bagian. Dari hal-hal yang sangat kompleks menuju hal-hal yang sangat sederhana.
  • Keseluruhan memberi makna pada bagian- Bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut
  • Belajar adalah penyesuaian diri dengan ling Seseorang belajar jika ia dapat berbuat dan bertindak sesuai dengan yang dipelajari
  • Belajar akan berhasil jika tercapai kematangan untuk memperoleh pengertian.
  • Belajar akan berhasil jika ada tujuan yang berarti bagi individu
  • Dalam proses belajar itu, individu selalu merupakan organisme yang aktif, bukan bejana yang harus diisi orang lain.
    1. Jenis-jenis Belajar

Walaupun belajar dikatakan berubah, namun untuk mendapatkannya bermacam-macam caranya. Setiap perbuatan belajar mempunyai ciri-ciri masing-masing.

  1. Belajar Arti Kata-kata

Maksud dari belajar arti kata-kata adalah orang mulai menangkap arti yang terkandung dalam kata-kata yang digunakan. Pada awalnya, suatu kata sudah dikenal, akan tetapi belum ddiketahui artinya. Misalnya pada anak kecil. Seorang anak kecil sudah mengetahu kata “Ibu”, akan tetapi dia belum mengenal apa arti dari kata-kata tersebut. Namun, lama kelamaan dia juga mengetahui arti kata tersebut.

Setiap pelajar atau mahasiswa pasti belajar arti kata-kata tertentu yang belum diketahui. Mengerti arti kata-kata merupakan hal yang paling penting agar tidak salah dalam menggunakan kata-kata tersebut.

  1. Belajar Kognitif

Belajar kognitif penting dalam belajar. Dalam belajar, seseorang tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan belajar kognitif, karena belajar kognitif bersentuhan dengan masalah mental.Objek-objek yang diamati dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan, atau lambang yang merupakan sesuatu bersifat mental.

  1. Belajar Menghafal

Menghafal adalah suatu aktivitas menanamkan suatu materi verbal dalam ingatan, sehingga nantinya dapat diingat kembali secara harfiah dan adanya skema kognitif. Dalam menghafal ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, yaitu mengenai tujuan, pengertian, perhatian, dan ingatan. Efektif tidaknya dalam menghafal dipengaruhi oleh syaraf tersebut.

  1. Belajar Teoritis

Tujuannya adalah untuk menempatkan semua data dan fakta (pengetahuan) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan masalah, seperti yang terjadi dalam bidang-bidang ilmiah.

  1. Belajar Konsep

Konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Orang yang memiliki konsep mampu mengadakan abstraksi terhadap objek-objek yang dihadapi, sehingga objek ditempatkan dalam golongan tertentu.

  1. Belajar Kaidah

Belajar kaidah termasuk dari jenis belajar kemahiran intelektual yang dikemukakan oleh Gagne. Belajar kaidah adalah bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu kesatuan yang mempresentasikan suatu keteraturan. Orang yang sudah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep.

  1. Belajar Berpikir

Dalam belajar ini, orang dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahkan, tetapi tanpa melalui pengamatan dan reorganisasi dalam pengamatan. Konsep Dewey tentang berpikir menjadi dasar untuk pemecahan masalah adalah sebagai berikut (Djamaris, 2011:34):

  • adanya kesulitan yang dirasakan dan kesadaran akan adanya masalah;
  • masalah itu diperjelas dan dibatasi;
  • mencari informasi atau data dan kemudian data tersebut diorganisasikan;
  • mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesis, kemudian hipotesis itu dinilai, diuji agar dapat ditentukan diterima atau ditolak; dan
  • penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sebagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk data sampai pada kesimpulan
    1. Belajar Keterampilan Motorik

Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerak berbagai anggota badan secara terpadu. Keterampilan semacam itu disebut “motoric”, karena otot, urat dan persendian terlibat secara langsung, sehingga keterampilan sungguh-sungguh berakar dalam kejasmanian.

  1. Belajar Estetis

Belajar ini bertujuan untuk membentuk kemampuan menciptakan dan menghayati keindahan dalam berbagai bidang kesenian.

  1. Aktivitas-aktivitas Belajar
  1. Mendengarkan
  2. Memandang

Memandang adalah mengarahkan penglihatan ke suatu objek. Tetapi perlu dingat bahwa tidak semua memandang termasuk ke dalam aktivitas belajar. Aktivitas memandang dalam hal ini adalah aktivitas memandang yang bertujuan sesuai dengan kebutuhan untuk mengadakan perubahan tingkah laku yang positif.

  1. Meraba, membau, dan mencicipi

Aktivitas-aktivitas ini dapat dikatakan belajar, jika semua aktivitas ini didorong oleh kebutuhan, motivasi untuk mencapai tujuan dengan menggunakan situasi tertentu untuk memperoleh perubahan tingkah laku.

  1. Menulis dan mencatat

Menulis dan mencatat adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dalam aktivitas belajar. Mencatat yang termasuk ke dalam aktivitas belajara yaitu apabila dalam mencatat orang mengetahui kebutuhan dan tujuannya, serta menggunakan seperangkat tertentu agar catatan itu nantinya berguna bagi pencapaian  tujuan belajar.

  1. Membaca
  2. Membuat Ikhtisar atau Ringkasan dan Menggarisbawahi
  3. Mengamati tabel-tabel, diagram-diagram dan bagan-bagan
  4. Menyusun paper atau kertas kerja
  5. Mengingat
  6. Berpikir
  7. Latihan atau praktek
  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
  2. Faktor Internal

Faktor internal, yaitu faktor yang berada dalam diri individu yang meliputi dua faktor, diantaranya faktor psikis dan faktor fisik.

  • Faktor Fisik

Faktor fisik dapat dikelompokkan lagi menjadi beberapa kelompok, yaitu faktor kesehatan, cacat yang dibawa anak saat dalam kandungan. Misalnya, anak yang kurang sehat atau kurang gizi, daya tanggap dan kemampuan belajarnya akan kurang dibandingkan dengan anak yang sehat.

  • Faktor Psikis
  1. Faktor intelegensi atau kemampuan

Kenyataan menunjukkan, ada orang yang dikaruniakan kemampuan tinggi, sehingga mudah mempelajari sesuatu.Dan sebaliknya, ada orang yang dikaruniakan kemampuan rendah, sehingga sulit untuk mempelajari sesuatu.

  1. Faktor perhatian dan minat

Bagi seorang anak, mempelajari suatu hal yang menarik perhatian akan lebih mudah diterima daripada mempelajari hal yang tidak menarik perhatian mereka.

  1. Faktor bakat
  2. Faktor motivasi
  3. Faktor kamatangan

Kematangan adalah tingkat perkembangan pada individu atau organ-organnya sehingga sudah berfungsi sebagaimana mestinya.Kita tentu tidak bisa melatih anak yang baru berumur 5 bulan untuk belajar berjalan. Kalaupun kita paksa, anak itu tetap tidak akan sanggup melakukannya, karena untuk bisa berjalan, ia memerlukan kematangan potensi-potensi fisik dan psikisnya.

  1. Faktor kepribadian
  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri anak. Yang termasuk ke dalam foktor eksternal adalah sebagai berikut:

  • Faktor Keluarga

Menurut pandangan sosiologis, keluarga adalah lembaga sosial terkecil dari masyarakat. Dalam hubungan dengan belajar, faktor keluarga merupakan salah satu penentu yang berpengaruh dalam belajar, diantaranya adalah:

  1. Faktor ekonomi keluarga
  2. Hubungan emosional anak dan orang tua
  3. Cara mendidik anak
    • Faktor Lingkungan Sekolah

Faktor lingkungan sosial sekolah, seperti para guru, pegawa administrasi, dan teman-teman sekolah dapat mempengaruhi semangat belajar anak. Sebagai contoh: Sikap, dan cara mengajar guru yang baik akan meningkatkan semangat belajar anak.

  • Faktor Lingkungan Lain

Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang baik, memiliki intelegensi yang baik, bersekolah di suatu sekolah yang keadaan guru-gurunya serta alat-alat pelajarannya baik, belum tentu pula menjamin anak belajar dengan baik.Masih ada faktor penentu lainnya yang mempengaruhi hasil belajarnya. Misalnya karena jarak antara rumah dan sekolah yang terlalu jauh, sehingga memerlukan kendaraan untuk menempuh perjalanan yang jauh yang dapat melelahkan anak, dan ini dapat berakibat pada proses dan hasil belajar anak. Selain itu, faktor teman bergaul dan aktivitas dalam masyarakat dapat pula mempengaruhi kegiatan belajar anak.

  1. PEMBELAJARAN
    1. Hakikat Pembelajaran

Dalam hal belajar peran guru adalah membelajarkan siswa untuk belajar. Dengan kata lain guru adalah subjek pembelajar siswa. Belajar yang dilakukan oleh siswa berkaitan erat dengan usaha pembelajaran yang dilakukan oleh guru.Peran guru dalam kegiatan pembelajaran sangat penting lebih-lebih bila para peserta didik kurang menyadari arti pentingnya belajar bagi masa depannya. Pembelajaran merupakan salah satu faktor yang sangat strategis dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Guru bertugas untuk menyusun program pembelajaran yang menguntungkan bagi proses belajar peserta didik.

Dewasa ini dalam hal pembelajaran selalu dikaitkan dengan konstruktivisme. Konstruktivisme menjadi kata kunci dalam hampir setiap pembicaraan mengenai pembelajaran. Para ahli konstruktivisme menekankan pentingnya upaya-upaya untuk mengaktifkan struktur kognitif siswa agar dapat membangun makna dari apa yang dipelajari. Battencourt (Paulina Pannen dkk, 2001) menyatakan bahwa konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan merupakan akibat dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang (peserta didik). Filsafat Konstruktivisme menjadi landasan bagi banyak strategi pembelajaran, terutama yang dikenal dengan nama student-centered learning, belajar yang berorientasi pada peserta didik, yang mengutamakan keaktifan peserta didik dalam mengkonstruksikan pengetahuan berdasarkan interaksinya dalam pengalaman belajar yang diperoleh dan atau difasilitasi pendidik.

Proses belajar yang merupakan proses internal peserta didik adalah sesuatu yang tidak dapat diamati, namun dapat dipahami oleh guru. Perilaku belajar tersebut merupakan respon peserta didik terhadap tindak pembelajaran guru. Kaitan antara belajar dan pembelajaran sangat erat. Guru seyogyanya merancang proses pembelajaran sesuai dengan fase-fase perkembangan siswa. Di samping itu guru selalu berusaha untuk melakukan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan, artinya bahwa proses pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya harus selalu disesuaikan dengan kemajuan-kemajuan atau perubahan-perubahan yang terjadi. Cara-cara yang diusulkan untuk perbaikan proses pembelajaran bagi guru adalah melalui penelitian tindakan kelas. Belajar dan pembelajaran merupakan dua hal yang terkait erat. Bila teori belajar menerangkan bagaimana terjadinya belajar maka teori pembelajaran menerangkan bagaimana pembelajaran bisa mempermudah terjadinya belajar .

Lefrancois (1972:129) menyatakan bahwa pembelajaran atau instruction : as the arrrangement of the learning situation in such a way that learning is facilitated. Selanjutnya Gagne melihat dua hal penting tentang arrangement of the learningsituation yaitu yang melibatkan  management of learning dan yang melibatkan condition of learning. Yang pertama menjawab pertanyaan tentang motivasi, minat dan perhatian, evaluasi hasil belajar, dan laporan tentang hasil. Pertanyaan ini secara relatif tidak tergantung dari isi yang dipelajari atau syarat yang diperlukan untuk belajar. Pelaksanaan condition of learning melibatkan prosedur yang erat berkaitan dengan isi (content).

Menurut Bettencourt (dalam Paulina Pannen dkk, 2001) bagi konstruktivisme, pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari pendidik  kepada peserta didik melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan peserta didik membangun sendiri pengetahuannya. Pembelajaran berarti partisipasi pendidik bersama peserta didik dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi pembelajaran adalah bentuk belajar sendiri. Tugas pendidik adalah membantu peserta didik agar mampu mengkonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkret. Pembelajaran pada dasarnya suatu proses kegiatan guru yang ditujukan kepada siswa dalam menyampaikan pesan berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan serta membimbing dan melatih agar siswa belajar. Dengan demikian, guru harus menciptakan suatu kondisi lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Guru melakukan kegiatan pembelajaran atau membelajarkan siswa sedangkan siswa melakukan kegiatan belajar.

Prinsip-prinsip Pembelajaran

Menurut Piaget (Dimyati & Mudjiono, 1994 : 13-14), pembelajaran terdiri dari empat langkah berikut :

  1. Langkah satu: menentukan topik yang dapat dipelajari oleh anak sendiri. Penentuan topik tersebut dibimbing dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut.
  • Pokok bahasan manakah yang cocok untuk eksperimentasi ?
  • Topik manakah yang cocok untuk pemecahan masalah dalam situasi kelompok ?
  • Topik manakah yang dapat disajikan pada tingkat manipulasi fisik sebelum secara verbal ?
  1. Langkah dua: memilih atau mengembangkan aktivitas kelas dengan topik tertentu. Hal ini dibimbing dengan pertanyaan sebagai berikut.
  • Apakah aktivitas itu memberi kesempatan untuk melaksanakan metode eksperimen ?
  • Dapatkah kegiatan itu menimbulkan pertanyaan siswa ?
  • Dapatkah siswa membandingkan berbagai cara bernalar dalam mengikuti kegiatan di kelas?
  • Apakah masalah tersebut merupakan masalah yang tidak dapat dipecahkan atas dasar pengisyaratan perseptual?
  • Apakah aktivitas itu dapat menghasilkan aktivitas fisik dan kognitif?
  • Dapatkah kegiatan siswa itu memperkaya konstruk yang sudah dipelajari?
  1. Langkah tiga: mengetahui adanya kesempatan bagi guru untuk mengemukakan pertanyaan yang menunjang proses pemecahan masalah. Bimbingan pertanyaan sebagai berikut.
  • Pertanyaan lanjut yang memancing berpikir seperti “bagaimana jika“.
  • Memperbandingkan materi apakah yang cocok untuk menimbulkan pertanyaan spontan?
  1. Langkah empat: menilai pelaksanaan tiap kegiatan, memperhatikan keberhasilan dan melakukan revisi. Bimbingan pertanyaan sebagai berikut.
  • segi kegiatan apakah yang menghasilkan minat dan keterlibatan siswa yang besar?
  • segi kegiatan manakah yang tak menarik, dan apakah alternatifnya?
  • apakah aktivitas itu memberi peluang untuk mengembangkan siasat baru untuk penelitian atau meningkatkan siasat yang sudah dipelajari?
  • apakah kegiatan itu dapat dijadikan modal pembelajaran lebih lanjut?

Secara singkat Piaget menyarankan agar dalam pembelajaran guru memilih masalah yang berciri kegiatan prediksi, eksperimentasi, dan eksplanasi.Dalam hal pemebelajaran yang perlu mendapatkan perhatian adalah bahwa bagaimana agar siswa sebagai subjek dapat belajar. Guru tugasnya menyediakan kemudahan agar siswa mudah belajar.  Titik beratnya pada siswa. Pembelajaran berorientasi pada siswa, bukan  pada guru. Bagaimana pembelajaran mempermudah terjadinya belajar?

Guru perlu memahami teori dan prinsip-prinsip belajar yang kemudian digunakan untuk menentukan prosedur pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Jerome Bruner (1960) mengemukakan perlunya ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas.

Menurut pandangan Bruner, teori belajar itu bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran itu preskriptif.Beberapa prinsip belajar menjadi dasar tindak pembelajaran. Dengan kata lain prinsip-prinsip belajar merupakan patokan tindak pemebalajaran guru, atau prinsip-prinsip belajar memiliki implikasi kuat bagi tindak pemeblajharan guru.

Menurut Dimjati dan Mudjiono, (1994: 56-60), terdapat 7 prinsip-prinsip belajar yang kemudian berimplikasi pada  prinsip-prinsip pembelajaran yaitu : (1) Perhatian dan motivasi; (2) Keaktifan; (3) Keterlibatan langsung (berpengalaman); (4) Pengulangan; (5) Tantangan; (6) Balikan dan Penguatan; dan (7) Perbedaan Individual.

  1. Metode Pembelajaran

Menentukan bagaimana cara-cara pembelajaran yang baik bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak penelitian yang telah digunakan oleh para ahli psikologi untuk menentukan cara-cara pembelajaran yang baik. Metode dan teknik pembelajaran adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Operasionalisasi dari satu atau lebih metode-metode pembelajaran direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran berdasarkan strategi pembelajaran yang telah ditetapkan.

Selanjutnya, beberapa metode pembelajaran dapat diuraikan sebagai berikut.

  1. Metode Ceramah

Ceramah merupakan suatu cara penyampaian informasi dengan lisan dari seseorang kepada sejumlah pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramahdan komunikasi yang terjadi searah dari pembicaraan kepada pendengar. Metode ceramah merupakan metode yang paling banyak dipakai, terutama untuk bidang non esakta.

Kelebihan metode ceramah:

  1. Dapat menampung kelas besar, tiap siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk mendengarkan dan karenanya biaya yang digunakan relatif lebih murah.
  2. Konsep yang disajikan secara hirarki akan memberikan fasilitas belajar kepada siswa.
  3. Guru dapat memberi tekanan terhadap hal-hal penting, hingga waktu dan energi dapat digunakan sebaik mungkin.
  4. Isi silabus dapat diselesaikan dengan lebih mudah, karena guru tidak harus menyesuaikan dengan kecepatan belajar siswa.
  5. Kekurangan atau tidak adanya buku pelajaran dan alat bantu pelajaran, tidak menghambat dilaksanakannya pelajaran dengan ceramah.

Kelemahan metode ceramah:

  1. Pelajaran berjalan membosankan dan siswa menjadi pasif karena tidak berkesempatan untuk menemukan sendiri konsep yang diajarkan
  2. Kepadatan konsep-konsep yang diberikan dapat membuat siswa tidak mampu menguasai bahan yang diajarkan
  3. Pengetahuan yang diperoleh melalui ceramah lebih cepat terlupakan
  4. Ceramah menyebabkan belajar siswa menjadi “belajar menghafal”.
    1. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah metode pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan tersebut merupakan perangsang yang baik dalam pemahaman suatu informasi.

Umumnya pada setiap kegiatan belajar mengajar selalu ada tanya jawab. Namun, tidak pada setiap kegiatan pembelajaran dapat disebut menggunakan metode tanya jawab. Suatu pengajaran disajikan melalui tanya jawab jika pelajaran disajikan melalui tanya jawab.

Dalam menguasai seni bertanya , diperlukan empat keterampilan bertanya, yaitu sebagai berikut.

  1. Kemampuan berpikir cepat dan jelas
  2. Pengertian yang tajam tentang nilai relatif dalam menangani pertanyaan dan tanggapan siswa.
  3. Keterampilan membuat kalimat bertanya.
  4. Percaya diri.
    1. Metode Diskusi

Pembelajaran yang menggunakan metode diskusi merupakan pembelajaran yang bersifat interaktif. Ketika salah satu siswa menyampaikan informasi tertentu, maka yang lain mendengarkan. Dalam diskusi ini diperlukan keaktifan siswa. Ada tiga tujuan pembelajaran yang sesuai dengan penggunaan metode diskusi, yaitu sebagai berikut.

  • Penguasaaan materi pembelajaran.
  • Pembentukan dan modifikasi sikap.
  • Pemecahan masalah.
  1. Metode Simulasi

Simulasi adalah tiruan yang hanya pura-pura saja. Metode simulasi ini biasa dilakukan untuk melatih keterampilan tertentu dan memperoleh pemahaman tentang sesuatu konsep tertentu. Bentuk simulasi ini misalnya role playing, sosiodrama dan permainan.

  1. Metode Demonstrasi

Metode demostrasi merupakan metode yang dilakukan untuk memperlihatkan cara kerja dan proses terjadinya sesuatu. Metode ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik atas pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana cara mengaturnya, bagaimana proses bekerjanya, bagaimana proses mengerjakannya dan lain-lain.

  1. Metode Pemberian Tugas

Dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang sesuatu hal, perlu dilakukan dengan pemberian tugas atau pekerjaan tertentu.Pemberian tugas tersebut dilakukan dengan maksud tertentu misalnya melatih analisa siswa tentang pelajaran tertentu, memecahkan masalah, mengklasifikasi masalah dan sebagainya.

  1. Pendekatan Pembelajaran

Pada dasarnya belajar dapat dilakukan di mana saja. Saat ini informasi dapat diterima dengan mudah melalui media-media tertentu sebagai sumbernya, misalnya radio, televisi, film, surat kabar, majalah dan lain.lain. Pesan-pesan yang diperoleh melalui informasi yang diterima tadi perlu pengetahuan dan keterampilan dalam mengelolanya. Untuk itu, perlu pemahaman mengenai pendekatan-pendekatan belajar dalam membelajarkan siswa. Pendekatan pembelajaran ini merupakan suatu panutan yang berusaha meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik siswa dalam pengolahan pesan, sehingga tercapai sasaran belajar. Pendekatan pembelajaran merupakan salah satu cara yang ditempuh guru dalam pelaksanaan pembelajaran, agar konsep yang disajikan dapat diadaptasikan oleh siswa. Beberapa pendekatan pembelajaran adalah pendekatan kontruktivisme, pendekatan problem solving, pendekatan open-ended, dan pendekatan realistic, dan masih banyak lagi pendekatan pembelajaran yang lainnya.


BAB III

PENUTUP

  1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan pada Bab II, dapat disimpulkan tiga hal, yaitu sebagai berikut.

  1. Psikologi pendidikan merupakan salah satu disiplin ilmu yang berisi pemaparan tentang pemahaman gejala kejiwaan dalam tigkah laku manusia untuk kepentingan mendidik atau membina perkembangan kepribadian manusia. Semua gejala yang berhubungan dengan proses pendidikan dipelajari secara mendalam pada psikologi pendidikan.
  2. Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya melalui praktik atau latihan. Oleh karena itu, belajar terdiri atass beberapa jenis: belajar arti kata, belajar kognitif, belajar menghafal, belajar teoretis, belajar konsep, belajar kaidah, belajar berpikir, belajar keterampilan motorik, dan belajar estetis.
  3. Pembelajaran merupakan suatu proses kegiatan yang dilaksanakan oleh pendidik dalam menyampaikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswa. Oleh karena itu, proses pembelajaran dipengaruhi oleh metode yang dapat dipilih oleh pendidik, di antaranya metode ceramah, metode tanya jawab, metode disksusi, metode simulasi, metode demonstrasi, dan metode pemberian tugas.
    1. Implikasi

Berdasarkan simpulan tersebut, adapun implikasi dari pembahasan makalah ini dapat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, psikologi pendidikan mampu mengubah paradigma pendidik tentang peserta didik dan bagaimana mengajarkan suatu pembelajaran kepada peserta didik sebagai subjek belajar.
  2. Ada beberapa metode dan pendekatan pembelajaran yang dikembangkan dan dikemukakan oleh para ahli. Hal itu dapat membantu guru melaksanakan kegiatan pembelajaran yang terstruktur sehingga tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. Di samping itu, pendekatan pembelajaran yang dikembangkan di dalam Kurikulum 2013 memberikan alternatif bagi guru untuk memilih dan menggunakan asalah satu pendekatan sesuai karakteristik materi dan kebutuhan peserta didik.
    1. Saran

Berdasarkan simpulan dan implikasi tersebut, dapat dikemukakan saran sebagai berikut.

  1. Melalui psikologi pendidikan, pendidik diharapkan untuk selalu meluruskan paradigma tentang hakikat pembelajaran, bahwa belajar itu hakikatnya memanusiakan manusia.
  2. Pendidik seyogyanya mendalami psikologi pendidikan karena hal itu berkaitan dengan hal-hal yang fundamental di dalam proses pembelajaran.

 


DAFTAR RUJUKAN

Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Proyek Pembinaan dan  Peningkatan Mutu Tenaga Kependidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Djamarah, Suaiful Bahri. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Kartono, Kartini. 1981. Psikologi Wanita, Gadis Remaja, dan Wanita Dewasa. Bandung: Alumni.

Lefrancois, Guy R. 1972. Psychology for Teaching, A Bear Always Faces the Front. Belmont, California : Wadsworth Publishing Company, Inc.

Paulina Pannen, Dina  Mustafa dan Mustika Sekarwinahyu, 2001.Konstruktivisme Dalam Pembelajaran. Proyek Pengembangan Universitas Terbuka, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional.

Sobur, Alex. 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Usman, Husaini dan Purnomo Setiadi Akbar. 1996. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta: Bina Aksara.

Vredenbregt, J. 1981. Metode dan Teknik Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT Gramedia.

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam