Perbedaan Individu

PERBEDAAN INDIVIDU, INTELIGENSIA, BAKAT, GAYA BELAJAR, KEPRIBADIAN DAN TEMPERAMEN SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN

  

  1. PERBEDAAN INDIVIDU
  2. Pengertian Perbedaan Individu

Menurut Lindgren (1980) makna “perbedaan” dan “perbedaan individual” menyangkut tentang variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik dan psikilogis. Perbedaan Individual menurut Chaplin (1995:244) adalah “sebarang sifat atau perbedaan kuantitatif dalam suatu sifat, yang bisa membedakan satu individu dengan individu lainnya”. Sedangkan Gerry (1963) dalam buku Perkembangan Peserta Didik karya Sunarto dan B. Agung Hartono mengategorikan perbedaan individual seperti berikut:

  1. Perbedaan fisik, tingkat dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
  2. Perbedaan sosial termasuk status ekonomi, agama, hubungan keluarga, dan suku.
  3. Perbedaan kepribadian termasuk watak, motif, minat, dan sikap.
  4. Perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar.
  5. Perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.
  1. Sumber Perbedaan Individu

Sumber perbedaan individu dipengaruhi oleh dua faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor bawaan dan faktor lingkungan.

  1. Faktor Bawaan

Faktor bawaan merupakan faktor-faktor biologis yang diturunkan melalui pewarisan genetik oleh orangtua. Pewarisan genetik ini dimulai saat terjadinya pembuahan. Menurut Zimbardo dan Gerig (1999) penyatuan antara sebuah sperma dan sel telur hanya menghasilkan satu diantara milyaran kemungkinan kombinasi gen. Salah satu kromosom yaitu kromosom sex merupakan pembawa kode gen untuk perkembangan karakteristik fisik laki-laki atau perempuan. Kode untuk kita mendapatkan kromosom X dari ibu, dan salah satu dari kromosom X atau Y dari ayah. Kombinasi XX merupakan kode untukperkembangan fisik perempuan, dan kombinasi XY merupakan kode untuk perkembangan fisik laki-laki. Meskipun rata-rata kita memiliki 50 persen gen yang sama dengan saudara kita, kumpulan gen kita tetap khas kecuali kita adalah kembar identik. Perbedaan gen ini merupakan satu alasan mengapa kita berbeda dengan orang lain, baik secara fisik, psikologis, maupun perilaku, bahkan dengan saudara kita sendiri. Selebihnya adalah dipengaruhi oleh lingkungan, karena kita pernah berada di lingkungan yang sama persis. (Zimbardo & Gerig, 1999).

  1. Faktor Lingkungan

Faktor lingkungan adalah faktor yang mengakibatkan perbedaan individu yang berasal dari luar diri individu. Faktor lingkungan berasal dari beberapa macam yaitu status sosial ekonomi orang tua, pola asuh orang tua, budaya, dan urutan kelahiran.

  1. Status sosial ekonomi orang tua

Meliputi tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, dan penghasilan orang tua. Tingkat orang tua berbeda satu dengan lainnya. Meskipun tidak mutlak tingkat pendidikan ini dapat mempengaruhi sikap orang tua terhadap pendidikan anak serta tingkat aspirasinya terhadap pendidikan anak. Demikian juga dengan pekerjaan dan penghasilan orang tua yang berbeda-beda. Perbedaan ini akan membawa implikasi pada berbedanya aspirasi orang tua terhadap pendidikan anak, aspirasi anak terhadap pendidikannya, fasilitas yang diberikan pada anak dan mungkin waktu disediakan untuk mendidik anak-anaknya. Demikian juga perbedaan status ekonomi dapat membawa implikasi salah satunya pada perbedaan pola gizi yang diterapkan dalam keluarga.

  1. Pola asuh orangtua

Merupakan pola perilaku yang digunakan untuk berhubungan dengan anak-anak. Pola asuh yang diterapkan tiap keluarga berbeda dengan keluarga lainnya. Terdapat tiga pola asuh dalam pengasuhan anak yaitu otoriter, permisif, dan autoritatif. Pola asuh otoriter adalah bentuk pola asuh yang menekankan pada pengawasan orangtua kepada anak untuk mendapatkan ketaatan atau keputuhan. Orangtua bersikap tegas, suka menghukum, dan cenderung mengekang anak. Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana orangtua memberi kebebasan sebanyak mungkin kepada anak untuk mengatur dirinya, dan anak tidak dituntut untuk bertanggung jawab dan tidak banyak dikontrol oleh orangtua. Sedangkan pola asuh autoritatif adalah pola asuh dimana orangtua memberikan hak dan kewajiban yang sama dalam arti saling melengkapi, anak dilatih untuk bertanggung jawab, dan menentukan perilakunya sendiri agar dapat berdisiplin.

  1. Budaya

Merupakan pikiran, akal budi, hasil karya manusia, atau dapat juga didefinisikan sebagai adat istiadat. Adanya nilai-nilai dalam masyarkat memberitahu pada anggotanya tentang apa yang baik dan atau penting dalam masyarakatnya. Nilai-nilai tersebut terjabarkan dalam suatu norma-norma. Norma masing-masing masyarakat berbeda, maka perilaku yang muncul dari anggota masing-masing masyarakat berbeda satu dengan lainnya.

  1. Urutan kelahiran

Walaupun masih menjadi kontroversi akan tetapi karakteristik kepribadian seseorang dipengaruhi oleh urutan kelahiran. Anak yang lahir sulung atau anak pertama cenderung lebih teliti, mempunyai ambisi, dan agresif dibandingkan dengan adik-adiknya. Anak tengah sering menjadi mediator dan pecinta damai. Anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Anak tunggal atau si anak semata wayang biasanya sering merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka sendiri. Mereka lebih percaya diri, supel, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Karakteristik yang berbeda-beda pada individu dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya berdasarkan urutan kelahiran.

  1. Bidang-bidang Perbedaan
  2. Perbedaan Kognitif

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Yang berarti ia menguasai segala segala sesuatu yang di ketahui, dalam arti dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya.

  1. Perbedaan Kecakapan Berbahasa

Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangatpenting dalam kehidupan. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang untuk menyatakan pemikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis, dan sistematik. Kemampuan berbahasa sangat di pengaruhi oleh faktor kecerdasan dan faktor lingkungan serta faktor fisik (organ bicara).

  1. Perbedaan Kecakapan Motorik

Kecakapan motorik atau kemampuan psiko-motorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syarat motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan.

  1. Perbedaan Latar Belakang

Perbedaan latar belakang dan pengalaman mereka masing-masing dapat memperlancar atau memperhambat prestasinya, terlepas dari potensi untuk menguasai bahan.

  1. Perbedaan Bakat

Bakat merupakan kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Kemampuan tersebut akan berkebang dengan baik apabila mendapatkan rangsangan dan pemupukan secara tepat sebaliknya bakat tidak berkembang sama, maka lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang, dalam arti ada rangsangan dan pemupukan yang menyentuhnya.

  1. Perbedaan Kesiapan Belajar

Perbedaan latar belakang, yang meliputi perbedaan sosio-ekonomi, sosio-cultural, amat penting artinyabagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat persiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

  1. Perbedaan Jenis Kelamin dan Gender

Istilah jenis kelamin dan gender sering dipertukarkan dan dianggap sama. Jenis kelamin merujuk kepada perbedaan biologis dari laki-laki dan perempuan, sementara gender merupakan aspek psikososial dari laki-laki dan perempuan berupa perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang dibangun secara sosial budaya. Perbedaan gender termasuk dalam hal peran, tingkah laku, kecenderungan, sifat, dan atribut lain yang menjelaskan arti menjadi seorang laki-laki atau perempuan dalam kebudayaan yang ada.

  1. Perbedaan Kepribadian

Kepribadian adalah pola perilaku dan cara berpikir yang khas yang menetukan penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungan (Atkinson, dkk, 1996). Kepribadian sesesorang dapat kita tinjau melalui dua model yaitu model big five dan model brigg-myers.

  1. Perbedaan Gaya Belajar

Gaya belajar adalah pola perilaku spesifik dalam menerima informasi baru dan mengembangkan ketrampilan baru, serta proses menyimpan informasi atau keterampilan baru (Sarasin, 1999). Menurut Horne (2005) terdapat beberapa model atau pendektan gaya belajar:

  1. Modalitas belajar
  2. Belajar dengan otak kiri otak kanan
  3. Belajar social
  4. Lingkungan belajar
  5. Emosi belajar
  6. Belajar kongkrit dan abstrak
  7. Belajar global dan analitik
  8. Multiple intelligence

 

  1. INTELEGENSI
  2. Pengertian Intelegensi

Menurut  David Wechsler , intelegensi  adalah  kemampuan  untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa intelegensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, intelegensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu. Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa sesungguhnya yang dimaksud dengan intelegensi adalah kemampuan berpikir secara rasional. jadi, bukan tingginya nilai akademik yang menentukan keputusan bahwa seseorang  itu tinggi secara intelegensi melainkan kecakapan seseorang dalam melakukan berbagai hal serta kemampuannya berpikir secara rasional itulah yang sebetulnya menentukan.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas intelegensi seseorang di antaranya:

  1. Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian  membuktikan  bahwa  korelasi  nilai  tes  IQ  dari  satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

  1. Faktor lingkungan

Walaupun  ada  ciri-ciri  yang  pada  dasarnya  sudah  dibawa  sejak lahir,  ternyata  lingkungan  sanggup  menimbulkan  perubahan-perubahan yang berarti. Intelegensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan  yang  bersifat  kognitif  emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

  1. Faktor-Faktor dalam Intelegensi

Dalam intelgensi akan ditemukan faktor-faktor tertentu yang para ahli sendiri belum terdapat pendapata yang sama seratus persen. Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai faktor-faktor dalam intelegensi:

  1. Kecerdasan-kecerdasan yang termasuk intelegensi

Dr. Howard Gardner mengusulkan dalam bukunya, Frames of Mind: The Theory of Multiple intellegences (1983), bahwa kecerdasan memiliki tujuh komponen. Diantaranya:

  1. Kecerdaasan linguistic-verbal

Kecerdasan ini mengacu pada kemampuan untuk menyusun pikiran yang jelas dan mampu menggunakan kemampuan ini secara kompeten melalui kata-kata untuk  mengungkapkan pikiran-pikiran ini dalam berbicara, membaca, dan menulis. Mereka membawakan dirinya dengan baik secara verbal dan kelihatannya  selalu  mengetahui  hal yang tepat untuk dikatakan. Kecerdasan ini  sangat dihargai dalam dunia modern karena orang- orang cenderung untuk menilai orang lain dari cara bicara dan menulis. Kemampuan berbicara sering merupakan salah satu aspek paling penting yang digunakan ketika seorang sedang membentuk kesan pertama.

Pentingnya mengembangkan kecerdasan linguistik-verbal antara lain:

  1.  Meningkatkan kemampuan membaca.
  2.  Meningkatkan keterampilan menulis
  3.  Membangun pembawaan diri dan keterampilan linguistic umum.
  4.  Meningkatkan keterampilan mendengarkan

Kegiatan untuk meningkatkan kecerdasan verbal

  1.  Memberi kesempatan bercakap-cakap
  2.  Meningkatkan minat baca
  3.  Memperdengarkan music
  4.  Bermain permainan kata
  1. Kecerdasan matematis-logis

Kecerdasan matematis-logis  adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, pola dan pemikiran logis dan ilmiah. Hubungan antara matematika dan logika adalah bahwa keduanya secara ketat mengikuti hukum dasar. Seseorang  yang cerdas  secara matematis  sering  tertarik  dengan bilangan dan pola.Slain itu, orang yang terampil dalam matematika  cepat memahami konsep waktu, menjelaskan konsep-konsep secara logis atau menyimpulkan iformasi menggunakan matematika.

  1. Kecerdasan visual-spesial

Kecerdasan visual-spesial adalah kecerdasan yang dimiliki oleh arsitek, insinyur mesin, seniman, fotografer, pilot, navigator, pemahat, dan penemu.

  1. Kecerdasan ritmik-musikal

Kecerdasan ritmik-musikal adalah kemampuan untuk menyimpan nada dalam benak seseorang, untuk mengingat irama itu dan secara emosional terpengaruh oleh musik.

  1. Kecerdasan kinestetik

Kecerdadasan kinestetik adalah kecerdasan yang memungkinkan manusia untuk membangun  hubungan yang penting antara pikiran dan tubuh. Dengan demikian memungkinkan tubuh untuk memanipulasi obyek dan menciptakan gerakan. Bagian dari perkembangan fisik kita mungkin karena pengaruh gen, sementara banyak juga yang berasal hasil pembinaan perkembangan fisik selama  tahun-tahun  masa  kecil.  Orang  tua  yang  memberikan  kepada anak- anak  mereka  pembinaan  yang  cukup  dalam  perkembangan  fisik dapat dikatakan telah meletakkan dasar yang kuat bagi kecerdasan tubuh yang baik. Anak-anak yang demikian akan tumbuh dengan kamampuan melakukan aktifitas fisik sesuai potensi terbaik mereka dan mereka akan menjadi lebih yakin akan kemampuan fisik mereka.

Kecerdasan fisik adalah kemampuan menggunakan dengan baik pikiran dan tubuh secara serempak untuk mencapai segala segala tujuan yang diinginkan. Ini serupa dengan keterampilan yang pada umumnya mirujuk sebagai keterampilan psikomotor, yang menggabungkan interprestasi mental dengan tanggapan fisik.

  1. Kecerdasan interpersonal

Kecerdasan  interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang sekitar. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami dan memperkirakan  perasaan,temperamen,suasana hati,maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak. Kecerdasan inilah yang memungkinkan kita untuk membangun kedekatan,pengaruh,pimpinan dan membangun hubungan dengan masyarakat. Kecerdasan  interpersonal bukan sesuatu yang dilahirkan  tetapi sesuatu yang  harus  dikembangkan melalui  pembinaan dan  pengajaran  sama seperti kecerdasan lainnya.

  1. Kecerdasan intrapersonal

Kecerdasan intrapersonal adalah kecerdasan mengenai diri sendiri. Kecerdasan ini adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Orang-orang yang berkecerdasan intrapersonal tinggi cenderung menjadi pemikir yang tercermin pada apa yang mereka lakukan dan terus-menerus  membuat penilaian diri. Mereka selalu bersentuhan dengan pemikiran, gagasan,dan impian mereka dan  mereka  juga  memiliki  kemampuan untuk mengarahkan emosi mereka sendiri sedemikian rupa untuk memperkaya dan membimbing kehidupan mereka sendiri.

  • BAKAT
    1. Pengertian Bakat

Menurut Suryabrata (2006) prestasi akademik adalah hasil belajar terakhir yang dicapai oleh siswa dalam jangka waktu tertentu, yang mana di sekolah prestasi akademik siswa biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu. Kemudian dengan angka atau simbol tersebut, orang lain atau siswa sendiri akan dapat mengetahui sejauhmana prestasi akademik yang telah dicapai. Dengan demikian, prestasi akademik di sekolah merupakan bentuk lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai siswa, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut.

Berdasarkan uraian dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik adalah hasil atau pencapaian yang diperoleh siswa dari aktivitas belajar, yang dinyatakan dalam bentuk angka atau simbol tertentu.

Menurut Ahmadi dan Supriyono (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi akademik antara lain:

  1. Faktor internal
  2. Faktor jasmaniah (fisiologi), yang termasuk faktor ini misalnya penglihatan, pendengaran, struktur tubuh.
  3. Faktor psikologis, terdiri atas:
  4. Faktor intelektif yang meliputi:

1)      Faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat.

2)      Faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang telah dimiliki.

  1. Faktor non-intelektif, yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi, penyesuaian diri.
  2. Faktor kematangan fisik maupun psikis.
  3. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.
    1. Jenis-jenis Bakat

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bakat adalah dasar kepandaian, sifat, dan bawaan. Adapun menurut beberapa ahli lain seperti, misalnya Kartini Kartono mengatakan bakat mencakup segala factor yang ada pada individu sejak awal pertama dari kehidupannya yang kemudian menumbuhkan perkembangan keahlian, kecajapan, dan keterampilan khusus tertentu.

Menurut Rahayu (2), ada dua jenis bakat, yaitu diantaranya:

  1. Bakat umum yaitu merupakan kemampuan yang berupa potensi dasar yang bersifat umum, artinya setiap orang memiliki.
  2. Bakat khusus yaitu merupakan kemampuan yang berupa potensi khusus, artinya tidak semua orang memiliki misalnya bakat seni, memimpin, berceramah, olahraga.

Ada pun bakat khusus ini terbagi beberapa macam, diantaranya:

  1. Bakat Verbal, yaitu bakat tentang konsep-konsep yang diungkapkan dalam bentuk kata-kata.
  2. Bakat Numerikal, yaitu bakat tentang konsep-konsep bentuk angka.
  3. Bakat Bahasa (Linguistik), yaitu bakat tentang pengenalan analitis bahasa (ahli sastra) misalnya untuk jurnalistik, stenografi, penyiaran, editing, hukum, pramuniaga, dan lain-lainnya.
  1. Bakat Kecepatan, Ketelitian, Klerikal, yaitu bakat tentang tugas tulis menulis, ramu-meramu untuk laboratorium, kantor, dan dalam kerohanian.
  2. Bakat Relasi Ruang (Spasial), yaitu bakat untuk mengamati, menceritakan pola dua dimensi atau berpikir dalam tiga dimensi. Mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.
  3. Bakat Mekanik, yaitu bakat tentang prinsip-prinsip umum IPA, tata kerja mesin, perkakas, dan alat-alat lainnya.
  4. Bakat Abstrak, yaitu bakat yang bukan kata, maupun angka tetapi berbentuk pola, rancangan, diagram, ukuran-ukuran, bentuk-bentuk dan posisi-posisinya.
  5. Bakat Skolastik yaitu, kombinasi kata-kata (logika) dan angka-angka termasuk di dalamnya kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numeric, pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.
  1. GAYA BELAJAR
  1. Pengertian Gaya Belajar
  • Menurut Fleming dan Mills (1992), gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.
  • Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai, “an individual’s preferred mode and desired conditions of learning.” Maksudnya, gaya belajar dianggap sebagai cara belajar atau kondisi belajar yang disukai oleh pembelajar.
  • Willing (1988) mendefinisikan gaya belajar sebagai kebiasaan belajar yang disenangi oleh pembelajar. Keefe (1979) memandang gaya belajar sebagai cara seseorang dalam menerima, berinteraksi, dan memandang lingkungannya. Dunn dan Griggs (1988) memandang gaya belajar sebagai karakter biologis bawaan.

 

Gaya belajar atau learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku psikomotoris, sebagai indikator yang bertindak yang relatif stabil untuk pebelajar merasa saling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar (NASSP dalam Ardhana dan Willis, 1989 : 4).

  1. Macam-macam Gaya Belajar
  2. a. Visual (belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

  • Bicara agak cepat
  • Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
  • Tidak mudah terganggu oleh keributan
  • Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
  • Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  • Pembaca cepat dan tekun
  • Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
  • Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
  • Lebih suka musik dari pada seni
  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya
  1. b. Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang saja. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri

  • Penampilan rapi
  • Mudah terganggu oleh keributan
  • Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  • Biasanya ia pembicara yang fasih
  • Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  • Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  • Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
  • Berbicara dalam irama yang terpola
  • Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
  1. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

  • Berbicara perlahan
  • Penampilan rapi
  • Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  • Belajar melalui memanipulasi dan praktek
  • Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  • Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  • Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
  • Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  • Menyukai permainan yang menyibukkan
  • Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  • Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi
  1. KEPRIBADIAN

Memahami kepribadian setiap siswa di dalam kelas adalah sesuatu hal paling penting. Ada banyak kombinasi dari dua aspek tersebut, terutama di bidang kepribadian.

  1. Teori Kepribadian Menurut Julian Rotter

Menurut Rotter menyebut karyanya sebagai teori kepribadian “pembelajaran-sosial” untuk menunjukkan kepercayaannya bahwa kita bisa mempelajari perilaku kita melalui pengalaman sosial kita. Ia sangat mengkritik tendensi Skinner untuk mempelajari beberapa subyek secara terpisah. Ia berargumen bahwa pendekatan Skinner tidak merepresentasikan pembelajaran dalam dunia riil, lingkungan pergaulan yang membuat kita berfungsi dalam situasi interdependensi dan interaksi sosial. Ia juga membandingkan isu itu dengan studi Skinner atas respons subyek hewan terhadap stimuli sederhana. Rotter percaya bahwa riset semacam itu memberikan sedikit lebih daripada sekedar sebuah landasan terhadap pemahaman perilaku sosial manusia yang lebih kompleks.

Dalam riset yang diadakan untuk mengembangkan teori pembelajaran-sosialnya, Rotter dan para pengikutnya telah mempelajari subyek-subyek manusia saja. Dengan menggunakan beragam teknik, Rotter memfokuskan pada orang-orang normal, anak-anak dan siswa perguruan tinggi. Teorinya didasarkan pada pendekatan eksperimental yang cermat dan terkontrol-baik terhadap psikologi yang merupakan karakteristik gerakan behavioris. Teori kepribadian Rotter berasal dari laboratorium dan bukan klinik.

Konsep-Konsep Dasar Teori Pembelajaran-Sosial

Untuk memahami teori pembelajaran-sosial Rotter, kita harus lebih dahulu mendeskripsikan prinsip-prinsip yang terbangun. Empat konsep pokok adalah potensi perilaku, harapan, nilai penguatan, dan situasi psikologis. Dua konsep luas akan didiskusikan, yakni: kebebasan gerakan dan level tujuan kecil.

Potensi Perilaku

Potensi perilaku mengacu pada kemungkinan bahwa perilaku tertentu akan terjadi dalam sebuah situasi tertentu. Kemungkinan itu harus ditentukan dengan referensi pada penguatan atau rangkaian penguatan yang bisa mengikuti perilaku itu. Terdapat persamaan dengan pandangan-pandangan Skinner dalam konsep ini; Rotter berusaha untuk memprediksi kemungkinan bahwa seseorang akan berperilaku dalam hal tertentu dengan keberadaan variabel-variabel khusus. Formulasi Rotter berjalan melebihi formulasi Skinner di mana ia memunculkan variabel-variabel internal dan kognitif, selain variabel-variabel lingkungan, untuk memprediksi perilaku itu.

Konsep Rotter atas potensi perilaku adalah relatif. Beliau berusaha untuk memprediksi kemungkinan kejadian perilaku khusus yang berhubungan dengan perilaku lain yang dapat ditampakkan oleh individu dalam situasi itu. Apa yang menyebabkan individu untuk menyeleksi satu perilaku bukan lainnya? Pilihannya didasarkan pada kesan subyektif seseorang terhadap situasi itu. Potensi perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh apa yang ada di luar (seleksi kesadaran dari alternatif-alternatif perilaku yang tersedia dari sudut pandang persepsi kami atas situasi itu).

Definisi Rotter mengenai perilaku berbeda dari definisi Skinner. Skinner hanya berhadapan dengan kejadian-kejadian yang diobservasi secara obyektif. Pandangan Rotter mengenai perilaku tidak hanya mencakup tindakan-tindakan yang dapat diobservasi secara langsung, namun juga tindakan-tindakan yang tidak dapat diobservasi secara langsung – proses internal dan kognitif kami. Bagi Rotter, proses-proses tersebut mencakup variabel “rasionalisasi, penindasan, alternatif-alternatif pertimbangan, perencanaan, dan reklasifikasi” yang dianggap bukan sebagai perilaku oleh para behavioris yang lebih ekstrim.

Rotter menegaskan, perilaku internal atau implisit dapat diobservasi dan diukur melalui cara-cara tak langsung, seperti penarikan kesimpulan dari perilaku yang jelas.

Perhatikan perilaku dalam menguji solusi alternatif terhadap sebuah masalah. Perilaku ini dapat ditarik kesimpulannya dari observasi perilaku subyek yang berusaha untuk menyelesaikan sebuah tugas yang diberikan. Jika, misalnya, subyek itu membutuhkan waktu berlebih untuk memecahkan masalah daripada yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan masalah awal, maka Rotter merasakan bahwa hal ini adalah bukti perilaku yang mempertimbangkan solusi-solusi alternatif.

Investigasi obyektif atas aktivitas kognitif dan internal adalah sulit. Rotter mengakui hal ini, namun ia juga percaya bahwa prinsip-prinsip yang mengatur kejadian perilaku implisit itu tidaklah berbeda dari prinsip yang mengatur perilaku yang diobservasi secara jelas dan langsung. Dan kita harus ingat bahwa variabel-variabel internal dan eksternal adalah diperlukan untuk menentukan potensi perilaku itu.

Expectancy(pengharapan)

Expectancy (pengharapan) merupakan konsep utama yang kedua dari Rotter, menjelaskan tentang kepercayaan individu bahwa dia berperilaku secara khusus pada situasi yang diberikan yang akan diikuti oleh penguatan yang telah diprediksikan. Kepercayaan ini berdasarkan pada pola atau probabilitas atau kemungkinan penguatan yang akan terjadi. Tingkat harapan ini ditentukan oleh beberapa factor.

Satu factor yang mempengaruhi expectancy/pengharapan adalah keaslian reinforcement sebelumnya untuk perilaku-perilaku yang terjadi pada situsi-situasi itu. Factor lain yang mempengaruhi expectancy adalah luasnya generalisasi dari situasi-situasi penguatan yang sama (tetapi tidak serupa).

Nilai penguatan(reinforcement value)

Konsep ketiga dari teori Rotter adalah nilai penguatan(reinforcement value), yang mana merupakan penjelasan mengenai tingkat pilihan untuk satu reinforcement sebagai ganti yang lain. Jika seseorang berada pada situasi yang sama dimana situasi ini memungkinkan dapat terjadinya satu dari beberapa reinforcement, berapa banyak orang-orang yang akan memilih satu reinforcement sebagai ganti yang lain??

Orang-orang membedakan bentuk daripada penguatan yang mereka temukan. Sekalipun tidak ada keraguan setiap orang akan setuju bahwa membaca buku ini adalah reinforcement yang tinggi. Kamu akan berbeda dengan teman sekelasmu mengenai berapa banyak kamu memilih aktifitas lain dan reinforcement yang dibawa aktifitas itu. Beberapa anak akan memilih disco dan yang lainnya akan memilih sympony. Beberapa anak akan memilih football dan yang lainnya akan memilih soccer. Setiap orang menemukan penguatan yang berbeda nilainya pada aktifitas yang berbeda-beda.

Pilihan ini berasal dari pengalaman kita yang menghubungkan reinforcement masa lalu dengan yang terjadi saat ini. Berdasarkan hubungan ini, berkembang pengharapan untuk masa depan. Karena itulah terdapat hubungan antara konsep pengharapan dan nilai penguatan (Reinforcement value).

Situasi Psikologis

Situasi psikologis adalah konsep dasar keempat dari teori sosial belajar Rotter, dan ini merupakan hal yang penting dalam menentukan perilaku. Rotter percaya bahwa kita secara terus menerus memberikan reaksi pada lingkungan internal maupun lingkungan eksternal kita. Selanjutnya masing-masing lingkungan ini secara konstan saling mempengaruhi yang lain. Kita tidak hanya merespon stimulus eksternal saja tetapi juga kedua lingkungan. Penggabungan inilah yang disebut Rotter dengan situasi psikologis. Situasi dipertimbangkan secara psikologis karena kita mereaksi lingkungan ini berdasarkan pola-pola persepsi kita terhadap stimulus eksternal.

  1. Teori Kepribadian Menurut Allport
  2. Teori Kepribadian Allport

Menurut Allport Kepribadian manusia adalah asli. Individu lebih merupakan makhluk masa kini daripada makhluk masa lampau. Allport mempelajari individu-individu yang normal dan dengan demikian mengembangkan suatu teori yang hampir seluruhnya mengenai Kepribadian sehat. Allport mengemukakan teori tentang jurang antara kepibadian neurotis dan Kepribadian sehat antara masa dewasa dan masa kanak-kanak. Allport melihat pentingnya peningkatan dan bukan pengurangan tingkat tegangan. Manusia yang hidup dan aktif membutuhkan kehidupan yang beraneka ragam,mereka tidak puas dengan kegiatan yang rutin. Kita semua mengenal orang-orang yang berspekulasi dan memilih kesempatan-kesempatan,yang secara aktif mencari perangsang dan tantangan dalam kehidupan mereka.

Dalam teori Allport antisipasi-antisipasi adalah penting dalam membantu untuk menentukan siapa dan apakah kita ini,dalam membentuk identitas-diri kita. Mereka mengetahui diri mereka dan menerima keterbatasan-keterbatasan mereka dan tidak terpukul oleh keterbatasan itu. Tampak jelas bahwa kalau sehat memiliki suatu gambaran diri dan identitas diri yang kuat,merasakan suatu perasaan harga diri,dapat memberi cinta secara terbuka dan tanpa syarat,merasa aman secara emosional,dan memiliki tujuan-tujuan serta suatu perasaan akan maksud yang memberi arti dan arah kepada kehidupan. Allport dapat memberikan kebenaran-kebenaran kekal didukung oleh pengetahuan kita tentang kehidupan pria-wanita,wanita-wanita historis dan kontemporer,yang telah memperlihatkan sifat-sifat dan atribusi yang dilukiskan dengan begitu semangat.

  1. TEMPERAMEN
  2. Pengertian

Menurut Allport: “Temperamen adalah gejala karakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk juga mudah-tidaknya terkena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana hatinya, segala cara daripada fluktuasi dan intensitas suasana hati. Gejala ini bergantung pada faktor konstitusional, dan karenanya terutama berasal dari keturunan.”

Menurut G. Ewald: Temperamen adalah konstitusi psikis yang berhubungan dengan konstitusi jasmani.” Tempramen adalah sifat-sifat jiwa yang sangat erat hubungannya dengan konstitusi tubuh. Yang dimaksud konstitusi tubuh disini ialah keadaan jasmani seseorang yang terlihat dalam hal-hal yang khas baginya, seperti keadaan darah, pekerjaan kelenjar, pencernaan, pusat saraf, dan lain-lain.

Temperamen lebih merupakan pembawaan dan sangat dipengaruhi/ tergantung pada konstitusi tubuh. Oleh karena itu temperamen sukar diubah atau didik; tidak dapat dipengaruhi oleh kemauan atau kata hati orang yang bersangkutan. Contohnya si A memiliki kemampuan melawak yang sangat dikagumi, karena ia memiliki tipe tubuh dan raut muka yang sedemikian rupa, sehingga baru saja melihat mimiknya orang sudah ingin tertawa. Temperamen lebih merupakan pembawaan dan sangat dipengaruhi/ tergantung kepada konstitusi tubuh. Oleh karna itu tempramen sukar diubah atau dididik; tidak dapat dipengaruhi oleh kemauan atau kata hati orang yang bersangkutan. Temperamen ini turun temurun dan tak dapat diubah oleh pengaruh-pengaruh dari luar. Temperamen tidak mengalami perkembangan, karena temperamen tergantung konstelasi hormon-hormon dan keadaan cairan dalam tubuh.

Kecerdasan siswa juga dipengaruhi oleh tempramen, karena kecerdasan itu menurut Santrok dalam slavin (1997), aspek mempengaruhi perkembangan itu adalah keturunan/genetik. Temperamen individu sukar diubah atau dididik, tidak dapat dipengaruhi oleh kemauan atau kata hati individu yang bersangkutan.

Tempramen adalah gaya-prilaku karakteristik individu dalam merespon sesuatu yang dipengaruhi oleh konstitusi tubuhnya, misalnya cairan darah. Ada 4 golongan menurut keadaan zat-zat cair yang ada dalam tubuh, yaitu:

  • Sanguinisi (yang banyak darahnya), sifatnya periang, gembira, optimis, lekas berubah-ubah stemming-nya.
  • Kolerisi (yang banyak empedu kuningnya), sifatnya garang, hebat, lekas marah , agresif.
  • Flegmatisi (yang banyak lendirnya), sifatnya lamban, tenang, tidak mudah berubah.
  • Melankolisi (banyak empedu hitamnya), sifatnya muram, tidak gembira, pesimistis.

Anak yang memiliki tipe sanguinis misalnya lebih bersemangat dalam belajar jika dibandingkan anak yang flegmatis. Anak yang melankolis cenderung lebih menyukai hal-hal yang teortis dibandingkan praktis. Hal ini tentu berpengaruh terhadap proses belajar anak. Guru di tuntut mampu mengenali anak sepenuhnya, sehingga dapat membantu perkembangan anak sesuai keadaan dirinya. Selain itu, Kaitan proses belajar sangat erat dengan tempramen karana yang mempengaruhi semangat belajar siswa adalah tempramen. Kecerdasan siswa juga dipengaruhi oleh tempramen, karena kecerdasan itu menurut Santrok dalam slavin (1997), aspek mempengaruhi perkembangan itu adalah keturunan/genetik.

DAFTAR BACAAN

Abu Ahmadi. 1983. Psiliologi Umum. Surabaya: Bina Ilmu.

Abu Ahmadi, Widodo Suriyono. 2004. Psiliologi Belajar. Jakarta: Rinka Cipta, 2004. Cet 2
Mengembangkan  Berbagai Komponen Kecerdasan. PT.  Indeks.

Azwar, S. 2004. Pengantar psikologi intelegensi. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Baharuddin. 2009. Psikologi Pendidikan. Jogjakarta: AR-Ruzz Media.

Dalyono, M. 1997. Psikologi pendidikan. Jakarta: PT RinekaCipta.

Djamarah, S.B. 2002. Psikologi belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Djaali. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Kholidah, Nur Enik. 2012. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UPY.

Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

Suryabrata, Soemadi. 1969. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Sumbangsih.

Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali pers

Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam