Teori Belajar Psikologi Kognitif

Teori Belajar menurut Aliran Psikologi Kognitif serta Implikasinya dalam Proses Belajar dan Pembelajaran

 

  1. Pendahuluan

Teori yang melandasi pendidikan tersebut pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu Teoriasosiasi yang berorientasi induktif artinya  bahwa bangunan ilmu dalam pengembangan pendidikan didasarkan atas unit-unit pengetahuan, sikap dan keterampilan menjadi unit yang lebih universal dan general, aliran dalam teori ini adalah aliran behaviorisme, atau lebih dikenal dengan aliran Stimulus-Respon (S-R) yaitu aliran yang beranggapan bahwa pendidikan diarahkan pada terciptakanya perilaku-perilaku baru pada peserta didik melalui stimus respon yang diberikan selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian yang kedua adalah teori lapangan (Field Theory) yang justru berbeda dengan teori asisiasi, teori ini lebih mengarah pada deduktif, artinya pengetahuan itu diperoleh dari sesuatu yang general dan holistik untuk menemukan kebenaran-kebenaran dari unit-unit yang ada dalam pembelajaran tersebut. Teori ini memiliki dua aliran yaitu kognitifisme dan humanism.

Pada bahasan makalah ini, penulis hanya akan membicarakan tentang teori belajar menurut aliran psikologi kognitif sebagaimana ulasan berikut ini

  1. Konsep Dasar Psikologi Kognitif

Berbeda dengan aliran psikologi behavioristik, Psikologi Kognitif merupakan cabang ilmu yang mempelajari proses mental, bagaimana manusia berpikir, merasakan, mengingat, belajar dimana otak akan menjalankan fungsi utamanya yang disebut dengan berpikir. Dalam hal ini otak adalah sistem fisik dalam bekerja pada batas hukum alam dan kekuatan sebab akibat, bisa menampung sebanyak-banyaknya, apapun item yang masuk kedalam memorinya secara simultan. Kemampuan membedakan hasil penginderaan, menghasilkan kemampuan lebih tinggi, membentuk kategori konseptual. Sudarwan dan Khairil (2010) menyebutkan bahwa psikologi kognitif akan berusaha untuk menggambarkan cara kerja pikiran dan membuat dunia lebih baik dari yang seharusnya. Menurut teori kognitif belajar dan pembelajaran mengakui pentingnya faktor individu dalam belajar tanpa meremehkan faktor lingkungan dalam berintekrasi yang berjalan terus menerus sepanjang hayat.

Solso, dkk., (2008 : 2) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah ilmu yang menyelidiki pola pikir manusia. Psikologi kognitif membahas persepsi terhadap informasi (Anda membaca pertanyaan), membahas pemahaman terhadap informasi (Anda memahami inti pertanyaan tersebut), membahas alur pikiran (Anda menentukan apakah anda mengetahui jawabannya atau tidak), dan membahas formulasi dan produksi jawaban Anda.Kemudian psikologi kognitif dapat pula dipandang sebagai studi terhadap proses-proses yang melandasi dinamika mental.Sesungguhnya, psikologi kognitif meliputi segala hal yang kita lakukan.

Aliran kognitif mulai muncul pada tahun 60-an sebagai gejala ketidakpuasan terhadap konseps manusia menurut behaviorisme dan psikoanalisa. Gerakan ini tidak lagi memandang manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif terhadap lingkungan, melainkan sebagai makhluk yang selalu berfikir (Homo Sapiens). Paham kognitifisme ini tumbuh akibat pemikiran-pemikiran kaum rasionalisme yang menyatakan bahwa manusia itu dapat berpikir lebih baik dari makhluk hidup lainnya.

Danim dan Khairil (2010 : 38) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah cabang psikologi yang mempelajari proses mental termasuk bagaimana orang berpikir, merasakan, mengingat, dan belajar. Sebagai bagian bidang ilmu kognitif yang lebih besar, cabang psikologi ini berhubungan dengan disiplin ilmu lain termasuk ilmu saraf, filsafat, dan linguistik.

Winkel (2007 : 119) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah salah satu cabang dari psikologi umum dan mencakup studi ilmiah tentang gejala-gejala kehidupan mental/psikis sejauh berkaitan dengan cara manusia berpikir, seperti terwujud dalam memperoleh pengetahuan, mengolah aneka kesan yang masuk melalui penginderaan, menghadapi masalah/problem untuk mencari penyelesaian, serta mengali dari ingatan pengetahuan dan prosedur kerja yang dibutuhkan dalam menghadapi tuntutan hidup sehari-hari.

Winkel (2007 : 119) menyatakan bahwa Psikologi kognitif ini khusus mempelajari gejala-gejala mental yang bersifat kognitif dan kait terkait dengan proses belajar mengajar di sekolah, terdapat hubungan yang erat dengan psikologi belajar, psikologi pendidikan dan psikologi pengajaran. Pengetahuan dan pemahaman tentang proses belajar tidak hanya menerangkan mengapa siswa berhasil dalam usahanya belajar, tetapi juga membantu untuk mencegah terjadi penyimpangan dalam proses itu dan, sekali terjadi kesalahan selama periode belajar, untuk mengoreksinya.

Ormrod (2009 : 270) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah perspektif teoritis yang memfokuskan pada proses-proses mental yang mendasari pembelajaran dan perilaku.

Saam (2010 : 59) menyatakan bahwa Teori kognitif menekankan bahwa peristiwa belajar merupakan proses internal atau mental manusia. Teori kognitif menyatakan bahwa tingkah laku manusia yang tampak tidak bisa diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental yang lain seperti motivasi, sikap, minat, dan kemauan.

Gredler dalam Uno (2006 : 10) menyatakan bahwa Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Namun lebih erat dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Dalyono (2007 : 34) bahwa Dalam teori belajar kognitif dinyatakan bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh “reward” dan “reinforcement”.  Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis.Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku itu terjadi.

Berdasarkan penjelasan dari berbagai pendapat dari ahli-ahli di atas maka menurut saya teori belajar menurut aliran psikologi-psikologi kognitif adalah suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri dan ini merupakan teori belajar yang melibatkan pola pikir siswa dalam proses belajar.

Pada model belajar kognitif adalah suatu bentuk teori belajar yang sering disebut dengan model perseptual.Belajar kognitif menyatakan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh pandangan serta pemahamannya mengenai situasi yang berhubungan dengan tujuan belajar mereka.Belajar adalah perubahan pandangan dan pemahaman yang tidak selalu bisa terlihat sebagai perilaku yang terlihat.

Menurut perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. Secara lahiriah, seorang anak yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya, tentu menggunakan perangkat jasmaniah (dalam hal ini mulut dan tangan) untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi, perilaku mengucapkan kata-kata dan menggoreskan pena yang dilakukan anak tersebut bukan semata-mata respons atas stimulus (rangsangan) yang ada, melainkan yang lebih penting karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya. Ormrod (2009 : 270) menyatakan bahwa Psikologi kognitif adalah perspektif teoritis yang memfokuskan pada proses-proses mental yang mendasari pembelajaran dan perilaku.Gredler menyatakan bahwa Teori belajar kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Bagi penganut aliran ini, belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Namun lebih erat dari itu, belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.

Psikologi kognitif berfokus menggali sebagai spesifikasi dari otak manusia tersebut.Kognisi adalah suatu perabot dalam benak manusia sebagai pusat penggerak berbagai aktivitas untuk mengenali lingkungan, melihat berbagai masalah, menganalisa beragam masalah, mencari informasi baru, menarik kesimpulan. Aliran kognitif adalah suatu proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat dan menggunakan pengetahuan, maka dengan itu sebuah perilaku yang tampak tidak dapat diukur, diamati tanpa melihat proses mentalnya, seperti : (1) motivasi. (2) kesengajaan. (3) keyakinan dan sebagainya. Jadi dapat disimpulkan bahwa psikologi kognitif adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang proses mental yang aktif untuk memperoleh informasi untuk akhirnya terjadinya perubahan tingkah laku. Berikut akan dibahas teori-teori belajar yang ada dalam psikologi kognitif.

  1. Jenis-jenis Belajar Kognitif
  2. Teori Belajar Pengolahan Informasi

Informasi itu disampaikan ke memori jangka pendek dan sistem penampungan memori kerja. Apabila informasi di dalam kedua penampungan tersebut diulang-ulang atau disandikan, maka dapat dimasukkan ke dalam memori jangka panjang.

Kebanyakan, peristiwa lupa terjadi karena informasi di dalam memori jangka pendek tidak pernah ditransfer ke memori jangka panjang. Tapi bisa juga terjadi karena seseorang kehilangan kemampuannya dalam mengingat informasi yang telah ada di dalam  memori jangka panjang. Bisa juga karena interferensi, yaitu terjadi apabila informasi bercampur dengan atau tergeser oleh informasi lain.

  1. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar Kontruktivisme memandang bahwa :

  • Belajar berarti mengkontruksikan makna atas informasi dari masukan yang masuk ke dalam otak.
  • Peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri.
  • Peserta didik sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan prinsip-prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap tidak bisa digunakan lagi.
  • Peserta didik mengkontruksikan pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya.
  1. Tokoh-tokoh Aliran Kognitif
    1. Teori Belajar Cognitive Developmental dari Jean Piaget

Jean Piaget merupakan seorang psikologi pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Gredler (2011:336-338) menjelaskan bahwa piaget membagi proses belajar menjadi tiga tahapan yaitu: Tahap asimilasi maksudnya sebuah proses penyatuan informasi yang baru ke struktur yang sudah ada dalam benak siswa. Misalnya:  Tahap akomodasi maksudnya proses penyesuaian struktur kognitif kedalam situasi yang baru  dan Tahap equilibrasi adalah proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dengan akomodasi. Selanjutnya, Hergenhall dan Onson (200) berpendapat bahwa ada lima konsep utama dalam teori Piaget ini, yakni intelegensi (ciri bawaan yang dinamis berupa tindakan cerdas yang membawa manusia secara optimal pada kelangsungan hidup organisme), skemata (potensi untuk bergerak dengan cara tertentu atau untuk berperilaku tertentu), asimilasi (pencocokan atau penyesuaian antara struktur kognitif dengan lingkungan fisik) dan akomodasi (penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru), ekuilibrasi (penyeimbangan dari asimilasi dan akomodasi atau mengorganisasikan antara pengalaman dengan lingkungan), dan interiorisasi (proses penurunan ketergantungan pada lingkungan fisik menuju tahap kognitif).

Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap yang harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan perkembangan proses berpikir formal, yaitu:

  1. Tahap Sensori Motor ( usia 0 – 2 tahun ).

Awalnya pengalaman bersatu dengan dirinya. Pada tahap ini pengalaman yang diperolehnya melalui pada perubahan fisik sebagai gerakan anggota tubuh dan sensori sebagai koordinasi alat-alat indera bersatu, berarti dalam satu objek ada,  apabila ada penglihatannya selanjutnya berusaha mencari objek asal kemudian hilang dari pandangannya (berpindah/terlihat).Misalnyaanak mulai bisa berbicara meniru suara kenderaan, suara kucing megeong dan sebagainya.pada usia 0 – 2 tahun gerakan tubuhlan yang berkoordinasi dengan alat inderanya.

  1. Tahap Pra-Operasi (usia 2 – 6 tahun).

Istilah operasi maksudnya adalah berupa tindakan-tindakan yang kognitif dan tahapan ini disebut tahap pengorganisasian operasi kongkrit seperti mengklasifikasikan sekelompok objek atau menata benda-benda menurut aturan, urutan tertentu dan membilangkan. Pemikiran anak lebih banyak berdaarkan pengalaman konkrit dibanding dengan pemikiran yang logis sehingga jika dia melihat objek yang kelihatan berbeda akan mengatakan yang berbeda. Misalnya  kelereng besar lima buah terletak diatas meja lalu dirubah letak kelereng tersebut agak jauh maka ia mengatakan jumlah kelereng tersebut lebih banyak.

  1. Tahap Operasi Konkrit ( usia 6 – 12 tahun).

Pada tahap ini pada umumnya anak-anak sudah berada di bangku sekolah dasar akan dapat memahami operasi logis melalui bantuan berupa benda-benda yang kongkrit, mampu mengklasifikasikan, mampu memandang objek secara objektif dan berpikir reversible contoh : diberikan bola warna merah 10 buah, kuning 5 buah, hijau 3 buah. Jika ditanyakan bola warna apa yang paling sedikit maka dia akan menjawab bola warna hijau.

  1. Tahap Operasi Formal (usia 12 tahun keatas).

Pada tahapan ini penalaran dalam struktur kognitifnya telah mampu menggunakan symbol, ide, abstraksi dan generalisasi.Tahap ini merupakan tahap akhir dari perkembangan kognitif secara kualitas dan anak sudah mampu mengadakan penalaran dengan menggunakan hal-hal yang abstrak telah memiliki kemampuan untuk melakukan operasi yang menyatakan hubungan diantara hubungan-hubungan dan memahami konsep promosi. Missal: berikan gambar dua buah pohon, satu gambar pohon yang kecil/pendek dan satu lagi pohon besar/tinggi suruh anak-anak tersebut untuk mengukur. Jadi berdasarkan hal ini menurut Jean Piaget bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkontruksikan pengetahuannya sendiri.

Sanjaya (2006) menyatakan, pengetahuan yang dikontruksi si anak sebagai subjek maka akan menjadi pengetahuan yang sangat bermakna (berusaha sendiri untuk mencari jawaban), sedangkan pengetahuan yang diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak akan menjadi pengetahuan yang bermakna, hanya diingat sementara setelah itu lupa, apa kira-kira keterkaitan hal tersebut dengan proses belajar?

Berikut ini Elkind mengemukakan bahwa perlunya singkronisasi kurikulum dengan tingkat kemampuan fisik dan kognitif serta kebutuhan social dan emosional siswa. Implikasi lain terkait dengan pernyataan Piaget yang menekankan betapa strategisnya interaksi individu dan lingkungan, mengharuskan kurikulum peduli pada pengembangan interactive learning siswa sesuai dengan tingkat kemampuan sianak. Slavin (1994) menyimpulkan bahwa teori piaget memberikan arahan tentang krusialnya inisiatif diri yang relevan untuk mendorong bereka belajar menemukan melalui interaksi dengan lingkungannya.

Dari seluruh penjelasan di atas, Piaget jelas berpendapat bahwa pengalaman pendidikan anak harus dibangun. Pendidikan yang optimal membutuhkan pengalaman yang menantang bagi si pembelajar sehingga proses asimilasi dan akomodasi dapat menghasilkan pertumbuhan intelektual.

Santrock (2008:61) menyatakan bahwa Teori Piaget dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan cara:

  1. Gunakan pendekatan konstruktivis. Senada dengan pandangan aliran konstruktivis, Piaget menekankan bahwa anak-anak akan belajar dengan lebih baik jika mereka aktif dan mencari solusi sendiri.
  2. Fasilitasi mereka untuk belajar. Guru yang efektif harus merancang situasi yang membuat murid belajar dengan bertindak.
  3. Pertimbangkan pengetahuan dan tingkat pemikiran anak. Murid tidak datang ke sekolah dengan kepala kosong. Mereka punya banyak gagasan tentang dunia fisik dan alam.
  4. Gunakan penilaian terus-menerus. Makna yang disusun oleh individu tidak dapat diukur dengan tes standar. Penilaian matematika dan bahasa (yang menilai kemajuan dan hasil akhir), pertemuan individual di mana murid mendiskusikan strategi pemikiran mereka, dan penjelasan lisan dan tertulis oleh murid tentang penalaran mereka dapat dipakai sebagai alat untuk mengevaluasi kemajuan mereka.
  5. Tingkatkan kemampuan intelektual murid. Menurut Piaget tingkat perkembangan kemampuan intelektual murid berkembang secara alamiah. Anak tidak boleh didesak dan ditekan untuk berprestasi terlalu banyak di awal perkembangan mereka sebelum mereka siap.
  6. Jadikan ruang kelas menjadi eksplorasi dan penemuan. Guru menekankan agar murid melakukan eksplorasi dan menemukan kesimpulan sendiri. Guru lebih banyak mengamati minat murid dan partisipasi alamiah dalam aktivitas mereka untuk menentukan pelajaran apa yang diberikan.

Implikasi lain dari teori piaget dalam pembelajaran sebagai berikut:

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa, sebab itu guru akan mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berpikir anak.
  2. Anak-anak belajar lebih baik bila dapat menghadapi lingkungan dengan baik, guru harus membantu supaya bisa berinteraksi dengan lingkungannya.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak, hendaknya dirasakan baru dan tidak asing.
  4. Berikan peluang, agar sianak belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
  5. Di dalam kelas anak-anak hendaknya, diberikan peluang saling berbicara dan berdiskusi dengan teman-temannya.

Tiga prinsip utama pembelajaran yang dikemukakan Jean Piaget, antara lain:

  1. Belajar aktif

Proses pembelajaran adalah proses aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya: melakukan percobaan sendiri; memanipulasi symbol-simbol; mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri; membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.

  1. Belajar lewat interaksi sosial

Dalam belajar perlu diciptakan suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara subyek belajar. Menurut Piaget belajar bersama baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Karena tanpa kebersamaan kognitif akan berkembang dengan sifat egosentrisnya. Dan dengan kebersamaan khasanah kognitif anak akan semakin beragam. Hal ini memperkuat pendapat dari JL.Mursell.

  1. Belajar lewat pengalaman sendiri

Dengan menggunakan pengalaman nyata maka perkembangan kognitif seseorang akan lebih baik daripada hanya menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Berbahasa sangat penting untuk berkomunikasi namun jika tidak diikuti oleh penerapan dan pengalaman maka perkembangan kognitif seseorang akan cenderung mengarah ke verbalisme.

Jadi jelaslah sudah bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

  1. Teori Kognitif menurut David Ausubel

Selama ini masih banyak yang menekankan belajar asosiatif atau belajar menghafal, ini tidak akan banyak maknanya untuk siswa dan seharusnya belajar itu merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa, dimana materi yang dipelajari diasimilasikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk struktur kognitif (struktur organisasional). Seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah kedalam suatu unit konseptual.

Ausubel mengemukakan bahwa Teori kognitif banyak memusatkan perhatian pada konsepsi, bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Ausubel mengembangkan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif didalam merancang pembelajaran yang disebutkannya Advance Organizers. Penggunaan advance Organizers sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru.Jika ditata dengan baik advance organizers akan memudahkan siswa mempelajari pelajaran yang baru dan hubungannya dengan materi yagn telah dipelajarannya. Para pakar teori kognitif mengembangkannya yang disebut dengan schemata berfungsi dalam pengintegrasian unsur-unsur pengetahuan yang terpisah. Schemata memiliki fungsi ganda, yaitu:

  1. Sebagai skema yang menggambarkan dan merepresentasikan organisasi pengetahuan.
  2. Sebagai kerangka dan tempat untuk mengkaitkan/mencantolkan pengetahuan baru.

Schemata sebagai fungsi asimilatif “mengasimilasikan pengetahuan baru kedalam hirarki pengetahuan secara progresif, lebih rinci dan spesifik dalam stuktur kognitif seseorang, oleh sebab itu diperlukan adanya upaya untuk mengorganisasi isi materi pelajaran dan menata kondisi pembelajaran agar dapat dengan mudah sebuah proses asimilasi. Mayer (dalam degeng, 1993) menggunakan pengurutan asimilatif dalam pengorganisasian pembelajaran, memulai dengan menyajikan informasi-informasi yang sangat umum, inklusif menuju informasi yang khusus dan spesifik.Konsep dasar struktur kognitif ini menjadi dasar teoritik dalam mengembangkan teori-reori pembelajaran. Degeng (1989) mengemukakan Konsep dasar ini secara singkat, yaitu :

  1. Hirarkhi belajar, yaitu dengan adanya bentuk prasyarat belajar akan mengharuskan adanya pengetahuan tertentu yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum pengetahuan lain dapat dipelajari.
  2. Analisis tugas, maksudnya keterkaitan bidang studi memungkinkan seseorang untuk mempelajari langkah dari suatu prosedur terlebih dahulu.
  3. Subsunptive sequence, artinya menekankan pembelajaran bermakna dapat diwujudkan melalui penggunaan urutan umum ke dalam yang lebih rinci.
  4. Kurikulum spiral, adalah urutan pengajaran dimulai dengan mengajarkan isi pengajaran secara umum kemudian secara berkala kembali mengajarkan isi yang sama dengan cakupan yang lebih rinci.
  5. Teori skema, teori ini memandang bahwa proses belajar sebagai perolehan pengetahuan baru dalam diri seseorang dengan cara mengkaitkannya dengan struktur kognitif.
  6. Webteaching, yaitu pengetahuan baru yang akan dipelajari secara bertahap yang harus diintegrasikan dengan struktur pengetahuan yang telah dimiliki siswa.
  7. Teori elaborasi, teori ini mengintegrasikan sejumlah pengetahuan tentang strategi penataan isi pelajaran yang sudah ada. Pengorganisasian isi bidang studi dengan mengikuti urutan umum kepada yang rinci, dimulai dari menampilkan struktur isi bidang studi yang dipelajari (epitome) kemudian mengelaborasikan bagian-bagian yang ada dalam epitome secara rinci.

Agar tercipta belajar bermakna, maka bahan yang dipelajari harus bermakna: istilah yang mempunyai makna, konsep-konsep yang bermakna, atau hubungan antara dua hal atau lebih yang mempunyai makna. Selain itu, bahan pelajaran hendaknya dihubungkan dengan struktur kognitifnya secara substansial dan dengan beraturan. Substansial berarti bahan yang dihubungkan sejenis atau sama substansinya dengan yang ada pada struktur kognitif. Beraturan berarti mengikuti aturan yang sesuai dengan sifat bahan tersebut (Sukmadinata, 2007: 188).

Selaras dengan uraian tersebut, menurut Reilly dan Lewis, belajar memerlukan persyaratan tertentu, yaitu (1) isi pembelajaran dipilih berdasarkan potensi yang bermakna dan diatur sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik serta tingkat pengalaman masa lalu yang pernah dialaminya; dan (2) diciptakan situasi belajar yang lebih bermakna. Dalam hal ini, faktor motivasi memegang peranan penting karena peserta didik tidak akan mengasimilasikan isi pembelajaran yang diberikan atau yang diperoleh apabila peserta didik tidak mempunyai keinginan dan pengetahuan bagaimana cara melakukan kegiatan belajar (Muhaimin, 2002: 201)

Teori kognitif mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Siswa bukan orang dewasa mudah dalam proses pemikirannya, mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahapan tertentu.
  2. Anak usia prasekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik terutama apabila menggunakan benda kongkrit.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif sangat perlu untuk proses asimilasi, akomodasi pengetahuan dan pengalaman yang terjadi dengan baik.
  4. Untuk menarik minat, meningkatkan retensi belajar dengan mengkaitkan pengalaman dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa.
  5. Pemahaman dan retensi akan meningkat apabila materi disusun menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke yang komplit.
  6. Belajar memahami lebih bermakna daripada menghafal.
  7. Adanya perbedaan individual dalam diri siswa yang perlu diperhatikan seperti motivasi diri, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal dan sebagainya.

David Ausubel mengidentifikasikan empat kemungkinan tipe belajar, yaitu :

  1. Belajar dengan penemuan yang bermakna,
  2. Belajar dengan ceramah yang bermakna,
  3. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna, dan Dia berpendapat bahwa menghafal berlawanan dengan bermakna, karena belajar dengan menghafal, peserta didik tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan demikian bahwa belajar itu akan lebih berhasil jika materi yang dipelajari bermakna.
    1. Teori Belajar Robert Gagne

Teori belajar Gagne menyatakan bahwa perkembangan sebagian besar bergantung pada peristiwa yang disebut dengan belajar (Gredler, 2011). Menurut Gagne keterampilan, apresiasi dan penalaran manusia dengan semua variasinya, juga harapan, aspirasi, sikap dan nilai-nilai manusia merupakan peristiwa belajar. Tiga prinsip dari pembelajaran yang efektif menurut Gagne dalam tugas latihan adalah: 1) memberikan pembelajaran mengenai seperangkat tugas-tugas komponen yang diarahkan untuk membangun tugas akhir, 2) memastikan bahwa setiap tugas komponen dikuasai, dan 3) sekuensi tugas komponen untuk memastikan transfer yang optimal ke tugas lain (Gredder, 2011). Proses kognitif dan pembelajaran menurut Gagne adalah adanya transfer belajar, keterampilan cara belajar, dan pengajaran pemecahan masalah. Jadi, implikasinya bagi belajar dan pembelajaran adalah menggunakan metode belajar problem solving, adanya perbedaan individu mengharuskan guru memahami konsep perubahan individu dan pembelajarannya.

  1. Teori Kognitif menurut Jerome Bruner

Menurut Jerome Brunner, pembelajaran hendaknya dapat menciptakan situasi agar mahasiswa dapat belajar dari diri sendiri melalui pengalaman dan eksperimen untuk menemukan pengetahuan dan kemampuan baru yang khas baginya. Dari sudut pandang psikologi kognitif, bahwa cara yang dipandang efektif untuk meningkatkan kualitas output pendidikan adalah pengembangan program-program pembelajaran yang dapat mengoptimalkan keterlibatan mental intelektual pembelajar pada setiap jenjang belajar.

Sebagaimana direkomendasikan Merril, bahwa jenjang belajar bergerak dari tahapan mengingat, dilanjutkan ke menerapkan, sampai pada tahap penemuan konsep, prosedur atau prinsip baru di bidang disiplin keilmuan atau keahlian yang sedang dipelajari.

Dalam teori belajar, Jerome Bruner berpendapat bahwa kegiatan belajar akan berjalan baik dan kreatif jika siswa dapat menemukan sendiri suatu aturan atau kesimpulan tertentu. Dalam hal ini Bruner membedakan menjadi tiga tahap, yaitu :

(1) Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru,

(2) Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain, dan

(3) Tahap evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.

Jerome Bruner mempermasalahkan seberapa banyak informasi itu diperlukan agar dapat ditransformasikan . Perlu ketahui, tidak hanya itu saja namun juga ada empat tema pendidikan yaitu :

(1) Mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan,

(2) Kesiapan (readiness) siswa untuk belajar,

(3) Nilai intuisi dalam proses pendidikan,

(4) Motivasi atau keinginan untuk belajar siswa, dan curu untuk memotivasinya.

Dengan demikian Jerome Bruner menegaskan bahwa mata pelajaran apapun dapat diajarkan secara efektif dengan kejujuran intelektual kepada anak, bahkan dalam tahap perkembangan manapun.

Teori belajar kognitif menurut Jerome Bruner dapat disimpulkan, bahwa dalam proses belajar terdapat tiga tahap, yaitu informasi, trasformasi, dan evaluasi. Lama tidaknya masing-masing tahap dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain banyak informasi, motivasi, dan minat siswa.

Jerome Bruner juga memandang belajar sebagai “instrumental conceptualisme” yang mengandung makna adanya alam semesta sebagai  realita, hanya dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, pikiran manusia dapat membangun gambaran mental yang sesuai dengan pikiran umum pada konsep yang bersifat khusus. Semakin bertambah dewasa kemampuan kognitif seseorang, maka semakin bebas seseorang memberikan respon terhadap stimulus yang dihadapi.

Peranan guru menurut psikologi kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh  proses pendidikan di sekolah, maka peserta didik akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.

 

  1. Teori Belajar Kognitif Gestalt oleh Merx Wertheimer

Teori kognitif yang juga sering dijadikan acuan adalah teori Gestalt.  Peletak dasar teori Gestalt adalah Merx Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Menurut pandangan Gestalt  semua kegiatan belajar menggunakan pemahaman terhadap hubungan-hubungan, terutama hubungan antara bagian dan keseluruhan.  Intinya, menurutnya tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar adalah lebih meningkatkan kemampuan belajar seseorang dari pada hukuman dan ganjaran.

Teori belajar Cognitive-field ini menaruh perhatian pada kepribadian dan pisikologi social.Belajar langsung sebagai akibat dari perubahan dalam Struktur   kognitif.Tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan baik dari diri individu. Kurt Lewin mengkaji perilaku social melalui pendekatan konsep ‘ medan’ atau ‘field atau ‘ruang kehidupan’ – like space.  Kurt Lewin merumuskan perilaku sebagai B = f  (P,E) dimana B,P dan E, ini  adalah Behavior (pelaku), Person (individu) dan Environment (lingkungan). Perilaku yang tidak memperhitungkan situasi tidaklah lengkap. Bagi Kurt Levin pemahaman atas perilaku harus selalu dikaitkan dengan konteks, intinya teori medan berupaya menguraikan bagaimana situasi yang ada (field). Dalam psikologi eksistensi unsure tidak bisa terlepas dari satu sama lain, misalnya seseorang yang agresif karena berada dalam lingkungan yang agesif. Ciri-ciri utama teori medan Lewin adalah :

  1. Tingkah laku merupakan suatu fungsi dari medan yang ada ketika tingkah laku itu terjadi.
  2. Analisis mulai dari situasi keseluruhan dari mana komponen-komponen dipisahkan.
  3. Orang yang kongkrit dalam situasi yang kongkrit dapat digambarkan secara matematis.
    1. Teori Konstruktivisme Sosial Lev

Teori ini muncul akibat dari keprihatinan kepada perubahan kehidupan masyarakat dengan problem social, aliran pendidikan yang ada kurang dapat menjawab masalah-masalah social yang terjadi. Untuk itu perlu pendekatan konstruktivisme Vygotsky yang berasumsi bahwa  belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan social dan fisik. Teori ini mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar social budaya dan sejarahnya atau asal-usul tindakan sadarnya yang dilatari oleh sejarah hidupnya.Anak-anak tersebut memperoleh pengetahuan atau keterampilan dari interaksi social sehari-hari yang terlibat secara aktif.

Dimensi kesadaran social bersifat primer sedangkan dimensi individualnya bersifat derivate (turunan).Jadi perkembangan kognitif seseorang ditentukan diri sendiri dan lingkungan social yang aktif.

Teori perkembangan Vygotsky adalah teori perkembangan biolosgs dan kultural historis (Gredler, 2010). Selanjutnya teori perkembangan kognitif yang disampaikan oleh Vygotsky (Santrock, 2010) dalam tiga teori, yaitu:

  1. keahlian kognitif anak dapat dipahami apabila dianalisis dan diinterpretasikan secara developmental;
  2. kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentransofrmasi aktivitas mental; dan
  3. kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural.

Menggunakan pendekatan developmental berarti memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal usulnya dan transformasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya. Tindakan mental tertentu, seperti menggunakan “ucapan batin” (inner speech) tidak bisa dilihat dengan tepat secara tersendiri tetapi harus dievaluasi sebagi satu langkah dalam proses perkembangan bertahap. Menurut teori yang kedua, untuk memahami kognitif anak harus menggunakan media, yakni berupa bahasa.Bahasa digunakan untuk membantu anak merancang aktivitas dan memecahkan masalah.Berikutnya, bahwa perkembangan kognitif anak berasal dari sosial dan kultural.Perkembangan kognitif anak tidak bisa dipisahkan dari kegiatan sosial dan budaya.Vygotsky juga mengungkapkan ide Zone of Proximal Development.Hal ini menyatakan bahwa perkembangan kognitif anak juga dipengaruhi oleh pengaruh sosial, terutama pengaruh instruksi atau pengajaran.

Bila dibandingkan teori Piaget dan Vygotsky, maka jelas bahwa pandangan Vygotsy lebih memfokuskan bahwa kognitif anak dipengaruhi oleh sosial dan budaya anak, sehingga penting sekali untuk memperbaiki atau mengevaluasi faktor yang berkaitan dengan kontekstual dalam pembelajaran.Sementara Piaget menyatakan bahwa kognitif anak trekait dengan bagaimana anak memproses informasi melalui perhatian, sensori, dan strategi.Vygotsky lebih menekankan pada inner speech, sementara Piaget bersifat immature.Kedua ahli ini merupakan ahli konstruktivisme, yang menekankan bahwa anak secara aktif mengkonstruksi atau menyusun pengetahuan dan pemahaman, bukan penerima pasif.Piaget memfokuskan pada konstruktivisme kognitif, sementara Vygotsky lebih pada konstruktivisme sosial. Menurut Piaget anak menyusun pengetahuan dan mentransformasikan, mengorganisasikan, dan mereorganisasikan pengetahuan sebelumnya, selanjutnya menurut Vygotsky anak-anak menyusun pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain.

Strategi yang dapat digunakan dalam mengimplikasikan teori belajar Vygotsky adalah: a) menunjukkan contoh pemecahan soal dan mengamati pakah anak dapat meniru contoh itu; b) memulai memecahkan soal dan menyuruh anak untuk menyelesaikan solusi; c) meminta anak untuk bekerjasama engan anak yang lebih maju dalam memecahkan soal itu; atau d) menjelaskan proses penyelesaian soal kepada anak, mengajukan pertanyaan, menganalisis sosal untuk anak, dan sebagainya (Gredler, 2011). Bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif, kalaboratif dan kontekstual sangat tepat diterapkan.

  1. Ciri Aliran Kognitif

Ciri-ciri aliran kognitif:

  1. mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
  2. mementingkan keseluruhan daripada bagian-bagian
  3. mementingkan peranan kognitif
  4. mementingkan kondisi waktu sekarang
  5. mementingkan pembentukan struktur kognitif
  6. mengutamakan keseimbangan dalam dirimanusia
  7. mengutamakan insight (pengertian, pemahaman)
  1. Implikasi Teori Belajar Kognitif

Ormrod (2009 : 271) menyatakan bahwa Implikasi teori psikologi kognitif dalam proses pembelajaran adalah:

  1. Dorong siswa untuk berpikir tentang materi pelajaran dengan cara yang akan membantu mereka mengingatnya. Contoh ketika mengenalkan konsep mamalia, minta siswa untuk memberikan banyak contoh.
  2. Bantu siswa mengindentifikasi hal-hal yang paling penting bagi mereka untuk dipelajari. Contoh berikan pertanyaan kepada siswa yang harus mereka coba jawab sementara mereka membaca buku teks mereka. Masukkan pertanyaan yang meminta mereka menerapkan apa yang mereka baca dalam kehidupan mereka sendiri.
  3. Berikan pengalaman yang akan membantu siswa memahami topik-topik yang mereka pelajari. Ketika mempelajari The Scarlett Letter karya Nathaniel Hawthorne, bagilah siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk membahas kemungkinan alasan Pendeta Arthur Dimmesdale menolak mengakui bahwa ia adalah ayah bayi Hester Prynne.
  4. Kaitkan ide-ide baru dengan hal-hal yang telah diketahui dan diyakini siswa tentang dunia. Contoh Ketika mengenalkan kosa kata debut kepada siswa-siswa Meksiko-Amerika, kaitkan dengan quinceanera, sebuah pesta “memperkenalkan kepada masyarakat (coming-out party)” yang dilakukan banyak keluarga Meksiko-Amerika untuk anak-anak perempuan mereka yang menginjak usia 15 tahun.
  5. Pertimbangkan kelebihan dan keterbatasan dalam kemampuan pemrosesan kognitif siswa pada tingkat usia berbeda. Contoh Ketika mengajarkan anak-anak TK keterampilan hitung dasar, bantulah rentang perhatian mereka yang pendek dengan memberikan penjelasan verbal yang singkat dan libatkan anak-anak dalam beragam aktivitas berhitung aktif dan langsung.
  6. Rencanakan kegiatan-kegiatan kelas yang membuat siswa secara aktif berpikir dan menggunakan mata pelajaran di kelas. Contoh untuk membantu siswa memahami garis lintang dan garis bujur, minta mereka menelusuri jalur sebuah angin topan dengan menggunakan koordinat garis lintang dan garis bujur yang diperoleh dari internet.


 

DAFTAR BACAAN

 

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 2004. Psikologi Belajar. Cetakan Kedua. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Dalyono, M. 2007. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dahar, Ratna Wilis. 2011. Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010. Pengantar Kependidikan. Cetakan Pertama. Bandung : CV. Alfabeta.

Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instruction: Teori dan Aplikasi: Edisi Keenam. Alih Bahasa oleh Tri Bowo B.S. Jakarta: Kencana.

Hergenhahn, B. R. Theories of Learning (Teori Belajar) dialih bahasakann oleh Tri Wibowo B. S. Jakarta: Prenana Media Grup.

 

Muhaimin, dkk. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ormrod, Jeanne Ellis. 2009. Psikologi Pendidikan: Membantu Siswa Tumbuh dan Berkembang. Edisi Keenam. Alih Bahasa: Wahyu Indianti, dkk. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan: Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.

Solso, Robert L.,dkk.  2008. Psikologi Kognitif. Edisi Kedelapan. Alih Bahasa: Mikael Rahardanto dan Kristianto Batuadji. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Uno, Hamzah B. 2006. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

 

Winkel, W.S. 2007.Psikologi Pengajaran. Cetakan Kesepuluh. Yogyakarta: Media Abadi.

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam