Perjuangan & Pemikiran Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

PERJUANGAN DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN

KI HADJAR DEWANTARA

 

Pendahuluan

Suwardi Suryaningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Ayahnya bernama Kanjeng Pangeran Harjo Surjaningrat, putra Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Hardjo Surjosasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam III Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Pernah ia di buang ke negeri Belanda oleh pemerintah Belanda dari tanggal 6 September 1913 sampai dengan 5 September 1919, karena kritik pedasnya pada pemerintah Hindia Belanda saat itu. Karena pengabdian dan prestasinya yang besar dalam bidang pendidikan, beliau menjadi menteri pendidikan Indonesia yang pertama pada tahun 1956 di era pemerintahan Soekarno. Beliau wafat pada tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan dengan pemakaman negara secara militer serta diangkat menjadi Perwira Tinggi oleh pemerintah. Beliau kini dikenang sebagai Bapak Pendidikan bangsa Indonesia. Dan pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan hari lahirnya, tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Sejarah Ringkas Perjuangan KI Hadjar Dewantara

Ki Hadjar dewantara memulai karier perjuangan di lapangan jurnalistik yang dipergunakan sebagai alat memberikan pendidikan politik kepada rakyat melalui tulisan-tulisannya yang berisi cita-cita perjuangnya, di harian Sedyo Utomo di Jakarta sebagaii pembantu, harian bahasa Belanda “Middenjava” di Semarang. Kemudian pindah ke Bandung menjadi Koresponden “De Expres” pimpinan Dowesdekker. Harian De Expres dan majalah Het Tijdschrif di Bandung pimpinan Dowesdekker menjadi pelopor lahirnya partai politik “Indschepartji” yang merupakan partai politik pertama yang tujuannya adalah Indonesia merdeka yang berdaulat, demokrasi serta kewarganegaraannya yang tidak membedakan asal kebangsaannya, asal mengakui Indonesia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Pada tahun 1913 partai ini dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda karena memberikan kritikan tajam terhadap kebijaksanaan pemerintah Kolonial Belanda pada peristiwa “Peringatan 100 Tahun Kemerdekaan Negeri Belanda dari Penjajahan Perancis Napoleon” pada tanggal 13 November 1913 dengan mewajibkan semua rakyat Indonesia turut merayakannya dan membiayainya dengan sokongan dari rakyat. Hal itu dirasa tidak sangat pantas. Oleh karena itu, Ki Hadjar Dewantara bersama dokter Cipto Mangunkusumo pada permulaan Juli 1913, membentuk “Commite tot herdenking van Nederland Honderjarige Vrijheid” (panitia peringatan 100 tahun kemerdekaan Nederland yang disingkat “Komisi Bumiputera”), yang bermaksud menyatakan isi hati memprotes adanya perayaan kemerdekaan tersebut. Brosur protes yang dikeluarkan oleh Ki Hadjar Dewantara berjudul “als ik eens Nederlander was” atau seandainya aku seorang Belanda, yang pada intinya memprotes terhadap turut sertanya rakyat bumiputera yang dijajah merayakan kemerdekaan Negeri Belanda yang menjajahnya. Karena sangat tidak pantas.

Akibat perbuatannya tersebut, Ki Hadjar Dewantara dengan keluarga hidup di pengasingan, hidupnya disana sangatlah susah karena tidak mendapat bantuan dari pemerintah Belanda dengan alasan tidak menuruti putusan pembuangan ke Bangka. Beliau menjadi redaktur majalah “Hindia Putera”, Yaitu majalah resmi “Indische Vereeniging”. Dan majalah De Indier dari Indische Partij. Serta terus membantu surat kabar di Indonesia. Selama di Negeri Belanda, Ki Hadjar Dewantara memperdalam Ilmu pendidikan melalui kursus-kursus tertulis dan kursus-kursus malam, sehingga mendapat akte guru dalam bidang jurnalistik, ia memperdalam pengetahuannya dari S. de Roode, pemimpin surat kabar “De Nieuwe Groene” dalam seni drama belajar dari ahli seni Herman Kloppers. Sesudah empat tahun kurang satu hari, pada tanggal 17 Agustus 1917, putusan hukuman pembuangan Ki Hadjar Dewantara dicabut, dan boleh kembali ke tanah air sebagai orang bebas. Setelah pulang dari pembuangan,

Ki Hadjar Dewantara kembali berjuang. Karena pidato dan tulisan-tulisannya yang tajam melancarkan kritikan terhadap pemerintahan Kolonial Belanda, maka Ki Hadjar Dewantara dihukum dua kali, di Semarang, pertama enam bulan dan kedua tiga bulan satu setengah tahun di Semarang, kemudia pada tahun 1921 pindah ke Yogyakarta. Oleh pejuang politik dan ahli kebatinan yang bergabung dalam “sarasehan slasa Kliwon” di Jogjakarta, yang terdiri atas R.M Sutatmo Suryokusumo dan Ki Hadjar Dewantara, dibahas cara-cara memperjuangkan kemerdekaan perjuangan-perjuangan harus didasari oleh jiwa merdeka dan jiwa rasional dari bangsa, dan untuk itu harus dimulai sejak dari anak-anak. Syaratnya adalah pendidikan nasional dan pendidikan merdeka, yang akan dapat memberi bekal kuat untuk perjuangan kemerdekaan nasional. maka diputuskanlah bahwa Ki Hadjar Dewantara, Sutatmo Suryokusumo, Pronodigdo, Suryoputro bertugas di lapangan pendidikan anak-anak, Ki Ageng Suryomataram dan kawan-kawannya bertugas di lapangan pendidikan orangtua dengan melaiui gerakan kebatinan yang disebut “Ngelmu Begjo”, yang bercita-citakan kebahagiaan manusia dan perdamaian dunia. Langkah awal dimulai oleh Douwes Dekker yang pada tahun 1920 mendirikan “Ksatriaan Institut” di Bandung, sebuah sekolah ekonomi, atas dasar pertimbangan bahwa lapangan pendidikan ekonomi merupakan salah satu bidang yang sangat penting dalam perjuangan nasional Indonesia yang masih kurang mendapat perhatian. Setelah mempunyai pengalaman di perguruan “Adhidarmo” milik R.M Suryopranoto, kakaknya yang terkenal sebagai raja pemogokan, Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 3 Juli 1922, mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Jogyakarta. Sejak saat itu sampai akhir hayatnya 26 April 1959, Ki Hadjar Dewantara memelihara dan mengasuh Taman Siswa. Selama itu, Ki Hadjar Dewantara antara lain harus melawan “Wilde Scholen Ordonantie” (Ordonansi Sekolah Luar) yang sedianya akan diberlakukan mulai 10 Oktober 1932. Dengan keberanian dan penuh tanggung jawab, Ki Hadjar Dewantara pada tanggal 1 Oktober 1932 mengirim telegram penolakan kepada Gubenur Jenderal, yang menyatakan apabila ordonanssi tersebut jadi dilaksanakan, Taman Siswa akan mengadakan perlawanan terus dengan cara tenaga dalam yang pada waktu itu terkenal dengan Lijdelijk verzet, membangkang tidak mengakui sahnya undang-undang Kolonial yang akan dipaksakan tersebut. Akhirnya ordonansi tersebut dicabut.

Pendidikan yang Dilalui KI Hadjar Dewantara

Sejak kecil Ki Hadjar Dewantara sudah dididik dalam suasana religius dan dilatih untuk mendalami soal-soal kesasteraan dan kesenian Jawa. Sejak kecil pula dia dilatih untuk hidup sederhana. Keterbatasan materil yang dialami keluarganya, tidak menyurutkan semangat belajarnya. Meskipun ia hanya masuk ke Sekolah Dasar Belanda III (ELS), ia tetap bersemangat menuntut ilmu.

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kehidupan Ki Hadjar Dewantara tidak berbeda jauh dari kehidupan anak-anak lainnya. Dia juga sering berkelahi dengan anak-anak sekolah dari keturunan Ambon dan Ondo Belanda. Ia terpaksa berkelahi dengan rekan-rekan seperjuangannya itu karena mereka menghina dirinya.

Setelah Tamat Sekolah Dasar III Belanda pada tahun 1904, Ki Hadjar mengalami kebingungan untuk meneruskan sekolahnya. Ia tidak hanya bingung karena masalah siapa yang membiayai sekolahnya, tapi juga kemana ia harus meneruskan sekolahnya. Maklum, keluarganya tidak cukup berada dibandingkan kerabat Pakualaman yang lain. Selain itu, ayah Ki Hadjar yang cacat netra sejak lahir juga merupakan suatu alasan tersendiri bagi masalah pendidikannya. Ki Hadjar memang sempat masuk sekolah guru di Yogyakarta, tapi tidak sampai tamat.

Semasanya menempuh sekolah guru, datanglah tawaran sekolah (beasiswa) untuk menjadi dokter jawa dari dokter Wahidin Sudiro Husodo. Kala itu dokter Wahidin sengaja bertandang ke Pakualaman. Ia menanyakan siapa diantara putra-putra yang mau masuk sekolah dokter jawa. Kesempatan itu dengan segera diterima Ki Hadjar.

Ki Hadjar menempuh sekolah dokter jawa (STOVIA) selama kurang lebih lima tahun (1905-1910). Namun, ia tidak berhasil menamatkan sekolahnya lantaran sakit selama empat bulan. Selama sakit Ki Hadjar tentu tidak dapat belajar dengan baik sehingga ia tidak naik kelas. Akibatnya, beasiswanya dicabut. Ia meninggalkan sekolahnya dengan terpaksa lantaran tidak mampu membiayainya.

Terbentuknya Perguruan Taman Siswa

Kondisi sekolah yang ada di tanah air, MULO dan HIS, yang menguntungkan Pemerintah Kolonial juga menjadi alasan bagi Ki Hadjar Dewantara untuk mendirikan Perguruan Taman Siswa. Pada masa itu, putra-putri Indonesia yang sekolah di HIS dididik dengan sistem pendidikan Pemerintah Kolonial, yang jelas sesuai dengan harapan dan kepentingan mereka. Konten pelajaran-pelajaraan (bacaan) yang diberikan, misalnya bacaan, baik secara implisit maupun eksplisit merupakan upaya secara sistematis agar generasi Indonesia melupakan dan merendahkan diri dan martabat bangsanya sendiri.

Pemerintah Kolonial berupaya untuk mengalihkan perhatian generasi Indonesia agar tidak mengadakan pemberontakan dan mendirikan organisasi atau partai Politik yang menentang Pemerintah Kolonial. Semua generasi Indonesia yang belajar di HIS dibentuk sedemikian rupa agar sedapat mungkin tidak menjadi pemimpin bagi bangsanya, tapi menjadi pegawai (kuli, buruh) Pemerintah Kolonial. Itu berarti upaya sistematik untuk menjinakkan semangat juang generasi Indonesia,baik dalam bidang politik maupun jurnalistik.

Ki Hadjar Dewantara memahami betul ke mana arah pendidikan pemerintah Kolonial itu. Maka ia bercita-cita meningkatkan kesadaran generasi muda untuk menegaskan derajat dan martabat bangsanya. Ia yakin, jika generasi Indonesia pada masa itu cerdas maka mereka akan menjadi pembangun kesadaran bangsa untuk bangkit berjuang melawan segala bentuk penindasan dan merebut kemerdekaan.

Terdorong oleh cita-cita itu, Ki Hadjar Dewantara yang telah mengenal dunia pengajaran dan pendidikan selama satu tahun di sekolah Adi Dharma, memutuskan untuk mendirikan sebuah perguruan yang cocok untuk mendidik generasi Indonesia Maka pada tanggal 3 Juli 1922 didirikanlah sebuah perguruan di Yogyakarta dan dikenal sebagai Perguruan Taman Siswa. Perguruan ini kemudian segera berkembang luas ke banyak tempat di pulau Jawa dan luar Jawa: Sumatera, Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Ambon.

Kelahiran Perguruan Taman Siswa jelas menjadi tandingan bagi sekolah-sekolah milik Pemerintah Kolonial. Perguruan Taman Siswa ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada peserta didik agar mereka mencintai bangsa dan tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Kondisi ini tentu menjadi ancaman bagi Pemerintah Kolonial. Semakin banyak orang yang belajar ke dan tamat dari Perguruan Taman Siswa, semakin banyak generasi Indonesia yang berani membangkang dan melawan kebijakan politik Pemerintah Kolonial. Artinya pula, semakin banyak generasi yang siap menjadi pemimpin, paling kurang untuk dirinya sendiri, kelompok-kelompok sosial seperti “Paguyuban Selasa Kliwon” itu, bahkan bisa jadi dalam bentuk Partai Politik sekaliber PNI yang berdiri pada tahun 1927 itu.

Eksistensi Perguruan Taman Siswa dirasakan Pemerintah Kolonial mulai menjadi ancaman bagi mereka. Oleh karena itu, mereka mulai mencari-cari alasan untuk menutup perguruan ini. Tidak sedikit rintangan yang dihadapi dalam membina Taman Siswa. Pemerintah kolonial Belanda berupaya merintanginya dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar pada 1 Oktober 1932. Salah satu pasal dalam undang-undang tersebut dipandang Ki Hadjar Dewantara mengancam eksistensi sekolah-sekolah swasta sebab berbunyi bahwa Pemerintah Kolonial mempunyai kekuasaan penuh untuk mengurus ujud dan isi sekolah swasta. Itu berarti seluruh aktivitas sekolah swasta dan instrumen-instrumennya diatur oleh Pemerintah Belanda.

Ki Hadjar Dewantara tentu merasa keberatan terhadap kebijakan ini sebab membatasi secara sepihak setiap aktivitas sekolah swasta. Kebijakan tersebut bahkan dapat secara sepihak pula menghentikan seluruh aktivitas sekolah swasta atau memutuskan kelangsungannya. Artinya, sekolah swasta selain menderita karena tidak mendapatkan subsidi dari Pemerintah Kolonial, juga dapat gulung tikar. Menanggapi keresahan keluarga besar Taman Siswa terhadap Undang Undang Sekolah Liar tersebut, Ki Hadjar Dewantara pada intinya menandaskan perlunya perlawanan dengan kekuatan tenaga secara aktif dan pasif. Gagasan Ki Hadjar ini didukung oleh tokoh-tokoh lain seperti dr. Soekiman, Drs. Moh. Hatta (yang pada waktu itu menjabat sebagai Pemimpin Pendidikan Nasional Indonesia), dan para pengurus besar organisasi pada masa itu (Budi Utomo, Muhamadyah, Istri Sedar, Partai Indonesia, PSII, PPKIT dan seluruh rakyat Indonesia. Kecuali itu, Ki Hadjar Dewantara juga mendapat dukungan dari insan Pers, yang memberitakan isi pikiran Ki Hadjar tentang inti perlawanannya. Sebagai buah awal perjuangannya itu, pada tanggal 19-21 Oktober 1932 Kuasa Pemerintah untuk Urusan Umum di dalam Dewan Rakyat, Mr. Kiewiet de Jong datang berunding di pondok Dewantara. Pertemuan keduanya tidak mengatasnamakan pihak lain, tapi mengatasnamakan diri sendiri untuk menemukan solusi terbaik bagi kedua belah pihak. Pembicaraan keduanya diceritakan berlangsung tenang dan saling menghargai hak dan kepentingan masing-masing pihak. Hasil pembicaraan keduanya dapat diringkaskan bahwa Undang-Undang Sekolah Liar dipandang belum dapat diterapkan dan karena itu harus ditunda.

Sebagai penggantinya adalah menghidupkan lagi ordonansi lama dari tahun 1923/1925. Ketetapan penundaan Undang-Undang Sekolah Liar 1932 itu telah disahkan Staatsblad 21 Februari 1933, no. 66. Berkat kegigihan Ki Hadjar dalam memperjuangkan hak-haknya dan dengan dukungan segenap pihak (masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat dan pers) ordonansi itu kemudian dicabut.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Tamansiswa, ia juga tetap rajin menulis. Namun tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Tulisannya berjumlah ratusan buah. Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Di zaman Pendudukan Jepang, kegiatan di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hadjar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir.Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur. Setelah zaman kemedekaan, Ki Hadjar Dewantara pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Nama Ki Hadjar Dewantara bukan saja diabadikan sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional) yang tanggal kelahirannya 2 Mei dijadikan hari Pendidikan Nasional, tetapi  juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959.

Konsep Pendidikan Perguruan Taman Siswa

Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Dalam pandangannya, tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial serta didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi. Dasar-dasar pendidikan Barat dirasakan Ki Hadjar tidak tepat dan tidak cocok untuk mendidik generasi muda Indonesia karena pendidikan barat bersifat regering, tucht, orde (perintah, hukuman dan ketertiban). Karakter pendidikan semacam ini dalam prakteknya merupakan suatu perkosaan atas kehidupan batin anak-anak. Akibatnya, anak-anak rusak budipekertinya karena selalu hidup di bawah paksaan/tekanan. Menurut Ki Hadjar, cara mendidik semacam itu tidak akan bisa membentuk seseorang hingga memiliki “kepribadian”.

Menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan adalah daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dengan dunianya. Pendidikan itu membentuk manusia yang berbudi pekerti, berpikiran (pintar, cerdas) dan bertubuh sehat. Bagaimanakah citra manusia di Indonesia berdasarkan konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara itu?

Pertama, manusia Indonesia yang berbudi pekerti adalah yang memiliki kekuatan batin dan berkarakter. Artinya, pendidikan diarahkan untuk meningkatkan citra manusia di Indonesia menjadi berpendirian teguh untuk berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Dalam tataran praksis kehidupan, manusia di Indonesia menyadari tanggungjawabnya untuk melakukan apa yang diketahuinya sebagai kebenaran. Ekspresi kebenaran itu terpancarkan secara indah dalam dan melalui tutur kata, sikap, dan perbuatannya terhadap lingkungan alam, dirinya sendiri dan sesamanya manusia. Jadi, budi pekerti adalah istilah yang memayungi perkataan, sikap dan tindakan yang selaras dengan kebenaran ajaran agama, adat-istiadat, hukum positif, dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Kedua, manusia di Indonesia yang maju pikirannya adalah yang cerdas kognisi (tahu banyak dan banyak tahu) dan kecerdasannya itu membebaskan dirinya dari kebodohan dan pembodohan dalam berbagai jenis dan bentuknya (misalnya: karena rekayasa penjajah berupa indoktrinasi). Istilah maju dalam pikiran ini menunjukkan meningkatnya kecerdasan dan kepintaran. Manusia yang maju pikirannya adalah manusia yang berani berpikir tentang realitas yang membelenggu kebebasannya, dan berani beroposisi berhadapan segala bentuk pembodohan.

Ketiga, manusia di Indonesia yang mengalami kemajuan pada tataran fisik atau tubuh adalah yang tidak semata sehat secara jasmani, tapi lebih-lebih memiliki pengetahuan yang benar tentang fungsi-fungsi tubuhnya dan memahami fungsi-fungsi itu untuk memerdekakan dirinya dari segala dorongan ke arah tindakan kejahatan. Manusia yang maju dalam aspek tubuh adalah yang mampu mengendalikan dorongan-doroangan tuntutan tubuh. Dengan dan melalui tubuh yang maju itu pula pikiran yang maju dan budi pekerti yang maju memperoleh dukungan untuk mendeklarasi kemerdekaan diri dari segala bentuk penindasan ego diri yang pongah dan serakah di satu sisi dan memiliki kemampuan untuk menegaskan eksistensi diri secara beradab sebagai manusia yang merdeka (secara jasmani dan ruhani) di sisi lain. Dalam praksis kehidupan, kemajuan dalam tubuh bisa dipahami sebagai memiliki kekuatan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan keterampilan untuk mengisi kemerdekaan itu dengan segala pembangunan yang humanis. Dalam konteks penalaran atas konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara diatas, pendidikan adalah upaya pemanusiaan manusia secara manusiawi secara utuh dan penuh ke arah kemerdekaan lahiriah dan batiniah. Maka pendidikan harus bersentuhan dengan upaya-upaya konkret berupa pengajaran dan pendidikan.

Menurut Ki Hadjar Dewantara pengajaran adalah upaya memerdekakan aspek badaniah manusia (hidup lahirnya). Apa arti ungkapan tersebut? Hemat kami yang hendak ditekankan Ki Hadjar Dewantara adalah bahwa: aktivitas pengajaran itu berupa tindakan informatif tetapi sekaligus formatif. Pada tataran informatif pengajaran adalah aktivitas membangun otonomi intelektual secara disengaja, yang dampaknya adalah mencerdaskan kognisi seseorang sehingga ia terbebaskan dari belenggu “kebodohan” kognisi.37 Sementara pada tataran formatif, ia membangun otonomi eksistensial dalam arti membangun kesadaran akan hak-hak asasinya sebagai manusia yang bermartabat luhur. Signifikanisnya adalah bersikap kritis terhadap realitas yang membelenggu kondisi eksistensialnya sebagai manusia. Dalam praksis kehidupan, otonomi intelektual dan eksistensial itu terekspresi dalam hidup yang tidak mengalami disorientasi dan tidak teralienasi secara personal dan sosial. Singkatnya, kemerdekaan lahiriah itu di satu sisi bermuara pada kejelasan orientasi hidup, dan di sisi lain hakhaknya mendapat pengakuan dan penghormatan. Jadi, istilah “memerdekakan lahiriah” di sini mengandung makna bahwa pengajaran adalah daya upaya yang singnifikan untuk membangun otonomi intelektual seseorang yang kemudian menyadarkan dirinya untuk menegaskan otonomi eksistensialnya (badaniahnya) yang secara kodrati merupakan anugerah dari Allah. Kedua otonomi itu merupakan wilayah kodrati yang penegasannya bisa direkayasa melalui aktivitas pengajaran manusia secara beradab

Tiga Fatwa Pendidikan

Pendidikan nasional menurut paham Ki Hadjar Dewantara, seperti yang diterapkannya dalam Taman Siswa, ialah pendidikan yang beralaskan garis-hidup dari bangsa (kultur nasional) dan ditujukan untuk keperluan perikehidupan yang bisa mengangkat derajat negara dan rakyat. Orientasi globalnya adalah agar rakyat Indonesia dapat bekerja bersama-sama dengan bangsa-bangsa yang lain untuk kemuliaan manusia di seluruh dunia. Dalam rangka itu,

Ki Hadjar Dewantara mengedepankan tiga ajaran tentang pendidikan (tiga fatwa), yakni: Tetep, antep dan mantep ; ngandel, kandel, kendel dan bandel ; Neng, ning, nung dan nang.

Pertama, tetep, antep, mantep artinya bahwa pendidikan itu harus membentuk ketetapan pikiran dan batin, menjamin keyakinan diri dan membentuk kemantapan dalam prinsip hidup. Istilah tetep di sini dapat dimaknai dalam kerangka yang prinsipil, yakni memiliki ketetapan pikiran (untuk berkomitmen) yang selaras dengan nilai-nilai sosial. Pendidikan membentuk seseorang untuk mampu berpikir kritis dan memiliki ketetapan pikiran dalam khasanah nilai-nilai. Artinya, pikirannya tidak gampang terombang-ambingkan oleh tawaran-tawaran hidup yang tidak selaras dengan nilai-nilai. Istilah antep menunjukkan bahwa pendidikan menghantar seseorang untuk memiliki “kepercayaan diri” dan keuletan diri untuk maju terus dalam mengatasi segala tantangan kehidupan secara kstria (bersahaja). Dalam praksis kehidupan, orang yang antep adalah yang memiliki keteguhan hati ke arah kualitas diri sebagai manusia personal dan anggota komunitas sosial. Sementara istilah mantep menunjukkan bahwa pendidikan menghantar seseorang untuk berkanjang dalam kemajuan diri, memiliki orientasi yang jelas untuk menuju tujuan yang pasti, yakni kemerdekaan diri sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga dunia. Jadi, landasan operasinal pendidikan adalah upaya membentuk kualitas pribadi peserta didik sampai pada tingkat yang maksimal. Kira-kira begitulah makna interpretatif dari fatwa pertama Ki Hadjar tentang pendidikan (Tetep, antep dan mantep).

Kedua, ngandel, kandel, kendel dan bandel. Ngandel adalah istilah dalam bahasa Jawa yang artinya “berpendirian tegak”. Pendidikan itu harus menghantar orang pada kondisi diri yang ngandel (berpendirian tegak/teguh). Orang yang berpendirian tegak adalah yang berprinsip dalam hidup. Kendel adalah istilah yang menunjukkan keberanian. Pendidikan membentuk seseorang untuk menjadi pribadi yang berani, berwibawa dan ksatria. Orang yang berpendidikan adalah orang yang berani menegakkan kebenaran dan keadilan, matang dan dewasa dalam menghadapi segala cobaan. Sementara istilah bandel menunjukkan bahwa orang yang terdidik adalah yang “tahan uji”. Segala cobaan hidup dan dalam segala situasi hidup dihadapinya dengan sikap tawakal, tidak lekas ketakutan dan hilang nyali.

Ketiga, neng, ning, nung dan nang. Artinya bahwa pendidikan pada tataran terdalam bercorak religius. Pendidikan itu menciptakan kesenangan perasaan (neng), keheningan (ning), ketenangan (nang), dan renungan (nung). Dalam dan melalui pendidikan, seseorang bisa mengalami kesucian pikiran dan ketenangan batin. Menurut Ki Hadjar, kekuasaan akan datang manakala seseorang sudah mengalami kesucian pikiran, ketenangan batin dan hati.

Ketiga fatwa pendidikan Ki Hadjar di atas tetap penting sebab ia memiliki kandungan makna yang berkualitas kemanusiawian, suatu kualitas yang merupakan bagian mendasar dari idealisme pendidikan sejak masa Yunani klasik. Bila ketiga fatwa itu dikritisi, ia tampak tetap memiliki relevansi untuk konteks pendidikan Indonesia kini terutama manakala penerapannya dimaksudkan untuk membangun jiwa kepemimpinan dalam diri anak-anak di Indonesia. Harapan ke depan mereka kelak mampu menjadi pemimpin Indonesia yang benar-benar “meng-Indonesia”. Artinya, menjadi pemimpin yang memiliki ketetapan pikiran dan batin, memiliki kepercayaan diri dan pendirian yang teguh, memiliki pikiran yang suci, batin yang tenang dan hati yang senang. Kondisi demikian menjadi jaminan ke arah terciptanya kepemimpinan yang memerdekakan kemanusiaan setiap pribadi di Indonesia secara utuh dan penuh. keheningan (ning), ketenangan (nang), dan renungan (nung). Dalam dan melalui pindidikan, seseorang bisa mengalami kesucian pikiran dan ketenangan batin.

Menurut Ki Hadjar, kekuasaan akan datang manakala seseorang sudah mengalami kesucian pikiran, ketenangan batin dan hati. Ketiga fatwa pendidikan Ki Hadjar di atas tetap penting sebab ia memiliki kandungan makna yang berkualitas kemanusiawian, suatu kualitas yang merupakan bagian mendasar dari idealisme pendidikan sejak masa Yunani klasik. Bila ketiga fatwa itu dikritisi, ia tampak tetap memiliki relevansi untuk konteks pendidikan Indonesia kini terutama manakala penerapannya dimaksudkan untuk membangun jiwa kepemimpinan dalam diri anak-anak di Indonesia. Harapan ke depan mereka kelak mampu menjadi pemimpin Indonesia yang benar-benar “meng-Indonesia”. Artinya, menjadi pemimpin yang memiliki ketetapan pikiran dan batin, memiliki kepercayaan diri dan pendirian yang teguh, memiliki pikiran yang suci, batin yang tenang dan hati yang senang. Kondisi demikian menjadi jaminan ke arah terciptanya kepemimpinan yang memerdekakan kemanusiaan setiap pribadi di Indonesia secara utuh dan penuh.

Asas-Asas Pendidikan Ki Hadjar

Tujuan ketiga ajaran (fatwa) pendidikan Ki Hadjar di atas berkaitan erat dengan upaya membentuk pribadi peserta didik menjadi manusia yang manusiawi. Citra manusia manusiawi dalam konteks dan perspektif pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah kedewasaan, kearifan, dan kesehatan secara jasmani dan rohani. Pendidikan terlaksana secara koheren dalam ranah kognitif, afektif, spiritual, sosial dan psikologis. Kedewasaan peserta didik dalam ranah-ranah tersebut merupakan jaminan bagi aspek psikomotoriknya, menjadi modal bagi peserta didik untuk siap menjalani kehidupan bermasyarakat secara bertanggungjawab. Terkait dengan upaya mengimplementasikan ketiga fatwa tentang pendidikan itu, Ki Hadjar Dewantara mengajukan lima asas pendidikan yang dikenal dengan sebutan pancadharma (kodrat alam, kemerdekaan, kebudayaan, kebangsaan, dan kemanusiaan). Ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan dapatlah kita pandang sebagai terapan operatif dari kelima asas tersebut. Berikut adalah penalaran atas kelima asas tersebut.

Pertama, asas kodrat alam. Asas ini mengandung arti bahwa hakikat manusia adalah bagian dari alam semesta. Asas ini juga menegaskan bahwa setiap pribadi peserta didik di satu sisi tunduk pada hukum alam, tapi di sisi lain dikaruniai akal budi yang potensial baginya untuk mengelola kehidupannya. Berdasarkan konsep asas kodrat alam ini, Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa pelaksanaan pendidikan berasaskan akal-pikiran manusia yang berkembang dan dapat dikembangkan. Secara kodrati, akal-pikiran manusia itu dapat berkembang. Namun, sesuai dengan kodrat alam juga akal pikiran manusia itu dapat dikembangkan melalui perencanaan yang disengaja sedemikian rupa sistematik. Pengembangan kemampuan berpikir manusia secara disengaja itulah yang dipahami dan dimengerti sebagai “pendidikan”. Sesuai dengan kodrat alam, pendidikan adalah tindakan yang disengaja dan direncanakan dalam rangka mengembangkan potensi peserta didik yang dibawa sejak lahir.

Kedua, asas kemerdekaan. Asas ini mengandung arti bahwa kehidupan hendaknya sarat dengan kebahagiaan dan kedamaian. Dalam khasanah pemikiran Ki Hadjar Dewantara asas kemerdekaan berkaitan dengan upaya membentuk peserta didik menjadi pribadi yang memiliki kebebasan yang bertanggungjawab sehingga menciptakan keselarasan dengan masyarakat. Asas ini bersandar pada keyakinan bahwa setiap manusia memiliki potensi sebagai andalan dasar untuk menggapai kebebasan yang mengarah kepada “kemerdekaan”. Pencapaian ke arah pribadi yang mredeka itu ditempuh melalui proses panjang yang disebut belajar. Proses ini berjenjang dari tingkat yang paling dasar sampai pada tingkat yang tertinggi. Namun, perhatian kita hendaknya jangan difokuskan pada tingkatan-tingatannya semata, tapi juga pada proses kegiatan pendidikan yang memerdekakan peserta didik. Dalam pengertian itu, pendidikan berarti memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya menjadi kemampuan dan keahlian profesional (wengaktus atau mewujud) yang diemban dan dihayatinya dengan penuh tanggungjawab. Oleh karena itu, praksis pendidikan harus “luas dan luwes”. Luas berarti memberikan kesempatan yang selebar-lebarnya kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi-potensi dirinya seoptimal mungkin, sementara luwes berarti tidak kaku dalam pelaksanaan metode dan strategi pendidikan.

Ketiga, asas kebudayaan. Asas ini bersandar pada keyakinan kodrati bahwa manusia adalah makhluk berbudaya. Artinya, manusia mengalami dinamika evolutif dalam khasanah pembentukan diri menjadi pribadi yang berbudi pekerti. Dalam konteks itu pula, pendidikan perlu dilaksanakan berdasarkan nilai-nilai budaya sebab kebudayaan merupakan cirikhas manusia. Bagi Ki Hadjar, kemanusiaan bukanlah suatu pemikiran yang statis. Kemanusiaan merupakan suatu konsep yang dinamis, evolutif, organis. Dalam kaitan ini, Ki Hadjar Dewantara memahami kebudayaan selain sebagai buah budi manusia, juga sebagai kemenangan atau hasil perjuangan hidup manusia. Namun selaras dengan keyakinan atas manusia sebagai makhluk dinamis, kebudayaan juga demikian. Kebudayaan selalu berkembang seirama dengan perkembangan dan kemajuan hidup manusia. Maka, menurut Ki Hadjar Dewantara, kebudayaan itu tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus-menerus berganti-ganti wujudnya; ini disebabkan karena berganti-gantinya alam dan zaman. Kebudayaan yang dalam zaman lampau menggampangkan dan menguntungkan hidup, boleh jadi dalam zaman sekarang menyukarkan dan merugikan hidup kita.

Itulah sebabnya kita harus senantiasa menyesuaikan kebudayaan kita dengan tuntutan alam dan zaman baru. Ditopang oleh pemikiran mengenai kebudayaan sebagai perkembangan kemanusiaan itu, maka Ki Hadjar Dewantara melihat secara jernih posisinya kebudayaan bangsa Indonesia di tengah-tengah kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia ini, yakni sebagai penunjuk arah dan pedoman untuk mencapai keharmonisan sosial di Indonesia. Pemikiran Ki Hadjar mengenai kebudayaan ini kemudian secara konstitusional dimaktubkan dalam Pasal 32 UUD 1945. Dalam konteks itu pula, asas ini menekankan perlunya memelihara nilai-nilai dan bentukbentuk kebudayaan nasional.

Keempat, asas kebangsaan. Asas kebangsaan merupakan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang amat fundamental sebagai bagian dari wawasan kemanusiaan. Asas ini hendak menegaskan bahwa seseorang harus merasa satu dengan bangsanya dan di dalam rasa kesatuan tersebut tidak boleh bertentangan dengan rasa kemanusiaan. Dalam konteks itu pula, asas ini diperjuangkan Ki Hadjar Dewantara untuk mengatasi segala perbedaan dan diskriminasi yang dapat tumbuh dan terjadi berdasarkan daerah, suku, keturunan atau pun keagamaan. Bagi Ki Hadjar kebangsaan tidaklah mempunyai konotasi, rasial biologis, status sosial ataupun keagamaan. Rasa kebangsaan adalah sebagaian dari rasa kebatinan kita manusia, yang hidup dalam jiwa kita dengan disengaja. Asal mulanya rasa kebangsaan itu timbul dari Rasa Diri, yang terbawa dari keadaan perikehidupan kita, lalu menjalar menjadi Rasa Keluarga; Rasa ini terus jadi Rasa Hidup bersama (rasa sosial). Wujudnya rasa kebangsaan itu umumnya ialah dalam mempersatukan kepentingan bangsa dengan kepentingan diri sendiri; kehormatan bangsa ialah kehormatan diri, demikianlah seterusnya. Ideologi kebangsaan inilah yang diterapkan Ki Hadjar secara konsekuen ketika ia bersama dengan Dr. Tjipto dan Doowes Dekker mendirikan Indische Partij pada tahun 1912. Bahkan Pancasila dasar negara dan pandangan hidup bangsa, yang juga merupakan ideologi nasional kita, pada dasarnya adalah suatu formulasi dari ideologi kebangsaan itu, dari wawasan kebangsaan kita itu.

Kelima, asas kemanusiaan. Asas ini hendak menegaskan pentingnya persahabatan dengan bangsa-bangsa lain. Dalam konteks Ki Hadjar sebagai tokoh di Indonesia, asas ini hendak menegaskan bahwa manusia di Indonesia tidak boleh bermusuhan dengan bangsa-bangsa lain. Manusia di Indonesia hendaknya menampilkan diri sebagai makhluk bermartabat luhur dan berdasarkan kesadaran itu pula ia berani menjalin dan memperlakukan sesama manusia dari bangsa mana pun dalam rasa cinta kasih yang mendalam. Maka asas ini boleh dipandang sebagai asas yang radikal, dalam arti konsep kemanusiaan itu merupakan akar yang menjadi titik temu asasi yang mendamaikan hudup, kehidupan maupun penghidupan umat manusia.

Semboyan dan Metode

Meskipun Ki Hadjar Dewantara belajar ilmu kependidikan di barat, dia tidak mau menerapkan sistem pendidikan barat di Indonesia. Sistem barat dipandangnya tidak cocok karena dasar-dasarnya adalah perintah, hukuman dan ketertiban yang bersifat paksaan. Pendidikan model ini, menurut Ki Hadjar, merupakan upaya sistematik dalam perkosaan terhadap kehidupan batin anak-anak. Hal itu jelas berbahaya bagi perkembangan budi pekerti anak-anak sebab pendidikan demikian tidak membangun budi pekerti anak-anak, melainkan merusaknya.

Paksaan dan hukuman dalam proses pendidikan yang kadangkala tidak setimpal dengan kesalahan anak didik bukannya memperkuat mentalitas anak-anak, melainkan memperlemahnya di kemudian hari. Anak tidak menjadi pribadi yang mandiri, tidak memiliki inisiatif, tidak kreatif. Dalam kehidupan nyata ia tidak dapat bekerja kalau tidak dipaksa dan diperintah. Jadi, produk pendidikan barat, di hadapan Ki Hadjar, adalah manusia-manusia pasif yang dangkal kesadarannya untuk berkreasi secara mandiri.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, metode pendidikan yang cocok dengan karakter dan budaya orang Indonesia tidak memakai syarat paksaan. Orang Indonesia adalah termasuk ke dalam bangsa Timur. Bangsa yang hidup dalam khasanah nilai-nilai tradisional berupa kehalusan rasa, hidup dalam kasih sayang, cinta akan kedamaian, ketertiban, kejujuran dan sopan dalam tutur kata dan tindakan. Nilai-nilai itu disemai dalam dan melalui pendidikan sejak usia dini anak. Dalam praksis penyemaian nilai-nilai itu, pendidik menempatkan peserta didik sebagai subyek, bukan obyek pendidikan. Artinya, peserta didik diberi ruang yang seluasnya untuk melakukan eksplorasi potensi-potensi dirinya dan kemudian berekspresi secara kreatif, mandiri dan bertanggungjawab. Berangkat dari keyakinan akan nilai-nilai tradisional itu, Ki Hadjar yakin pendidikan yang khas Indonesia haruslah berdasarkan citra nilai Indonesia juga. Maka ia menerapkan tiga semboyan pendidikan yang menunjukkan kekhasan Indonesia, yakni : Pertama, Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi teladan. Ia pantas digugu dan ditiru dalam perkataan dan perbuatannya. Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya. Ketiga, Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.

Senada dengan semboyan pendidikan di atas adalah metode pendidikan yang dikembangkan, yang sepadan dengan makna “paedagogik”, yakni Momong, Among dan Ngemong, yang berarti bahwa pendidikan itu bersifat mengasuh. Mendidik adalah mengasuh anak dalam dunia nilai-nilai. Praksis pendidikan dalam perspektif ini memang mementingkan ketertiban, tapi pelaksanaannya bertolak dari upaya membangun kesadaran, bukan berdasarkan paksaan yang bersifat “hukuman”. Maka, pembagian usia 0-7, 7-14, dan 14-21 dalam proses pendidikan yang digagas Ki Hadjar Dewantara bukan tanpa landasan pedagogik. Pembagian demikian berdasarkan fase-fase di mana masing-masing menuntut peran pendidik dengan isi dan nilai yang berbeda-beda. Metode Ngemong, Momong, Among dan semboyan Ing ngarso sung tulodho, Ing Madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani bukan berasal dari sebuah pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang terpisah. Pendidikan bukan hanya masalah bagaimana membangun isi (kognisi) namun juga pekerti (afeksi) anak-anak Indonesia, yang tentunnya diharapkan “meng-Indonesia” agar mereka kelak mampu menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang “meng-Indonesia” (memiliki kekhasan Indonesia).

Praksis pendidikan berdasarkan metode Ki Hadjar Dewantara menempatkan guru sebagai pengasuh yang matang dalam penghayatan dan pelaksanaan nilai-nilai kultural yang khas Indonesia. Maka pendidikan pada dasarnya adalah proses mengasuh anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang dalam potensi-potensi diri (kognisi, afeksi, psikomotorik, konatif, kehidupan sosial dan spiritual). Dalam rangka itu, guru tidak menggunakan metode paksaan, tapi memberi pemahaman sehingga anak mengerti dan memahami yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan sosialnya.

Guru boleh terlibat langsung dalam kehidupan anak tatkala anak itu dipandang berada pada jalan yang salah. Tapi pada prinsipnya tidak bersifat paksaan. Keterlibatan pada kehidupan anak tetap dalam konteks penyadaran dan asas kepercayaan bahwa anak itu pribadi yang tetap harus dihormati hak-haknya untuk dapat bertumbuh menurut kodratnya. Melalui konsep, asas-asas, fatwa, semboyan dan metode pendidikan yang kontennya adalah “meng-Indonesia” di atas, Ki Hadjar Dewantara yakin bahwa rakyat yang merdeka dalam arti yang sebenar-benarnya akan menjadi kenyataan di Indonesia. Kemerdekaan yang dimaksudkan di sini adalah ketika seorang anak manusia hidup dalam kesadaran bahwa dirinya sebagai pribadi hidup mandiri, memiliki kebebasan dan hak-hak dasar yang patut dihargai. Artinya, lahirnya tiada diperintah, batinnya bisa memerintah sendiri dan dapat berdiri sendiri karena kekuatan sendiri.

Persentuhan Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan Pendidikan Islam

Pendidikan humanistik Ki Hajar Dewantara menurut pandangan Islam antara lain meliputi:

  1. Hakekat manusia yang memiliki kodrat alam yang merupakan potensi dasar manusia yang disejajarkan dengan fitrah manusia;
  2. Tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara jika dilihat dalam pandangan Islam adalah menjadi manusia yang merdeka dan mandiri sehingga menjadi pribadi yang membuatnya menjadi insan kamil dan mampu memberi kontribusi kepada masyarakatnya;
  3. Konsep Tut Wuri Handayani yang merupakan bagian dari metode among dalam Islam sama dengan metode keteladanan, metode kisah, metode nasehat, dan metode targhib dan tarhid;
  4. Pendidikan budi pekerti Ki Hajar Dewantara dalam Islam sama dengan pendidikan akhlak sehingga seseorang menjadi manusia yang dapat menghormati dan menghargai manusia lainnya dan dapat tercipta pendidikan humanistik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dewantara, Ki Hadjar, 1954. Masalah Kebudayaan. Pertjetakan Taman Siswa, Jogjakarta.

————————–, 1962. Karja I (Pendidikan). Pertjetakan Taman Siswa, Jogjakarta.

Elmore, Tim. 2001. Nutiring The Leader Within Your Child, Thomas Nelson Inc., A Tennessee Corporation, 501 Nelson Place P.O. Box 141000, Nashville, TN 37214-1000, hal. 70-84

Djumhur, H. Danasaputra, 1976. Sejarah Pendidikan, Pustaka Ilmu, Bandung. Pikiran Rakyat, Selasa 23 Maret 2010, hal. 22.

Pranarka, A.M.W. 1986. Relevansi Ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara Dewasa ini dan di Masa yang akan Datang”, dalam Wawasan Kebangsaan, Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara, Lembaga Pengkajian Kebudayaan Sarjana Wiyata Tamansiswa, Yogyakarta

Ricklefs, M.C. 2007. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 (cetakan ke-3), SERAMBI, Jakarta.

Soeratman, Darsiti. 1985. Ki Hadjar Dewantara, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Sumaatmadja, Nursid . 2002. Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, ALFABETA, Bandung.

Tilaar, H.A.R., Prof. Dr. M.Sc. Ed.1999, Pendidikan Kebudayaan Dan Masyarakat Madani Indonesia, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung.

Sugiharto, Bambang I. (ed.), 2008. Humanisme dan Humaniora: Relevansinya bagi Pendidikan, Jalasutra, Yogyakarta.

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam