Paradigma Filsafat Pendidikan Klasik

PAPER MINGGUAN

Analisis Paradigma (Filsafat, Teori, Praksis dan Praktik) Pendidikan Klasik

 

SEGMEN I

RINGKASAN MATERI

 

Pada periode Yunani kuno perkembangan filsafat sudah menunjukkan kepastian, hal ini ditandai dengan semakin besarnya minat orang terhadap filsafat. Zaman klasik bermula dengan Socrates, tetapi Socrates belum sampai kepada suatu sistem filosofis, yang memberikan nama klasik kepada filosof itu. Sistem ajaran filosofi klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles, berdasarkan ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik beserta folosof alam yang berkembang sebelum Socrates. Plato mencapai titik persatuan dalam filosofi Grik yang selama itu menyatakan perbedaan pandangan. Untuk pertama kali dalam sejarah dunia barat, suatu sistem pandangan yang menyuluhi keseluruhannya dari satu pokok. Sedangkan Aristoteles meneruskan pokok pengertian Plato dan membangun suatu sistem filosofi yang di dalamnya terdapat tempat tersendiri bagi berbagai ilmu.

Sejarah tentang filsafat ini membawa kita untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang pemikiran-pemikiran para filosof terdahulu. Dengan hasrat ingin mengetahui pemikiran tersebut, membawa kita untuk lebih dalam lagi mengkaji tentang pemikiran filosof-filosof itu.

Perlunya mengkaji pemikiran tersebut adalah sebagai sarana untuk merangsang pikiran kita untuk bisa lebih berkembang lagi, dan lebih luas lagi. Dari sekian banyak pemikiran tersebut penulis akan mengangkat tentang pemikiran filosof Plato yakni tentang dunia ide. Pemikiran Plato ini sangat menarik untuk di bahas, karena sebagaimana kita ketahui bahwa Plato dikenal sebagai bapak Filsafat, sehingga penulis dalam tulisan ini akan lebih banyak membahas tentang filosof dan pemikirannya tersebut.

Atas dasar pemikiran Plato inilah yang menjadi latar belakang pembuatan makalah ini, karena sangat menarik untuk dikaji apalagi dengan julukan dia sebagai bapak filsafat dan juga dikenal sebagai filosof pertama kali yang menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam sebuah tulisan atau sebuah buku. Sejarah filosof dari thales sampai socrates belum pernah terdengar bahwa mereka menuangkan pemikiran mereka ke dalam sebuah tulisan, karena mereka lebih bersifat dialektika. Namun, setelah masuk zamannya Plato, kemudian pemikiran-pemikiran filsafat itu pun dibukukan, sehingga ada sebuah pedoman atau bahan untuk generasi berikutnya yang ingin mengkaji tentang pemikiran para filosof terdahulu.

Selanjutnya Aristoteles juga sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau “the master of those who know”, sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.

Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, yang memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada prosesnya.  Isi pendidikan atau bahan pengajaran diambil dari sari ilmu pengetahuan yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli di bidangnya dan disusun secara logis dan sistematis. Misalnya teori fisika, biologi, matematika, bahasa, sejarahdan sebagainya.

SEGMEN II

PEMBAHASAN

 

  1. Analisis Pemikiran Filosofi

Manusia sebagai ciptaan Tuhan yang teristimewa dikarunai kemampuan berpikir yang sekaligus membedakannya dengan ciptaan lainnya. Menarik untuk menyimak dari sejarah mengenai bagaimana kemampuan berpikir manusia terus berkembang dari waktu ke waktu. Pengetahuan semakin bertambah dan apa yang dahulu dianggap mustahil untuk dilakukan, sekarang dapat dilakukan. Ada beberapa tokoh yang dikenal sebagai pemikir di zamannya. Beberapa yang terkenal adalah tiga tokoh yang dikenal dengan sebutan “The Gang of Three” yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat (Western Mind).

  1. Socrates

Socrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato menekankan perlunya untuk selalu mencari “kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Sedangkan Aristoteles, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung, mengembangkan pemikiran ”kategoris” dimana segala sesuatu harus dapat didefinisikan dan dikategorikan.

Socrates adalah seorang filosof dengan coraknya sendiri. . Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir. kebenaran itu tetap dan harus dicari.

Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan, bahwa semuanya relatif dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates juga berpendapat, bahwa dalam mencari kebenaran itu ia tidak memikir sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Sebab itu metodenya disebut maieutik. Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya-jawab sana dan sini, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Kedua-duanya itu bersangkut-paut. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Ia tidak berusaha mencapai dengan contoh dan persamaan, dan diuji pula dengan saksi dan lawan saksi.

  1. Plato

Plato adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia Barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Plato adalah guru dari Aristoteles. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik, yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”.Dia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.

Ajaran Plato tentang etika kurang lebih mengatakan bahwa manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan hidup yang baik, dan hidup yang baik ini dapat dicapai dalam polis. Ia tetap memihak pada cita-cita Yunani Kuno yaitu hidup sebagai manusia serentak juga berarti hidup dalam polis, ia menolak bahwa negara hanya berdasarkan nomos/adat kebiasaan saja dan bukan physis/kodrat. Plato tidak pernah ragu dalam keyakinannya bahwa manusia menurut kodratnya merupakan mahluk sosial, dengan demikian manusia menurut kodratnya hidup dalam polis atau Negara.

Menurut Plato negara terbentuk atas dasar kepentingan yang bersifat ekonomis atau saling membutuhkan antara warganya maka terjadilah suatu spesialisasi bidang pekerjaan, sebab tidak semua orang bisa mengerjakaan semua pekerjaan dalam satu waktu. Polis atau negara ini dimungkinkan adanya perkembangan wilayah karena adanya pertambahan penduduk dan kebutuhanpun bertambah sehingga memungkinkan adanya perang dalam perluasan ini. Dalam menghadapi hal ini maka di setiap negara harus memiliki penjaga-penjaga yang harus dididik khusus.

Ada tiga golongan dalam negara yang baik, yaitu pertama, Golongan Penjaga yang tidak lain adalah para filusuf yang sudah mengetahui “yang baik”dan kepemimpinan dipercayakan pada mereka. Kedua, Pembantu atau Prajurit. Dan ketiga, Golongan pekerja atau petani yang menanggung kehidupan ekonomi bagi seluruh polis. Plato tidak begitu mementingkan adanya undang-undang dasar yang bersifat umum, sebab menurutnya keadaan itu terus berubah-ubah dan peraturan itu sulit disama-ratakan itu semua tergantung masyarakat yang ada di polis tersebut. Adapun negara yang diusulkan oleh Plato berbentuk demokrasi dengan monarkhi, karena jika hanya monarkhi maka akan terlalu banyak kelaliman, dan jika terlalu demokrasi maka akan terlalu banyak kebebasan, sehingga perlu diadakan penggabungan, dan negara ini berdasarkan pada pertanian bukan perdagangan. Hal ini dimaksudkan menghindari nasib yang terjadi di Athena.

Ciri-ciri Karya-karya Plato

  • Bersifat Sokratik

Dalam Karya-karya yang ditulis pada masa mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan karangan Sokrates sebagai topik utama karangannya

  • Berbentuk dialog

Hampir semua karya Plato ditulis dalam nada dialog. Plato berpendapat bahwa pena dan tinta membekukan pemikiran sejati yang ditulis dalam huruf-huruf yang membisu. Oleh karena itu, menurutnya, jika pemikiran itu perlu dituliskan, maka yang paling cocok adalah tulisan yang berbentuk dialog.

  • Adanya mite-mite

Plato menggunakan mite-mite untuk menjelaskan ajarannya yang abstrak dan di duniawi

Verhaak menggolongkan tulisan Plato ke dalam karya sastra bukan ke dalam karya ilmiah yang sistematis karena dua ciri yang terakhir, yakni dalam tulisannya terkandung mite-mite dan berbentuk dialog.

Pandangan Plato tentang Ide-ide, Dunia Ide dan Dunia Indrawi

  • Idea-idea

Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pandangannya mengenai idea. Pandangan Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Sokrates tentang definisi. Idea yang dimaksud oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Orang-orang modern berpendapat ide adalah gagasan atau tanggapan yang ada di dalam pemikiran saja. Menurut Plato idea tidak diciptakan oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah. Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang “indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada.

  • Dunia Indrawi

Dunia indrawi adalah dunia yang mencakup benda-benda jasmani yang konkret, yang dapat dirasakan oleh panca indera kita. Dunia indrawi ini tiada lain hanyalah refleksi atau bayangan dari pada dunia ideal. Selalu terjadi perubahan dalam dunia indrawi ini. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia jasmani ini fana, dapat rusak, dan dapat mati.

  • Dunia Idea

Dunia idea adalah dunia yang hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna. Hal ini tidak hanya merujuk kepada barang-barang kasar yang bisa dipegang saja, tetapi juga mengenai konsep-konsep pikiran, hasil buah intelektual. Misalkan saja konsep mengenai “kebajikan” dan “kebenaran”.

Pandangan Plato tentang Karya Seni dan Keindahan

  • Pandangan Plato tentang Karya Seni

Pandangan Plato tentang karya seni dipengaruhi oleh pandangannya tentang ide. Sikapnya terhadap karya seni sangat jelas dalam bukunya Politeia (Republik). Plato memandang negatif karya seni. Ia menilai karya seni sebagai mimesis mimesos. Menurut Plato, karya seni hanyalah tiruan dari realita yang ada. Realita yang ada adalah tiruan (mimesis) dari yang asli. Yang asli itu adalah yang terdapat dalam ide. Ide jauh lebih unggul, lebih baik, dan lebih indah daripada yang nyata ini.

  • Pandangan Plato tentang Keindahan

Pemahaman Plato tentang keindahan yang dipengaruhi pemahaman-nya tentang dunia indrawi, yang terdapat dalam Philebus. Plato berpendapat bahwa keindahan yang sesungguhnya terletak pada dunia ide.Ia berpendapat bahwa kesederhanaan adalah ciri khas dari keindahan, baik dalam alam semesta maupun dalam karya seni. Namun tetap saja keindahan yang ada di dalam alam semesta ini hanyalah keindahan semu dan merupakan keindahan pada tingkatan yang lebih rendah.

  1. Aristoteles

Aristoteles adalah murid Plato. Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang metafisika, fisika, etika, politik, kedokteran dan ilmu alam.

Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisa kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam. Plato menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, sedangkan Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Selanjutnya ia menyatakan bahwa bentuk materi yang sempurna, murni atau bentuk akhir, adalah apa yang dinyatakannya sebagai theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.

Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).

Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarkhi. Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti fisika, astronomi, biologi, psikologi, metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.

Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense explanation), banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun lamanya. Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut karena dianggap masuk akal dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut salah total karena didasarkan pada asumsi-asumsi yang keliru.

Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas pada abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau “the master of those who know”, sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.

Pemikiran kefilsafatan memiliki ciri-ciri khas (karateristik) tertentu, sebagian besar filosof berbeda pendapat mengenai karateristik pemikiran kefilsafatan. Apabila perbedaan pendapat tersebut dipahami secara teliti dan mendalam, maka karateristik pemikiran kefilsafatan tersebut terdiri dari:

Menurut Aristoteles tujuan tertinggi yang dicapai ialah kebahagiaan (eudaimonia). Kebahagiaan ini bukan kebahagiaan yang subjektif, tetapi suatu keadaan yang sedemikian rupa, sehingga segala sesuatu yang termasuk keadaan bahagia itu terdapat pada manusia. Tujuan yang dikejar adalah demi kepentingan diri sendiri, bukan demi kepentingan orang lain. Isi kebahagiaan tiap makhluk yang berbuat ialah, bahwa perbuatan sendiri bersifatnya khusus itu disempurnakan. Jadi kebahagiaan manusia terletak disini, bahwa aktifitas yang khas miliknya sebagai manusia itu disempurnakan. Padahal ciri khas manusia ialah bahwa ia adalah makhluk rasional. Jadi puncak perbuatan kesusilaan manusia terletak dalam perkiraan murni. Kebahagiaan manusia yang tertinggi, yang dikejar oleh tiap manusia ialah berpikir murni. Tetapi puncak itu hanya dicapai oleh para dewa, manusia hanya dapat mencoba mendekatinya dengan mengatur keinginannya.

Aristoteles menegaskan bahwa ada dua cara untuk mendapatkan kesimpulan demi memperoleh pengetahuan dan kebenaran baru, yaitu metode rasional-deduktif dan metode empiris-induktif. Dalam metode rasional-deduktif dari premis dua pernyataan yang benar, dibuat konklusi yang berupa pernyataan ketiga yang mengandung unsur-unsur dalam kedua premis itu. Inilah silogisme, yang merupakan fondasi penting dalam logika, yaitu cabang filsafat yang secara khusus menguji keabsahan cara berfikir.

Dalam metode empiris-induktif pengamatan-pengamatan indrawi yang sifatnya partikular dipakai sebagai basis untuk berabstraksi menyusun pernyataan yang berlaku universal.

Aristoteles mengandalkan pengamatan inderawi sebagai basis untuk mencapai pengetahuan yang sempurna. Itu berbeda dari Plato. Berbeda dari Plato pula, Aristoteles menolak dualisme tentang manusia dan memilih “hylemorfisme”: apa saja yang dijumpai di dunia secara terpadu merupakan pengejawantahan material “hyle”  sana-sini dari bentuk “morphe” yang sama. Bentuk memberi aktualitas atas materi (atau substansi) dalam individu yang bersangkutan. Materi (substansi) memberi kemungkinan “dynamis”, Latin: “potentia”) untuk pengejawantahan (aktualitas) bentuk dalam setiap individu dengan cara berbeda-beda. Maka ada banyak individu yang berbeda-beda dalam jenis yang sama. Pertentangan Herakleitos dan Parmendides diatasi dengan menekankan kesatuan dasar antara kedua gejala yang “tetap” dan yang “berubah”.

Dalam konteks ini dapat dimengerti bila Aristoteles ada pada pandangan bahwa wanita adalah “pria yang belum lengkap”. Dalam reproduksi, wanita bersifat pasif dan reseptif, sedang pria aktif dan produktif. Semua sifat yang aktual ada pada anak potensial terkumpul lengkap dalam sperma pria. Wanita adalah “ladang”, yang menerima dan menumbuhkan benih, sementara pria adalah “yang menanam”. Dalam bahasa filsafat Aristoteles, pria menyediakan “bentuk”, sedang wanita menyumbangkan “substansi”.

 Perbandingan Pemikiran Plato dan Aristoteles Tentang Jiwa dan Raga. Menurut Plato manusia memiliki tiga elemen dalam jiwa:

  • Pertama adalah kemampuan menggunakan bahasa dan berfikir.
  • Elemen raga tubuh dalam bentuk nafsu badaniah, hasrat dan kebutuhan.
  • Elemen rohaniah/kehendak bisa dilihat dengan adanya emosi seperti kemarahan, sindiran, ambisi, kebanggaan dan kehormatan.

Elemen paling tinggi menurut Plato adalah berikir (akal) dan terendah nafsu badaniah (Lavine.2003;73-74)

Jiwa menurut pandangan Plato, tidak dapat mati karena merupakan sesuatu yang adikodrati berasal dari dunia ide. Meski kelihatan bahwa jiwa dan tubuh saling bersatu, tetapi jiwa dan tubuh adalah kenyataan yang harus dibedakan. Tubuh memenjarakan jiwa, oleh karenanya jiwa harus dilepaskan dari tubuh dengan dua macam cara yaitu pertama dengan kematian dan kedua dengan pengetahuan. Jiwa yang terlepas dari ikatan tubuh bisa menikmati kebahagiaan melihat ide karena selama ini ide teseut dikat oleh tubuh dengan keinginan atau nafsu badaniah sehingga menutup penglihatan tehadap ide (Hardiwijono, 2005:42)

Aristoteles meninggalkan ajaran dualisme Plato tentang jiwa dan tubuh. Plato berpendapat bahwa jiwa itu bersifat kekal,tetapi Aristoteles tidak. Menrut  Aristoteles, jiwa dan tubuh ibarat bentuk dan materi. Jiwa adalah bentuk dan tubuh adalah materi. Jiwa merupakan asas hidup yang menjadikan tubuh memiliki kehidupan. Jiwa adalah penggrak tubuh, kehendak jiwa menentukan perbuatan dan tujuan yang akan dicapai (Hadiwijono, 2005:51). Secara spesifik jiwa adalah pengendali atas reproduksi, pergerakan dan persepsi. Aristoteles mengibaratkan jiwa dan tubuh bagaikan kampak. Jika kampak adalah benda hidup, maka tubuhya adalah kayu atau metal, sedangkan jiwanya adalah kemampuan untuk membelah dan segala kemampuan yang membuat tubuh tersebut disebut kampak. Sebuah kampak tidak bisa disebut kampak apabila tidak bisa memotong, melainkan hanya seonggok kayu atau metal.

 

 

 

  1. Teori Pendidikan Klasik
    1. Teori Classical Conditionins

Tokoh yang mengemukakan teori ini adalah Ivan Petrovich Pavlov, warga Rusia yang hidup pada tahun 1849-1936. Teorinya adalah tentang conditioned reflects. Pavlov mengadakan penelitian secara intensif mengenai kelenjar ludah. Penelitian yang dilakukan Pavlov menggunakan anjing sebagai objeknya. Anjing diberi stimulus dengan makanan dan isyarat bunyi, dengan asumsi bahwa suatu ketika anjing akan merespons stimulan berdasarkan kebiasaan.

Ketika akan makan, anjing mengeluarkan liur sebagai isyarat dia siap makan. Percobaan itu diulang berkali-kali, dan pada akhirnya percobaan dilakukan dengan memberi bunyi saja tanpa diberi makanan. Hasilnya, anjing tetap mengeluarkan liur dengan anggapan bahwa di balik bunyi itu ada makanan. Lewat penemuannya, Pavlov meletakkan dasar behaviorisme sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi berbagai penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan teori-teori belajar.

  1. Prinsip belajar menurut Pavlov
  2. Belajar adalah pembentukan kebiasaan dengan cara menghubungkan/mempertautkan antara perangsang (stimulus) yang lebih kurang dengan perangsang yang lebih lemah.
  3. Proses belajar terjadi apabila ada interaksi antara organisme dengan lingkungan.
  4. Belajar adalah membuat perubahan-perubahan pada organisme/ individu.
  5. Setiap perangsang akan menimbulkan aktivitas otak.
  6. Semua aktivitas susunan saraf pusat diatur oleh eksitasi dan inhibitasi.

Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, yang memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada prosesnya.  Isi pendidikan atau bahan pengajaran diambil dari sari ilmu pengetahuan yang telah ditemukan dan dikembangkan oleh para ahli di bidangnya dan disusun secara logis dan sistematis. Misalnya teori fisika, biologi, matematika, bahasa, sejarah dan sebagainya.

Perbedaan padangan tentang faktor dominan dalam perkembangan manusia tersebut menjadi dasar perbedaan pendangan tentang peran pendidikan terhadap manusia, mulai dari yang paling pesimis sampai yang paling optimis.  Aliran-aliran itu pada umumnya mengemukakan satu faktor dominan tertentu saja dan dengan demikian suatu aliran dalam pendidikan akan mengajukan gagasan  untuk mengoptimalkan faktor tersebut untuk mengembangkan manusia.

Teori-teori yang terdapat dalam ilmu pendidikan dilahirkan oleh 4 aliran yang berbeda, yaitu:

  • Aliran Empirisme
  • Aliran Nativisme
  • Aliran Naturalisme
  • Aliran Konvergensi

 Aliran Empiris

Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi ekternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan bahwa perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari di dapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir kedua bagaikan kertas putih yang bersih.

Aliran empirisme dipandang berat sebelah, sebab hanya mementingkan peranan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir dianggap tidak menentukan. Pada hal kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari terdapat anak yang berhasil karena bakat, meskipun lingkungan disekitarnya tidak mendukung.

Aliran Nativisme

Aliran Nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan, termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak lahir.

Pada hakekatnya aliran nativisme bersumber dari Leibnitzian tradition yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak, oleh karena itu faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetik dari kedua orang tua. Seorang filsuf Jerman Schopenhauer (1788-1860) berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah lengkap dengan pembawaan baik ataupun buruk.

Aliran Konvergensi

Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan ke dunia ini sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk.  Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.  Bakat yang dibawa pada waktu anak dilahirkan tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang baik sesuai dengan perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak dapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu.

 

 

SEGMEN III

TANGGAPAN

 

Dari uraian pada bahasan di atas, penulis akan mencoba mengkaitkan antara pemikiran para filsuf dengan teori-teori pendidikan. Hal ini, dikarenakan terdapat kaitan yang sangat erat antara filsafat dengan pendidikan, karena filsafat mencoba merumuskan citra tentang manusia dan masyarakatnya, sementara pendidikan berusaha mewujudkan citra tersebut. Filsafat pendidikan berusaha menjawab secara kritis dan mendasar berbagai pertanyaan pokok sekitar pendidikan, seperti apa, mengapa, kemana, bagaimana, dsb. Aliran-aliran filsafat pada gilirannya melahirkan filsafat-filsafat pendidikan seperti: (1) Idealisme, (2) Realism, (3) Perenialisme, (4) Essensialisme, (5) Pragmatism, (6) Progresivisme, (7) Eksistensialisme. Walaupun demikian kita mempunyai filsafat pendidikan nasional tersendiri yaitu Pancasila.

Idealisme menegaskan bahwa hakikat kenyataan adalah ide sebagai gagasan kejiwaan. Menurutnya apa yang dianggap kebenaran realitas hanyalah bayangan atau refleksi dari ide sebagai kebenaran yang bersifat mental. Variasi dari aliran ini di antaranya:  (1)  Spiritualisme, (2) Rasionalisme, (3) Neo-kantianisme.

Dalam konteks  idealisme ini bahwa penekanan pendidikan merupakan kegiatan intelektual untuk membangkitkan ide yag masih laten antara lain melalui instropeksi dan Tanya jawab. Karena itu lembaga pendidikan/sekolah harus berfungsi membantu siswa mencari dan menemukan kebenaran, keindahan, dan kehidupan yang teratur.

Tujuan pendidikan adalah untuk membantu perkembangan pikiran dan diri pribadi siswa. Paham dari aliran idealisme dapat dicontohkan dimana Kurikulum yang akan diselanggarakan di sekolah berisikan pendidikan liberal dan vokasional/praktis. Selanjutnya metode pembelajaran harus berupa struktur dan atmosfir yang memberi kesempatan siswa untuk berfikir.

Naturalisme merupakan aliran filsafat  yang mengangap segala kenyataan yang bisa ditangkap oleh panca indera sebagai kebenaran yang sebenarnya. Variasi dari aliran ini diantaranya :

  1. Realism
  2. Materialism
  3. Positivism/neopositivisme

Realisme menekankan adanya pengakuan adanya kenyataan hakiki yang objektif; tujuan pendidikan agar para siswa bertahan hidup di dunia yang bersifat alamiah dan memperoleh keamanan dan hidup bahagia. Kurikulum sebaiknya meliputi :

  1. Sains/IPA dan matematika
  2. Ilmu kemanusiaan dan ilmu sosial
  3. Nilai-nilai

Metode pendidikan berupa pembiasaan dan metode mengajar bersifat otoriter.

Positivism mengemukakan bahwa jika sesuatu disebut ada maka sesuatu itu harus dapat diamati dan diukur karena Positivism sangat mengutamakan ilmiah.

Pragmatisme  merupakan aliran filsafat yang mengemukakan bahwa segala sesuatu harus dinilai dari segi nilai kegunaan praktis. Pendidikan yaitu suatu proses eksperimental dan metode mengajar yang penting berupa pemecahan masalah.  Tujuan pendidikan harus mengajarkan seseorang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Metode nya berupa pemecahan masalah, penyelidikan dan penemuan. Kurikulummya berbasis masyarakatm lahan praktek cita-cita demokratis.

Konstruktivisme lebih menekankan pada perkembangan konsep pengertian yang mendalam sebagai hasil konstruksi aktif si pelajar dalam tujuan pendidikannya. Krurikulumnya berupa program aktivitas antara pengetahuan dan keterampilan.

Pancasila  memandang tujuan pendidikan seyogyanya untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Kurikulum disesuaikan dengan jenjang pendidikan, dan menggunakan metode-metode pilihan yang disesuaikan. Orientasi pendidikan ditujukan untuk fungsi konservasi dan juga fungsi kreasi.

Tujuan pendidikan klasik dapat dirangkum oleh satu kata Latin: humanitas, yang artinya kemanusiaan. Pendidikan klasik bertujuan untuk memperkembangkan potensi manusia dalam setiap kelimpahan aspeknya sehingga dapat berkontribusi terhadap perkembangan kebudayaan manusia di dalam sejarah. Cicero, seorang orator Romawi dan pendidik besar di Republik Roma, mengatakan, “Kita semua disebut ‘manusia’, tetapi hanyalah yang telah terdidik melalui pembelajaran peradaban manusia yang selayaknya disebut ‘manusia’. Tujuan pendidikan klasik ini juga ditekankan oleh Erasmus, seorang humanis Kristen di zaman Renaissance yang menjadi sumber inspirasi bagi Luther dan Calvin. Ia berkata, “Adalah satu hal yang tidak terbantahkan bahwa seorang manusia yang tidak terdidik akal budinya melalui filsafat dan pembelajaran yang sehat adalah satu makhluk yang lebih rendah daripada binatang, karena tidak ada binatang yang lebih liar atau berbahaya dibandingkan dengan seorang manusia yang diombang-ambingkan ke sana ke mari oleh ambisi, nafsu, kemarahan, iri hati, atau watak yang liar”

Kita tentu sering mendengar kalimat: “Kamu harus sekolah, supaya bisa jadi orang.” Frasa “jadi orang” ini memiliki berbagai macam penafsiran. Kebanyakan orang menafsirkan frasa “jadi orang” dari perspektif kesuksesan finansial: “Kamu harus sekolah, supaya nanti bisa bekerja dan dapat uang banyak.” Jadi, menurut interpretasi ini, jika kita tidak bisa meraih kesuksesan finansial, kita tidak layak disebut manusia. Namun frasa “menjadi manusia” diartikan secara lain oleh para pendidik dalam tradisi pendidikan klasik. Teori pendidikan klasik berkata bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk memperkembangkan dirinya menuju keutuhan kemanusiaannya.

Di dalam penekanannya akan pengembangan potensi individual melalui pembelajaran kebudayaan manusia, pendidikan klasik tidak mengenal dikotomi antara individu dan komunitas. Individu hanya dapat berkembang secara penuh di dalam komunitas, dan komunitas berkembang ketika individu berkembang. Hal ini sangat bertentangan dengan semangat individualisme modern yang menempatkan individu ke dalam sistem kompetisi di komunitasnya. Dalam pendidikan klasik, perkembangan individu dan perkembangan komunitas berjalan secara harmonis. Humanitas adalah kesempurnaan kemanusiaan di dalam satu individu yang mengakibatkan kepada kemajuan kebudayaan di dalam komunitasnya.

Aplikasi dari pemikiran filosofi dan teori pendidikan klasik di atas tentunya amat perlu diwujudkan dalam praktek pendidikan saat ini.

Pendidik ideal hendaknya jangan hanya menyampaikan pelajaran di kelas tanpa memperhatikan sikap dan prilaku anak didiknya. Bahkan ada guru yang terhadap dirinya sendiri tidak peduli, sehingga tidak patut diteladani. Guru ini hanya peduli pada kemampuan intelektual. Ada juga, di samping mengajar karena memiliki kompetensi intelektual, juga perhatian terhadap sikap dan perilaku anak didiknya. Ia sadar, sebagai guru yang layak di gugu dan ditiru. Guru ini memiliki kemampuan moral. Ada guru yang lebih baik lagi. Di samping berprilaku seperti yang kedua, juga mau berkorban waktu dan tenaganya bahkan sebagai harta untuk keberhasilan anak didiknya, karena dia memiliki kemampuan sosial. Ada juga yang memiliki lebih dari itu, yaitu guru ideal yang berciri sebagaimana di atas ditambah keikhlasan berdoa, dan berkorban untuk anak didiknya agar tidak saja berhasil dalam menuntut ilmu tapi juga menjadi anak yang saleh dan memiliki ilmu yang bermanfaat. Terhadap muridnya, dia bersikap sebagaimana kepada anak kandungnya sendiri. Dia guru yang memiliki kemampuan spiritual. Pendidikan ideal adalah yang memiliki empat kompetensi sebagaimana di atas (intelektual, moral, sosial, dan spiritual).

Ini adalah sikap dan perilaku pendidik yang luar biasa. Dapat dibayangkan betapa besar tanggung jawab guru terhadap pendidikan muridnya. Secara lahir ia mengajar dengan profesional dan secara batin dia berdoa, sanggup berkorban untuk keberhasilan muridnya, dan pantang menyerah karena tidak rela anak didiknya yang dihayati sebagai anak kandungnya gagal. Selanjutnya mendidik tidak karena motif materi (upah), walaupun materi harus didapat melalui sistem tertentu, tapi karena tugas dan tanggung jawab. Materi harus diperoleh berdasarkan sistem yang dibangun, diantaranya dari komitmen antara lembaga dan orangtua, masyarakat, pemerintah dan sebagainya. Ini agar materi dapat diperoleh secara otomatis, sedangkan guru dengan murid hanya berhubungan secara akademik, tanpa disibukkan urusan materi agar keikhlasan terjaga. “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat” (Q.S. Asy-Syura/42:20). Tidak meninggalkan nasihat pada muridnya bahwa keberhasilan menuntut ilmu adalah kebahagian dunia dan akhirat secara integral. Ini sejalan dengan prinsip tujuan hidup sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”(Q.S. Al-Baqarah/2:201).

 

SEGMEN IV

KESIMPULAN

 

Dari beberapa filsuf yang ada di dunia, tiga tokoh yang menjadi filsuf  terkenal dengan sebutan “The Gang of Three” yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga orang inilah yang dianggap berperan besar dalam membentuk pola pikir barat (Western Mind).

  1. Socrates

Socrates menekankan pentingnya argumentasi dan pemikiran kritis dalam berpikir. Plato memandang perlunya untuk selalu mencari “kebenaran” dan mempertahankan pemikiran kritis. Socrates adalah seorang filosof dengan coraknya sendiri. . Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia malah tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang berdasarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia mencari kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir. kebenaran itu tetap dan harus dicari.

  1. Plato

Plato adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia Barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Plato banyak dipengaruhi oleh Socrates. Karyanya yang paling terkenal ialah Republik, yang di dalamnya berisi uraian garis besar pandangannya pada keadaan “ideal”. Dia juga menulis ‘Hukum’ dan banyak dialog di mana Socrates adalah peserta utama.

  1. Aristoteles

Aristoteles adalah murid Plato. Filsafat Aristoteles berkembang pada waktu ia memimpin Lyceum, yang mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika. Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis). Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).

  

DAFTAR PUSTAKA

 

Achmadi Asmoro, 2003, Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Betrand Russel.2002. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang (alih Bahasa Sigit jatmiko, dkk) . Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Hadiwijono Harun “sari sejarah filsafat barat” Yogyakarta, KANISIUS,1980

Jerome R. Ravertz, Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, 2004, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, 2005, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Khun, Thomas S., (19..), The Structure of scientific Revolution (Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, Terjemahan), Remaja Rosdakarya, Bandung.Lavine. 2002, Petualangan filsafat dari socrates ke Sartre.Yogyakarta: Penerbit Jendela,

Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka

Nurani Soyomukti. 2010. Teori-Teori Pendidikan: Tradisional, (Neo) Liberal, Marxis-Sosialis, Postmodern. Ar-ruzzmedia, Yogyakarta. Cetakan: I,

Russell Bertrand. 2002Sejarah filsafat Barat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Surya, Muhammad. 2004 Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Syah, Muhibbin. 2008 Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Cet-13. Bandung. Rosdakarya.

S, Nasution. 2004.  Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta. Bumi Aksara. Cet-3

 

 

 

 

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam