Model Evaluasi Program

MODEL EVALUASI PROGRAM :

(Logic Model & GFE Model)

 

  1. Pengertian Evaluasi Program

Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Ada beberapa pengertian tentang program sendiri. Dalam kamus (a) program adalah rencana, (b) program adalah kegiatan yang dilakukan dengan seksama. Melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan (Suharsimi Arikunto, 1993: 297).

Menurut Tyler (1950) yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009: 5), evaluasi program adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan telah terealisasikan. Selanjutnya menurut Cronbach (1963) dan Stufflebeam (1971) yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009: 5), evaluasi program adalah upaya menyediakan informasi untuk disampaikan kepada pengambil keputusan.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa evaluasi program merupakan proses pengumpulan data atau informasi yang ilmiah yang hasilnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif kebijakan.

  1. Tujuan Evaluasi Program

Menurut Endang Mulyatiningsih (2011: 114-115), evaluasi program dilakukan dengan tujuan untuk :

  1. Menunjukkan sumbangan program terhadap pencapaian tujuan organisasi. Hasil evaluasi ini penting untuk mengembangkan program yang sama ditempat lain.
  2. Mengambil keputusan tentang keberlanjutan sebuah program, apakah program perlu diteruskan, diperbaiki atau dihentikan.

Dilihat dari tujuannya, yaitu ingin mengetahui kondisi sesuatu, maka evaluasi program dapat dikatakan merupakan salah satu bentuk penelitian evaluatif. Oleh karena itu, dalam evaluasi program, pelaksana berfikir dan menentukan langkah bagaimana melaksanakan penelitian.

Menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009:7), terdapat perbedaan yang mencolok antara penelitian dan evaluasi program adalah sebagai berikut:

  1. Dalam kegiatan penelitian, peneliti ingin mengetahui gambaran tentang sesuatu kemudian hasilnya dideskripsikan, sedangkan dalam evaluasi program pelaksanan ingin menetahui seberapa tinggi mutu atau kondisi sesuatu sebagai hasil pelaksanaan program, setelah data yang terkumpul dibandingkan dengan criteria atau standar tertentu.
  2. Dalam kegiatan penelitian, peneliti dituntut oleh rumusan masalah karena ingin mengetahui jawaban dari penelitiannya, sedangkan dalam evaluasi program pelaksanan ingin mengetahui tingkat ketercapaian tujuan program, dan apabila tujuan belum tercapai sebagaimana ditentukan, pelaksanan ingin mengetahui letak kekurangan itu dan apa sebabnya.

Dengan adanya uraian diatas, dapat dikatakan bahwa evaluasi program merupakan penelitian evaluatif. Pada dasarnya penelitian evaluatif dimaksudkan untuk mengetahui akhir dari adanya kebijakan, dalam rangka menentukan rekomendasi atas kebijakan yang lalu, yang pada tujuan akhirnya adalah untuk menentukan kebijakan selanjutnya.

  1. Manfaat Evaluasi Program

Dalam organisasi pendidikan, evaluasi program dapat disamaartikan dengan kegiatan supervisi. Secara singkat, supervisi diartikan sebagai upaya mengadakan peninjauan untuk memberikan pembinaan maka evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang tepat pula.

Jika supervisi di lembaga pendidikan dilakukan dengan objek buku-buku dan pekerjaan clerical work maka evaluasi program dilakukan dengan objek lembaga pendidikan secara keseluruhan. Kebijakan supervisi yang berlangsung saat ini dapat dikatakan sama dengan evaluasi program, tetapi sasarannya ditekankan pada kegiatan pembelajaran.

Berdasarkan pengertian tadi, supervisi sekolah yang diartikan sebagai evaluasi program, dapat disamaartikan dengan validasi lembaga dan akreditasi. Evaluasi program merupakan langkah awal dari proses akreditasi dan validasi lembaga. Evaluasi program pendidikan tidak lain adalah supervisi pendidikan dalam pengertian khusus, tertuju pada lembaga secara keseluruhan.

Kegiatan evaluasi sangat berguna bagi pengambilan keputusan dan kebijakan lanjutan dari program, karena dari masukan hasil evaluasi program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tidak lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan. Wujud dari basil evaluasi adalah sebuah rekomendasi dari evaluator untuk pengambil keputusan (decision maker). Ada empat kemungkinan kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil dalam pelaksanaan sebuah program keputusan, yaitu

  1. Menghentikan program, karena dipandang bahwa program tersebut tidak ada manfaatnya, atau tidak dapat terlaksana sebagaimana diharapkan.
  2. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan (terdapat kesalahan tetapi hanya sedikit).
  3. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan bahwa segala sesuatu sudah berjalan sesuai dengan harapan dan memberikan hasil yang bermanfaat.
  4. Menyebarluaskan program (melaksanakan program di tempat-tempat lain atau mengulangi lagi program di lain waktu), karena program tersebut berhasil dengan balk maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat dan waktu yang lain.
  1. Tujuan dan Sasaran Evaluasi Program
  2. Tujuan Evaluasi Program

Setiap kegiatan yang dilaksanakan mempunyai tujuan tertentu. demikian juga dengan evaluasi. Menurut Suharsimi Arikunto (2004:13) ada dua tujuan evaluasi yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan kepada program secara keseluruhan sedangkan tujuan khusus lebih difokuskan pada masing-masing komponen.

Implementasi program harus senantiasa di evaluasi untuk melihat sejauh mana program tersebut telah berhasil mencapai maksud pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya evaluasi, program-program yang berjalan tidak akan dapat dilihat efektifitasnya. Dengan demikian, kebijakan-kebijakan baru sehubungan dengan program itu tidak akan didukung oleh data. Karenanya, evaluasi program bertujuan untuk menyediakan data dan informasi serta rekomendasi bagi pengambil kebijakan (decision maker) untuk memutuskan apakah akan melanjutkan, memperbaiki atau menghentikan sebuah program

Secara singkat evaluasi program merupakan upaya untuk mengukur ketercapaian program, yaitu mengukur sejauh mana sebuah kebijakan dapat terimplementasikan. Berikut ini beberapa contoh kegiatan sederhana yang merupakan program dan yang bukan program.

  1. Kegiatan membaca, Tujuan kegiatan ini adalah untuk menangkap isi bacaan. Sedangkan tujuan evaluasi kegiatan adalah untuk mengetahui apakah pembaca dapat menangkap isi bacaan yang dibaca.
  2. Program seminar, Tujuan program ini adalah untuk membahas sesuatu topik di dalam forum peserta seminar. Sedangkan tujuan evaluasi program ini adalah untuk mengetahui (melalui pengumpulan data) apakah topik yang diajukan dalam seminar sempat dibahas, dan apakah peserta seminar mempunyai kesempatan untuk membahas topik yang diajukan dalam forum seminar.
  3. Program usaha kesehatan sekolah (UKS), Tujuan program ini adalah untuk mengatasi masalah kesehatan siswa dan personel lain di sekolah yang bersangkutan. Sedangkan tujuan evaluasi programnya adalah untuk mengumpulkan informasi tentang tertanganinya masalah kesehatan di sekolah, antara lain untuk mengetahui apakah Iayanan yang diberikan oleh UKS memuaskan bagi Para siswa dan personel sekolah lainnya.

Dari ketiga contoh di atas, dapat ditentukan mana kegiatan yang merupakan penelitian dan mana yang penelitian tetapi juga sekaligus evaluasi program. Evaluasi program dilakukan dengan cara yang sama dengan penelitian. Jadi, evaluasi program adalah penelitian yang mempunyai ciri khusus, yaitu melihat keterlaksanaan program sebagai realisasi kebijakan, untuk menentukan tindak lanjut dari program dimaksud. Keduanya dimulai dari menentukan sasaran (variabel), membuat kisi-kisi, menyusun instrumen, mengumpulkan data, analisis data, dan mengambil kesimpulan. Yang membedakan adalah langkah akhirnya. Jika kesimpulan penelitian diikuti dengan saran maka evaluasi program selalu harus mengarah pada pengambilan keputusan, sehingga harus diakhiri dengan rekomendasi kepada pengambil keputusan.

Di samping itu berdasarkan aplikasinya secara umun ada dua macam tujuan evaluasi, yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum diarahkan pada program secara keseluruhan, sedangkan tujuan khusus diarahkan pada masing-masing komponen. Agar dapat melakukan tugasnya maka seorang evaluator program dituntut untuk mampu mengenali komponen-­komponen program.

Untuk mempermudah mengidentifikasi tujuan evaluasi program, kita harus memperhatikan unsur-unsur dalam kegiatan atau penggarapannya. Ada tiga unsur penting di dalam kegiatan atau penggarapan suatu kegiatan, yaitu:

  1. what = apa yang digarap
  2. who = siapa yang menggarap, dan
  3. how = bagaimana menggarapnya.
  1. Sasaran Evaluasi Program

Untuk menentukan sasaran evaluasi, evaluator perlu mengenali program dengan baik, terutama komponen-komponennya, karena yang menjadi sasaran evaluasi bukan program secara keseluruhan tetapi komponen atau bagian program. Tujuan umum harus dijabarkan menjadi tujuan khusus maka sasaran evaluator diarahkan pada komponen agar pengamatannya dapat lebih cermat dan data yang dikumpulkan lebih lengkap. Untuk itulah maka evaluator harus memiliki kemampuan mengidentifikasi komponen program yang akan dievaluasi.

  1. Model-model Evaluasi Program

Model-model evaluasi yang satu dengan yang lainnya memang tampak bervariasi, akan tetapi maksud dan tujuannya sama yaitu melakukan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang berkenaan dengan objek yang dievaluasi. Selanjutnya informasi yang terkumpul dapat diberikan kepada pengambil keputusan agar dapat dengan tepat menentukan tindak lanjut tentang program yang sudah dievaluasi.

Menurut Kaufman dan Thomas yang dikutib oleh Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar (2009: 40 ), membedakan model evaluasi menjadi delapan, yaitu:

  1. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler.
  2. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
  3. Formatif Summatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
  4. Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
  5. Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
  6. CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan.
  7. CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam.
  8. Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus.

Dalam makalah yang sederhana ini akan dibahas hanyalah logic model dan Gold Free Evaluation (GFE) Model saja, sebagaimana uraian berikut ini.

  1. Logic Model

Pada Tahun 1960-an telah muncul visualisasi terhadap suatu program telah dilakukan dalam berbagai bentuk seperti bagan proses dan diagram alir. Kemudian tahun 1970-an USAID memperkenalkan konsep Log Frame dan pada tahun 1979 istilah logic model pertama kali muncul pada buku “Evaluation : Promise and Performance” oleh Joseph S. Wholey.

Logic Model dapat diartikan sebagai alat yang telah digunakan selama lebih dari 20 tahun oleh manajer program dan evaluator untuk menggambarkan efektivitas program mereka. Model ini menjelaskan hubungan logis antara sumber daya program, kegiatan, output, dan hasil jangka panjang yang terkait dengan masalah atau situasi tertentu. Setelah program telah dijelaskan dalam hal logic model, langkah-langkah penting kinerja dapat diidentifikasi.

Logic model adalah alat untuk melakukan perencanaan atas program yang akan dilaksanakan. Disamping itu logic model juga dapat digunakan untuk melakukan evaluasi atas program atau kegiatan yang telah selesai maupun yang sedang berjalan serta program yang masih dalam tahap perencanaan (Kellog, 2004).

Logic model yaitu penggambaran narasi atau grafis dari suatu proses dalam kehidupan nyata yang mendasari suatu kegiatan dengan begitu diharapkan untuk mengarah ke hasil yang spesifik. Logic model menggambarkan urutan sebab akibat dan suatu hubungan pendekatan sistem untuk berkomunikasi mencari jalan menuju hasil yang diinginkan. Logic model merupakan teori tentang hubungan sebab-akibat di antara berbagai komponen dari suatu program : sumber daya dan kegiatan-kegiatannya, keluarannya, serta dampak jangka pendek dan hasil jangka panjang (Devine,1999).

Logic model dilakukan dalam tiga tahap yaitu logic model existing, logic model ideal dan logic model rekomendasi. Pada logic model existing diketahui adanya ketidaksesuaian proses pembelajaran yang sedang berlangsung yaitu pada pencapaian outcome. Logic model ideal disusun berdasarkan beberapa referensi yang kemudian diprioritaskan untuk penyusunan logic model rekomendasi. Pada logic model rekomendasi didapatkan outcome yang harus dicapai.

Penyususnan dari logic model mencakup : Menentukan indikator dan sasaran kinerja yang mencakup masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak program ; Hubungan kausal antara indikator-indikator tersebut ; Asumsi yang mengikuti tujuan di setiap tingkatan, yaitu faktor-faktor luar yang tidak dapat dikontrol oleh program itu sendiri, tetapi dapat mempengaruhi tercapainya tujuan program.

Terdapat beberapa komponen dalam logic model , yaitu : Input, yaitu komponen yang diperlukan system ; Process, yaitu komponen dalam sistem yang mengubah input menjadi output ; Output, yaitu komponen yang dihasilkan system ; Outcome, yaitu komponen akibat yang dipengaruhi oleh relasi logis input, process (Frechtling, 2007).

Komponen-komponen Logic Model, menurut Cooksy et al (2001)  mempunyai beberapa alternatif penyajian, yaitu diagram jalur, template program, peta konsep, dan narasi. Menurut Greenfield, Williams, and Eiseman, (2006) Sebuah logic model biasanya disajikan dalam bentuk jalur operasi program secara visual yang sederhana. Terdapat beberapa pendapat tentang komponen dalam logic model. Keragaman komponen logic model disebabkan karena beragamnya asumsi yang dilakukan oleh stakeholder tentang bagaimana program bekerja (Greene, 1993).Logic Model menurut Frecting (2007) memiliki diagram jalur dengan 4 (empat) komponen utama.

Empat komponen dalam logic model adalah: masukan (input), kegiatan (activities), keluaran (outputs), dan Hasil (outcomes). Ke-empat komponen utama dalam Logic Model dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Inputs; Merupakan sumberdaya yang digunakandalam suatu program, biasanya sumberdaya yang ditetapkan berkaitan dengan sumber dana atau dalam bentuk kontribusi. Sumberdaya yang digunakan umumnya berupa waktu, orang, uang, material dan peralatan.
  2. Activities;, Tindakan atau kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu program untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Kegiatan dapat berupa strategi atau metode yang digunakan oleh suatu program atau organisasi untuk mentransformasikan atau menyusun inputs agar menjadi hasil yang diinginkan organisasi atau program. Ellis Salsabila (2013) 100
  3. Outputs; Hasil-hasil langsung dari suatu kegiatan, berupa layanan, kejadian dan produk, dicatat dalam dokumen implementasi dari kegiatan. Biasanya berupa hasil yang terukur, dalam jumlah maupun besaran, dari proses utama dalam suatu organisasi.
  4. Outcomes; Seringdiartikan sebagai hasil guna atau manfaat. Perubahan yang terjadi menunjukkan gerakan terhadap pencapaian tujuan umum dan khusus. Keluaran yang diharapkan berupa prestasi atau perubahan. Pada kasus program pelatihan, outcome biasa dinyatakan sebagai hasil belajar, keahlian atau ketrerampilan. Berbagai organisasi sering merumuskan outcome atau hasil guna dalam kerangka waktu, jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
  1. Goal Free Evaluation (GFE) Model

Model evaluasi ini dikembangkan oleh Michael Scriven tahun 1972, model ini dapat dikatakan berlawanan dengan model pertama yang dikembangkan oleh Tyler. Jika dalam model yang dikembangkan oleh Tyler, evaluator terus-menerus memantau tujuan, yaitu sejak awal proses terus melihat sejauh mana tujuan tersebut sudah dapat dicapai, dalam model goal free evaluation (evaluasi lepas dari tujuan) justru melengah dari tujuan.

Model ini tidak memperhatikan apa yang menjadi tujuan program sebagaimana model goal oriented evaluation. Yang harus diperhatikan justru adalah bagaimana proses pelaksanaan program, dengan jalan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang terjadi selama pelaksanaannya, baik hal-hal yang positif maupun hal-hal yang negatif.

Model GFE maksudnya adalah para evaluator atau penilai mengambil dari berbagai laporan atau catatan pengaruh-pengaruh nyata atau kongkrit dan pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan dalam program pendidikan dan pelatihan. Perhatian khusus diberikan secara tepat terhadap usulan-usuan tujuan dalam evaluasi, tetapi tidak dalam proses atau produk. Keuntungan dari GFE adalah dengan GFE para penilai mengetahui antisipasi pengaruh-pengaruh penting terhadap tujuan dasar dari penilai yang menyimpang.

Ciri – Ciri Evaluasi Bebas Tujuan yaitu :

  1. Evaluator sengaja menghindar untuk mengetahui tujuan program
  2. Tujuan yang telah dirumuskan terlebih dahulu tidak dibenarkan menyempitkan fokus evaluasi
  3. Evaluasi bebas tujuan berfokus pada hasil yang sebenarnya, bukan pada hasil yang direncanakan
  4. Hubungan evaluator dan manajer atau dengan karyawan proyek dibuat seminimal mungkin
  5. Evaluasi menambah kemungkinan ditemukannya dampak yang tidak diramalkan.

Fungsi Goal Free Evaluation adalah :

            Scriven dalam Tujuan Evaluasi Model Gratis (1972) menunjukkan bahwa fokus pada program atau tujuan kegiatan ini dapat menjadi tempat awal yang penting untuk teknolog bekerja dalam domain evaluasi. Scriven (1972) percaya bahwa “tujuan program tertentu tidak harus diambil sebagai yang diberikan”, tapi diperiksa dan dievaluasi juga ( Guskey , 2000).

Model Goal Free berfokus pada hasil yang sebenarnya dari suatu program atau kegiatan, bukan hanya tujuan-tujuan yang teridentifikasi. Jenis model memungkinkan teknolog untuk mengidentifikasi dan mencatat hasil yang tidak mungkin telah diidentifikasi oleh perancang program ( Guskey, 2000). Melalui proses teknik baik terang-terangan dan terselubung, metode ini berusaha untuk mengumpulkan data dalam rangka untuk membentuk deskripsi program, mengidentifikasi proses akurat, dan menentukan pentingnya mereka ke program (Boulmetis & Dutwin , 2005 ). Sementara model ini berfokus pada hasil tanpa goal, model lain berfokus pada proses pengambilan keputusan dan menyediakan administrator kunci dengan analisis mendalam untuk membuat keputusan yang adil dan tidak bias.

Fungsi evaluasi bebas tujuan adalah untuk mengurangi bias dan menambah objektifitas. Dalam evaluasi yang berorientasi pada tujuan, seorang evaluator secara subjektif persepsinya akan membatasi sesuai dengan tujuan. Padahal tujuan pada umumnya hanya formalitas dan jarang menunjukkan tujuan yang sebenarnya dari suatu proyek. Lagipula, banyak hasil program penting yang tidak sesuai dengan tujuan program. Evaluasi bebas tujuan berfokus pada hasil yang sebenarnya bukan pada hasil yang direncanakan.  Dalam evaluasi bebas tujuan ini, memungkinkan evaluator untuk menambah temuan hasil atau dampak yang tidak direncanakan.

Kekurangan dan Kelebihan Goal Free Evaluation dapat diungkap sebagai berikut, Kelebihan dari model bebas tujuan di antaranya adalah:

  1. Evaluator tidak perlu memperhatikan secara rinci setiap komponen, tetapi hanya menekankan pada bagaimana mengurangi prasangka (bias).
  2. Model ini menganggap pengguna sebagai audiens utama. Melalui model ini, Scriven ingin evaluator mengukur kesan yang didapat dari sesuatu program dibandingkan dengan kebutuhan pengguna dan tidak membandingkannya dengan pihak penganjur.
  3. Pengaruh konsep pada masyarakat, bahwa tanpa mengetahui tujuan dari kegiatan yang telah dilakukan, seorang penilai bisa melakukan evaluasi.
  4. Kelebihan lain, dengan munculnya model bebas tujuan yang diajukan oleh scrieven, adalah mendorong pertimbangan setiap kemungkinan pengaruh tidak saja yang direncanakan, tetapi juga dapat diperhatikan sampingan lain yang muncul dari produk.

Walaupun demikian, yang diajukan scrieven ternyata juga memiliki kelemahan seperti berikut :

  1. Model bebas tujuan ini pada umumnya bebas menjawab pertanyaan penting, seperti apa pengaruh yang telah diperhitungkan dalam suatu peristiwa dan bagimana mengidentifikasi  pengaruh tersebut.
  2. Walaupun ide scrieven bebas tujuan bagus untuk membantu kegiatan yang paralel dengan evaluasi atas dasar kejujuran, pada tingkatan praktis scrieven tidak terlalu berhasil dalam menggambarkan bagaimana evaluasi sebaiknya benar-benar dilaksanakan.
  3. Tidak merekomendasikan bagaimana menghasilkan penilaian kebutuhan walau pada akhirnya mengarah pada penilaian kebutuhan.
  4. Diperlukan evaluator yang benar-benar kompeten untuk dapat melaksanakan evaluasi model ini.
  5. Langkah-langkah sistematis yang harus dilakukan dalam evaluasi hanya menekankan pada objek sasaran saja.
  6. Model bebas tujuan merupakan titik evaluasi program, dimana objek yang dievaluasi tidak perlu terkait dengan tujuan dari objek atau subjek tersebut, tetapi langsung kepada implikasi keberadaan program apakah bermanfaat atau tidak objek tersebut atas dasar penilaian kebutuhan yang ada.
  1. Kesimpulan

Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat tingkat keberhasilan program. Ada beberapa pengertian tentang program sendiri. Dalam kamus (a) program adalah rencana, (b) program adalah kegiatan yang dilakukan dengan seksama. Melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan.

Model evaluasi menjadi delapan, yaitu:

  • Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler.
  • Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven.
  • Formatif Summatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven.
  • Countenance Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
  • Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake.
  • CSE-UCLA Evaluation Model, menekankan pada “kapan” evaluasi dilakukan.
  • CIPP Evaluation Model, dikembangkan oleh Stufflebeam.
    • Discrepancy Model, dikembangkan oleh Provus

Logic model adalah alat untuk melakukan perencanaan atas program yang akan dilaksanakan. Disamping itu logic model juga dapat digunakan untuk melakukan evaluasi atas program atau kegiatan yang telah selesai maupun yang sedang berjalan serta program yang masih dalam tahap perencanaan.

Model GFE maksudnya adalah para evaluator atau penilai mengambil dari berbagai laporan atau catatan pengaruh-pengaruh nyata atau kongkrit dan pengaruh-pengaruh yang tidak diinginkan dalam program pendidikan dan pelatihan. Perhatian khusus diberikan secara tepat terhadap usulan-usuan tujuan dalam evaluasi, tetapi tidak dalam proses atau produk. Keuntungan dari GFE adalah dengan GFE para penilai mengetahui antisipasi pengaruh-pengaruh penting terhadap tujuan dasar dari penilai yang menyimpang.

 

DAFTAR PUSTAKA

Allan & Francis, Pearson, Curriculum Foundation, Principles, and Issue Sixth         Edition, Prentice Hall, New Jersey 07632.

Arikunto, Suharsimi dan Safrudin, Cepi, 2009, Evaluasi Program   PendidikanPedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi          Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara

Devine, P. (1999). Using Logic Models in Substance Abuse Treatment Evaluation. Fairfax: Caliber Associates

Frechtling, A. (2007). Logic Modelling Program Evaluation. Hisrich, New York: Mc.Graw Hill

Kellog, WK. (2004). Logic Model Development Guide. Michigan : Battle Creek

Putro Widoyoko, Eko, 2009. Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Pendidik, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Yusuf, A. Muri, 2005, Evaluasi Pendidikan. Pilar Penyedia Informasi dan Kegiatan Pengendalian, Penjaminan serta Penetapan Mutu Pendidikan      Terhadap Berbagai Komponen Pendidikan, Padang: Universitas Negeri             Padang.

Yusuf Tayipnapis, Farida, 2008, Evaluasi Program, Jakarta: Rineka Cipta

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam