Teori Belajar Psikologi Gestalt

Teori Belajar menurut Aliran Psikologi Genstalt serta Implikasinya dalam Proses Belajar dan Pembelajaran

 

  1. Pendahuluan

Aliran psikologi Gestalt pada dasarnya lahir dari rahim psikologi kognitif yang bersifat deduktif yang memandang bahwa stimulasi ditanggapi sebagai gambaran-gambaran yang menyeluruh ketimbang sebagai bagian-bagian yang dibentuk ke dalam gambaran-gambaran, tetapi juga mengemukakan bahwa suatu yang menyeluruh menentukan bagian-bagian dan bukan bagian-bagian yang menentukan keseluruhan.

Kekuatan Gestalt berada pada “kesatuan”. Hal ini merujuk pada teori persepsi visual yang dikembangkan oleh psikolog Jerman. Teori-teori ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana orang cenderung untuk mengatur unsur-unsur visual dalam kelompok-kelompok atau keseluruhan sebagai sebuah keutuhan, ketika diterapkan prinsip-prinsip tertentu. Psikologi gestalt didasarkan pada gagasan bahwa manusia mengalami hal-hal sebagai keseluruhan yang bersatu. Pendekatan ini awalnya berkembang di Jerman dan Austria selama abad ke-19, sebagai jawaban atas “ketidakpuasan” terhadap pendekatan strukturalisme yang menekankan pada elemen-elemen terkecil atau molekul dari perilaku atau kepribadian. Sebaliknya, para ahli psikologi gestalt yakin bahwa seseorang harus melihat seluruh pengalaman. Menurut pemikiran gestalt, keseluruhan perilaku atau kepribadian adalah lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.

Psikologi Gestalt ini berlawanan dengan aliran-aliran dalam rumpun teori asosiasi yang bersifat molecular, aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan. Sedangkan aliran asosiasi mementingkan unit untuk mendapatkan sesuatu secara keseluruhan yang lebih untuh dan komleks

Pembahasan

  1. Pengertian Psikologi Gestalt

            Kartono dan Gulo (1987 : 190) menyatakan bahwa Psikologi gestalt mempunyai arti yaitu

  1. Aliran psikologi yang terutama memberi perhatian pada proses-proses persepsi, di mana pokok pikirannya yang utama adalah bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya. Psikologi gestalt bukan saja berpendapat bahwa stimulasi ditanggapi sebagai gambaran-gambaran yang menyeluruh ketimbang sebagai bagian-bagian yang dibentuk ke dalam gambaran-gambaran, tetapi juga mengemukakan bahwa suatu yang menyeluruh menentukan bagian-bagian dan bukan bagian-bagian yang menentukan keseluruhan.
  2. Suatu aliran psikologi yang menekankan, bahwa pengalaman langsung adalah hasil dari segenap pola kegiatan individu (aktivitas sensoris) serta relasi-relasi dan organisasi-organisasi di dalam pola tersebut.

Sudarsono (1993 : 92) menyatakan bahwa Psikologi gestalt mempunyai arti yaitu :

  1. Suatu aliran dalam psikologi yang membahas tentang proses-proses persepsi dengan fokus perhatian pada proses dan tingkah laku mental dengan penekanan bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya dan bukan bagian-bagian yang menentukan keseluruhan.
  2. Aliran dalam psikologi mengakui bahwa pengalaman tanpa perantaraan merupakan hasil dari aktivitas perseorangan serta hubungan-hubungan organisasi-organisasi dalam sistem tersebut.

Danim dan Khairil (2010 : 35) menyatakan bahwa Gestalt adalah istilah psikologi yang berarti “kesatuan”. Hal ini merujuk pada teori persepsi visual yang dikembangkan oleh psikolog Jerman. Teori-teori ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana orang cenderung untuk mengatur unsur-unsur visual dalam kelompok-kelompok atau keseluruhan sebagai sebuah keutuhan, ketika diterapkan prinsip-prinsip tertentu.

Danim dan Khairil (2010 : 33) menyatakan bahwa Psikologi gestalt didasarkan pada gagasan bahwa manusia mengalami hal-hal sebagai keseluruhan yang bersatu. Pendekatan ini awalnya berkembang di Jerman dan Austria selama abad ke-19, sebagai jawaban atas “ketidakpuasan” terhadap pendekatan strukturalisme yang menekankan pada elemen-elemen terkecil atau molekul dari perilaku atau kepribadian. Sebaliknya, para ahli psikologi gestalt yakin bahwa seseorang harus melihat seluruh pengalaman. Menurut pemikiran gestalt, keseluruhan perilaku atau kepribadian adalah lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.

Suryabrata (2010 : 172) menyatakan bahwa Pengikut-pengikut aliran psikologi gestalt mengemukakan konsepsi yang berlawanan dengan konsepsi yang dikemukakan oleh para ahli yang mengikuti aliran asosiasi. Bagi para ahli yang mengikuti aliran Gestalt, perkembangan adalah proses diferensiasi. Dalam proses diferensiasi itu yang primer adalah keseluruhan, sedangkan bagian-bagian adalah sekunder; bagian-bagian hanya mempunyai arti sebagai bagian daripada keseluruhan dalam hubungan fungsional dengan bagian-bagian yang lain; keseluruhan ada terlebih dahulu baru disusul oleh bagian-bagiannya. Kalau kita dengan seorang teman misalnya, dari kejauhan yang kita saksikan terlebih dahulu bukanlah bajunya yang baru atau pulpennya yang bagus, atau dahinya yang terluka, melainkan justru teman kita itu secara keseluruhan, sebagai Gestalt; baru kemudian menyusul kita saksikan adanya hal-hal khusus tertentu misalnya bajunya yang baru, pulpennya yang bagus, dahinya yang terluka, dan sebagainya.

Suryabrata (2010 : 172) menyatakan bahwa Seorang anak kecil, yang dirumahnya ada seekor kucing yang dinamainya Melati, mula-mula akan menyebut semua kucing yang dijumpainya bahkan juga mungkin harimau di kebun binatang dengan sebutan Melati. Kemudian baru dia dapat mengetahui bahwa tidak semua kucing namanya Melati, ada kucing yang mempunyai nama-nama lain, seperti Menur, Mawar, Pahing, dan sebagainya. Proses ini adalah proses diferensiasi. Demikianlah misalnya si Jatmiko (anak penulis yang berumur dua tahun) menyebut semua mobil dengan nama Memo (bemo), baru kemudian dia mengetahui bahwa mobil itu ada yang namanya bemo, jeep, truck, sedan, dan sebagainya. Lebih lanjut dijelaskan Juga pengenalan anak terhadap dunia luar merupakan proses diferensiasi. Mula-mula anak merasa satu dengan dunia sekitarnya, baru kemudian ada diferensiasi: dia merasa (mengetahui) dirinya sebagai sesuatu yang berbeda dari dunia sekitarnya. Lebih jauh lagi dapat membedakan bahwa dunia sekitarnya itu terdiri dari manusia dan bukan manusia, dan selanjutnya manusia-manusia itu berbagai-bagai pula, ada ibu dan bukan ibu, dan yang bukan ibu itu ada yang namanya ayah, kakak, nenek, paman, mbok Yem, dan sebagainya.

Danim dan Khairil (2010 : 34) menyatakan bahwa Para psikolog gestalt tertarik pada fenomena yang kompleks: bagaimana orang melihat “adegan” dan “ruang”; memecahkan masalah kompleks; mereka berhubungan dengan komponen-komponen yang berbeda dari pengalaman satu sama lain, apa pun domain dari pengalaman itu. Psikologi gestalt biasanya berlawanan dengan pemikiran para strukturalis dan behavioris. Fokus mereka adalah lebih pada bentuk, struktur, konfigurasi, atau keutuhan ketimbang elemen. Menurut psikologi gestalt seseorang harus menafsirkan “unsur” sebagai bagian dari struktur yang lebih besar daripada sebagai atom independen yang bergabung menjadi unit yang lebih besar.

Kemudian Snelbecker (1974 : 58-59) menyatakan bahwa Poin penting dari psikologi gestalt adalah keseluruhan bukanlah gabungan dari bagian-bagian. Psikologi gestalt fokus pada pemecahan masalah dan pembelajaran seharusnya dirancang sebagai bentuk pemecahan masalah dan berpikir bagaimana memecahkan masalah dibandingkan dengan yang lain.

Danim dan Khairil (2010 : 34) menyatakan bahwa Penganut aliran gestalt bertentangan dengan aliran psikologi strukturalis populer yang percaya bahwa pikiran terdiri dari unit atau elemen dan dapat dipahami oleh pemetaan dan siswa belajar dalam kombinasi. Para psikolog gestalt yakin bahwa pengalaman mental tidak tergantung pada kombinasi dari unsur-unsur yang sederhana, melainkan pada organisasi dan pola pengalaman dan persepsi seseorang. Dengan demikian, mereka menyatakan bahwa perilaku harus dipelajari dengan segala kompleksitasnya, bukan dipisahkan menjadi komponen-komponen diskrit. Karenanya, proses pembelajaran dan fungsi kognitif lainnya harus dilihat sebagai keutuhan yang bersifat terstruktur.

Bagus (2002 : 279) menyatakan bahwa Secara filosofis, Psikologi gestalt  didasarkan pada gagasan Husserl dan Mach. Berbeda dengan psikologi asosiasionistis, bagi Psikologi Gestalt, yang primer dan dasar dalam kegiatan pikiran bukanlah pencerapan melainkan “keseluruhan terpadu”, yang membentuk struktur-struktur psikis. Pembentukannya, menurut psikologi Gestalt, tunduk pada kemampuan psikis instrinsik dari individu-individu untuk menciptakan figur-figur sederhana, simetris dan tertutup. Teori ini mengandaikan isolasi individu dari lingkungannya dan kegiatan-kegiatannya yang praktis. Pada akhirnya, orang yang menganut teori ini menganggap keseluruhan struktur psikis berasal dari “hukum-hukum” subjektif imanen. Ini menghantar mereka ke idealisme. Kemudian, ide-ide dari psikologi gestalt diterapkan pada gejala-gejala fisik, fisiologis, dan bahkan ekonomis.

Berdasarkan penjelasan dari beberapa ahli di atas maka teori belajar menurut psikologi gestalt adalah suatu teori belajar dari aliran psikologi yang terutama memberi perhatian pada proses-proses persepsi, di mana pokok pikirannya yang utama adalah bahwa suatu keseluruhan adalah lebih besar daripada penjumlahan bagian-bagiannya. Fokus teori belajar menurut psikologi gestalt fokus pada pemecahan masalah dan pembelajaran seharusnya dirancang sebagai bentuk pemecahan masalah dan berpikir bagaimana memecahkan masalah dibandingkan dengan yang lain.

  1. Tokoh-Tokoh Teori Belajar Psikologi Gestalt

            Tokoh-tokoh teori belajar psikologi gestalt adalah Chr. von Ehrenfels, Max Werheimer, Kurt Koffka, dan Wolfgang Kohler. Berikut ini penjelasan teori belajar menurut mereka.

  1. Ch. von Ehrenfels

Bagus (2002 : 279) menyatakan Istilah Gestalt diperkenalkan pertama kali oleh Ch. von Ehrenfels. Sependapat dengan Bagus, Suryabrata (2010 : 274) juga menyatakan bahwa Orang yang dipandang menjadi perintis langsung psikologi Gestalt ialah Ch. von Ehrenfels, dengan karyanya Uber Gestaltqualitation (1890). Berlawanan dengan aliran-aliran asosiasi yang bersifat molecular, aliran ini menekankan pentingnya keseluruhan. Pokok pikiran aliran ini ialah:

  1. Gestalt mempunyai sesuatu yang melebihi jumlah unsur-unsurnya, dan
  2. Gestalt itu timbul lebih dahulu daripada bagian-bagian.
  3. Max Werheimer,

Rahyubi (2012 : 77) menyatakan bahwa Peletak dasar teori gestalt adalah Max Werheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving.

Suryabrata (2010 : 275) menyatakan bahwa Selanjutnya orang yang dipandang benar-benar sebagai psikologi gestalt ialah Wertheimer. Eksperimen-eksperimen Wertheimer mengenai Scheinbewegung (gerak semu) memberikan kesimpulan  bahwa pengamatan mengandung hal yang melebihi jumlah unsur-unsurnya. Ini adalah gejala gestalt.

  1. Kurt Koffka,

Rahyubi (2012 : 77) menyatakan bahwa Kurt Koffka (1886-1941) juga ikut memberikan sumbangan pada teori gestalt dengan menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan.

  1. Wolfgang Kohler.

Rahyubi (2012 : 77) menyatakan bahwa Pemikir gestalt lainnya adalah Wolfgang Kohler (1887-1967) yang melontarkan ide tentang insight (pengertian, pengetahuan, dan pemahaman) melalui eksperimen pada simpanse.

Suryabrata (2010 : 275) menyatakan bahwa Di bidang belajar untuk penelitian gestalt, seperti eksperimen-eksperimen W. Kohler dengan Chimpanse yang dilakukannya di pulau Tenerife (1913-1917) memberikan kesimpulan-kesimpulan yang berlawanan dengan teori-teori molecular.

Lebih lanjut Danim dan Khairil (2010 : 35) menyatakan bahwa Pada 1910, Kohler memulai enam tahun penelitian dengan menggunakan hewan sebagai percobaan di Kepulauan Canary. Temuannya selama penelitian itu banyak memperkuat teori gestalt bagi kegiatan pembelajaran dan perilaku hewan. Salah satu percobaan yang paling terkenal ayam dilatih untuk mematuk butir pada dua lembar kertas, baik yang berwarna terang-terang maupun agak gelap. Ketika ayam dilatih untuk memilih warna kertas terang dengan pilihan warna dan sebuah lembaran kertas-kertas baru yang agak gelap, mayoritas ayam beralih ke lembar yang baru. Demikian pula, ketika ayam dilatih untuk memilih warna agak gelap, ketika dihadapkan dengan pilihan paralel, ayam itu memilih warna baru yang agak gelap. Oleh Kohler hal ini diberi makna bahwa ayam telah belajar asosiasi dengan sebuah hubungan, bukan dengan warna tertentu. Temuan ini, yang bertentangan dengan teori-teori behavioris kontemporer, dikenal sebagai “hukum gestalt transposisi”, karena ujian mata pelajaran telah mentransposisikan pengalaman asli mereka ke keadaan yang baru.

Kohler lalu mengemukakan ide tentang insight, tentang insight maka Suryabrata (2010 : 277) menyatakan bahwa Insight adalah didapatkannya pemecahan problem, dimengertinya persoalan; inilah inti belajar. Jadi yang penting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari, tetapi mengertinya, mendapatkan insight.

Hilgard (1948 : 190-195) menyatakan bahwa Ada enam macam sifat khas belajar dengan insight yaitu

  1. Insight itu tergantung kepada kemampuan dasar. Kemampuan dasar berbeda-beda dari individu yang satu dengan individu yang lain. Pada umumnya anak yang masih muda sukar untuk belajar dengan insight
  2. Insight itu tergantung pengalaman masa lampau yang relevan. Walaupun insight itu tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan, namun memiliki pengalaman masa lampau tersebut belum menjamin dapatnya memecahkan problem, jadi misalnya anak tidak dapat mengerjakan problem aljabar, kalau dia belum tahu menggunakan simbol-simbol dalam aljabar terlebih dahulu (dari masa lampau), tetapi anak-anak yang telah menguasai simbol-simbol tersebut serta mengetahui cara-cara pemecahan problem dalam aljabar belum tentu dapat memecahkan problem tersebut. Di sinilah letak perbedaan antara teori Gestalt dengan teori asosiasi yang beranggapan bahwa hanya memiliki pengalaman masa lampau yang diperlukan seseorang akan dapat memecahkan problem, sebab pemecahan-pemecahan problem berarti penerapan operation- operation yang telah dipelajari terlebih dahulu.
  3. Insight tergantung kepada pengaturan secara eksprimental. Insight itu hanya mungkin terjadi apabila situasi belajar itu diatur sedemikian rupa sehingga segala aspek yang perlu dapat diamati. Apabila alat yang diperlukan untuk pemecahan problem itu dapat dibuat seakan-akan menjadi tidak mungkin, maka problem menjadi lebih sukar.
  4. Insight itu didahului oleh suatu periode mencoba-coba. Insight bukanlah hal yang dapat jatuh dari langit dengan sendirinya, melainkan adalah hal yang harus dicari. Sebelum dapat memperoleh insight orang harus sudah meninjau problemnya dari berbagai arah dan mencoba-coba memecahkannya.
  5. Belajar yang dengan insight itu dapat diulangi. Jika suatu problem telah dipecahkan dengan insight lain kali diberikan lagi kepada pelajar yang bersangkutan, maka dia akan dengan langsung dapat memecahkan problem itu lagi.
  6. Insight yang telah sekali didapatkan dapat dipergunakan untuk menghadapi situasi-situasi yang baru.

Pokok-Pokok Teori Belajar menurut Aliran Gestalt

            Suryabrata (2010 : 275) menyatakan bahwa Psikologi Gestalt bermula pada lapangan pengamatan (persepsi) dan mencapai sukses terbesar juga dalam lapangan ini. Demonstrasi mengenai peranan latar belakang dan organisasinya terhadap proses-proses yang diamati secara fenomal demikian menyakinkan sehingga boleh dikatakan tidak dapat dibantah. Kritik pokok yang dilancarkannya terhadap teori asosiasi ialah ditujukan terhadap anggapan yang mengatakan bahwa pengamatan itu terdiri dari unsur-unsur pengamatan yang disatukan oleh asosiasi.

Suryabrata (2010 : 275) menyatakan bahwa Ketika para ahli psikologi Gestalt beralih dari masalah pengamatan ke masalah belajar, maka hasil-hasil yang telah sukses dalam penelitian mengenai pengamatan itu dibawanya dalam studi mengenai belajar, dan alasan-alasan yang dulunya ditujukan terhadap teori asosiasi kini dilancarkan terhadap teori refleks bersyarat, dan teori-teori refleks yang lain.

           Suryabrata (2010 : 275-276) menyatakan bahwa Tokoh utama yang merumuskan transfer dari pengamatan ke belajar ini adalah Koffka. Titik tolak yang digunakan oleh Koffka dalam mempersoalkan belajar adalah asumsi bahwa hukum-hukum organisasi dalam pengamatan itu berlaku bagi belajar. Hal ini dikemukakan berdasarkan pada kenyataan bahwa belajar itu pada pokoknya adalah penyesuaian pertama, yaitu mendapat respons yang tepat. Karena penemuan respons yang tepat ini tergantung pada struckturierung daripada bahan yang tersedia di depan si pembelajar, maka mudah atau sukarnya problem itu terutama adalah masalah pengamatan. Dalam arti tertentu chimpanse Kohler memang dihadapkan kepada problem pengamatan itu, dan apabila dapat melihat situasi itu dengan tepat maka mereka memperoleh pencerahan dan dapat memecahkan problem yang dihadapinya.

Suryabrata (2010 : 276) menyatakan bahwa Karena asumsi bahwa hukum-hukum atau prinsip-prinsip yang berlaku pada proses pengamatan dapat ditransfer kepada hal belajar, maka untuk memahami proses belajar orang perlu memahami hukum-hukum yang menguasai proses pengamatan itu.

Hukum-Hukum Pengamatan (Hukum-Hukum Belajar) Menurut Aliran Gestalt

Suryabrata (2010 : 276) menyatakan bahwa Menurut aliran Gestalt ini ada satu hukum pokok, yaitu hukum pragnanz, dan empat hukum tambahan (subsider) yang tunduk kepada hukum pokok itu, yaitu hukum-hukum keterdekatan, ketertutupan, kesamaan, dan kontinuitas.

  1. Hukum Pragnanz

Suryabrata (2010 : 276-277) menyatakan bahwa kata Hukum Pragnanz ini menunjukkan tentang berarahnya suatu kejadian,  yaitu sesuatu keadaan yang seimbang, suatu Gestalt yang baik. Gestalt yang baik, keadaan yang seimbang ini mencakup sifat-sifat keteraturan, kesederhanaan, kestabilan, simetri, dan sebagainya.    Lebih jauh diungkapkan bahwa Setiap hal yang dihadapi oleh individu, mempunyai sifat dinamis, yaitu cenderung untuk menuju ke keadaan Pragnanz itu, keadaan seimbang. Keadaan yang problematis adalah keadaan yang tidak Pragnanz, tidak teratur, tidak sederhana, tidak stabil, tidak simetri dan sebagainya serta pemecahan problem itu ialah mengadakan perubahan dalam struktur medan atau hal itu dengan memasukkan hal-hal yang dapat membawa hal yang problematis ke sifat Pragnanz.

  1. Hukum-hukum tambahan

Suryabrata (2010 : 277) menyatakan bahwa Hukum-hukum tambahan yaitu sifat-sifat keteraturan, kesederhanaan, kestabilan, simetri, dsb., merupakan prinsip-prinsip tambahan yang memperkuat atau membantu proses menjadi Pragnanz itu. Dalam penyelesaian problem, kita mengatur problem yang kita hadapi itu menurut prinsip-prinsip yang terdapat dalam ke empat hukum itu juga.

  1. Pendapat Psikologi Gestalt Mengenai Pendidikan

            Danim dan Khairil (2010 : 34) menyatakan bahwa Memang, psikolog gestalt berbeda metode kerja dari “pesaing-pesaing” mereka, khususnya penganut aliran strukturalis dan behavioris. Mereka menggantikan pengalaman fenomental dan intropeksi analitik yang populer dalam aliran strukturalis dan behavioris dengan cara mempelajari tanggapan terhadap rangsangan kompleks ketimbang tanggapan unidemensional terhadap rangsangan yang sederhana. Siswa yang berpikir bahwa belajar terbaik (pemecahan masalah) dengan mengedepankan wawasan, atau restrukturisasi komponen dari suatu keseluruhan sehingga mereka dapat melihat atau memahami dengan cara yang baru. Restrukturisasi ini sering dianggap terjadi secara holistik dan tiba-tiba. Siswa terutama tertarik pada kenyataan bahwa stimulus yang sama dapat direspon dengan cara yang berbeda. Salah satu akibat dari cara semacam ini adalah bahwa siswa belajar ilusi. Jadi, aliran psikologi gestalt menekankan studi tentang pengalaman dan perilaku sebagai keutuhan bukan berfungsi secara independen, bagian-bagian yang berbeda.

            Hergenhahn dan Olson (2008 : 306) menyatakan bahwa Gestaltis berpendapat bahwa problem yang tak selesai akan menimbulkan ambiguitas atau ketidakseimbangan organisasional dalam pikiran siswa, dan ini adalah kondisi yang tidak diinginkan. Ambiguitas dilihat sebagai keadaan negatif yang akan terus ada sampai problem terselesaikan. Siswa yang berhadapan dengan problem akan berusaha mencari informasi baru atau menata ulang informasi lama sampai mereka mendapatkan wawasan mendalam tentang solusinya. Solusi ini akan membuat siswa puas, sebagaimana puasnya seorang yang lapar diberi sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya. Dalam satu pengertian, pengurangan ambiguitas dapat dilihat sebagai teori Gestalt yang sejajar dengan gagasan penguatan dari kaum behavioris. Akan tetapi, reduksi ambiguitas dapat dianggap sebagai penguat intrinsik, sedangkan behavioris biasanya lebih menekankan pada penguat eksternal atau ekstrinsik.

Hergenhahn dan Olson (2008 : 307) menyatakan bahwa Bruner dan Holt menganut gagasan Gestaltian bahwa belajar adalah memuaskan secara personal dan tidak perlu didorong-dorong oleh penguatan eksternal. Kelas yang berorientasi Gestalt akan dicirikan oleh hubungan memberi dan menerima antara murid dengan guru. Guru akan membantu siswa memandang hubungan dan mengorganisasikan pengalaman mereka ke dalam pola yang bermakna. Belajar berdasarkan pendapat Gestalt bisa dimulai dengan sesuatu yang familiar dan setiap langkah dalam pendidikan berdasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai. Semua aspek pelajaran dibagi menjadi unit-unit yang bermakna, dan unit-unit itu harus berkaitan dengan seluruh konsep atau pengalaman. Guru yang berorientasi Gestalt mungkin menggunakan teknik ceramah (lecture), tetapi ia akan berusaha agar selalu ada interaksi antara guru dan murid. Memorisasi fakta tanpa pemahaman akan dihindari. Setelah siswa memahami prinsip di balik pengalaman belajar barulah mereka bisa memahaminya dengan sesunguhnya. Ketika hal-hal yang dipelajari telah dipahami, bukan hanya diingat, maka ia dapat dengan mudah diaplikasikan ke situasi yang baru dan dipertahankan dalam jangka waktu yang lama.

  1. Prinsip Belajar Gestalt

          Hergenhahn dan Olson (2008 : 290) menyatakan bahwa Karya paling signifikan tentang belajar oleh anggota aliran Gestalt adalah karya Kohler antara 1913 dan 1917 di University of Berlin Anthopoid Station di Tenerife, salah satu Kepulauan Canary. Kohler (1925) meringkas temuannya dalam The Mentality of Apes. Saat di Tenerife dia juga mempelajari kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki ayam, meskipun karya ini jarang disebut.

Hergenhahn dan Olson (2008 : 290-291) menyatakan bahwa Karena psikolog Gestalt terutama adalah teoritisi medan yang tertarik pada fenomena perseptual, tidak mengejutkan jika mereka memandang belajar sebagai problem khusus dalam persepsi. Mereka mengasumsikan bahwa ketika suatu organisme berhadapan dengan sebuah problem, akan muncul keadaan diskeilibrium kognitif dan keadaan ini akan terus berlanjut sampai problem terselesaikan. Karenanya, menurut psikolog gestalt, disekuilibrium kognitif mengandung unsur untuk mendapatkan kembali keseimbangan dalam sistem mentalnya. Menurut hukum pragnanz, keseimbangan kognitif lebih memuaskan ketimbang ketidakseimbangan kognitif lebih memuaskan ketimbang ketidakseimbangan kognitif. Pada poin ini, Gestaltis lebih dekat dengan pendapat Guthrie dan Hull. Dapat dikatakan bahwa problem akan memunculkan stimuli (atau menurut istilah Hull, dorongan), yang terus ada sampai problem terpecahkan, dan setelah terpecahkan stimuli itu akan terhenti (dorongan berkurang). Bukti atas pendapat ini diberikan oleh karya Bluma Zeigarnik, yang menemukan bahwa tugas yang belum selesai akan selalu diingat lebih dalam dan lebih detail ketimbang tugas yang sudah selesai. Dia menjelaskan fenomena ini dalam term properti motivasional dari suatu problem yang terus ada sampai problem itu terpecahkan. Tendensi untuk mengingat tugas yang belum selesai dengan lebih baik Zeigarnik effect (efek Zeigarnik).

Hergenhahn dan Olson (2008 : 291) menyatakan bahwa Belajar, menurut Gestaltis, adalah fenomena kognitif. Organisme “mulai melihat” solusi setelah memikirkan problem. Pembelajar memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem dan menempatkannya bersama (secara kognitif) dalam satu cara dan kemudian ke cara-cara lainnya sampai problem terpecahkan. Ketika solusi muncul, organisme mendapatkan wawasan (insight) tentang solusi problem. Problem dapat eksis hanya dalam dua keadaan: terpecahkan atau tak terpecahkan. Tidak ada keadaan solusi parsial di antara dua keadaan itu. Gestaltis percaya bahwa solusi itu didapatkan atau tidak sama sekali, belajar menurut mereka adalah bersifat diskontinu.

Hergenhahn dan Olson (2008 : 299) menyatakan bahwa Werheimer percaya bahwa setiap strategi pengajaran yang didasarkan pada asosiasionisme atau logika tidak banyak manfaatnya dalam memperkaya pemahaman tetapi lebih banyak bermanfaat untuk menghambat pemahaman.

Hergenhahn dan Olson (2008 : 308) menyatakan bahwa Ahli yang tergolong memiliki pandangan psikologi gestalt yaitu Popper dapat diimplikasikan ke dalam teori belajar yaitu suatu problem dihadirkan di kelas, dan siswa mengusulkan solusi. Setiap usulan solusi dianalisis secara kritis dan solusi yang tidak efektif akan ditolak. Proses ini berlanjut sampai solusi terbaik ditemukan. Problem itu bisa berupa problem ilmu (ilmiah), sosiologis, etika, filsafat, atau bahkan problem pribadi. Atmosfer kelas harus informal dan santai sehingga mampu mendorong siswa untuk aktif memberi usulan dan mengkritik. ‘Apa ada yang salah dalam usulan solusi itu?” adalah pertanyaan yang akan terus berulang. Dengan penyesuaian yang tepat berdasarkan level usia, prosedur ini jelas bisa digunakan mulai dari sekolah dasar sampai universitas. Murid yang menjalani latihan semacam ini diharapkan akan lebih mampu untuk mengartikulasikan problem, lebih kreatif dalam mencari solusi, dan lebih mampu membedakan antara solusi yang efektif dan tidak efektif.

  1. Implikasi Teori Belajar Menurut Psikologi Gestalt dalam Proses Belajar dan Pembelajaran

Berdasarkan pembahasan tentang teori belajar menurut psikologi gestalt dalam proses belajar dan pembelajaran maka implikasi teori belajar menurut psikologi gestalt dalam proses belajar dan pembelajaran adalah dalam mengajari murid di kelas maka guru harus mengajari muridnya pemecahan masalah dengan mencari solusi terbaik untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya. Misalnya pada pelajaran IPS tentang masalah-masalah sosial yaitu tentang cara mengatasi pengangguran. Siswa-siswa diminta oleh guru untuk mengemukakan solusinya untuk memecahkan masalah pengangguran. Siswa-siswa terus diberikan kesempatan untuk memberikan solusi hingga ditemukannya solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan pengangguran.

Dengan dilatihnya siswa dalam memberikan solusi terhadap pemecahan masalah maka siswa akan terbiasa untuk berpikir dalam memecahkan sesuatu hal. Dengan dilatihnya siswa dalam kegiatan belajar yang melibatkan pemecahan masalah maka siswa akan terbiasa berpikir kritis. Dengan terbiasanya siswa berpikir kritis maka kelak ketika siswa memiliki masalah dalam kehidupan bermasyarakat maka siswa akan dapat memecahkan masalah tersebut. Jadi dalam proses belajar dan pembelajaran di sekolah maka guru perlu melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah agar siswa dapat mencarikan solusi untuk menyelesaikannya.

Kemudian guru yang ingin menyelesaikan masalah siswanya maka dia harus mengetahui secara keseluruhan masalah yang dihadapi oleh siswanya. Dengan mengetahui secara keseluruhan masalah yang dihadapi oleh siswanya maka guru akan memecahkan masalah yang dihadapi oleh siswanya. Namun jika guru belum mengetahui masalah yang dihadapi oleh siswa secara keseluruhan maka guru jangan memutuskan suatu hal untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh siswa. Hal ini disebabkan dengan belum diketahuinya masalah yang dihadapi oleh siswa maka masalah yang ingin diselesaikan oleh guru tidak akan dapat diselesaikan oleh guru dengan baik. Jadi jika guru ingin menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswanya maka guru harus mengetahui terlebih dahulu masalah yang dihadapi oleh siswa secara keseluruhan.

Contoh selanjutnya adalah ketika guru mengajarkan tentang menanggapi suatu persoalan maka guru harus memastikan siswanya sudah memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup untuk menanggapi suatu persoalan yang ingin ditanggapi. Dengan memahaminya maka siswa akan dapat menanggapi persoalan yang ada dengan baik dan tepat.

Dalam memulai mengajarkan suatu mata pelajaran maka guru harus memulainya pada sesuatu yang sudah diketahui oleh siswa. Dengan memulai pelajaran pada sesuatu yang sudah diketahui oleh siswa maka siswa akan mudah untuk memahami materi pelajaran yang diajarkan oleh guru pada tahap selanjutnya. Misalnya guru mengajarkan tentang menulis puisi bebas maka untuk mengajarkan tentang menulis puisi bebas maka guru harus memulainya pada sesuatu aspek apa yang sudah diketahui siswa tentang puisi. Setelah guru bertanya kepada siswa tentang puisi bebas yang sudah pernah ditulis oleh siswa maka siswa akan mudah untuk mempelajari tentang menulis puisi bebas.

Kemudian manfaat selanjutnya dengan memulai suatu materi pelajaran dengan yang sudah diketahui oleh siswa maka siswa akan merasa senang karena jika pada awal suatu pelajaran siswa sudah diketahuinya dan akan menganggap bahwa mudahnya pelajaran yang dipelajari oleh siswa kemudian  siswa akan merasa semangat dan senang untuk mempelajari materi pelajaran tersebut. Dengan adanya perasaan tersebut maka akan membuat siswa tertarik untuk berkonsentrasi dalam menyelesaikan materi pelajaran yang sedang dipelajarinya hingga selesai.

Untuk mengajarkan suatu pelajaran maka guru harus memulainya pada aspek keseluruhan dari pelajaran secara umum. Kemudian setelah guru sudah memulai suatu pelajaran dari aspek keseluruhan baru guru masuk kepada aspek bagian-bagiannya atau yang khususnya dari pelajaran tersebut. Misalnya guru mengajarkan tentang ejaan maka guru dapat menjelaskan secara keseluruhan tentang hal-hal yang berhubungan dengan ejaan tersebut secara umum. Setelah itu guru baru masuk pada aspek bagian-bagian dari ejaan seperti pemakaian huruf kapital, huruf miring, tanda titik, tanda koma, tanda seru, tanda tanya, dan lain sebagainya.

 

DAFTAR BACAAN

 

Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Cetakan Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Danim, Sudarwan dan Khairil. 2010. Pengantar Kependidikan. Cetakan Pertama. Bandung : CV. Alfabeta.

Hergenhahn, B.R., dan Matthew H. Olson. 2008. Theories of Learning (Teori Belajar). Edisi Ketujuh. Alih Bahasa: Tri Wibowo B.S. Jakarta: Kencana.

Hilgard, E.R. 1948. Theories of Learning. New York: Appleton Century Crofts.

Kartono, Kartini dan Dali Gulo. 1987. Kamus Psikologi. Cetakan Pertama. Bandung: CV. Pionir Jaya.

Rahyubi, Heri. 2012. Teori-Teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik: Deskripsi dan Tinjauan Kritis. Cetakan I. Bandung: Nusa Media

Snelbecker, Glenn E. 1974. Learning Theory Instructional Theory and Psychoeducation Design. United States of America: McGraw Hill. Ir.

Sudarsono. 1993. Kamus Filsafat dan Psikologi. Cetakan Pertama. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Suryabrata, Sumadi. 2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam