Motivasi, Kreativitas dan Afektif

Peranan Motivasi, Kreativitas dan Afektif  serta Implikasinya dalam Belajar dan Pembelajaran

I.         MOTIVASI

A.           Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari Bahasa Latin yaitu MOTIVUM, dalam Bahasa Inggris berarti Motivation, yang artinya alasan sesuatu terjadi atau alasan tentang sesuatu hal bergerak atau berpindah. Motivasi erat kaitannya dengan motif. Motif dapat diartikan sebagai dorongan dari dalam diri manusia sehingga dia dapat berbuat sesuatu. Menurut Sardiman, “Motif adalah daya penggerak dari dalam dan didalam subjek untuk melakukan aktivitas tertentu demi mencapai tujuan”. Selanjutnya motivasi adalah sesuatu yang menghidupkan (energize) mengarahkan dan mempertahankan perilaku : motivasi membuat siswa bergerak, menempatkan mereka dalam suatu arah tertentu, dan menjaga mereka agar terus bergerak.

Motivasi adalah bermaksud sebab, tujuan atau pendorong, maka tujuan seseorang itulah sebenarnya yang menjadi penggerak utama baginya berusaha keras mencapai atau mendapat apa juga yang diinginkannya. Jadi , motivasi bukanlah sesuatu yang dapat diamati, tetapi merupakan hal yang dapat disimpulkan adanya karena sesuatu perilaku yang tampak . Motivasi dapat ditimbulkan baik oleh faktor internal maupun faktor eksternal . Kebutuhan dan keinginan yang ada dalam diri seseorang akan menimbukan motivasi internal . Sedangkan motivasi eksternal adalah kekuatan yang ada di dalam individu yang juga dipengaruhi oleh oleh faktor – faktor intern . Jadi , motivasi ekternal adalah hasil dari perkembangan motivasi internal

Motivasi siswa tercermin dalam investasi pribadi dan dalam keterlibatan kognitif, emosional, dan prilaku di berbagai aktivitas sekolah. Selain itu, Purwanto (2004) menjelaskan bahwa, “motivasi adalah usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu”.  Lebih lanjut, Santrock (2008) mendefinisikan bahwa, “motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku”. Perilaku yang termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Berdasarkan defnisi diatas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan usaha sadar penuh energi yang dilakukan seseorang sehingga memberikan semangat, arah, dan kegigihan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pada dasarnya motivasi tersebut akan muncul dengan keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang belum terpenuhi. Orang yang memiliki motivasi, akan memiliki kegigihan dan semangat dalam melakukan aktivitas.

  1. Teori Motivasi
  2. 1. Teori Kebutuhan dari Herzberg
  • Fisiologis needs : Kebutuhan pribadi
  • Safety & security needs : Kebutuhan akan rasa aman
  • Social & Belonging needs : Kebutuhan akan interaksi & kepemilikan
  • Self Actualition needs : Mengembangkan kemampuan diri dalam bekerja
  1. 2. Teori 2 Faktor dari Herzberg
  • Ekstrinsik (dissatisfied) : Rasa kurang puas seseorang dalam bekerja
  • Intrinsik (Satisfied) :
  • Responsibility : Tanggung jawab
  • Achievement : Prestasi
  • Work Self : Pekerjaan itu sendiri
  • Possibility To Growth : Kemungkinan untuk berkembang
  • Advancement : Kemajuan
  1. 3. Teori Prestasi dari Mc Celland
  • Need for achievement : Dibutuhkan untuk prestasi
  • Need for Affiliation : Dibutuhkan untuk persatuan
  • Need for power : Dibutuhkan untuk kekuasaan
  1. 4. Teori Harapan

Teori ini berargumen bahwa kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu pengharapan bahwa tindakan itu akan diikuti oleh suatu keluaran tertentu, dan pada daya tarik dari keluaran bagi individu tersebut.

Teori pengharapan mengatakan seorang dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia meyakini upaya akan menghantarkan ke suatu penilaian kinerja yang baik, Suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran-ganjaran organisasional, seperti bonus, kenaikan gaji, atau promosi dan ganjaran itu akan memuaskan tujuan pribadi . Intinya , teori harapan adalah teori motivasi yang dilakukan dengan harapan akan mendapatkan suatu prestasi.

  1. 5. Teori Keadilan

Teori ini didasarkan pada asumsi bahwa orang-orang dimotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan secara adil dalam pekerjaan. Individu bekerja untuk mendapat tukaran imbalan dari yang sudah dikerjakannya .

  1. 6. Teori Human Relation

Teori motivasi yang menggambarkan seseorang akan bekerja lebih gigih jika merasa dibutuhkan, diperhitungkan dan dihargai. Pentingnya peranan motivasi dalam proses pembelajaran perlu dipahami oleh mahasiswa agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada mahasiswa. Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar mahasiswa, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan. Dalam konteks pembelajaran maka kebutuhan tersebut berhubungan dengan kebutuhan untuk pelajaran.

  1. Peran Motivasi

Peran motivasi dalam proses pembelajaran, motivasi belajar mahasiswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap kefektifan usaha belajar siswa. Fungsi motivasi dalam pembelajaran diantaranya :

  1. Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
  2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Dalam rumusan masalah diatas saya mengamati apakah motivasi itu berpengaruh dalam prestasti belajar siswa, ternyata sangat berpengaruh yaitu :

  1. Motivasi pada umumnya mempertinggi prestasi dan memperbaiki sikap terhadap tugas dengan kata lain, motivasi dapat membangkitkan rasa puas dan menaikkan prestasi sehingga melebih prestasi normal.
  2. Hasil baik dalam pekerjaan yang disertai oleh pujian merupakan dorongan bagi seseorang untuk bekerja dengan giat. Bila hasil pekerjaan tidak diindahkan orang lain, mungkin kegiatan akan berkurang. Pujian harus selalu berhubungan erat dengan prestasi yang baik. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu dengan hasil yang baik, sehingga padanya timbul suatu “sense of succes” atau perasaan berhasil.
  3. Motivasi berprestasi merupakan harapan untuk memperoleh kepuasan dalam penguasaan perilaku yang menentang dan sulit (Mr. Clelland, 1955).
  1. Macam-macam Motif/Motivasi

Woodworth menggolongkan/membagi motif-motif menjadi tiga golongan, yakni:

  • Kebutuhan-kebutuhan organis, yakni motif-motif yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan bagian dalam dari tubuh.
  • Motif-motif darurat, yakni motif-motif yang timbul jika situasi menuntut timbulnya tindakan kegiatan yang cepat dan kuat dari kita. Dalam hal ini timbul akibat danya rangsangan dari luar.
  • Motif objektif, yakni motif yang diarahkan/ditujukan kepada suatu objek atau tujuan tertentu disekitar kita. Motif ini timbul karena adanya dorongan dari dalam diri kita.

Sumadi Suryabrata juga membedakan motif menjadi dua, yakni motif-motif ekstrinsik dan motif-motif intrinsik.

  • Motif ekstrinsik, yaitu motif-motif yang berfungsinya karena adanya perangsangan dari luar, misalnya orang belajar giat karena diberi tahu bahwa sebentar lagi akan ada ujian, orang membaca sesuatu karena diberi tahu bahwa hal itu harus dilakukannya sebelum ia dapat melamar pekerjaan, dan sebagainya.
  • Motif intrinsik, yaitu motif-motif yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar. Memang dalam diri individu sendiri telah ada dorongan itu. Misalnya orang yang gemar membaca tidak usah ada yang mendorongnya telah mencari sendiri buku-buku untuk dibacanya, orang yang rajin dan bertanggung jawab tidak usah menanti komando sudah belajar secara sebaik-baiknya.
  1. KREATIFITAS BELAJAR
  2. Pengertian Kreativitas

Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dan lingkungannya seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia berada dengan demikian baik berubah di dalam individu maupun di dalam lingkungan dapat menunjang atau dapat menghambat upaya kreatif (Munandar, 1995 : 12).

Kreativitas juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya (Supriyadi, 1994 : 7).

  1. Pengertian Belajar

Secara psikoligis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. “belajar juga adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya” (Slameto, 2003 : 2).

Ahli pendidikan modern merumuskan bahwa belajar adalah suatu  bentuk pertmbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Aqib, 2003 : 42). Belajar merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang  tanpa mengenal batas usia dan berlangsung seumur hidup (Rohadi, 2003 : 4). Dengan demikian belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah prilakunya, jadi hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan prilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar.

  1. Belajar Kreatif

Tornace dan Myres dikutip oleh Triffinger (1980) dalam Semiawan dkk (1987:34) berpendapat bahwa belajar kreatif adalah “menjadi peka atau sadar akan masalah, kekuarangan-kekurangan, kesenjangan dalam pengetahuan, unsur-unsur yang tidak ada, ketidak harmonisan dan sebagainya. Mengumpulkam informasi yang ada, membataskan kesukaran, atau menunjukkan (mengidentifikasi) unsur yang tidak ada, mencari jawaban, membuat hipotesis, mengubah dan mengujinya, menyempurnakan dan akhirmnya mengkomunikasikan hasil-hasilnya” .

Sedangkan proses belajar kreatif menurut Torance dan Myres berpendapat bahwa proses belajar kreatif sebagai : “keterlibatan dengan sesuatu yang berarti, rasa ingin tahu dan mengetahui dalam kekaguman, ketidak lengkapan, kekacauan, kerumitan, ketidakselarasan, ketidakteraturan dan sebagainya.

Kesederhanaan dari struktur atau mendiagnosis suatu kesulitan dengan mensintesiskan ionformasi yang telah diketahui, membentuk kombinasi dan mendivergensi dengan menciptakan alternatif-alternatif baru, kemungkinan-kemungkinan baru, dan sebagainya. Mempertimbangkan, menilai, memeriksa, dan menguji kemungkinan-kemungkinan baru, menyisihkan, memecahkan yang tidak berhasil, salah dan kurang baik, memilih pemecahan yang paling baik dan membuatnya menarik atau menyenangkan secara estesis, mengkonunikasi hasi-hasilnya kepada orang lain” (Semiawan, DKK. 1987 : 35).

Dengan demikian dalam belajar kreatif harus melibatkan komponen-komponen pengalaman belajar yang paling menyenangkan dan paling tidak menyenangkan lalu menemukan bahwa pengalaman dalam proses belajar kreatif sangat mungkin berada  di antara pengalaman-pengalaman belajar yang sangat menenangkan, pengalama-pengalaman yang sangat memberikan kepuasan kepada siswa dan yang sangat bernilai bagi siswa.

Jadi kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan  kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.

  1. Pentingnya Belajar Kreatif

Refinger (1980 : 9-13) dalam Conny Semawan (1990:37-38) memberikan empat alasan mengapa belajar kreatif itu penting.

  1. Belajar kreatif membantu anak menjadi berhasil guna jika kita tidak bersama mereka. Belajar kreatif adalah aspek penting dalam upaya kita membantu siswa agar mereka lebihmampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri.
  2. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan yang timbul di masa depan.
  3. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehiduppan kita. Banyak pengalamankreatif yang lebih dari pada sekedar hobi atau hiburan bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi, bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita.
  4. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
  5. Upaya Meningkatkan Kreativitas Siswa

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru yang professional dalam menyusun program pembelajaran yang dapat meningkatkan kreativitas siswa dalam belajar yaitu :

  1. Menciptakan lingkungan di dalam kelas yang merangsang belajar kreatif
  2. Memberikan Pemanasan

Sebelum memulai dengan kegiatan yang menuntut prilaku kreatif siswa sesuai dengan rencana pelajaran lebih dahulu diusahakan sikap menerima (reseptif) di Kalangan siswa, terutama berlaku apabila siswa sebelumnya baru saja terlibat dalam suatu penguasaan yang berstruktur, mengerjakan soal fiqih, tugas atau kegiatan, bertujuan meningkatkan pemikiran kreatif menuntut sikap belajar yang berbeda lebih terbuka dan tertantang berperanserta secara aktif dengan memberikan gagasan-gagasan sebanyak mungkin untuk itu diberikan  pemanasan yang dapat tercapai dengan memberikan pertanyaan pertanyaan terbuka dengan menimbulkan minat dan rasa ingin tahu siswa.

  1. Pengaturan Fisik

Membagi siswa dalam kelompok untuk mengadakan diskusi kelompok.

  1. Kesibukan Dalam Kelas

Kegiatan belajar secara kreatif sering menuntut lebih banyak kegiatan fisik, dan diskusi antara siswa oleh karena itu guru hendaknya agak tenggang rasa dan luwes dalam menuntut ketenangan dan sebagai siswa tetap duduk pada tempatnya. Guru harus dapat membedakan kesibukan yang asyik sert suara-suara yang produktif yang menunjukkan bahwa siswa bersibuk diri secara kreatif.

  1. Guru sebagai Fasilitator

Guru dan anak yang berbakat lebih berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pengarah yangmenentukan segalagalanya baigsiswa. Sebagai fasilitator gurumendorong siswa (memotivator) untuk menggabungkan inisiatif dalam menjajaki tugas-tugas baru. Guru harus terbuka menerima gagasa dari semua siswa dan gur harus dapat menghilangkan ketakutan, kecemasan siswa yang dapt menghambat dan pemecahan masalah secara keatif (Munandar, 1992 : 78-81).

  1. Mengajukan dan mengundang pertanyaan

Dalam proses belajar mengajar, diperlukan keterampilan guru baik dalam mengajukan pertanyaan kepada siswa maupun dalam mengundang siswa untuk bertanya.

  1. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kreativitas Belajar Siswa

Kesempatan untuk belajar kreatif ditentukan oleh banyak faktor antara lain sikap dan minat siswa, guru orang tua, lingkungan rumah dan kelas atau sekolah, waktu, uang dan bahan-bahan (Conny Seniawan, dkk. 1990).

Menurut Amabile (1989) dalam Munandar (2004: 113-114) .Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kreaitvitas belajar siswa :

  1. Sikap orang tua terhadap kreativitas anak
  2. Strategi mengajar guru

AD a. sikap orang tua  terhadap kreativitas anak

Sudah lebih dari tiga puluhh tahun pakar psikologis mengemukakan bahwa sikap dan nilai orang tua berkaitan erat dengan kreativitas anak jika kita menggabung hasil penelitian dilapangan dengan ori-teori penelitian laboratorium mengenai kreativitas dengan teppsikologis kita mepperoleh petunjuk bagaimana sikap orang tua secara langsung mempengaruhi kreativitas anak mereka.

Menurut Amabile (1989 : 103) menegaskan ada bahwa ada beberapa faktor yang menentukan kreativitas anak ialah :

–    Kebebasan

Orang tua yang percaya untuk memberikan kebebasan kepada anak cenderung mempunyai anak kreatif. Mereka tidak otoriter, tidak selalu mau mengawasi dan mereka tidak terlalu membatasi kegiatan anak.

–    Aspek

Anak yang kreatif biasanya mempunyai orang tua yang menghormati mereka sebagai individu, percaya akan kemampuan mereka danmengharagai keunikan anak

–    Kedekatan emosional yang sedang

Kreativits anak dapat dihambat dengan suasana emosional yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan dan terpisah

–    Prestasi Bukan Angka

Orang tua anak kreatif menghargai prestsi anak, mereka mendorong anak untuk berusaha sebaik-baikknya dan menghsilkan karya-karya yang baik.

–    Menghargai Kreativitas

Anak yang kreatif memperoleh dorongan dari orang tua untuk melakukan hal-hal yang kreatif.

AD b.Strategi mengajar guru

Dalam kegiatan mengajar sehari-hari dapat digunakan sejumlah strategi khusus yang dapat meningkatkan kreativitas.

  1. Penilaian

Penilaian guru terhadap pekerjaan murid yang dapat dilakukan dengancara :

  •  Memberi umpan balik berarti daripada evaluasi yang abstrak dan tidak jelas
  • Melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan mereka sendiri dan belajar dari kesalahan mereka
  • Penekanan terhadap “apa yang telah kamu pelajari” dan bukan pada “bagaimana melakukannya”.
  1. Hadiah

Anak senang menerima hadiah dan kadang-kadang melakukan segala sesuatu untuk memperolehnya. Hadiah yang terbaik untuk pekerjaan yang baik adalah kesempatan menampilkan danmempresentasekan pekerjaan sendiri dan pekerjaan tambahan.

  1. Pilihan

Sedapat mungkin berilah kesempatan kepada anak memilih apa yang nyaman bagi dia selama hal itu sesuain dengan ketentuan yang ada.

  1. Metode dan Teknik Belajar Kreatif

Metode dan teknik-teknik belajar kreatif membantu anak didik berfikir dan mengungkapkan diri secara kreatif, yaitu mampu memberikan macam-macam gagasan dan macam-macam jawaban dalam pemcahan masalah.:

Adapun tehnik-tehnik belajar kreatif yaitu:

  • Pemikiran dan perasaan terbuka
  • Sumbang saran
  • Daftar pertanyaan yang memacu gagasan
  • Menyimak sifat benda tau keadaan
  • Hubungan yang dipaksakan
  • Pendekatan morfologis
  • Pemecahan masalah secara kreatif (Munandar,1999: 100)

Sedangkan teknik belajar kreatif dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Pemikiran dan perasaan terbuka

Cara yang paling sederhana untuk merangsang pemikiran kreatif ialah dengan mengajukan pertanyaan yang memberikan kesempayan timbulnya berbagai macam jawaban sebagai ungkapan pikiran dan perasaan serta dengan membantu siswa mengajukan pertnayaan. Contoh-kegiatan pemikiran dan perasaaan terbuka

  1. Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai
  2. Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari
  3. Meningkatkan atau memperbaiki suaut produk atau benda (Munandar, 1999 : 100-1003).
  4. Sumbang Saran

Tehnik yang dikembangkan oleh Osborn ini dapat diterapak unutk memecahkansuaut masalah dalam kelompok kecil (Sekitas 8-10 orang) dengan “menggali” gagasan-gagasan sebanyak mungkin dari anggota kelompok.

Hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi :

  1. Kebebasan dalam memberikan gagasan
  2. Penekanan pada kuantitas
  3. Kritik ditangguhkan
  4. Kombinsi dan peningkatan gagasan
  5. Mengulangi gagasan (Munandar, 1999 : 104).
  6. Daftar pertanyaan yang memacu gagasan

Tehnik ini bertujuan melancarkan arus pencetusan gagasan dalam pemecahan masalah seperti mengembangkan, meningkatkan, dan memperbaiki suatu subyek atau situasi.dengan meninjau daftar pertanyaan yang membantu melihat hubungan-hubungan baru.

  1. Menyimak sifat benda atau keadaan

Tehnik ini digunakan untuk mengubah gagasan guna meningkatkan atau memperbaiki suatu subyek atau situasi. Pertama-tama semua atribut (sifat) dari suatu subyek atau situasi dicatat, kemudian masing-masing ciri ditinjau satu persatu untuk mempertimbangkan kemungkinan mengubah atau memperbaiki obyek atau situasi tersebut.

  1. Hubungan yang dipaksakan

Tehnik lain untuk merangsang gagasan-gagasan kreatif ialah dengan cara “memaksakan” suatu hubungan antara objek atau situasi yangn dimasalahkan dengan unsure-unsur lain untuk menimbulkan gagasan-gagsan baru. Maksud dari “memaksakan hubungan” ialah agar kita dapat melepskan diri dari hubungan-hubungan yang lazim atau yang sudah mejadi tradisi (kebiasan) untuk menjajaki kemungkinan-kemungkinan baru.

  1. Pendekatan Morfologis

Pada tehnik pendekatan atau analisis morfologis kita berusaha memecahkan suatu masalah atau memperoleh ide-ide baru dengan cara mengkaji dengan cermat bentuk struktur masalah.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. Kita mulai dengan menentukan komponen-komponen dasar dari masalah atau situasi
  2. Dari setiapkomponen kita tetapkan sifatnya
  3. Dengan meninjau setiap kemungkinan kombinasi, dari sifat-sifat setiap komponen kita mendapatkan gagasan baru  dan kombinasi baru (Munandar, 1999 : 109).
  4. Pemecahan masalah secara kreatif

parners, Noller dan Biondi (1971) dalam Munandar (1999:110-111) menajukan suatu model pemecahan masalah secara kreatif (PMK) meliputi:

  1. Tahap mengumpulkan fakta
  2. Tahap menemukan masalah
  3. Tahap menemukan gagasan
  4. Tahan mnemukan jawaban
  5. Tahap menemukan penerimaan
  • AFEKTIF

Selain motivasi dan kreatifitas peserta didik, hal yang tidak kalah penting untuk difasilitasi oleh pendidik, agar tujuan pembelajaran yang sudah disusun dapat tercapai secara komprehensif adalah aspek afektif. Afektif adalah kemampuan seorang anak didik dalam soft skill berupa nilai-nilai dan perasaan. Kemampuan afektif dibagi kedalam lima klasifikasi yaitu :

  1. Menerima (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu) pada tingkat ini muncul keinginan menerima rangsangan, paling tidak dia menyadari bahwa rangsangan itu ada.
  2. Merespon, tingkat ini muncul keinginan untuk melakukan tindakan sebagai respon pada rangsangan tersebut.
  3. Menghargai (menerima nilai-nilai, setia pada nilai-nilai tertentu).
  4. Mengorganisasi (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai).
  5. Bertindak atau

Aspek-aspek afektif dalam bentuk soft skills seperti kemampuan mengembangkan kreativitas, produktivitas, berpikir kritis, bertanggungjawab, memiliki kemandirian, berjiwa kepemimpinan serta kemampuan berkolaborasi, perlu dimiliki oleh peserta didik. Aspek-aspek lain dapat ditawarkan untuk perhatian dan pengembangan aspek tersebut antara lain adalah sebagai berikut- religiusitas, sosialitas, gender, keadilan, demokrasi, kejujuran, kemandirian, daya juang, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan alam.

  1. IMPLIKASI MOTIVASI, KREATIVITAS, DAN AFEKTIF DALAM BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
  2. Implikasi Motivasi dalam Pembelajaran

Beberapa hal strategi yang bias digunakan guru untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik, yaitu dengan cara penerapan model Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction yang disingkat dengan sebutan ARCS model. Strategi yang dapat merangsang minat dan perhatian siswa salah satu cara dengan menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, menggunakan media, humor yang tepat, dan teknik bertanya dengan melibatkan siswa. Relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik. Pendidik harus menyiapkan dan menyusun materi pembelajaran yang mudah dipahami.

Kepuasan akan terwujud apabila peserta didik mencapai suatu keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan. Disamping penerapan ARCS model adalah untuk menumbuhkembangkan motivasi peserta didik dapat dilakukan beberapa hal-hal dalam pembelajaran yaitu sebagai berikut :

  1. Menjelaskan tujuan belajar yang harus dicapai saat itu.
  2. Hadiah, memberikan hadiah kepada mereka selaku peserta didik yang berprestasi, untuk memacu dan lebih giat dalam berprestasi dan bagi yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar bahkan mengunggulinya, sebab mereka merasa dihargai karena prestasinya.
  3. Saingan/Kompetisi, berusaha meningkatkan prestasi.
  4. Pujian, berikan penghargaan dan pujian atau beri tepuk tangan bagi mereka yang kerjanya bagus.
  5. Hukuman, memberikan hukuman kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar.
  6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar.
  7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
  8. Menggunakan metode yang bervariasi.
  9. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
  10. Memeriksa dan mengembalikan tugas.
  11. Implikasi Kreativitas dalam Pembelajaran

Kreativitas subjek didik akan dapat tumbuh bila pada saat:

  1. Pembelajaran berbentuk discovery, seperti memberikan contoh kunci sebuah lagu, kemudian diberikan tugas mencari kunci lagu pada alat-alat music yang tersedia, dan sebagainya.
  2. Pembelajaran dengan menggunakan metode eksperimen atau percobaan.
  3. Pembelajaran memberikan kesempatan untuk mengembangkan ilmu yang dimiliki.
  4. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan merupakan akumulasi pertanyaan konvergen dan divergen, agar subjek didik menjadi convergen thinking dan divergent thinking.
  5. Implikasi Afektif dalam Pembelajaran

Implikasi afektif dalam pembelajaran muncul setelah subjek didik mengalami pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif atau belajar berkelompok merupakan saat yang tepat untuk penanaman nilai. Setiap peserta didik yang berpartisipasi dalam kelompok, mengindikasikan sikap seperti :

  1. Menghargai pendapat teman.
  2. Menerima perbedaan.
  3. Sopan dan ramah.
  4. Sosial

 

DAFTAR BACAAN

 

Boud, D., Cohen, R., and Sampson, J. (2001) Peer learning in higher education: Learning from and with each other. London: Kogan Press

Burden, P. L & Byrd, D. M. (1999). Methods for effective teaching. Boston: Allyn and Bacon

Buzan, T. 2002. Mind maps. Hammersmith, London: Thorsons.

Fines, B. G. (2008). Peer teaching, roles, relationship,and responsibilities. UMKC School of Law

Iva Sulistyani. (2009). Penerapan model pembelajaran matematika dengan pendekatan peer-teaching ditinjau dari minat belajar siswa di SMP Negeri 2 Trucuk. Skripsi. Solo: UMS

Iwan Sugiarto. (2004). Mengoptimalkan daya kerja otak dengan berpikir holistik

& kreatif. Jakarta: Gramedia Utama.

Jarvis, P. (2001). Learning in later life: An introduction for educators and carers. London: Kogan Page.

Johnson, D. W. & Johnson, R. T. (1994). Learning together and alone, Cooperative, Competitive, and individualistic learning (4th ed.). Boston: Allyn and Bacon.

Oakes, J. (1990). Multiplying inequities, The effect of race, social class, an tracking on opportunities to learn mathematics and science. Santa Monica, CA: The BAND Corporation

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam