Paradigma Pendidikan Islam di Indonesia

ANALISIS PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA

 

SEGMEN 1

Ringkasan Materi

Pendidikan Islam sebagai “proses penyiapan generasi muda  untuk mengisi peranan memindahkan pengetahuan  dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk  beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Dalam istilah Arab terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menunjukkan makna pendidikan yakni al-tarbiyahal-ta’lim  dan  al-ta’dib.

Sementara landasan pendidikan Islam itu adalah Al-Quran dan As-Sunnah. Al-Quran merupakan firman Allah berupa wahyu yang di sampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad, sedangkan As-Sunnah dapat diartikan dengan perkataan ataupun pengakuan Rasul Allah SWT. yang dimaksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang di ketahui Rasululah dan beliau membiarkan saja kejadian atau erbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yg juga sama berisi pedoman utk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek utk membina umat menjadi manusia seutuh atau muslim yg bertaqwa. Di samping Al-Quran dan As-sunnah juga dikenal Ijtihad sebagai landasan hukum yang ketiga dalam Islam. Menurut istilah para fuqoha ijtihad dapat diartikan dengan berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yg dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam utk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yg ternyata belum ditegaskan hukum oleh Al-Qur’an dan Sunnah.

Sementara kalau dilihat prinsip-prinsip pendidikan Islam, maka dapat diungkapkan yang menjadi prinsip pendidikan Islam adalah ; pertama, prinsip integrasi (tauhid) yaitu prinsip penyatuan antara dunia dan akhirat. Kedua, Prinsip Keseimbangan yaitu keseimbangan antara muatan ruhaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni (pure science) dan ilmu terapan (aplicated science), antara teori dan praktek, dan antara nilai-nilai yang menyangkut aqidah, syari’ah, dan akhlak. Ketiga,  Prinsip Persamaan dan Pembebasan, yaitu prinsip yang menyatakan semua mahluk hidup di ciptakan oleh pencipta yang sama (Tuhan) dan melalui pendidikannya Manusia dengan pendidikannya diharapkan bisa terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, kejumudan, dan nafsu hayawaniyah-nya sendiri. Keempat, Prinsip Kontiunitas dan Berkelanjutan (Istiqomah), yaitu prinsip yang dikenal dengan konsep pendidikan seumur hidup (long life education). Kelima Prinsip Kemaslahatan dan Keutamaan, yaitu memiliki daya juang untuk membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi kehidupan.

 

SEGMEN 2

Pembahasan

  1. Pengertian Pendidikan Islam

Dalam mempelajari pendidikan Islam, perlu kiranya memahami makna dari pendidikan Islam terlebih dahulu. Menurut perbendaharaan pendidikan Islam, terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menunjukkan makna pendidikan yakni al-tarbiyahal-ta’lim  dan  al-ta’dib. Akan tetpi ada juga yang menambahkan istilah ar-riyadloh. Ketiganya mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan teks dan konteksnya, namun disaat tertentu mereka juga mempunyai sinonim arti. Secara leksikal kosa kata ﺗﺮﺑـﻴﺔ (tarbiyah) berarti pendidikan, ﺗﻌﻠﻴﻢ (ta’lim) berarti pengajaran, dan ﺗﺄﺩﻳﺐ (ta’dib) berarti pendidikan. Makna al-tarbiyah lebih luas dari pada makna al-ta’lim, sedangkan al-ta’dib mempunyai makna universal dibandingkan makna al-tarbiyah.

Makna mengenai pendidikan Islam menurut beberapa ahli  di antaranya adalah Yusuf Qardhawi, beliau menjelaskan bahwasannya pengertian “Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya, akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya, akhlak dan keterampilannya. Karena itu Pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup baik dalam keadaan damai maupun perang, dan menyiapkannya untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya”.

Sementara itu Hasan Langgulung merumuskan Pendidikan Islam sebagai “proses penyiapan generasi muda  untuk mengisi peranan memindahkan pengetahuan  dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk  beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Di sini Pendidikan  Islam merupakan proses pembentuksn individu  berdasarkan Islam yang di wahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui proses mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi yang selanjutnya mewujudkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat”. Selanjutnya Ahmad  D.  Marimba yang berpendapat bahwa “pendidikan Islam adalah suatu bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum. Hukum Islam menuju terbentuknya kepribadian utama dan kepribadian muslim”.

Pendidikan Islam menurut Fazlur Rahman adalah bukan sekedar perkengkapan dan peralatan fisik atau kuasi fisik pengajaran seperti buku-buku yang di ajarkan ataupun struktur eksternal pendidikan, melainkan sebagai  intelektualisme Islam karena baginya inilah yang dimaksud dengan esensi pendidikan tinggi Islam.

Dari pengertian yang telah dipaparkan di atas baik secara etimologi maupun terminologi dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah proses tranformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pada diri anak didik melalui pertumbuhan dan pengembangan potensi fitrahnya guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup dalam segala aspeknya. Pengertian tersebut sebagaimana kedudukan manusia sebagai hamba Allah serta khalifah Allah di bumi.

Pendidikan tidak hanya terpaku pada pendidikan formal. Hal ini mengacu pada esensi pendidikan yang di dalamnya mengandung lima unsur dasar pendidikan. Kelima unsur tersebut adalah adanya unsur memberi, menerima, tujuan baik, cara atau jalan yang baik, dan adanya konteks positif. Kegiatan di luar persekolahan yang mengandung kelima esensi tersebut bisa pula disebut dengan kegiatan mendidik atau pendidikan. Kegiatan yang mengacu pada pembentukan sikap yang diwarnai dengan nilai-nilai Islam dalam pribadi manusia akan bisa efektif bila hal tersebut disertai dengan proses pendidikan yang berjalan di atas kaidah-kaidah dan norma-norma ajaran Islam.

  1. Landasan Pendidikan Islam

Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang di sengaja untuk mencapai tujuan tertentu, harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat. Oleh karena itu pendidikan Islam sebagai usaha membentuk manusia, harus pula mempunyai landasan yang kuat. Landasan tersebut antara lain adalah:

  1. Al-Quran

Al-Quran adalah firman Allah berupa wahyu yang di sampaikan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya terkandung ajaran pokok yang dapat dikembangkan untuk keperluan seluruh aspek kehidupan melalui ijtihad. Dalam Al-Quran terdiri dari dua prinsip besar yaitu yg berhubungan dgn masalah keimanan yg disebut aqidah dan yg berhubungan dgn amal disebut syari’ah.  Pendidikan karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup syari’ah atau yang lebih spesifik bisa di sebut mu’amalah, oleh karena itu pendidikan Islam harus menggunakan Al-Qur’an sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam sesuai dengan perubahan dan pembaharuan.

  1. As-Sunnah

As-Sunnah ialah perkataan ataupun pengakuan Rasul Allah SWT. yang di maksud dengan pengakuan ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang di ketahui Rasululah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan. Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur’an yg juga sama berisi pedoman utk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek utk membina umat menjadi manusia seutuh atau muslim yg bertaqwa. Untuk itulah rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama.

Maka dari pada itu Sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang. Itulah sebab mengapa ijtihad perlu ditingkatkan dalam memahami termasuk yg berkaitan dgn pendidikan. As-Sunnah juga berfungsi sebagai penjelasan terhadap beberapa pembenaran dan mendesak untuk segara ditampilkan.

  1. Ijtihad

Ijtihad menurut istilah para fuqoha yaitu berfikir dengan menggunakan seluruh ilmu yg dimiliki oleh ilmuan syari’at Islam utk menetapkan atau menentukan sesuatu hukum syara’ dalam hal-hal yg ternyata belum ditegaskan hukum oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Namun dengan demikian ijtihad dalam hal ini dapat saja meliputi seluruh aspek kehidupan termasuk aspek pendidikan tetapi tetap berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Oleh karena itu ijtihad dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam yg sangat dibutuhkan sepanjang masa setelah rasul Allah wafat. Sasaran ijtihad ialah segala sesuatu yg diperlukan dalam kehidupan yg senantiasa berkembang. Ijtihad dalam bidang pendidikan sejalan dgn perkembangan zaman yg semakin maju bukan saja dibidang materi atau isi melainkan juga dibidang sistem. Secara substansial ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yg diolah oleh akal yg sehat dari para ahli pendidikan Islam.

  1. Prinsip-Prinsip Pendidikan Islam

Dalam membahas pendidikan Islam, tentunya tidak melupakan rinsip-prinsip pendidikan Islam. Sesungguhnya untuk merumuskan tujuan pendidikan Islam, harus diketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip pendidikan Islam yang bersumber dari nilai-nilai Al-Quran dan As-Suannah. Dalam hal ini, paling tidak ada lima prinsip dalam pendidikan Islam. Kelima prinsip tersebut antara lain:

  1. Prinsip Integrasi (Tauhid)

Prinsip ini mendukung adanya wujud kesatuan antara dunia dan akhirat. Untuk itu pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang untuk mencapai kebahagiaan di dunia sekaligus di akhirat (i’malu lid dunyaka ka annaka ta’isyu abadan, wa i’malu lil akhiratika kaanka tamuutu ghadan)

  1. Prinsip Keseimbangan

Prinsip ini merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi. Keseimbangan yang proporsional antara muatan ruhaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni (pure science) dan ilmu terapan (aplicated science), antara teori dan praktek, dan antara nilai-nilai yang menyangkut aqidah, syari’ah, dan akhlak.

  1. Pinsip Persamaan dan Pembebasan

Prinsip ini di kembangkan dari nilai tauhid, bahwa Tuhan adalah maha Esa. Oleh karea itu setiap individu dan bahkan semua mahluk hidup di ciptakan oleh pencipta yang sama (Tuhan). Perbedaan hanyalah unsur untuk memperkuat persatuan. Pendidikan adalah salah satu upaya untuk membebaskan manusia dari belenggu nafsu dunia menuju pada nilai tauhid yang bersih dan mulia. Manusia dengan pendidikannya diharapkan bisa terbebas dari belenggu kebodohan, kemiskinan, kejumudan, dan nafsu hayawaniyah-nya sendiri.

  1. Prinsip Kontiunitas dan Berkelanjutan (Istiqomah)

Dalam prinsip inilah kemudian dikenal konsep pendidikan seumur hidup (long life education). Karenaa sepanjang hidup manusia dihadapkan pada berbagai tantangan dan godaan yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri ke jurang kehinaan. Dalam hal ini dituntut kedewasaan manusia berupa kemampuan untuk mengakui dan menyesali kesalahan dan kejahatan yang dilakukan, disamping selalu memperbaiki kualitas dirinya.  Sebagaimana firman Allah, “Maka siapa yang bertaubat sesuadah kedzaliman dan memperbaiki (dirinya) maka Allah menerima taubatnya….” (QS. Al Maidah: 39).

  1. Prinsip Kemaslahatan dan Keutamaan

Jika ruh tauhid sudah berkembang dalam sistem moral dan akhlak seseorang dengan kebersihan hati dan kepercayaan yang jauh dari kotoran, ia akan memiliki daya juang untuk membela hal-hal yang maslahat atau berguna bagi kehidupan. Sebab nilai tauhid hanya bisa dirasakan apabila ia telah dimanifestasikan dalam gerak langkah manusia untuk kemaslahatan dan keutamaan manusia sendiri.

  1. Tujuan Pendidikan Islam

Manusia adalah makhluk istimewa yang oleh Allah telah diberikan akal agar mampu membedakan antara baik dan buruk. Akal juga berfungsi sebagai alat pengontrol bagi segala bentuk tindakan manusia. Sebagai upaya pengembangan pikiran, penataan perilaku, pengaturan emosional, dan pendukung peranan manusia sebagai khalifah di bumi maka manusia memerlukan pendidikan.

Dalam ilmu kependidikan, manusia diletakkan sebagai pelaku otonom atas segala perbuatannya dengan sadar dan bertanggungjawab. Oleh karenanya tujuan pendidikan Islam bukan ketakwaan dan kesalehan yang dimaknai sebagai produk dari takdir akan tetapi sebuah kesadaran dalam bertindak dan kemampuan yang bisa diuji, dievaluasi serta diukur. Seperangkat tindakan yang dapat diukur inilah yang dimaksud sebagai tujuan pendidikan.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa definisi tujuan pendidikan identik dengan tujuan hidup. Kesalehan, ketakwaan, serta menjadi insan kamil senantiasa mewarnai terma tujuan pendidikan. Bagi ‘Athiyah Al Abrasyi, tujuan pendidikan Islam adalah untuk membentuk akhlak mulia, persiapan menghadapi kehidupan dunia akhirat, persiapan mencari rizki, menumbuhkan semangant ilmiah, dan menyiapkan profesionalisme objek didik.

Tujuan pendidikan Islam dapat di rumuskan sebagai berikut:

  1. Untuk membentuk akhlakul karimah,
  2. Membantu peserta didik dalam mengembangkan kognisi afeksi dan psikomotorik guna memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai kontrol terhadap pola fikir pola laku dan sikap mental,
  3. Membantu peserta didik mencapai kesejahteraan lahir batin dangan membentuk mereka menjadi manusia beriman bertaqwa berakhlak mulia memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian integratif mandiri dan menyadari sepenuh peranan dan tanggung jawab diri di muka bumi ini sebagai abdulloh dan kholifatulloh.

Selanjutnya Zakiah Daradjat mengatakan definisi tujuan pendidikan  Islam adalah kepribadian yang mengantarkan seseorang yang membuatnya menjadi insan kamil. Manusia yang sempurna berarti manusia yang memahami tentang Tuhan, diri dan lingkungannya.

Secara prinsip tujuan pendidikan Islam ada dua macam, yakni tujuan keagamaan dan tujuan keduniaan. Maksud dari tujuan keagamaan ini adalah bahwa setiap orang muslim secara personal beramal untuk keperluan akhiratnya atas petunjuk dan ilham keagamaan yang benar, yang tumbuh dan berkembang dari ajaran-ajaran Islam yang bersih dan suci. Pada intinya, tujuan keagamaan ini melalui berbagai metode serta sudut pandangnya baik secara ilmiah maupun falsafiyah akan mengantarkan manusia kepada kebenaran yang haq, yaitu Allah SWT.

Telah disinggung sebelumnya bahwa antara ilmu pengetahuan dan agama sangat erat hubungannya. Pada kenyataannya jika diteliti sesungguhnya agama (Islam) senantiasa menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk menentukan ketetapan-ketetapan maupun keputusan-keputusan yang mengajak kepada penemuan kebenaran guna memuaskan akal pikiran (rasio). Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT. Dalam QS. Ar-Ra’du (13) ayat 19 yang kurang lebih berbunyi:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Adakah  orang  yang  mengetahui  bahwasanya  apa  yang diturunkan kepadamu  dari  Tuhanmu  itu  benar  sama  dengan  orang  yang  buta?  Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. Agama dan ilmu pengetahuan adalah sama-sama haq. Dengan penganalisaan yang benar, akan sangat kecil sekali kemungkinan antara keduanya berlawanan.

Kedua adalah tujuan keduniaan. Yaitu sebagaimana tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh para ahli pendidikan. Pada zaman tehnologi, tujuan ini lebih mengarah pada pembentukan manusia dalam mencapai kecekatan bekerja. Sedangkan dalam Islam, tujuan keduniaan ini haruslah tetap melihat dan merujuk aspek dan pandangan yang berdasarkan Al Qur’anul karim.

Hegel berpendapat “sebaiknya pendidikan menghindari perbuatan yang membawa pada dorongan kebendaan (materialisme), hendaknya pendidikan lebih mengarah pada usaha untuk mengembangkan jiwa manusia”. Pendidikan yang terjebak pada dorongan kebendaan pada akhirnya akan menciptakan manusia-manusia yang materialistis, individualis, dan terlepas dari tujuan pendidikan sendiri.

Masalah yang sering muncul dalam rumusan tujuan pendidikan yakni sering terdapat ketidak konsistenan antara tujuan pendidikan dengan tujuan pembelajaran pada setiap bidang studi. Misalnya saja tujuan bidang studi sering terfokus pada pemahaman, penjelasan, pencarian serta penemuan. Sedangkan pada tujuan pembelajaran tidak nampak adanya tujuan ketakwaan dan kesalehan tercermin pada setiap bidang studi. Rumusan bidang studi dan pembelajaran seringkali terjebak hanya pada ranah kognisi dan komitmen pada ranah afeksi kurang diperhatikan.

Selain itu perlu adanya perhatian terhadap problem sistematisasi kurikulum yang didalamnya terdapat dikotomi antara ilmu agama dan sekuler (umum). Perlu pengkajian yang kritis terkait pemahaman keduanya. Mereka yang mau berpikir, bersikap, dan meneliti secara kritis akan bisa membangun kesatuan teori kebenaran dan pendidikan sehingga tidak perlu adanya pembedaan antara ilmu agama dan sekuler.

  1. Paradigma Pendidikan Islam di Indonesia
  2. Paradigma Pendidikan Islam
  • Paradigma Holistik

Paradigma holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual.

Pada era tahu 1960-an pendidikan holistik sempat ditingalkan para pakarnya, namun pada tahun 1970-an mulai dikembangkan kembali sejak dilaksanakan konferensi pertama pendidikan Holistik Internasional yang diselenggarakan oleh Universitas California pada bulan Juli 1979, dengan menghadirkan thema The Mandala Society dan The National Center for the Exploration of Human Potential.

Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).

Sembilan pilar karakter yang dikembangkan di dalam penyelenggaraan pendidikan holistik;

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya
  2. Kemandirian dan tanggungjawab;
  3. Kejujuran/amanah, diplomatis;
  4. Hormat dan santun dermawan,
  5. Suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
  6. Percaya diri dan pekerja keras;
  7. Kepemimpinan dan keadilan;
  8. Baik dan rendah hati
  9. Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Model pendidikan holistik menggunakan tiga metode, yaitu: knowing the good, feeling the good, dan acting the good.  Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Acting the good berubah menjadi kebiasaan.

Setiap anak untuk tiba pada perilaku berkarakater kuat membutuhkan proses luar biasa sulit, butuh perjuangan yang tidak mudah. Namun kalau anak sudah terbiasa berbuat baik, sekali dia berbuat tidak baik sudah tidak enak. Timbul budaya malu dalam dirinya jika melakukan perbuatan buruk. Termasuk menyontek pada saat ulangan.

  • Paradigma Humanistik

Paradigma pendidikan humanistik memandang manusia sebagai ”manusia”, yakni makhluk ciptaan Tuhan dengan fitrah-fitrah tertentu. Sebagai makhluk hidup ia harus melangsungkan, mempertahankan, dan mengembangkan hidup. Sebagai makhluk batas (antara hewan dan malaikat), ia memiliki sifat-sifat kehewanan (nafsu-nafsu rendah) dan sifat-sifat kemalaikatan (budi luhur), sebagai makhluk dilematik ia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan dalam hidupnya; sebagai makhluk moral, ia bergulat dengan nilai-nilai; sebagai makhluk pribadi, ia memiliki kekuatan konstruktif dan destruktif; sebagai makhluk sosial, ia memiliki hak-hak sosial; sebagai hamba Tuhan, ia harus menunaikan kewajiban-kewajiban keagamaannya.

Ada beberapa nilai dan sikap dasar manusia yang ingin diwujudkan melalui pendidikan humanistik yaitu:

  1. manusia yang menghargai dirinya sendiri sebagai manusia,
  2. manusia yang menghargai manusia lain seperti halnya dia menghargai dirinya sendiri,
  3. manusia memahami dan melaksanakan kewajiban dan hak-haknya sebagai manusia,
  4. manusia memanfaatkan seluruh potensi dirinya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, dan
  5. manusia menyadari adanya Kekuatan Akhir yang mengatur seluruh hidup manusia.

Selain itu, menjadi manusia bukan sekedar dapat makan untuk hidup, tetapi lebih dari itu menjadi manusia berarti memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. Pendidikan humanis adalah proses pendidikan yang membangun karakter kemanusiaan dalam diri manusia, yang menghargai harkat dan martabat manusia lain, yang tidak terlepas dari moral hidup bersama atau moral sosial. Muara pendidikan yang manusiawi adalah mewujudkan pendidikan yang bermakna, yakni suatu sistem pendidikan yang menekankan pada watak (karakter) atau moral dalam sistem nilai dan aktualisasi diri, pada peserta didik. Dan ini berarti meninggalkan sistem pendidikan yang menekankan pada pemupukan pengetahuan atau ”knowledge deposit” (paradigma pendidikan intelektualis). Pendidikan humanis ini memiliki beberapa ciri, yaitu: memandang pendidikan sebagai sebuah sistem organik, bukan mekanik. Tidak memisahkan antara teori dan praksis. Memperlakukan peserta didik bukan sebagai bahan mentah, melainkan sebagai individu yang memiliki bakat dan minat tertentu. Pendidikan adalah proses egaliterian (manusia memiliki derajat yang sama).

  • Paradigma Pluralisme

Paradigma plural memandang manusia sebagai sosok yang independent, bebas dan memiliki otoritas serta otonomi untuk melakukan pemaknaan dan menafsirkan realitas sosial yang ada disekitarnya. Tindakan manusia sulit diprediksi, karena adanya kesadaran yang berbeda antar manusia. Manusia sebagai aktor sosial menafsirkan dunia empiris mereka sendiri secara bebas dan berbeda satu dengan lain. Dengan demikian, aspek kualitatif lebih dikedepankan dibandingkan aspek kuantitatif.

Immanuel Kant merupakan filosof utama yang dijadikan basis paradigma pluralis. Menurut Kant, manusia pada hakekatnya adalah makhluk yang suka berteman sekaligus juga berkompetisi, namun manusia tetap senang dengan harmoni. Manusia bertindak atas kesadaran subyektif, dan memiliki kebebasan menafsirkan realitas di lingkungannya secara aktif. Sementara, menurut J. Rousseau, masyarakat adalah sebuah kontrak sosial. Ada struktur internal yang membentuk kesadaran manusia, dimana kontrak sosial merupakan sebuah mekanisme untuk melakukan kontrol.

Sejalan dengan konsep manusia Kant, Rousseau mengembangkan teori kontrak sosial. Dalam teori ini, terbentuknya negara (masyarakat politik) karena anggota masyarakat mengadakan kontrak sosial untuk membentuk negara. Sumber kewenangan disini adalah masyarakat itu sendiri.

Meski pada prinsipnya manusia sama, namun alam dan lingkungan lain telah menciptakan ketidaksamaan. Muncul hak-hak istimewa yang dimiliki beberapa orang tertentu. Mereka lebih kaya, lebih dihormati, dan lebih berkuasa. Untuk menghindari ketidaktoleranan dan kelabilan, masyarakat mengadakan kontrak sosial. Ini merupakan kehendak bebas dari semua untuk memantapkan keadilan dan pencapaian moralitas terbaik. Melalui kontrak sosial individu akan dapat mempertahankan dirinya agar tetap jadi manusia merdeka.

Dalam pradigma pluralis, manusia merupakan makhluk dengan ciri dualisme yaitu sebagai makhluk sosial (sociable) sekaligus berkesadaran secara individu (self assetive). Bukannya eksternal tidak mampu menekan manusia, namun perilaku manusia adalah makhluk yang intentional sekaligus voluntary. Kebebasan lebih dimaknai sebagai hal yang personal dan individual, bukan sebagai hal yang kolektif.

Dalam memandang masyarakat, paradigma ini melihat bahwa realitas sosial merupakan dunia yang subjektif, yang dibentuk karena ada ide dan makna yang saling didistribusikan. Karena makna yang dibagi tidak sealu sama, maka yang terbentuk adalah masyarakat heterogen. Resiprositas dalam arti luas merupakan basis relasi dalam masyarakat, dimana tiap orang berorientasi pada orang lain.

Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari seluruh rangkaian kehidupan manusia. Kebanyakan manusia memandang pendidikan sebagai sebuah kegiatan mulia yang akan mengarahkan manusia pada nilai-nilai yang memanusiakan. Pandangan bahwa pendidikan sebagai kegiatan yang sangat sakral dan mulia telah lama diyakini oleh manusia. Namun di dekade 70-an dua orang tokoh pendidikan, yaitu Paulo Freire dan Ivan Illich melontarkan kritik yang sangat mendasar tentang asumsi tersebut. Mereka menyadarkan banyak orang bahwa pendidikan yang selama ini disakralkan dan diyakini mengandung nilai-nilai kebajikan tersebut ternyata mengandung penindasan.

  1. Bentuk Pelaksanaan Pendidikan Islam di Indonesia

Keberadaan pondok pesantren sebelum Indonesia merdeka diperhitungkan oleh bangsa-bangsa yang pernah menjajah Indonesia. Mayoritas sejarawan menduga bahwa Islam telah diperkenalkan di Indonesia sekitar abad ke-7 M oleh para musafir dan pedagang muslim, melalui jalur perdagangan dari Teluk Parsi dan Tiongkok. Kemudian pada abad ke-11 M sudah dapat dipastikan bahwa Islam telah masuk di kepulauan Nusantara melalui kota-kota pantai di Pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Dan, pada abad itu pula muncul pusat-pusat kekuasaan serta pendalaman studi ke-Islaman. Dari pusat-pusat inilah kemudian akhirnya Islam dapat berkembang dan tersebar ke seluruh pelosok Nusantara. Perkembangan dan perluasan Islam itu tidak lain melalui para pedagang muslim, wali, muballigh dan ulama’ dengan cara pendirian masjid, pesantren atau dayah atau surau.

Pesantren sebagai akar pendidikan Islam, yang menjadi pusat pembelajaran Islam setelah keberadaan masjid, senyatanya memiliki dinamika yang terus berkembang hingga sekarang. Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari-hari.

Pada masa pasca kemerdekaan, Pondok Pesantren perkembangannya mengalami pasang surut dalam mengemban misinya sebagai pencetak generasi kaum muslimin yang mumpuni dalam bidang Agama (tafaqquh fiddien). Pada masa priode transisi antara tahun 1950 – 1965 Pondok Pesantren mengalami fase stagnasi, dimana Kyai yang disimbolkan sebagai figur yang ditokohkan oleh seluruh elemen masyarakat Islam, terjebak pada percaturan politik praktis, yang ditandai dengan bermunculannya partai politik bernuasa Islami peserta PEMILU pertama tahun 1955, contohnya dengan lahirnya Partai Politik NU yang mewaliki warga Nahdiyyin, Partai Politik NU tersebut dapat dikatakan merepresentasikan dunia Pondok Pesantren. Hal ini dikarenakan sebagian besar pengurus dari parpol tersebut adalah Kiyai yang mempunyai Pondok Pesantren.

Selanjutrnya, setelah Indonesia merdeka, pendidikan agama telah mendapat perhatian serius dari pemerintah, baik di sekolah negeri maupun swasta. Usaha tersebut dimulai dengan memberikan bantuan sebagaimana anjuran oleh Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (BPKNP) tanggal 27 Desember 1945, disebutkan :  “Madrasah dan pesantren yang pada hakikatnya adalah satu sumber pendidikan dan pencerdasan rakyat jelata yang telah berurat dan berakar dalam masyarakat Indonesia pada umumnya, hendaknya mendapatkan perhatian dan bantuan nyata berupa tuntunan dan bantuan material dari pemerintah

Perkembangan pendidikan Islam pada masa orde lama sangat terkait pula dengan peran Departemen Agama yang mulai resmi berdiri pada tanggal 3 Januari 1946. Departemen Agama sebagai suatu lembaga pada masa itu, secara intensif memperjuangkan politik pendidikan Islam di Indonesia. Pendidikan Islam pada masa itu ditangani oleh suatu bagian khusus yang mengurus masalah pendidikan agama, yaitu Bagian Pendidikan Agama. Tugas dari bagian tersebut sesuai dengan salah satu nota Islamic education in Indonesia yang disusun oleh Bagian Pendidikan Departemen Agama pada tanggal 1 September 1956, yaitu :

  1. memberi pengajaran agama di sekolah negeri dan partikulir,
  2. memberi pengetahuan umum di madrasah, dan
  3. mengadakan Pendidikan Guru Agama serta Pendidikan Hakim Islam Negeri.

Berdasarkan keterangan di atas, ada 2 hal yang penting berkaitan dengan pendidikan Islam pada masa orde lama, yaitu pengembangan dan pembinaan madrasah dan pendidikan Islam di sekolah umum.

Perkembangan madrasah tak lepas dari peran Departemen Agama sebagai lembaga yang secara politis telah mengangkat posisi madrasah sehingga memperoleh perhatian yang terus menerus dari kalangan pengambil kebijakan. Walau tak lepas dari usaha keras yang sudah dirintis oleh sejumlah tokoh agama seperti Ahmad Dahlan, Hasyim Asy`ari dan Mahmud Yunus. Dengan perkembangan politis dan zaman, Departemen Agama secara bertahap terus menerus mengembangkan program-program peningkatan dan perluasan akses serta peningkatan mutu madrasah.

Madrasah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan diakui oleh negara secara formal pada tahun 1950. Undang-undang No. 4 tahun 1950 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah, pada pasal 10 menyatakan bahwa untuk mendapatkan pengakuan Departemen Agama, madrasah harus memberikan pelajaran agama sebagai mata pelajaran pokok paling sedikit 6 jam seminggu secara teratur disamping pelajaran umum.

Dengan persyaratan tersebut, diadakan pendaftaran madrasah yang memenuhi syarat. Jenjang pendidikan pada sistem madrasah pada masa itu terdiri dari tiga jenjang.

Pertama Madrasah Ibtidaiyah dengan lama pendidikan 6 tahun

Kedua Madrasah Tsanawiyah Pertama untuk 4 tahun

Ketiga Madrasah Tsanawiyah Atas untuk 4 Tahun.

Sedangkan kurikulum madrasah terdiri dari sepertiga pelajaran agama dan sisanya pelajaran umum. Rumusan kurikulum seperti itu bertujuan untuk merespon pendapat umum yang menyatakan bahwa madrasah tidak cukup hanya mengajarkan agama saja, tetapi juga harus mengajarkan pendidikan umum, kebijakan seperti itu untuk menjawab kesan tidak baik yang melekat kepada madrasah, yaitu pelajaran umum madrasah tidak akan mencapai tingkat yang sama bila dibandingkan dengan sekolah umum.

Perkembangan madrasah yang cukup penting pada masa Orde Lama adalah berdirinya madrasah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Tujuan pendiriannya untuk mencetak tenaga-tenaga profesional yang siap mengembangkan madrasah sekaligus ahli keagamaan yang profesional. PGA pada dasarnya telah ada sejak masa sebelum kemerdekaan. Khususnya di wilayah Minangkabau, tetapi pendiriannya oleh Departemen Agama menjadi jaminan strategis bagi kelanjutan madrasah di Indonesia.

Sejarah perkembangan PGA dan PHIN bermula dari progam Departemen Agama yang secara tehnis ditangani oleh Bagian Pendidikan. Pada tahun 1950, bagian itu membuka dua lembaga pendidikan dan madrasah profesional keguruan:

  • Sekolah Guru Agama Islam (SGAI). SGAI terdiri dari dua jenjang: a) jenjang jangka panjang yang ditempuh selama 5 tahun dan diperuntukkan bagi siswa tamatan SR/MI, dan b) Jenjang jangka pendek yang ditempuh selama 2 tahun diperuntukkan bagi lulusan SMP/Madrasah Tsanawiyah.
  • Sekolah Guru Hakim Agama Islam (SGHAI). SGHAI ditempuh selama 4 tahun diperuntukkan bagi lulusan SMP/Madrasah Tsanawiyah. SGHAI memilki empat bagian: Bagian “a” untuk mencetak guru kesusastraan, Bagian “b” untuk mencetak guru Ilmu Alam/Ilmu Pasti, Bagian “c” untuk mencetak guru agama dan Bagian “d” untuk mencetak guru pendidikan agama.

Pada tahun 1951, terjadi perubahan nama terhadap kedua madrasah keguruan tersebut sesuai dengan Ketetapan Menteri Agama 15 Februari 1951. SGAI menjadi PGA (Pendidikan Guru Agama) dan SGHAI menjadi SGHA (Sekolah Guru Hakim Agama). Pada tahun 1951 ini, PGA Negeri didirikan di Tanjung Pinang, Kotaraja, Padang, Banjarmasin, Jakarta, Tanjung Karang, Bandung dan Pamekasan. Jumlah PGA pada tahun ini sebanyak 25 dan tiga tahun kemudian, 1954, berjumlah 30. sedangkan SGHA pada tahun 1951 didirikan di Aceh, Bukit Tinggi dan Bandung.

Selanjutnya seiring dengan perubahan “Bagian Pendidikan” yang berkembang menjadi “Jawatan Pendidikan Agama” di Departemen Agama. Ketentuan- ketentuan tentang PGA dan SGHA diubah. PGA yang 5 tahun diubah menjadi 6 tahun, terdiri dari PGA Pertama 4 tahun dan PGA Atas 2 tahun. PGA jangka pendek dan SGHA dihapuskan. Sebagai pengganti SGHAI bagian “d” didirikan PHIN ( Pendidikan Hakim Islam Negeri) dengan waktu belajar 3 tahun dan diperuntukkan bagi lulusan PGA pertama.

 


 

SEGMEN 4

Tanggapan

 

Menurut saya dalam Filsafat Pendidikan Islam, tujuan pendidikan adalah “Memanusiakan manusia”. Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang dapat dikatakan telah menjadi manusia apabila ia telah memiliki sifat kemanusiaan. Itu meunjukkan bahwa tidak mudah untuk menjadi manusia. Maka di sini perlunya pendidikan sebagai sarana “Pemanusiaan” tadi. Karena proyek pemanusiaan ini sangat sulit, maka tidak bisa instan, dan asal-asalan.

Maka Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life, dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan (Long life education), atau konsep Islamnya pendidikan sepanjang hayat, -Minal mahdi ila lahdi maka pendidikan Islam pada dasarnya hendak mngembangkan pandangan hidup Islami, yang diharapkan tercermin dalam sikap hidup dan keterampilan hidup orang Islam. Dan hal ini sejalan dengan Tujuan Pendidikan Nasional.

Mungkinkah Islam dapat dijadikan alternatif paradigma Ilmu Pendidikan? Satu sisi pertanyaan itu dapat dibenarkan, sebab kajian Islam selalu bertolak dari dogmatika Illahi yang harus diyakini kebenarannya, bukan bertolak dari realitas sosio-kultur manusia, sedangkan persoalan-persoalan pendidikan lebih merupakan persoalan praktis, empiris, dan pragmatis. Namun di sisi lain, pertanyaan tersebut perlu dikaji ulang. Sebab, tidak semua persoalan pendidikan dapat dijawab melalui analisis Objektif-empiris, tetapi justru membutuhkan analisis yang bersifat aksiomatis, seperti persoalan keberadaan Tuhan, manusia, dan alam. Masalah-masalah ini lebih mudah dikaji melalui pendekatan agama.

Seperti yang sudah saya jelaskan di awal tulisan, bahwa Islam yang memiliki sifat universal dan kosmopolit tak terbantahkan untuk bisa merambah ke ranah kehidupan apa pun, termasuk dalam ranah pendidikan. Ketika Islam dijadikan Paradigma Ilmu Pendidikan paling tidak berpijak pada tiga alasan:

Pertama, Ilmu Pendidikan sebagai ilmu humaniora tergolong ilmu normatif, karena ia terkait oleh norma-norma tertentu. Pada taraf ini, nilai-nilai Islam sangat berkompeten untuk dijadikan norma dalam Ilmu Pendidikan. Landasan normatif dari pendidikan Islam yaitu: (a) Islam meletakkan prinsip kurikulum, strategi, dan tujuan pendidikan berdasarkan aqidah Islam. Pada aspek ini diharapkan terbentuk sumber daya manusia terdidik dengan aqliyah Islamiyah (pola berfikir Islami) dan nafsiyah Islamiyah (pola sikap yang Islami); (b) Pendidikan harus diarahkan pada pengembangan keimanan, sehingga melahirkan amal shaleh dan ilmu yang bermanfaat. Prinsip ini mengajarkan pula bahwa di dalam Islam yang menjadi pokok perhatian bukanlah kuantitas, tetapi kualitas pendidikan. Perhatikan bagaimana Al Quran mengungkapkan tentang ahsanu amalan atau amalan shalihan (amal yang terbaik atau amal shaleh).

Kedua, penulis sependapat bahwa dalam menganalisis masalah pendidikan, para ahli selama ini cenderung mengambil teori-teori dan falsafah Pendidikan Barat. Falsafah Pendidikan Barat lebih bercorak sekuler yang memisahkan berbagai dimensi kehidupan. Sedangkan masyarakat Indonesia lebih bersifat religius. Atas dasar itu, nilai-nilai ideal Islam sangat memungkinkan untuk dijadikan acuan dalam mengkaji fenomena kependidikan.

Dalam hal ini, kita akan mencoba membandingkan konsep Sekuler, konsep sosialis dengan konsep Islam dalam hal Ilmu Pengetahuan, termasuk di dalamnya masalah pendidikan tentunya. Terbukti dalam sejarah, bahwa Islam tidak pernah mengalami konflik dengan sistem pengetahuan rasional.

Paradagima sekuler, yaitu paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat, agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Agama tidak dinafikan eksistensinya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan pribadi manusia dengan tuhannya. Agama tidak mengatur kehidupan umum/publik. Paradigma ini memandang agama dan iptek tidak bisa mencampuri dan mengintervensi yang lainnya. Agama dan iptek sama sekali terpisah baik secara ontologis (berkaitan dengan pengertian atau hakikat sesuatu hal), epistemologis (berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan), dan aksiologis (berkaitan dengan cara menerapkan pengetahuan).

Paradigma ini mencapai kematangan pada akhir abad 19 di Barat sebagai jalan keluar dari kontradiksi ajaran Kristen (khususnya teks Bible) dengan penemuan ilmu pengetahuan modern. Semula ajaran Kristen dijadikan standar kebenaran ilmu pengetahuan. Tapi ternyata banyak ayat Bible yang berkontradiksi dan tidak relevan dengan fakta ilmu pengetahuan. Contohnya, menurut ajaran gereja yang resmi, bumi itu datar seperti halnya meja dengan empat sudutnya. Padahal faktanya, bumi itu bulat berdasarkan penemuan ilmu pengetahuan yang diperoleh dari hasil pelayaran Magellan. Dalam Bible dikatakan: “Kemudian daripada itu, aku melihat empat malaikat berdiri pada keempat penjuru angin bumi dan mereka menahan keempat angin bumi, supaya jangan ada angin bertiup di darat, atau di laut, atau di pohon-pohon.” (Wahyu-Wahyu).

Kalau konsisten dengan teks Bible, maka fakta sains bahwa bumi bulat tentu harus dikalahkan oleh teks Bible (Adian Husaini, Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal,). Ini tidak masuk akal dan problematis. Maka, agar tidak problematis, ajaran Kristen dan ilmu pengetahuan akhirnya dipisah satu sama lain dan tidak boleh saling intervensi.

Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus, tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek. Iptek bisa berjalan secara independen dan lepas secara total dari agama. Paradigma ini mirip dengan paradigma sekuler di atas, tapi lebih ekstrem. Dalam paradigma sekuler, agama berfungsi secara sekularistik, yaitu tidak dinafikan keberadaannya, tapi hanya dibatasi perannya dalam hubungan vertikal manusia-tuhan. Sedang dalam paradigma sosialis, agama dipandang secara ateistik, yaitu dianggap tidak ada (in-exist) dan dibuang sama sekali dari kehidupan.

Paradigma tersebut didasarkan pada pikiran Karl Marx (w. 1883) yang ateis dan memandang agama (Kristen) sebagai candu masyarakat, karena agama menurutnya membuat orang terbius dan lupa akan penindasan kapitalisme yang kejam. Karl Marx mengatakan: Religion is the sigh of the oppressed creature, the heart of the heartless world, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people”. Agama adalah keluh-kesah makhluk tertindas, jiwa dari suatu dunia yang tak berjiwa, sebagaimana ia merupakan ruh/spirit dari situasi yang tanpa ruh/spirit. Agama adalah candu bagi rakyat] (Lihat Karl Marx, Contribution to The Critique of Hegel’s Philosophy of Right,

Ketiga, adalah dengan menjadikan Islam sebagai Paradigma , maka keberadaan Ilmu Pendidikan memiliki ruh yang dapat menggerakkan kehidupan spiritual dan kehidupan yang hakiki. Tanpa ruh ini berarti pendidikan telah kehilangan ideologinya.

Makna Islam sebagai Paradigma Ilmu Pendidikan Adalah suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas Ilmu Pendidikan sebagaimana Islam memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh nilai-nilai Islam dengan tujuan agar kita memiliki hikmah (wisdom) yang atas dasar itu praktik pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai normatif Islam. Pada taraf ini, Paradigma Islam menuntut adanya grand design tentang ontologi,epistemologi, dan aksiologi pendidikan.

Fungsi paradigma ini pada dasarnya untuk membangun perspektif Islam dalam rangka memahami realitas Ilmu Pendidikan. Tentunya hal ini harus ditopang oleh konstruksi pengetahuan yang menempatkan wahyu sebagai sumber utamanya, yang pada gilirannya terbentuk struktur transendental sebagai referensi untuk menafsirkan realitas pendidikan.

Islam sebagai Paradigma Ilmu pendidikan juga memiliki arti konstruksi sistem pendidikan yang didasarkan atas nilai-nilai universal Islam. Bangunan sistem ini tentunya berpijak pada prinsip-prinisp hakiki, yaitu prinsip at-tauhid, prinsip kesatuan makna kebenaran dan prinsip kesatuan sumber sistem. Dari prinsip-prinsip tersebut selanjutnya diturunkan elemen-elemen pendidikan sebagai World of view, terhadap pendidikan.

Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan. Aqidah Islam menjadi basis dari segala ilmu pengetahuan. Aqidah Islam –yang terwujud dalam apa-apa yang ada dalam al-Qur`an dan al-Hadits– menjadi qa’idah fikriyah (landasan pemikiran), yaitu suatu asas yang di atasnya dibangun seluruh bangunan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia (An-Nabhani, 2001).

Paradigma ini memerintahkan manusia untuk membangun segala pemikirannya berdasarkan Aqidah Islam, bukan lepas dari aqidah itu. Ini bisa kita pahami dari ayat yang pertama kali turun: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan.” (Qs. al-‘Alaq:1).Ayat ini berarti manusia telah diperintahkan untuk membaca guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika, yaitu tetap berdasarkan iman kepada Allah, yang merupakan asas Aqidah Islam (Al-Qashash, 1995: 81).

Paradigma Islam ini menyatakan bahwa, kata putus dalam ilmu pengetahuan bukan berada pada pengetahuan atau filsafat manusia yang sempit, melainkan berada pada ilmu Allah yang mencakup dan meliputi segala sesuatu (Yahya Farghal, 1994: 117). Firman Allah SWT: “Dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (Qs. an-Nisaa`:126).

“Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (Qs. ath-Thalaq: 12).

Itulah paradigma yang dibawa Rasulullah Saw (w. 632 M) yang meletakkan Aqidah Islam yang berasas Laa ilaaha illallah Muhammad Rasulullah sebagai asas ilmu pengetahuan. Beliau mengajak memeluk Aqidah Islam lebih dulu, lalu setelah itu menjadikan aqidah tersebut sebagai pondasi dan standar bagi berbagai pengetahun. Ini dapat ditunjukkan misalnya dari suatu peristiwa ketika di masa Rasulullah Saw terjadi gerhana matahari, yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau (Ibrahim). Orang-orang berkata, “Gerhana matahari ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim.” Maka Rasulullah Saw segera menjelaskan: “Sesungguhnya gerhana matahari dan bulan tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang, akan tetapi keduanya termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengannya Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya…” [HR. al-Bukhari dan an-Nasa`i] (Al-Baghdadi, 1996: 10).

Dengan jelas kita tahu bahwa Rasulullah Saw telah meletakkan Aqidah Islam sebagai dasar ilmu pengetahuan, sebab beliau menjelaskan, bahwa fenomena alam adalah tanda keberadaan dan kekuasaan Allah, tidak ada hubungannya dengan nasib seseorang. Hal ini sesuai dengan aqidah muslim yang tertera dalam al-Qur`an: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (Qs. Ali ‘Imran: 190). Inilah paradigma Islam yang menjadikan Aqidah Islam sebagai dasar segala pengetahuan seorang muslim. Paradigma inilah yang telah mencetak muslim-muslim yang taat dan shaleh tapi sekaligus cerdas dalam iptek. Itulah hasil dan prestasi cemerlang dari paradigma Islam ini yang dapat dilihat pada masa kejayaan iptek Dunia Islam antara tahun 700 – 1400 M. Pada masa inilah dikenal nama Jabir bin Hayyan (w. 721) sebagai ahli kimia termasyhur, Al-Khawarzmi (w. 780) sebagai ahli matematika dan astronomi, Al-Battani (w. 858) sebagai ahli astronomi dan matematika, Al-Razi (w. 884) sebagai pakar kedokteran, ophtalmologi, dan kimia, Tsabit bin Qurrah (w. 908) sebagai ahli kedokteran dan teknik, dan masih banyak lagi (Tentang kejayaan iptek Dunia Islam lihat misalnya M. Natsir Arsyad, 1992; Hossein Bahreisj, 1995; Ahmed dkk, 1999; Eugene A. Myers 2003; A. Zahoor, 2003; Gunadi dan Shoelhi, 2003).

 

DAFTAR PUSTAKA

Al- Maliki, M. Alawi, 2002, Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah, Jakarta: Gema Insani.

Anam, M. Khoirul, 2003, Melacak Paradigma Pendidikan Islam (Sebuah Upaya Menuju Pendidikan Yang Memberdayakan).

Azyumardi Asra, 1999, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Daulay, Haidar Putra, 2006, Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional Indonesia, Jakarta: Kencana.

Departemen Agama, 2005. Rekonstruksi Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta.

Fadjar, A. Malik., 1999, Reformasi Pendidikan Islam, Jakarta: Fajar Dunia.

Faisal Ismail, 1998, Paradigma Kebudayaan Islam Studi Kritis dan Refleksi Historis, Yogyakarta: Tiara Ilahi Press..

Fazlur Rahman, 1985, Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual, terj. Ahsin Muhammad, Bandung, Pustaka.

George Ritzer, 2002, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Kuntowijoyo, 2005, Islam Sebagai Ilmu (Epistemologi, Metodologi dan Etika), Mizan, Teraju Mizan.

Muhaimin, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Muhaimin, 2002, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: CV. Rosda Karya

Mas’ud, Abdurrahman, 2003. Menuju Paradigma Islam Humanis. Yogyakarta: Gama media.

Suroyo, 1991, Perbagai Persoalan Pendidikan; Pendidikan Nasional dan Pendidikan Islam di Indonesia, Jurnal Pendidikan Islam, Kajian tentang Konsepo Pendidikan Islam, Problem dan Prospeknya, Volem 1 Tahun 1991, Fakultas Tarbiyah IAIN, Yogyakarta.

Sutrisno, 2006, Fazlurrahman; Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ziauddin Sardar, 1998, Jihad Intelektual; Merumuskan Parameter-parameter Sains Islam, Surabaya, Risalah Gusti.

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam