Paradigma Filsafat Pendidikan Post Modern

Analisis Paradigma (Filsafat, Teori, Praksis dan Praktik) Pendidikan Post Modern

 

 SEGMEN 1

Pendahuluan

Perkembangan pemikiran periodesasi filsafat menurut Rizal Muntansyir (2001) adalah Zaman Klasik (zaman Yunani Kuno dan zaman Keemasan Filsafat), Zaman abad Pertengahan, Zaman Renaissance, Zaman  Modern, dan Zaman Kontemporer atau Post Modern.

  1. Zaman Klasik (abad 6 SM – 2 M)
  2. Zaman abad Pertengahan (abad 2 – 14 M)                    
  3. Zaman Renaissance (abad 15 – 16 M)
  4. Zaman Modern (abad 17 M)
  5. Zaman Kontemporer/Post Modern (abad XX)

Zaman Kontemporer ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, dan internet. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuan kontemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis ataupun super spesialis demikian pula dengan ilmu lainnya. Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihadirkan ilmu baru.

Zaman kontemporer mengkritik filsafat modern, yang berfikir bebas sehingga muncul postmodernisme. Pemikiran postmodernisme adalah pemikiran yang menentang segala hal yang berbau kemutlakan dan baku, menolak dan menghindari suatu sistematika uraian atau pemecahan persoalan yang sederhana dan skematis serta memanfaatkan nilai-nilai yang berasal dari berbagai sumber

 

SEGMEN 2

Ringkasan

Abad ini dipandang sebagai awal mula periode ilmiah. Ilmu yang berkembang mulai berhubungan dengan industri dimana ilmu tersebut lebih spesifik dan terpecah yaitu biologi, kimia, fisika dan ilmu sosial. Banyak penemuan-penemuan alat yang berkaitan dengan listrik, telegraph, bola, lampu, radar dan dinamo listrik. Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya.

Kapitalisme adalah salah satu ideologi yang saat ini mendominasi dunia. Dominasi kapitalisme sebagai ideologi ini bukan karena kehandalannya untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup manusia termasuk dunia pendidikan, tetapi lebih karena berbagai manipulasi yang digunakan untuk menutupi kelemahannya. Ketika kaum kapitalis menghadapi serangan para penganut sosialis akibat ketimpangan sosial yang ditimbulkan, ideologi  ini segera mengadopsi gagasan keadilan sosial (social justice) untuk menutupi kebobrokannya.

Tujuan jangka panjang pendidikan menurut Liberalisme Pendidikan adalah untuk melestarikan dan meningkatkan mutu ketahanan sosial yang ada sekarang dengan cara mengajar setiap anak bagaimana cara mengatasi masalah-masalah kehidupannya sendiri secara efektif. Dalam arti yang lebih rinci, seorang pendidik liberalis menganggap bahwa sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang khususnya berupaya untuk : (1) Menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan siswa untuk belajar sendiri secara efektif, (2) Mengajar para siswa bagaimana cara memecahkan persoalan-persoalan praktis melalui penerapan proses-proses penyelesaian masalah secara individual maupun kelompok, dengan berdasar kepada tata cara ilmiah-rasional bagi pengujian dari pembuktian gagasan.

 

SEGMEN 3

Pembahasan

Istilah Postmodernisme sangat membingungkan, bahkan meragukan. Asal usulnya adalah dari wilayah seni: musik, seni rupa, roman dan novel, drama, fotrografi, arsitektur. Dari kondisi itu merembet menjadi istilah mode yang dipakai oleh beberapa wakil dari beberapa ilmu. Selanjutnya istilah itu oleh filosof Prancis, Jean-Francois Loyotard, dimasukkan ke dalam kawasan filsafat dan sejak itu diperjualbelikan sebagai sebuah “isme” baru.

Istilah “Postmodernisme” membingungkan karena memberikan kesan bahwa kita berhadapan dengan sebuah aliran atau paham tertentu, seperti Maxisme, eksistensialisme, kritisisme, idealisme, dan lain-lain. Padahal para pemakai label itu biasanya mereka tidak berbicara tentang “postmodernisme”, melainkan tentang “pemikiran pascamodern”, seperti misalnya Rorty atau Derrida amat beraneka cara pemikirannya. Di Indonesia, sesuai kebiasaan, kita malah malas mengungkapkan seluruh kata “postmodernisme” dan menggantikannya dengan “posmo”, sesuai dengan gaya berfikir mitologis dan parsial dimana yang penting simbolnya saja, bukan apa yang sebenarnya dimaksud.

Padahal pemikiran “posmo” itu ada banyak dan tidak ada kesatuan paham. Namun benar juga, ada sesuatu yang mempersatukan pendekatan-pendekatan itu, atau lebih tepatnya ada dalam filsafat modern salah satu kecenderungan yang muncul dalam bentuk-bentuk berbeda, namun ada kesamaan wujudnya, dan barangkali itulah kesamaan segala macam gaya berfikir yang ditemukan unsur “posmo”-nya itu.

Dapat dikatakan bahwa “postmodernisme” lebih merupakan sebuah suasana, sebuah naluri, sebuah kecenderungan daripada sebuah pemikiran eksplisit. Kecenderungan itu lalu memang mendapat ekspresi melalui berbagai sarana konseptual yang sangat berbeda satu sama lian. Akhirnya pendekatan “postmodernisme” dapat ditentukan, misalnya, dalam Pascal (+1662), Vico (+1744), Kant (+1804), Hegel (+1831), Stirner (+1856), Nietzche (+1900), Heidegger (+1976), Popper (+1994), dan Adorno (+1969). Adalah jasa istilah “postmodernisme” bahwa dengan demikian kita memperoleh sebuah payung konseptual untuk melihat kesamaan di antara mereka itu yang umumnya justru mencolok ketidaksanaannya.

Dalam konteks pendidikan modern (Barat) yang diilhami oleh jiwa renaissance (pencerahan) dan dimatangkan oleh gerakan aufklarung dengan mengedepankan corak pemikiran rasionalis dan empirik, berkembang berbagai konsep atau teori-teori pendidikan seperti nativisme, empirisisme, dan konvergensi. Disamping itu juga muncul aliran progresivisme, essensialisme, perenialisme, dan rekonstruksionisme. Progresivisme sesungguhnya berkembang pada awal abad XX di Barat (Amerika Serikat), Aliran ini lahir sebagai  pembaharu dalam dunia filsafat pendidikan terutama pada saat itu tampil sebagai lawan kebijakan-kebijakan konvensional yang diwarisi dari generasi sebelumnya pada abad XIX. Pandangan-pandangan progresivisme dianggap sebagai “the liberal road to culture” dalam artian bahwa liberal berarti fleksibel, berani, toleran, dan bersikap terbuka.

Penulis ingin mencoba mengelaborasi konsep pemikiran pendidikan Barat yaitu progresivisme dengan menggunakan kaca mata pendidikan Islam. Harapannya adalah munculnya paradigma konseptual baru tentang pendidikan Islam yang di ramu dari bahan baku teori Barat diolah dengan resep pendidikan Islam menjadi sebuah paradigma pendidikan dengan cita rasa khas Islam di Indonesia.

 

  1. Pendidikan menurut Aliran Progresivisme

Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar pada masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.

Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya. Progresivisme dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan, untuk mengembangkan kepribadian manusia. Aliran ini juga dinamakan eksperimentalisme, karena aliran tersebut menyadari dan mempraktekkan asas eksperimen yang merupakan untuk menguji kebenaran suatu teori. Progresivisme dinamakan environmentalisme karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu mempengaruhi pembinaan kepribadian.

Dalam pendapat lain, pragmatisme berpendapat bahwa suatu keterangan itu benar, kalau kebenaran itu sesuai dengan realitas, atau suatu keterangan akan dikatakan benar, kalau kebenaran itu sesuai dengan kenyataan. Aliran progresivisme memiliki kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan yang meliputi: Ilmu Hayat, bahwa manusia untuk mengetahui kehidupan semua masalah. Antropologi yaitu bahwa manusia mempunyai pengalaman, pencipta budaya, dengan demikian dapat mencari hal baru. Psikologi yaitu manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri, lingkungan, dan pengalaman-pengalamannya, sifat-sifat alam, dapat menguasai dan mengaturnya.

Filsafat pendidikan Progresivisme dikembangkan oleh para ahli pendidikan seperti John Dewey, William Kilpatrick, George Count, dan Harold Rugg diawal abad 20. Progresvisme merupakan pendidikan yang berpusat pada siswa dan memberi penekanan lebih besar pada kreativitas, aktivitas, belajar naturalistik, hasil belajar dunia nyata dan juga pengalaman teman sebaya.

Beberapa pendapat dari tokoh progresivisme:

  • William James (11 Januari 1842 – 26 Agustus 1910)

Adalah seorang psychologist dan seorang filsuf Amerika yang sangat terkenal. Paham dan ajarannya demikian pula kepribadiannya sangat berpengaruh diberbagai negara Eropa dan Amerika. Meskipun demikian dia sangat terkenal dikalangan umum Amerika sebagai penulis yang sangat brilian, dosen serta penceramah dibidang filsafat, juga terkenal sebagai pendiri Pragmatisme. James berkeyakinan bahwa otak atau pikiran, seperti juga aspek dari eksistensi organik, harus mempunyai fungsi biologis dan nilai kelanjutan hidup. Dan dia menegaskan agar fungsi otak atau pikiran itu dipelajari sebagai bagian dari mata pelajaran pokok dari ilmu pengetahuan alam. Jadi James menolong untuk membebaskan ilmu jiwa dari prakonsepsi teologis, dan menempatkannya di atas dasar ilmu perilaku. Buku karangannya yang berjudul Principles of Psychology yang terbit tahun 1890 yang membahas dan mengembangkan ide-ide tersebut, dengan cepat menjadi buku klasik dalam bidang itu, hal inilah yang mengantar William James terkenal sebagai ahli filsafat Pragmatisme dan Empirisme radikal.

  • John Dewey (1859 – 1952)

John Dewey adalah seorang profesor di universitas Chicago dan Columbia (Amerika). Teori Dewey tentang sekolah adalah Progressivism yang lebih menekankan pada anak didik dan minatnya daripada mata pelajarannya sendiri. Maka muncullah “hild Centered Curiculum”, dan Child Centered School”. Progresivisme mempersiapkan anak masa kini dibanding masa depan yang belum jelas, seperti yang diungkapkan Dewey dalam bukunya “My Pedagogical Creed”, bahwa pendidikan adalah proses dari kehidupan dan bukan persiapan masa yang akan datang. Aplikasi ide Dewey, anak-anak banyak berpartisipasi dalam kegiatan fisik, baru peminatan.
Adapun ide filsafatnya yang utama, berkisar dalam hubungan dengan problema pendidikan yang konkrit, baik teori maupun praktek. Dan reputasi (nama baik) internasionalnya terletak dalam sumbangan pikirannya terhadap filsafat pendidikan Progressivisme di Amerika. Dewey tidak hanya berpengaruh dalam kalangan ahli filsafat profesional, akan tetapi juga karena perkembangan idenya yang fundamental dalam bidang ekonomi, hukum, antropologi, teori politik dan ilmu jiwa. Dia adalah juru bicara yang sangat terkenal di Amerika Serikat dari cara-cara kehidupan demokratis.

Gagasan filosofis Dewey yang terutama adalah problem pendidikan yang kongkrit, baik yang bersifat teoritis maupun praktis. Reputasinya terletak pada sumbangan pemikirannya dalam filsafat pendidikan progresif di Amerika. Pengaruh Dewey di kalangan ahli filsafat pendidikan dan filsafat umumnya tentu sangat besar. Namun demikian, Dewey juga memiliki sumbangan di bidang ekonomi, hukum, antropologi, politik serta ilmu jiwa.

  • Hans Vaihinger (1852 – 1933)

Hans Vaihinger berpendapat bahwa tahu itu hanya mempunyai arti praktis. Persesuaian dengan obyeknya tidak mungkin dibuktikan; satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya (dalam bahasa Yunani Pragma) untuk mempengaruhi kejadian-kejadian di dunia. Segala pengertian itu sebenarnya buatan semata-mata; jika pengertian itu berguna. untuk menguasai dunia, bolehlah dianggap benar, asal orang tahu saja bahwa kebenaran ini tidak lain kecuali kekeliruan yang berguna saja.

  1. Pandangan Progresivisme tentang Pendidikan
  • Kurikulum

Kurikulum sebagai jantung pendidikan tidak saja dimaknai sebagai seperangkat rangkaian mata pelajaran yang ditawarkan sebagai gaet dalam sebuah program pendidikan di Sekolah tetapi sesungguhnya kurikulum mengandung arti lebih luas Oleh karenanya banyak pakar memaknai kurikulum dengan titik tekan yang berbeda. Ambil contoh Hirts dan Petters menekankan pada aspek funsional yakni kurikulum diposisikan sebagai rambu-rambu yang menjadi acuan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan Musgave menekankan paa ruang lingkup pengalaman belajar yang meliputi pengalaman di luar amaupun di dalam sekolah. Pendapat Musgave ini seirama dengan pendapat Romine Stephen yang mengatakan bahwa kurikulum mencakup segala materi pelajaran, aktivitas dan pengalaman anak didik, di mana ia berada dalam control lembaga pendidikan, baik yang terjadi di luar atau pun di dalam kelas.

Dengan dua ragam penekanan arti kurikulum di atas dapat dipahami bahwa karena kurikulum berfungsi sebagai rambu-rambu dalam proses pembelajaran, kurikulum harus bersifat luwes sesuai dengan situasi dan kondisi. Untuk itu kurikulum harus disusun berdasarkan realitas kehidupan dan pengalaman sehari-hari peserta didik, disesuaikan dengan minat peserta didik, bukan atas dasar selera guru. Progresivisme sebagai salah satu aliran dalam filsafat pendidikan ingin mengembangkan “child centered curriculum (kurikulum berpusat pada anak), artinya pendidikan diorientasikan pada pengembangan individu anak didik, memberikan mereka kebebasan berkreasi, beraktivitas, dan berkembang sebagai pribadi mandiri dengan jalan memberi penghayatan-penghayatan emosional, intelektual, sosial yang seluas dan sekaya mungkin. Menurut William H. Kilpatrick, kurikulum yang baik didasarkan tiga prinsip; pertama, peningkatan kualitas hidup anak sebaik-baiknya menurut tingkat perkembangan. Kedua, menjadikan kehidupan actual kea rah perkembangan dalam suatu kehidupan yang bulat dan menyeluruh. Ketiga, mengembangkan aspek kreatifitas kehidupan yang merupakan tolok ukur utama bagi keberhasilan sekolah, sehingga anak didik berkembang dalam kemampuannya yang aktual, secara aktif memikirkan hal-hal baru untuk dipraktikkan dalam bertindak secara bijaksana melalui pertimbangan yang matang.

Dari berbagai pandangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kurikulum pendidikan progresivisme menekankan pada how to think (bagaimana berpikir), how to do (bagaimana bekerja), bukan what to think dan what to do artinya lebih menekankan dan mengutamakan metode dari pada materi. Tujuannya adalah memberikan individu kemampuan yang memungkinkannya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar yang selalu berubah. Dengan menekankan pada aspek metodologi kurikulum yang disusun berdasar landasan filosofi progresivisme akan dapat menyesuaikan situasi dan kondisi, luwes atau fleksibel dalam menghadapi perubahan, serta familier terhadap masa kini. Progresivisme memandang masa lalu sebagai cermin untuk memahami masa kini dan masa kini sebagai landasan bagi masa yang akan datang.

  • Pendidik

Guru menurut pandangan filsafat progresivisme adalah sebagai penasihat, pembimbing, pengarah dan bukan sebagai orang pemegang otoritas penuh yang dapat berbuat secara apa saja (otoriter) terhadap muridnya. Sebagai pembimbing, karena guru mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang banyak di bidang anak didik, dan secara otomatis semestinya ia akan menjadi penasihat ketika anak didik mengalami jalan buntu dalam memecahkan persoalan yang dihadapi. Oleh karena itu peran utama pendidik/guru sesungguhnya adalah membantu peserta didik/murid bagaimana mereka harus belajar dengan diri mereka sendiri, sehingga pesrta didik akan berkembang menjadi orang dewasa yang mandiri dalam suatu lingkungannya yang berubah.

Menurut John Dewey, guru harus mengetahui ke arah mana anak akan berkembang, karena anak hidup dalam lingkungan yang senantiasa terjadi proses interaksi dalam sebuah situasi yang silih berganti dan sustainable (berkelanjutan). Prinsip keberlanjutan dalam penerapannya berarti bahwa masa depan harus selalu diperhitungkan di setiap tahapan dalam proses pendidikan. Guru harus mampu menciptakan suasana kondusif di kelas dengan cara membangungun kesadaran bersama setiap individu di kelas tersebut akan tujuan bersama sesuai dengan tanggungjawab masing-masing dalam konteks pembelajaran di kelas, serta konsisten pada tujuan tersebut.

Dengan argumentasi di atas, sesungguhnya Dewey telah meletakkan amanat dan tanggungjawab yang berat kepada guru. Karena alasan inilah ia tergelincir dalam pernyataan hiperbolanya dengan menggunakan bahas Injil-Sosial dengan mengatakan bahwa “guru sebagai penjaga pintu kerajaan Allah yang sesungguhnya”.

Teori progresivisme ingin mengatakan bahwa tugas guru/pendidik sebagai pembimbing aktivitas anak didik dan berusaha memberikan kemungkinan lingkungan terbaiak untuk belajar. Sebagai Pembimbing ia tidak boleh menonjolkan diri, ia harus bersikap demokratis dan memperhatikan hak-hak alamiah peserta didik secara keseluruhan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan psikologis dengan keyakinan bahwa memberi motivasi lebih penting dari pada hanya memberi informasi. Pendidik/guru dan anak didik/murid bekerjasama dalam mengembangkan program belajar dan dalam aktualisasi potensi anak didik dalam kepemimpinan dan kemampuan lain yang dikehendaki.
Dengan demikian dalam teori ini pendidik/guru harus jeli, telaten, konsisten (istiqamah), luwes, dan cermat dalam mengamati apa yang menjadi kebutuhan anak didik, menguji dan mengevaluasi kepampuan-kemampuannya dalam tataran praktis dan realistis. Hasil evaluasi menjadi acuan untuk menentukan pola dan strategi pembelajaran ke depan. Dengan kata lain guru harus mempunyai kreatifitas dalam mengelola peserta didik, kreatifitas itu akan berkembang dan berfariasi sebanyak fariasi peserta didik yang ia hadapi.

  • Peserta Didik

Teori progresivisme menempatkan pesrta didik/murid pada posisi sentral dalam melakukan pembelajaran. Mengapa, karena murid mempunyai kecenderungan alamiah untuk belajar dan menemukan sesuatu tentang dunia di sekitarnya dan juga memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu yang harus terpenuhi dalam kehidupannya. Kecenderungan dan kebutuhan tersebut akan memberikan kepada murid suatu minat yang jelas dalam mempelajari berbagai persoalan.

Anak didik adalah makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding dengan makhluk-makhluk lain karena peserta didik/murid mempunyai potensi kecerdasan yang merupakan salah satu kelebihannya. Oleh karenanya setiap murid mempunyai potensi kemampuan sebagai bekal untuk menghadapi dan memecahkan permasalahan-permasalahannya. Tugas guru adalah meningkatkan kecerdasan potensial yang telah dimiliki sejak lahir oleh setiap murid menjadi kecerdasan realitas dalam lapangan pendidikan untuk dapat merespon segala perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Secara institusional sekolah harus memlihara dan manjamin kebebasan berpikir dan berkreasi kepada para murid, sehingga mereka memilki kemandirian dan aktualisasi diri, namun pendidik/guru tetap berkewajiban mengawasi dan mengontrol mereka guna meluruskan kesalahan yang dihadapi murid khusunya dalam segi metodologi berpikir. Dengan demikian prasyarat yang harus dilakukan oleh peserta didik/murid adalah sikap aktif, dan kreatif, bukan hanya menunggu seorang guru mengisi dan mentransfer ilmunya kepada mereka. Murid tidak boleh ibarat “botol kosong” yang akan berisi ketika diisi oleh penggunanya/pemiliknya. Jika demikian yang terjadi maka proses belajar mengajar hanyalah berwujud transfer of knowledge dari seorang guru kepada murid, dan ini tidak akan mencerdasakan sehingga dapat dibilang tujuan pendidikan gagal.

  • Milleu dan Potensi dasar Manusia

Setiap bayi yang lahir sesungguhnya telah dikarunia oleh Allah SWT sebuah potensi pemahaman, mengingat, kesediaan/kesanggupan, keadilan, perhatian umum, sensitifitas terhadap lingkungan dan sebagainya yang oleh bahasa al-Qur’an disebut fitrah. Fitrah itu akan berkembang dan terbentuk oleh lingkungan/milleu dimana anak itu tumbuh dan berkembang. Salah satu dari lingkungan adalah situasi dan kondisi pendidikan yang dialaminya termasuk siapa yang mendidik dan di mana ia dididik, dalam proses seperti apa pendidikan itu ia terima.

Pada waktu anak-anak memasuki pendidikan formal, sebenarnya di dadalam diri peserta didik/murid telah terdapat tiga dorongan dasar yakni dorongan untuk berkomunikasi, dorongan untuk menyelidiki, dan dorongan untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan diri secara baik. Ketiga dorongan tersebut merupakan sumber alami, modal dasar bagi pelatihan yang padanya bergantung pertumbuhan si anak.

Progresivisme sebetulnya sangat respek terhadap potensi individu untuk berkembang, tetapi di sisi lain aliran ini juga percaya bahwa pendidikan merupakan bagian yang integral dengan masyarakat. Oleh karena itu Hilda Taba mengkatagorikan progresivisme ke dalam dua aliran yaitu pertama, bergerak melalui pendekatan psikologi dengan orientasi pengembangan individu, dan kedua, bergerak melalui pendekatan sosiologi dengan orientasi rekonstruksi sosial.

Dalam kontek implementasinya, progresivisme ingin menyatakan bahwa tidak boleh ada dikotomi antara individu dan masyarakat, artinya setiap individu dalam proses pembelajaran harus dikaitkan langsung dengan masyarakat. Mendikotomi antara individu dan masyarakat pada posisi yang berbeda apa lagi menjauhkan individu dari masyarakat sesungguhnya akan membuka peluang gap antara keduanya, padahal sesungguhnya salah satu tujuan pendidikan adalah membawa peserta didik untuk bermasyarakat. Menurut teori filsafat progresivisme, lingkungan memiliki tiga fungsi penting yaitu pertama, melakukan penyederhanaan dan pengaturan unsur-unsur sosial yang bermanfaat bagi anak didik. Kedua, melakukan purifikasi dan idealisasi pola kebiasaan yang ada dalam masyarakat. Ketiga, menciptakan keseimbangan yang lebih luas antara berbagai elemen yang ada dalam lingkungan sosial. Dengan demikian Sekolah merupakan lembaga masyarakat, bukan suatu yang terpisah, yang harus senantiasa memberikan kontribusi positif dalam pengembangan masyarakat. Di sinilah pentingnya sekolah mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi memperhatikan milleu yang ada, agar keberadaan sekolah menjadi sesuatu yang berarti bagi lingkungan tidak hanya sibuk memikirka otonomi kampus tetapi lupa tanggungjawab sosialnya.

  • Teknik dan Proses belajar

Pada dasarnya proses pendidikan menyangkut dua aspek yaitu psikologi dan sosiologi. Dipandang dari aspek psikologi, pendidikan harus mampu mengetahui tenaga atau daya atau potensi yang dimiliki oleh anak didik dan kemudian harus dikembangkan keberadaannya. Dari aspek sosiologi, pendidikan merupakan sebuah kegiatan yang tidak dapat dilepaskan dari lingkungan masyarakat yang melingkupinya, sebab antara sekolah sebagai tempat dilakukannya proses pendidikan dan masyarakat selalu berdampingan keberadannya. Pendidikan juga merupakan sarana pembaharuan dan perbahan dalam masyarakat (agent of people cange), dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang baik menjadi lebih baik dan seterusnya.

Dalam konteks teknik dan proses belajar makalah ini mencoba menekankan pembahasasannya pada aspek psikologi. Sebagaimana dikutip oleh Slamet Yahya, John Dewey sebagai tokoh sentral dalam pembahasan ini, membagi perkembangan anak menjadi tiga fase. Pertama, fase bermain, yaitu pada anak usia empat samapai delapan tahun. Pada fase ini ditandai dengan hubungan personal dan sosial secara langsung. Anak mulai berkembang dari interaksi dengan lingkungan rumah tangga menjadi kehidupan sosial di sekitarnya. Kedua, ketika anak berumur delapan tahun sampai dua belas tahun. Fase ini ditandai dengan respon dan perhatian sepontan terhadap sesuatu. Pada usia ini anak bersikap kritis, banyak menanyakan hal-hal disekitarnya, mereka sudah mulai bisa diajari keterampilan dasar, karena perkembangan inderanya sudah berfungsi secara permanent. Fase ketiga, ketika anak berusia dua belas ke atas, pada periode ini ditandai dengan adanya perhatian reflektif terhadap sesuatu, anak sudah mulai bisa bereksperimen mencari masalah, mengidentifikasi dan sekaligus mencoba mencari solusinya.

Dari paparan fase di atas dapat dipahami bahwa pada fase pertama anak belum memiliki kemampuan untuk menghubungkan pengalaman aktif dengan pengalaman pasif, keduanya masing-masing dipahami secara terpisah satu sama lain, sehingga pada fase ini anak belum bisa mengambil pelajaran langsung tanpa arahan dari orang dewasa. Dalam berinteraksi dengan lingkungannya anak cenderung memberikan respon spontan tanpa melibatkan pertimbangan rasio, khususnya pada usia empat sampai lima tahun. Oleh sebab itu sangat diperlukan perhatian khusus dari orang dewasa dalam memberikan stimulus yang tepat. Pengalaman belajar yang diberikan pada usia ini biasanya berbentuk permainan yang dapat merangsang kreatifitas anak didik.

Pada usia delapan sampai dua belas tahun pola berpikir anak mulai berkembang. Pada fase ini pendidik hendaknya mengarahkan mereka dalam usaha mengaplikasikan daya tersebut ke dalam pengalaman, perlu mengenalkan mereka langkah-langkah dalam proses berpikir. Permasalahan yang diberikan kepada anak usia tersebut harus berangkat dari yang konkrit dalam ranah kehidupan sehari-hari, karena pola pikir mereka pada usia ini belum bisa menangkap hal-hal yang abstrak.

Pada fase usia dua belas tahun ke atas hingga usia dewasa daya pikir anak bisa diterapkan dalam penyelasaian masalah yang lebih kompleks dengan melakukan keterampilan tertentu misalnya perbengkelan, pertukangan, dan sebagainya. Bahkan karena pada periode ini kemampuan reflektif anak mulai meningkat, maka langkah-langkah tersebut dapat ditemukan dalam solusi alternatif terhadap masalah yang dihadapinya.

Dengan demikian yang terpenting menurut teori pendidikan progresivisme adalah mengajarkan cara belajar yang tepat, sehingga seorang dapat belajar setiap saat dari realitas secara mandiri, baik di dalam maupun di luar sekolah, pada saat, sedang, ataupun setelah menyelesaikan pendidikan formal. Dengan cara demikian sekolah akan melahirkan individu-individu yang cerdas, kreatif, dan inovatif yang pada akhirnya dapat melakukan transformasi budaya positif kea rah yang lebih baik dari masyarakat yang progresif.

  • Belajar Seumur Hidup

Konsep pendidikan seumur hidup (long life education) dewasa ini telah disepakati oleh para pakar pendidikan dunia di bawah pengelolaan PBB sebagai paradigma baru dalam pendidikan. Konsep ini telah diterima oleh masyarakat luas, dan akan semakin berkembang dan relevan dengan adanya revolusi informasi yang sedang dan akan terjadi diseluruh dunia.

Progresivisme dalam hal ini sepakat dengan konsep pendidikan dalam Islam, yakni bahwa pendidikan sesungguhnya bukan semata-mata dilakukan secara formal institusional di sekolah atau lembaga kursus, tetapi lebih dari itu belajar senantiasa dilakukan dalam semua kesempatan termasuk ketika berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kondisi edukatif harus selalu dapat mengalahkan pengaruh-pengaruh buruk dari lingkungan, dengan kata lain masyarakat akan menjadi baik mana kala individu-individu dari masyarakat telah menerapkan semboyan living is learning (hidup adalah belajar) dengan baik dan konsisten.

  1. Pendidikan Menurut Aliran Kapitalisme

Dalam perkembangan filsafat kapitalisme, tokoh yang sangat berperan adalah Karl Marx yang menyatakan beberapa hal penting terkait dengan kapitalisme. Pemikiran Kapitalisme adalah sebuah sistem ekonomi yang filsafat sosial dan politiknya didasarkan kepada azas pengembangan hak milik pribadi, dan nasionalisme sekuler. Ciri utamanya adalah mencari keuntungan dengan berbagai cara dan sarana (kecuali yang jelas dilarang negara karena merusak masyarakat), mendewakan hak milik pribadi dengan membuka jalan selebar-lebarnya agar tiap orang meningkatkan kekayaan dan memeliharanya, dan membatasi campur tangan Negara dalam kehidupan ekonomi.

Kapitalisme memandang bahwa pendidikan sebagai sebuah proses pembentukan keahlian dan kemampuan setiap manusia untuk kemudian dapat mengisi dunia industri dari Kapitalisme tersebut. Hakikat pendidikan tersebut selaras dengan proses relasi dari sistem kapitalisme ini, yaitu bahwa kapitalisme pada era kontenporer sekarang ini sangat mengharapkan adanya pendidikan yang lebih terspesialisasi pada bidang-bidang industri. Keadaan tersebutlah yang kemudian dapat menciptakan efektifitas dan efisiensi serta dapat memaksimalkan hasil dari industri kapitalis tersebut. Walaupun demikian keadaan tersebut tak pelak menciptakan problematika tersendiri di dalam pendidikan ala kapitalisme ini.

Pengaruh Kapitalisme dan budaya positivisme terhadap pendidikan tersebut sangat jelas, yaitu ilmu yang didiseminasikan kepada peserta didik adalah ilmu yang mengorientasikan mereka untuk beradaptasi dengan dunia masyarakat Industri, dengan mengorbankan aspek Critical Subjectivity, yaitu kemampuan untuk melihat dunia secara kritis.

Masuknya kapitalisme di dalam ranah pendidikan, menurut Peter Mcleren sebagaimana yang dikutip oleh Agus Nuryatno (2011: 57) juga telah memberikan tiga dampak utama:

Pertama, hubungan antara kapitalisme dan pendidikan urban telah menyebabkan praktek-praktek sekolah yang lebih mendukung kontrol ekonomi oleh kelas-kelas elit.

Kedua, hubungan antara kapitalisme dan ilmu pengetahuan telah mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan yang hanya bertujuan mendapatkan profit material dibanding untuk menciptakan kehidupan global yang lebih baik.

Ketiga, perkawinan antara kapitalisme dan pendidikan serta kapitalisme dan ilmu pengetahuan telah menciptakan fondasi bagi ilmu pendidikan yang menekankan nilai-nilai korporasi dengan mengorbankan nilai-nilai keadilan sosial dan martabat manusia.

Dan dampak paling nyata yang dihasilkan oleh Kapitalisme pendidikan yang kita temui sekarang ini adalah terciptanya ketimpangan akses pendidikan yang menjadikan pendidikan tidak lagi memanusiakan manusia. Itu terjadi karena dengan latar belakang logika profit oriented-nya, kapitalisasi pendidikan mentranformasikan institusi-institusi pendidikan sebagai alat untuk meraup keuntungan. Hal tersebut mensyaratkan harus mahalnya biaya pendidikan. Dan dengan biaya pendidikan yang mahal tersebut, maka proses ketimpangan akses pendidikan pun terjadi. Yang dimana menyingkirkan para kelas bawah dari akses untuk dapat menikmati pendidikan yang bagus dengan fasilitas-fasilitas lengkap dan tenaga pengajar yang mumpuni.

Kapitalisme pendidikan adalah ideologi individualisme, yang memandang bahwa masyarakat terdiri dari individu, dan hanya memandang komunitas dengan pandangahn skunder, sembari mencurahkan pemikiran dan seluruh potensinya kepada indiividu sebagai individu. Dengan demikian, kapitalisme telah menjamin kebebasan yang terlepas dari berbagai ikatan, agama, sistem, adat, nilai, tujuan tertinggi (high goal) ataupun hal-hal lain.

Pendidikan memang tidak murah meskipun bermuka dari niat yang mulia. Awalnya demi untuk mencerdasrkan dan menjadi cerdas selalu butuh biaya. Tentu jika ada biaya disitu bicara soal kemampuan untuk membayar dan meraup laba. Biaya kadang membuat pendidikan berlaku bak perusahaan yang mengubah siswa tidak saja bijak tapi juga asset yang membawa untung. Soalnya lagi biaya menjadi sebuah spiral tempat banyak pihak berebut pengaruh dan yang lain, saling sibuk untuk melakukan korupsi.

Akhirnya pendidik seperti itu hanya dinikmati oleh para kelas menengah-keatas. Orang dari kelas bawah didalam kapitalisasi pendidikan ini hanya dapat belajar di sekolah-sekolah pinggiran dengan fasilitas, infrastruktur dan tenaga pengajar yang seadanya, karena keterbatan biaya yang dimiliki. Yang kemudian secara tidak langsung mengakibatkan tidak adanya tranformasi sosial disana. Artinya bahwa orang dari kelas bawah tersebut masa depannya ya hanya menjadi kuli-kuli di dunia Industri sebagai akibat dari pendidikan yang tidak menyadarkan dan memberi ruang mereka untuk bergerak. Sehingga akan sangat sulit melakukan transformasi untuk menjadikan kehidupannya lebih baik lagi.

 

  1. Pendidikan Menurut Aliran Liberalisme

Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama didasarkan pada kebebasan mayoritas.

Paham liberalisme sangat bertolak belakang dengan teori realisme yang sudah menjadi pembahasan sebelumnya. Jika realisme menganggap manusia sebagai makhluk yang jahat karena keegoisannya terhadap kekuasaan, maka liberalisme sebaliknya mengambil pandangan positif terhadap sifat manusia. Kaum liberal memiliki keyakinan besar terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip – prinsip rasional dapat dipakai pada masalah – masalah internasional (Jackson dan Sorensen 2009, 141). Setiap manusia diyakini akan mementingkan dirinya sendiri dalam segala hal dan paham ini sadar akan sifat manusia seperti itu, namun mereka yakin bahwa dengan manusia menahan diri akan keegoisannya dan melakukan perundingan, kerjasama, semua masalah akan terselesaikan dengan hasil yang merata dan mendapatkan manfaat besar bagi setiap orang. Menurut Dugis (2013) memandang sebuah negara sebagai sifat manusia, sehingga suatu negara harus menahan diri kemudian memungkinkan untuk terlibat dalam perundingan serta kerjasama.

Menurut kaum realis perang tidak akan terhindarkan sekalipun ingin menciptakan perdamaian dunia harus melalui perang, beda halnya dengan liberalis yang menganggap perang akan terhindarkan ketika manusia menggunakan akal pikiran dan rasionalitasnya dalam memecahkan masalah doomestik maupun internasional. Asumsi dasar yang dimiliki dari paham liberalisme yaitu keyakinan terhadap kemajuan. Proses modernisasi merupakan revolusi intelektual kaum liberal dan hal ini adalah keyakinan kaum liberal akan kemajuan setiap individu. Karena, perhatian dasar liberalisme merupakan kesenangan individu itu sendiri. Dengan adanya modernisasi mampu memperluas jangkauan kerjasama lintas batas internasional. Paham liberalisme secara garis besar dibagi menjadi empat aliran utama yang memberikan kontribusinya pada aspek – aspek penting dalam hubungan internasional.

Dalam perkembangan sejarah manusia, ada tahap dimana masyarakat atau penduduk secara lahiriah hidup di tanah mereka sendiri, menurut adat dan kebiasaan sendiri. Sejak lahir mereka bebas dan merdeka mengurus, mengatur, dan mengarahkan kehidupan mereka. Mereka bebas mengungkapkan, menampilkan diri lewat seni, serta mengahyati agama yang mereka anut. Namun pada kenyataannya, lembaga Negara yang notabennya dikuasai oleh penjabat negara, serta raja/kaisar. Mereka diatur dengan ketat dan harus melaksanakan peraturan-peraturan dan undang-undang. Kebanyakan peraturan dan perundang-undangan tersebut tidak sesuai dengan keadaan, kebutuhan zaman dan aspirasi dari masyarakat pelaksana aturan serta undang-undang tersebut. Masyarakat tidak diberi pilihan dan tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan keinginannya. Muncul ketidakpuasaan terhadap aturan-aturan tersebut didalam masyarakat.Keadaan masyarakat yang seperti ini memunculkan sebuah keinginan untuk merasa bebas dari belenggu. Keinginan tersebut kemudian menjadi sebuah paham liberal yang kemudian tumbuh subur dan banyak dianut masyarakat dunia.

Asal-usul kata liberalisme adalah ‘Liber’ yang berarti bebas, merdeka, tidak terikat dan tergantung. Liberalis memegang paham bahwa kebebasan adalah hak bagi setiap manusia yang tidak dapat diganggu gugat. Secara umum paham ini memiliki cita-cita membentuk sebuah masyarakat yang bebas, yang dicirikan oleh adanya kebebasan berpikir bagi setiap individu. Paham liberalisme menolak adanya batas-batas yang dibuat oleh pemerintah dan ditetapkan oleh agama. Sehingga tidak heran jika paham liberalisme ini cenderung melawan agama.yang pada akhirnya membentuk sebuah masyarakat yang kapitalis. Kecenderungan kaum liberalis berpikiran seperti yang telah dijelaskan adalah dasar yang digunakannya adalah akal -dapat dikatakan kaum liberalis cenderung rasional-empiris- yang berarti dalam menperoleh dan mecari pengetahuan serta kebenaran didasarkan pada akal saja dan berdasarkan pada kebenaran yang relatif.

Kaum liberalis tidak setuju terhadap pengekangan serta pembatasan tingkah dan perilaku oleh agama. Liberalisme cenderung mengarah kepada manusia yang bebas, dan individu namun banyak disalah artikan kepada manusia yang bebas tanpa batas. Lawan dari liberalis adalah sosialis, berbeda dengan liberalis kaum sosialis cenderung tidak mementingkan kepentingan pribadi. Mereka cenderung mementingkan kebutuhan masyarakat.
Kaum liberalis percaya bahwa manusia dapat berkembang jika manusia tersebut pada kondisi yang bebas tidak terikat dalam artian bahwa kebebasan itu tidak melanggar kebebesan orang lain.

  1. Pandangan Liberalisme tentang Pendidikan

Setiap individu adalah manusia yang diciptakan bebas dan secara alamiah memiliki sifat sosial. Untuk menggunakan kebebasannya secara tepat ia butuh disiplin. Untuk hidup dalam masyarakat ia perlu kebajikan-kebajikan moral. Moral yang baik serta kebiasaan intelektual dibutuhkan demi pengembangan hakikat manusia seutuhnya. Sigmund Freud mengungkapkan suatu kebebasan yang lebih bagi ekspresi diri diantara anak-anak dan suatu lingkungan pembelajaran yang telah terbuka dimana anak-anak dapat melepas energy dorongan-dorongan instingtif mereka dalam cara yang kreatif lebih pada child centered-(berpusat pada subyek didik).

Aliran ini menginginkan perubahan yang mendasar dalam hal tujuan sekaligus dalam hal cara kerja sekolah-sekolah sebagaimana adanya. Penganut aliran ini menganggap wajib belajar adalah perlu dan memilih untuk mempertahankan beberapa keperluan dasar serta mengajukan penetapan tentang isi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Disisi lain mereka bersikap bahwa cara tradisional (baik sasaran, isi, dan metode memerlukan perombakan secara radikal dari orientasi awal yakni cara otoritartian tradisional kearah yang lebih tepat yaitu mengajar setiap anak untuk berpikir secara efektif bagi dirinya sendiri.

Kaum liberalisme sepakat terhadap pandangan bahwa tujuan dan cara pelaksanaan pendidikan perlu diarahkan pada pendidikan yang mengajar siswa untuk memecahkan masalah-masalahnya secara efektif. Namun mereka ingin mengurangi seluruh batasan dengan cara melenyapkan hal-hala seperti wajib belajar dan pengajaran mata pelajaran wajib, kemudian menggantikan wewenang lembaga dengan kebebasan para siswa untuk memilih apakan mereka ingin belajar atau tidak, apa yang ingin dipelajari dan member mereka kebebesan untuk memilih pengalaman-pengalamnan pendidikan apapun yang mereka anggap paling relevan dengan kebutuhan-kebuthan personeal mereka. Dengan kata lain siswa sendirilah yang menentukan apakah mereka ingin belajar sesuatu atau tidak menetapkan kapan, dimana, dan sejauh mana mereka ingin belajar.

  • Hubungan Pendidingan Masyarakat

Kaum liberal mengambil pendekatan dimana kepentingan individu didahulukan dari pada tuntutan masyarakt. Meskipun manusia disebut juga sebagai mahluk sosial, tetapi social dalam hal ini adalah kumpulan dari individu-individu. Sehingga individu merupakan landasan yang paling utama dalam kehiduan bersosial. Belajar dalam pemahaman liberal adalah sesuatu yang bersifat personal. Bagi kaum liberal, pendidikan yang paling baik adalah pendidikan yang melatih anak agar berpikir secara kritis dan objektif. Pembangunan kembali masyarakat seharusnya muncul dari cara berpikir seperti ini, sehingga kebudayaan masyarakat tersebut mampu berkembang dan lebih maju.

  • Tujuan Pendidikan

Tujuan utama pendidikan adalah untuk mempromosikan perilaku personal yang efektif. Pendidikan di mata para liberalis adalah untuk melestarikan dan meningkatkan mutu tatanan sosial yang ada sekarang dengan cara mengajar setiap anak bagaimana mengatasi masalah-masalah kehidupannya sendiri secara efektif. Sehingga sebuah sekolah menurut liberalis- harus berupaya untuk ; menyediakan informasi dan keterampilan yang diperlukan siswa untuk belajar secara efektif dan mandiri, kemudian para pendidik mengajarkan siswa tentang bagaimana memecahkan persoalan praktis melalui penerapan proses penyelesaian secara ilmiah.

  • Hakikat Manusia

Dalam pandangan aliran liberalisme bahwa manusia memiliki kebebasan untuk mengatur mengurus dan mengarahkan hidupnya. Mereka juga bebas dalam hidup etisnya. Oleh karena itu jangan ada ketentuan dan pembatasan yang dikenakan padanya baik itu dari masyarakat, Negara, dan agama. Aliran ini berkeyakinan bahwa karena manusia itu baik maka dia juga akan condong pada kebaikan, mencari, mengahyati dan melaknsanakannya.

Berdasarkan kemampuannya manusia dapat melihat dan menentukan sendiri apa yang baik dan jahat dapat menetapkan sendiri patokan atau norma untuk memilih yang baik dan buruk. Karena itu manusia dapat menentukan cita-cita hidupnya memilih cara, gaya, perilaku dan tindakan untuk membawa hidup ketujuannya. Mereka mengetahui kearah mana harus berkembang dan bagaimana caranya.
Kaum liberalis menganggap bahwa perbedaan-perbedaan individual lebih penting daripada persamaan-persamaan. Namun masing-masing individu memiliki kesempatan yang sama untuk mengejar cita-cita dan tujuan hidupnya.

  • Metode Pengajaran dan Penilaian Hasil Belajar

Seorang pendidik dalam melaksanakan aktifitas belajarnya di kelas seharusnya menggunakan metode belajar secara individu maupun secara kelompok. Persoalan-persoalan yang diajukan dalam kelas haruslah dikenali oleh siswa, dan dikaji secara eksperimental.
Kegiatan belajar yang berlangsung boleh saja melakukan penilaian melalui kedisiplinan dan jumlah materi yang mampu diserap, jika hal tersebut bertujuan untuk menangani suatu permasalahn secara efektif. Namun kegiatan belajar yang sesungguhnya adalah hasil dari sebuah kegiatan yang memiliki makna, dimana proses perkembangan anak menjadi tolak ukurnya. Sehingga kedisiplinan, dan nilai-nilai hafalan dapat ditekankan seminimal mungkin.

Kegiatan belajar memiliki arti yang besar jika pendidikan tersebut diarahkan oleh siswa, dan guru sebagai fasilitator yang siap sedia untuk membantu penyelesaian masalah yang dihadapi.Hal ini akan menjadi lebih baik dibandingkan dengan pembelajarn yang diarahkan oleh pendidik saja. Pendidik dalam hal ini diposisikan sebagai pengorganisisr dan penuntun kegiatan dan pengalaman belajar.
Pelaksanaan ujian yang bersifat praktek secara langsung dalam kehiduan nyata memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan dengan ujian biasa paper and pencils test  yang banyak dilakukan di Indonesia. Selain itu persaingan antar siswa yang bersifat personal tersebut seminim mungkin dihindari, hal ini dikarenakan sikap tersebut cenderung melemahkan motivasi pada diri siswa.
Penekanan dalam pembelajaran yang dilaksanakan banyak diarahkan pada afektifnya –dalam hal ini motivasi dari- yang nantinya mampu membentuk kemampuan kognitif anak. Psikomotorik juga termasuk bagian yang memiliki arti penting dalam kegiatan belajar. Dalam hal penekanan psikomotorik ini perlu adanya penyesuaian dengan pronsip-prinsip yang sudah ada dengan sesuatu yang lebih baik.
Bimbingan dan penyuluhan adalah aspek pusat bagi sebuah sekolah, alasanya bahwa kondisi emosional seorang anak akan mempengaruhi kegiatan belajar yang efektif.

  • Sifat Hakiki dari Kurikulum
  • Sekolah harus menekankan kefektifan personal, melatih anak untuk menyesuaikan diri secara efektif dengan tuntutan-tuntutan situasinya sendiri sebagaimana ia memahami situasi tersebut.
  • Sekolah harus menekankan pemecahan masalah secara praktis.
  • Penekanan diletakkan kepada yang bersifat intelektual dan praktis ketimbang yang akademik.
  • Sekolah harus menekankan pada pengkajian persoalan yang terbuka, actual dan yang paling penting adalah yang berguna untuk dikaji oleh siswa.

SEGMEN 3

Tanggapan

Penjelasan mengenai pendidikan post modernisme di atas, dapat ditanggapi sebagai berikut :

Pertama, teori yang melandasi pendidikan tersebut pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu Teori asosiasi yang berorientasi induktif artinya  bahwa bangunan ilmu dalam pengembangan pendidikan didasarkan atas unit-unit pengetahuan, sikap dan keterampilan menjadi unit yang lebih universal dan general, aliran dalam teori ini adalah aliran behaviorisme, atau lebih dikenal dengan aliran Stimulus-Respon (S-R) yaitu aliran yang beranggapan bahwa pendidikan diarahkan pada terciptakanya perilaku-perilaku baru pada peserta didik melalui stimus respon yang diberikan selama proses pembelajaran berlangsung. Kemudian yang kedua adalah teori lapangan (Field Theory) yang justru berbeda dengan teori asisiasi, teori ini lebih mengarah pada deduktif, artinya pengetahuan itu diperoleh dari sesuatu yang general dan holistik untuk menemukan kebenaran-kebenaran dari unit-unit yang ada dalam pembelajaran tersebut. Teori ini memiliki dua aliran yaitu kognitifisme dan humanisme

Kedua, teori pendidikan dalam aliran progresivisme tepat sekali keberadaannya. Aliran ini lahir sebagai pembaharu dalam dunia filsafat pendidikan terutama pada saat itu tampil sebagai lawan kebijakan-kebijakan konvensional yang diwarisi dari generasi sebelumnya pada abad XIX. Pandangan-pandangan progresivisme dianggap sebagai “the liberal road to culture” dalam artian bahwa liberal berarti fleksibel, berani, toleran, dan bersikap terbuka. Sebagai perkembangan dari teori pendidikan modern, progresivisme lebih menekankan kepada perkembangan individu yang mengarah kepada perkembangan individu dengan hal-hal yang berada di luar dirinya. Individu sebagai bagian dari masyarakat perlu diberikan nilai-nilai  yang positif yang pada akhirnya dapat ia aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Seiring dengan itu dalam pelaksanaan pendidikan bagi setiap orang di Indonesia, konstitusi kita Indonesia telah dijelaskan tentang Hakikat Pendidikan yang diperuntukan bagi rakyat Indonesia yaitu bahwasannya pendidikan harus dapat “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” yang dalam prosesnya harus sesuai dengan Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 bahwa “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan” dan Pasal 31 ayat 2 UUD 1945 bahwa “….Negara  wajib  membiayainya”.

Dalam konteks ini landasan hukum di atas harusnya dijadikan rujukan didalam menjalankan proses pendidikan di Indonesia. Negara wajib menjalankan pendidikan dasar secara gratis yang bermutu dan mencerdaskan yang diperuntuhkan kepada setiap warga Negara Indonesia tanpa terkecuali.  Artinya tidak ada diskriminasi sedikitpun didalam peruntuhan terhadap akses-akses anak-anak bangsa dalam memperoleh pendidikan. Tidak ada pengkotak-kotakan, bahwa pendidikan ‘A’ untuk kaum elit atau kaya sedangkan pendidikan ‘B’ untuk kaum pinggiran atau miskin.

Hal yang perlu diperhatikan oleh negara, penyelenggara pendidikan, dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan dalam konteks teori pendidikan progresivisme adalah bahwa kurikulum memegang peran yang sangat penting untuk pengembangan karakter dan kepribadian anak. Para penyusun kurikulum dan pengambil kebijakan tentang kurikulum harus dapat memahami dan mengakomodir dari teori progresivisme  ini. Guru atau tenaga pendidik sangat memegang peranan penting dalam membelajarkan siswa/peserta didik. Sebagai orang yang diamanhkan oleh negara untuk mendidik anak-anak bangsa, guru harus dapat memahami teori progresivisme ini dan idealnya dalam membelajarkan siswa perlulah berlandaskan kepada teori pendidikan ini. Ini bertujuan agar anak yang memiliki berbagai kompetensi baik yang dibawa semenjak lahir, yang dipengaruhi oleh lingkungan, dan faktor-faktor lain yang akan mempengaruhi baik positif maupun negatif bisa dijadikan sebagai acuan atau pertimbangan dalam mencerdaskan anak.

Tetapi yang terjadi sekarang ini, jalannya proses pendidikan di Indonesia terus mengalami penyimpangan demi pengimpangan dari konsepsi PUS sebagaimana diamanatkan oleh Konstitusi Indonesia. Warga Negara yang digolongkan pada taraf kemiskinan serta anak-anak yang dianggap bodoh dengan kemampuan intelektual yang rendah berdasarkan hasil pengajaran dari sistem pendidikan yang ada seolah dianaktirikan dan menjadi kaum-kaum yang terpinggirkan.

Ketiga, teori pendidikan yang muncul di abad 19 sampai 21 ini yaitu teori pendidikan yang dipengaruhi oleh aliran filsafat kapitalisme. Di Indonesia aliran ini sudah mempengaruhi dunia pendidikan. Dengan perkembangan era globalisasi perkembangan dunia industri sangatlah pesat. Perkembangan industrialisasi ini kepada dunia pendidikan, artinya pendidikan sudah diarahkan untuk kepentingan industrialisasi. Sasaran kurikulum SMK dan Perguruan tinggi pada akhir-akhir ini sudah diarahkan agar siswa ataupun mahasiswa setelah menamatkan pendidikan akan dapat bekerja di perusahaan-perusahaan.

Penulis termasuk orang yang setuju dalam hal ini, karena tutuntan dari kebutuhan manusia sangat tinggi terhadap hasil-hasil industri saat ini. Industri-industri tidak akan dapat berkembang bila tidak didukung oleh sumber daya manusia yang  baik. Tentunya sumber daya manusia tersebut akan dihasilkan oleh dunia pendidikan. Hal lain saat ini juga sangat berkembang kapitalisasi pendidikan di mana menjamurnya bisnis pendidikan dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan formal mulai dari PAUD sampai perguruan tinggi. Orang sekarang menikmati hasil bisnis dari dunia pendidikan.

Di satu sisi hal ini tentunya sangat positif karena anak-anak usia sekolah maupun lanjutan untuk kuliah dapat terlayani secara luas. Masyarakat dapat menyekolahkan anaknya ke berbagai lembaga pendidikan, tidak ada alasan saat ini anak yang tidak dapat melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan tinggi, namun di sisi lain pendirian lembaga-lembaga pendidikan tersebut belum diiringi dengan kurikulum yang baik, sumber daya manusia yang masih kurang, sarana dan prasarana pendukung pendidikan yang memadai, dan lain sebagainya. Akhirnya tujuan dari pendidikan itu sendiri belum tercapai menurut semestinya. Hal ini disebabkan oleh tujuan dari para pendiri dan pengelola lembaga tersebut yang hanya mengutamakan keuntungan bagi mereka.

Keempat, bahwa Kaum liberalisme memiliki  pandangan bahwa tujuan dan cara pelaksanaan pendidikan perlu diarahkan pada pendidikan yang mengajar siswa untuk memecahkan masalah-masalahnya secara efektif. Namun mereka ingin mengurangi seluruh batasan dengan cara melenyapkan hal-hal seperti wajib belajar dan pengajaran mata pelajaran wajib, kemudian menggantikan wewenang lembaga dengan kebebasan para siswa untuk memilih apakan mereka ingin belajar atau tidak, apa yang ingin dipelajari dan member mereka kebebesan untuk memilih pengalaman-pengalamnan pendidikan apapun yang mereka anggap paling relevan dengan kebutuhan-kebuthan personeal mereka. Dengan kata lain siswa sendirilah yang menentukan apakah mereka ingin belajar sesuatu atau tidak menetapkan kapan, dimana, dan sejauh mana mereka ingin belajar.

Bagi penulis kehadiran teori liberalisme ini perlu diapresiasi dengan baik karena  bagi bagaimanapun baginya pendidikan bagi setiap anak perlu mendapat kebebasan dalam artian anak dapat secara bebas untuk mencari sumber-sumber belajar yang tepat menurutnya paling relevan dan bermanfaat baginya. Mereka dapat secara bebas menentukan kompetensi masing-masing yang akan dijadikannya menopang kehidupannya sampai usia tua. Walaupun demikian kebebasan dimaksud tentu perlu mendapatkan arahan dan kontrol dari orang dewasa seperti orang tua, guru, dan masyarakat.

 

SEGMEN 5

Kesimpulan

Dalam perkembangannya, filsafat seringkali mengalami pasang dan surut pada setiap periode. Masa pasang dan surut dalam tahap perkembangan filsafat tersebut membuktikan bahwa filsafat sebagai kegiatan olah fikir, tidak hanya tiba-tiba ada sebagai hasil pemikiran manusia sekarang, namun itu merupakan hasil perkembangan olah fikir sejak zaman dahulu. Dari hasil pemahaman perkembangan pasang surut filsafat sejak jaman yunani kuno hingga jaman sekarang, dapat ditarik kesimpulan secara umum bahwa keberadaan filsafat (akal) dan hati (agama) harus saling beriringan dan tidak saling mengalahkan.kejayaan filsafat tanpa agama tidak akan membawa kehidupan yang seimbang dalam masyarakat. Hal ini terbukti pada jaman yunani kuno dan awal jaman modern.

Progresivisme yang berkembang pada awal abad XX di Barat (Amerika Serikat) lahir sebagai pembaharu dalam dunia filsafat pendidikan terutama pada saat itu tampil sebagai lawan kebijakan-kebijakan konvensional yang diwarisi dari generasi sebelumnya pada abad XIX. Pandangan-pandangan progresivisme dianggap sebagai “the liberal road to culture” dalam artian bahwa liberal berarti fleksibel, berani, toleran, dan bersikap terbuka.

Selanjutnya Pendidikan sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status sosial, alat menguasai teknologi, serta media untuk menguak rahasia alam raya dan manusia.

Implikasi kapitalisme pendidikan antara lain: (1) pemerintah harus melepaskan semua sekolahnya, dan serahkan urusan pendidikan kepada perusahaan swasta; (2) menuntut negara menghentikan subsidi kepada rakyat karena hal itu selain bertentangan dengan prinsip Neoliberal tentang jauhkan campur tangan pemerintah juga bertentangan dengan prinsip pasar bebas dan persaingan bebas.

Akibat liberalisasi pendidikan ini, pendidikan akan hanya mampu dijangkau oleh mereka yang secara ekonomi diuntungkan oleh struktur dan sistem sosial yang ada. Sementara itu bagi mereka yang datang dari kelas yang dieksploitasi secara ekonomi tidak akan mampu menjangkau pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan telah menjadi suatu komoditi, bagi mereka yang memiliki uang dan mampu untuk membayarnya, akan menikmati pelayanan dan mutu pendidikan, sementara bagi mereka yang tidak mampu membayar pendidikan tidak akan mendapat akses dan pelayanan pendidikan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Betrand Russel.2002. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-politik dari Zaman Kuno hingga Sekarang (alih Bahasa Sigit jatmiko, dkk) Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Chossudovsky, Michael. 1997. The Globalization of Poverty: Impact of IMF and World Bank Reforms. Penang: Third World Book.

Chomsky, Noam. 2006. Neo-Imperialisme Amerika Serikat. Yogyakarta: Resist Book.

Francis Wahono. 2001. Kapitalisme Pendidikan: Antara Kompetisi dan Keadilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Freire, Paulo. 2011. Pendidikan Kaum Tertindas. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia.

Hadiwijono Harun “sari sejarah filsafat barat” Yogyakarta, KANISIUS,1980

Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, 2004, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka

Khun, Thomas S., (19..), The Structure of scientific Revolution (Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, Terjemahan), Remaja Rosdakarya, Bandung.

Kartini Kartono. 1997. Tinjauan Politik Mengenai Sistem Pendidikan Nasional: Beberapa Kritik dan Sugesti. Jakarta: Pradnya Paramita.

Karl Marx, tanpa tahun, Naskah-Naskah Ekonomi dan Filsafat 1844, (Seri Buku Ilmiah), Hasta Mitra, Jakarta, Yogyakarta: Pelajar, Yogyakarta.

Mahmud Al Khalidi. 2002. Kerusakan dan Bahaya Sistem Ekonomi Kapitalis. Jakarta: Wahyu Press.

Mochtar Buchori. 1995. Transformasi Pendidikan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Nuryatno, Agus. 2011. Mazhab Pendidikan Kritis: Menyikapi Relasi Pengetahuan Politik dan Kekuasaan. Yogyakarta: Resist Book

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam