Paradigma Filsafat Pendidikan Modern

PAPER MINGGUAN

Analisis Paradigma (Filsafat, Teori, Praksis dan Praktik) Pendidikan Modern

 

SEGMEN 1

Pendahuluan

Perkembangan pemikiran periodesasi filsafat menurut Rizal Muntansyir (2001) adalah Zaman Klasik (zaman Yunani Kuno dan zaman Keemasan Filsafat), Zaman abad Pertengahan, Zaman Renaissance, Zaman  Modern, dan Zaman Kontemporer atau Post Modern.

  1. Zaman Klasik (abad 6 SM – 2 M)

Pada zaman yunani kuno filsafat dianggap sebagai filsafat alam, karena pada masa ini segala sesuatu diukur dan di ambil dari alam. Menurut pendapat para tokoh pada  zaman ini, yakni:

  • Thales (624 – 546 SM), berpendapat bahwa alam semesta  ini berasal dari air, karena dari segala aspek kehidupan  memerlukan dan menggunakan air.
  • Anaximander (610 – 547 SM), berpendaat bahwa alam semesta berasal dari udara, karena setiap makhluk hidup pasti membutuhkan dan menggunakan udara.
  • Heraclitus, berpendapat bahwa alam berasal dari api, karena dari api akan menjadikan sesuatu menggumpal dan membentuk benda padat yang di akibatkan dari panasnya api.
  • Pythagoras ( 572 – 500 SM), berpendapat bahwasemua berasal dari sesuatu yang bisa dihitung dan di angkakan.
  • Parmanides, berpendapat bahwa sesuatu dilihat dari dua segi  yakni fisika (sesuatu yang ada itu ada) dan metafisika (sesuatu yang tidak ada itu tidak ada).
  • Socrates (470 -399 SM),yang mengemukakan bahwa pada masa setelah yunani kuno,mengalami masa keemasan  filsafat, karena pada masa ini orang memiliki  kebebasan untuk mengemukakan pendapat atau ide-idenya. Yunani pada masa ini dianggap sebagai gudang ilmu, karena bangsa yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikapmenerima begitu saja ), melainkan sikap inquiring attitude ( sikap menyelidiki sesuatu secara kritis).Pada masa ini filsafat bercorak Antroposentris, yakni  para filsuf menjadikan manusia sebagai objek pemikiran filsafat.
  1. Zaman abad Pertengahan (abad 2 – 14 M)                    

Filsafat pada zaman abad pertengahan mengalami dua periode,yaitu: Periode Patristik, berasal dari kata latin patres yang berarti bapa-bapa gereja. Pada periode ini mengalami dua tahap: 1) Permulaan agama Kristen, setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani maka agama Kristen memantapkan diri untuk keluar memperkuat gereja dan ke dalam menetapkan dogma-dogma. 2) Filsafat Agustinus, melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan. Periode Skolastik (tahun 800 – 1500 M), yang dibagi menjadi tiga tahap: 1) Periode skolastik awal (abad 9 – 12), ditandai oleh pembentukan metode-metode yang lahir karena hubungan  yang rapat antara agama dan filsafat serta persoalan tentang universalia. 2) Periode puncak perkembangan skolastik (abad ke-13), ditandai oleh keadaan yang dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat arab dan yahudi. Puncak perkembangan pada Thomas Aquinus. 3) Periode skolastik akhir (abad 14 – 15), ditandai dengan pemikiran kefilsafatan yang berkembang kearah nominalisme, ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak member petunjuk tenteng aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Tokoh yang piawai pada masa ini adalah Augustinus, Aristoteles, dan Thomas Aquinus.

  1. Zaman Renaissance (abad 15 – 16 M)

Zaman Renaissance ditandai sebagai era kembalinya pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance ialah zaman peralihan ketika kebudayaan abad pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman ini merindukan pemikiran yang bebas, karena manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan gereja.

  1. Zaman Modern (abad 17 M)

Ciri khas pada masa ini adalah dominasi barat dalam bidang pemikiran politk. Disatu sisi pemikiran politik barat dijadikan sebagai model tentang bagaimana suatu masyarakat dapat dan seharusnya berkembang. Sementara disisi lain pemikiran politik barat dianggap sebagai sesuatu yang asing dan layak dimusuhi, satu pengecualian adalah teolog politik syiah yang berkembang dengan cara baru dan mengakui momoentumnya sendiri.

Zaman Modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah, penemuannya dalam ilmu pasti adalah system koordinat yang terdiri atas dua garis X dan Y dalam bidang datar (oleh Descartes), teorigravitasi (oleh Isaac Newton), electron (oleh JJ.Thompson). Adapun tokoh yang pertama kali pada abad modern, yakni Descartes ( 1596 – 1650) yang beranggapan bahwa sesuatu berasal dari keraguan.

  1. Zaman Kontemporer/Post Modern (abad XX)

Zaman Kontemporer ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, dan internet. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuan kontemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis ataupun super spesialis demikian pula dengan ilmu lainnya. Di samping kecenderungan ke arah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihadirkan ilmu baru.

Zaman kontemporer mengkritik filsafat modern, yang berfikir bebas sehingga muncul postmodernisme. Pemikiran postmodernisme adalah pemikiran yang menentang segala hal yang berbau kemutlakan dan baku, menolak dan menghindari suatu sistematika uraian atau pemecahan persoalan yang sederhana dan skematis serta memanfaatkan nilai-nilai yang berasal dari berbagai sumber

 

SEGMEN 2

Ringkasan Materi

  1. Renaissance

Istilah Renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti kebangkitan kembali. Oleh sejarahwan istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual.

  1. Rasionalisme

Aliran rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama aliran Rasionalisme adalah lawan dari autoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan dari Empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan.

  1. Aliran Empirisme

Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.

  1. Aliran Naturalisme

            Naturalisme menitikberatkan pada strategi belajar yang bersifat paedosentris (belajar terpusat pada anak), faktor kemampuan anak didik menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran.

  1. Aliran Nativisme-Pesimisme,

Nativisme-pesimisme memiliki prinsip bahwa Anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk.

  1. Aliran Pragmatisme

Aliran pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.

  1. Aliran Konvergensi

            Pandangan teori konvergensi adalah mengenai pertumbuhan dan perkembangan secara sintesis dan dialektis, yaitu adanya perpaduan antara kemampuan dasar yang dibawanya sejak lahir dengan faktor lingkungan dari luar dirinya.

  1. Aliran Essensialisme

            Esensialisme adalah generalisasi yang menyatakan bahwa sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh suatu kelompok (orang misalnya, hal-hal, ide-ide) bersifat universal, dan tidak tergantung pada konteks. Misalnya, pernyataan esensialis “semua manusia fana’.

  1. Aliran Eksistensialisme

            Eksistensialisme merupakan aliran yang mempunyai prinsip bahwa segala gejala bertolak dari eksistensi yaitu suatu cara pandang keberadaan dunia dan manusia berada yang membedakan dengan makhluk lain.

  1. Aliran Progressivisme,

Aliran progressivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progressivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup.

  1. Aliran Perennialisme,

Perennialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perennialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.

  1. Aliran Rekonstruksionalisme.

Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dengan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perrennialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern.

 

SEGMEN 3

Bahasan

  1. Aliran-aliran Filsafat Pendidikan Modern

Berikut ini akan dijelaskan tentang pemikiran filosofi/filsafat pendidikan modern dikenal beberapa aliran yaitu renaissance, rasionalisme, empirisme, naturalisme, nativisme-pesimisme, pragmatisme, konvergensi, essensialisme, eksistensialisme, progressivisme, perennialisme, dan rekonstruksionalisme. Berikut ini penjelasannya:

  1. Renaissance (abad 15 – 16 M)

          Renaissance berasal dari bahasa Perancis yang berarti kebangkitan kembali. Oleh sejarahwan istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa.

Tafsir (2005 : 124) menyatakan bahwa Renaissance adalah istilah Perancis. Dalam bahasa Latin, re + nasci berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarahwan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16.

Ihsan (2010 : 148) menyatakan bahwa Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh suatu usaha besar dari Descartes (1596-1650 M) untuk memberikan kepada filsafat suatu bangunan baru. Memang dalam bidang filsafat, zaman Renaissance kurang menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Namun di antara perkembangan itu terjadi pula perkembangan dalam bidang filsafat. Descartes sering disebut sebagai tokoh pertama filsafat modern.

Ihsan (2010 : 149) menyatakan bahwa Zaman modern filsafat didahului oleh Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat, ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Pada filsafat kita menemukan ciri-ciri Renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani (Renaissance), Individualisme, Humanism, lepas dari pengaruh agama lain-lain.

Sedangkan Tafsir (2005 : 127) menyatakan bahwa Zaman modern filsafat didahului oleh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat, tidak berbeda dari zaman Modern. Ciri-ciri filsafat renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Decrates. Pada filsafatnya kita menemukan ciri-ciri renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani (renaissance), individualisme, humanisme, lepas dari dari pengaruh agama dan lain-lain.

Tokoh pertama filsafat modern adalah Decrates. Pada filsafatnya kita menemukan ciri-ciri renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali rasionalisme Yunani (renaissance), individualisme, humanisme, lepas dari dari pengaruh agama dan lain-lain. Descrates mengetahui bahwa tidak mudah untuk menyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio (akal). Karena waktu itu mereka telah yakin bahwa dasar filsafat haruslah Iman. Untuk menuntun pemikiran mereka Descrates menyusun metode yang berisi argumen-argumen. Metode Descrates itu terkenal dengan sebutan Cogito Descrates.

  1. Rasionalisme

          Ihsan (2010 : 150) menyatakan bahwa :

  • Descrates adalah tokoh pertama dalam filsafat modern. Ia sebagai orang yang beraliran rasioalis. Rasionalisme adalah paham filsafat yang menyatakan bahwa akal adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Para tokoh aliran rasionalisme adalah Descrates (1596-1650 M), Spinoza (1632-1677 M), dan Leibniz (1646 – 1716 M).
    • Aliran rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama aliran Rasionalisme adalah lawan dari autoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan dari Empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan. Hanya saja Empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir, pengetahuan dari Empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berpikir adalah kaidah-kaidah logis.

Sedangkan Tafsir (2005 : 129) menyatakan bahwa :

  • Decrates lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. Ia mengetahui bahwa tidak mudah menyakinkan tokoh-tokoh bahwa dasar filsafat haruslah rasio (akal). Tokoh-tokoh gereja waktu itu tetap yakin bahwa dasar filsafat haruslah iman sebagaimana yang tersirat dalam jargon credo ut intelligam dari Anselmus itu. Untuk menyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasi yang amat terkenal. Argumentasi itu tertuang di dalam metode cogito
  • Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1677. Spinoza percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan yang dimaksudnya adalah alam semesta ini. Spinoza menyatakan bahwa Selain Tuhan, tidak ada substansi yang dapat dipahami. Ini berarti bahwa Tuhan dan alam adalah satu dan sama.
  • Leibniz lahir pada tahun 1646 dan meninggal pada tahun 1716. Ia adalah filosof Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarahwan. Pusat metafisikanya adalah idea tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad. Metafisika Leicniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab, sementara substansi pada Leibniz adalah hidup, dan setiap sesuatu terjadi untuk suatu tujuan. Penuntun prinsip filsafat Leibniz ialah prinsip akal yang mencukupi”, yang secara sederhana dapat dirumuskan” sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan juga harus mempunyai alasan untuk setiap yang diciptakan-Nya. Kita lihat bahwa prinsip ini menuntun filsafat Leibniz.
  1. Empirisme

Tafsir (2005 : 173) menyatakan bahwa Kebimbingan orang kepada sains dan agama pada Zaman Modern filsafat sebagaimana telah disinggung di atas, ditimbulkan oleh berbagai hal, antara lain oleh ajaran empirisme. Tokoh dalam filsafat empirisme adalah Jhon Locke, Hume, dan Spencer.

Hakim dan Saebani (2008 : 265) menyatakan bahwa Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal.

Lebih lanjut Kuswana (2013 : 28) menyatakan bahwa Locke dilahirkan tahun 1632 M di Inggris, anak seorang ahli hukum dan belajar kedokteran di Oxford, serta ilmu alam dan filsafat. Dia mempunyai prinsip bahwa Manusia dilahirkan dengan jiwa yang kosong dari kemampuan (potensi) dasar apapun, dan jiwanya dipersamakan sebagai lilin yang putih bersih dari pengaruh apapun (Tabulae Rasae). Manusia dapat dibentuk dan dilukis menurut kehendak pendidik, tanpa kemampuan mengadakan respons terhadap pengaruh dari luar jiwanya

          Kuswana (2013 : 28) menyatakan bahwa Locke mempunyai pandangan bahwa Pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia ditentukan oleh faktor dari luar dirinya yaitu oleh pengalaman baik yang sengaja maupun tidak. Paham empiris memandang bahwa pengaruh pendidikan dapat menentukan jalan hidup manusia, adapun faktor internal berupa kemampuan dasar, bakat, keturunan tidak memberikan pengaruh apa-apa.

Paham empirisme sangat berkembang di Amerika Serikat, dan dikemudian harus menjadi akar “Behaviorisme” yang dipelopori oleh John Dewey, William James, Lange, Watson, dan Skinner. Paham ini, berpengaruh pada filsafat pragmatis yang mengutamakan pada kemanfaatan, sebagai kriteria dari sistem nilai kebutuhan manusia. Paham pragmatis selain berkembang di Amerika Serikat, juga di Eropa seperti German dan Itali dengan penamaan Nativisme (Kuswana (2013 : 28)).

Selanjutnya Bertens (1979 : 76) menyatakan bahwa Menurut Spencer bahwa kita hanya dapat mengenali fenomena-fenomena atau gejala-gejala. Memang benar di belakang gejala-gejala itu ada suatu dasar absolut, tetapi yang absolut itu tidak dapat kita kenal. Secara prinsip pengenalan kita hanya menyangkut relasi-relasi antara gejala-gejala. Di belakang gejala-gejala ada sesuatu yang oleh Spencer disebut “yang tidak diketahui”.

  1. Naturalisme

Kuswana (2013 : 28) menyatakan bahwa :

  • Jean Jacques Rousseau adalah seorang filsuf Perancis mempunyai pandangan yang menitikberatkan pada sesuatu kemampuan dipengaruhi oleh pembawaan secara alamiah yang telah membentuk pada setiap pribadi manusia.
  • JJ Rousseau mempunyai prinsip yaitu Manusia dilahirkan telah membawa potensi yang berkecenderungan ke arah baik, dan tidak ada unsur-unsur pembawaan yang cenderung ke arah yang buruk atau jahat. Pertumbuhan dan perkembangan akan mengalami penyimpangan, apabila faktor luar memberikan yang tidak sesuai dengan potensinya. Oleh karena itu, anak tidak perlu dididik oleh orang lain, namun biarkan anak belajar oleh kemampuannya secara alamiah, bebas dan merdeka selaras dengan aturan alamiah.
  • JJ Rousseau merupakan pemikir romantik kontemporer dengan corak tradisional yang lahir dalam zaman abad pencerahan. Paham ini, mengetengahkan tiga prinsip terkait dengan proses belajar mengajar yaitu,
  • Anak didik, belajar didasarkan pada pengalamannya sendiri dan berproses secara interaktif antara pengalaman dengan kemampuan tumbuh dan berkembang dari dalam dirinya secara alamiah.
  • Pendidikan, bersifat memfasilitasi dan menyediakan lingkungan belajar yang kondusif. Tanggung jawab belajar terletak pada diri pembelajar, pendidik mendorong keberanian anak didik dan berorientasi pada sikap positif dan tanggap terhadap kebutuhan untuk memperoleh bimbingan dan motivasi dari pendidik,
  • Sekolah harus menyediakan perangkat sistem yang sesuai dengan minat dan bakat anak didik, dengan tersedianya lingkungan yang berorientasi pada pola belajarnya. Oleh karena itu, sekolah harus memberikan rasa nyaman, gembira, dan anak didik secara bebas memanfaatkan lingkungan belajar sendiri selaras dengan potensinya.
  • Naturalisme menitikberatkan pada strategi belajar yang bersifat paedosentris (belajar terpusat pada anak), faktor kemampuan anak didik menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran. konsekuensinya, pola pendidikan cenderung mengembangkan individualisasi dan mendorong aktivitas kemandirian sesuai dengan minat dan bakatnya.
  1. Nativisme-Pesimisme,

          Kuswana (2013 : 30) menyatakan bahwa :

  • Arthur Schopenhauer lahir di Frankfurt tanggal 22 Februari 1788 M, seorang filsug German dikenal karena nativisme-pesimisme dan kejelasan filsafat.
  • Schopenhauer berpendapat bahwa pada prinsipnya Anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk. Pembawaan merupakan kemampuan psikologis dengan berbagai kecenderungan, seperti minat, bakat, keturunan, dan yang lainnya. Secara keseluruhan, merupakan faktor penentu dari perkembangan dan pertumbuhan (Kuswana (2013 : 30).
  • Schopenhauer memiliki pandangan bahwa Dunia pada dasarnya apa yang kita kenali dalam diri kita sendiri. Hasil analisisnya akan membawanya pada kesimpulan bahwa keinganan emosional dan fisik tidak dapat terpenuhi. Oleh karena itu, faktor pembawaan dipandang paling dominan untuk membentuk dirinya sendiri, dibandingkan dengan hal-hal yang datang dari luar. Kemudian Schopenhauer percaya bahwa manusia termotivasi hanya oleh keinganan dasar mereka sendiri, atau yang mengarahkan semua umat manusia.
  1. Pragmatisme

            Hakim dan Saebani (2008 : 319) menyatakan bahwa Aliran pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.

Kuswana (2013 : 31) menyatakan bahwa orang yang memiliki pandangan pragmatisme adalah John Dewey. Dia adalah salah satu pendiri Aliran Pragmatisme. Lalu, Gie (2010 : 46) menyatakan bahwa John Dewey lahir pada tahun 1859 adalah seorang filsuf besar Amerika Serikat dan tokoh aliran pragmatisme. Keahliannya meliputi banyak cabang filsafat dan bidang pengetahuan lainnya, terutama pendidikan. Ajaran logikanya merupakan mazhab logika pragmatis. Tokoh-tokoh yang paling terkenal pada filsafat pragmatisme adalah ; Jhon Dewey (1859) dan William James (1842-1910 M).

  1. Konvergensi

Kuswana (2013 : 38) menyatakan bahwa ;

  • Teori konvergensi dipelopori oleh William Stern. Inti dari pandangan teori konvergensi adalah mengenai pertumbuhan dan perkembangan secara sintesis dan dialektis, yaitu adanya perpaduan antara kemampuan dasar yang dibawanya sejak lahir dengan faktor lingkungan dari luar dirinya.
  • Stern mengemukakan bahwa Pertumbuhan dan perkembangan berjalan secara dialektis atau saling berpengaruh antara faktor internal dan eksternal seseorang. Faktor pendidikan yang secara sengaja dirancang secara sistematis, dapat memberikan makna terhadap faktor bawaannya.
  • Faktor bawaan, kurang bermakna apabila tidak terjadi dukungan faktor luar, oleh karena itu untuk pencapaian tujuan pertumbuhan dan perkembangan secara optimal dibutuhkan saling berinteraksi. Intelegensi anak didik, dapat dikembangkan melalui proses interaksi dengan faktor pembentuk dari luar. Walaupun, paham ini mengakui bahwa kekuatan kecerdasan sebagian besar sangat dipengaruhi oleh keturunan.
  1. Essensialisme

Kuswana (2013 : 39) menyatakan bahwa Esensialisme adalah :

  • Generalisasi yang menyatakan bahwa sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh suatu kelompok (orang misalnya, hal-hal, ide-ide) bersifat universal, dan tidak tergantung pada konteks. Misalnya, pernyataan esensialis “semua manusia fana’.
  • Anggota kelompok tertentu mungkin memiliki karakteristik lain yang tidak diperlukan untuk membuat keanggotaannya tidak menghalangi keanggotaan yang lainnya, tetapi esensi tidak hanya mencerminkan cara pengelompokan objek, menghasilkan sifat dari objek.
  • Plato sebagai satu salah ensensialis pertama percaya bahwa Ide-ide adalah kekal dan jauh lebih unggul untuk membentuk manifestasi materi ideal di dunia. Plato dianggap sebagai patriachs untuk dogma esensialis yang terfokus pada intrinsik dan kontekstual objek dan sifat abstrak.
  • Essentialists bertujuan untuk menanamkan hal yang penting kepada peserta didik dengan pengetahuan akademik, patriotisme, dan pengembangan karakter. Pendekatan tradisional ini dimaksudkan untuk melatih pikiran, mempromosikan penalaran, dan budaya.
  • Filsafat pendidikan esensialisme merupakan suatu filsafat pendidikan yang pengikutnya percaya bahwa anak-anak harus belajar mata pelajaran dasar tradisional, yang harus dipelajari secara menyeluruh dan disiplin. Program esensialis biasanya mengajar anak-anak secara progresif, dari keterampilan kurang kompleks sampai lebih kompleks. Penganut esensialis biasanya akan mengajar beberapa mata pelajaran diatur seperti; membaca, menulis, sastra, bahasa asing, sejarah, matematika, sains, seni, dan musik.
  • Peran pengajar adalah untuk menanamkan rasa hormat terhadap otoritas, ketekunan, tugas, pertimbangan, dan kepraktisan. Esensialisme berupaya untuk mengajar peserta didik, atas dasar akumulasi pengetahuan peradaban melalui mata pelajaran inti dalam disiplin akademis tradisional.

Komar (2006 : 158) menyatakan bahwa Berikut ini karakteristik aliran filosofi essensialisme yaitu

  • Essensialisme berakar pada ungkapan realisme objektif dan idealisme objektif yang modern, yaitu alam semesta diatur oleh hukum alam sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaannya.
  • Sasaran pendidikan ialah mengenalkan siswa pada karakter alam dan warisan budaya.
  • Nilai (kebenaran) bersifat korespondensi / berhubungan antara gagasan dengan fakta secara objektif.
  • Bersifat konservatif (pelestarian budaya) dengan merefleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman renaissance.
  1. Eksistensialisme

            Kuswana (2013 : 44) menyatakan bahwa Eksistensialisme adalah :

  • Merupakan aliran yang mempunyai prinsip bahwa segala gejala bertolak dari eksistensi yaitu suatu cara pandang keberadaan dunia dan manusia berada yang membedakan dengan makhluk lain.
    • Manusia dengan kesadaran akalnya berada, secara totalitas dan selalu terkait dengan kemanusiaan. Suatu arti yang diberikan manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri. Manusia eksistensi mendahului ensensi atau hakikat, sebaliknya benda-benda lain esensi mendahulukan eksistensi. Manusia berada selanjutnya, menentukan diri sendiri menurut projeksinya sendiri, hidupnya tidak ditentukan lebih dahulu, sedangkan benda-benda lain bertindak menurut ensensinya atau kodrat yang tidak dapat dielakkan.
    • Eksistensialisme adalah istilah yang diterapkan pada hasil sejumlah filsuf ke 19 dan abad ke 20 yang meskipun ada perbedaan doktrin yang mendalam, umumnya dipertahankan bahwa fokus pemikiran filosofis harus berurusan dengan kondisi adanya seseorang atau individu dan emosinya, tindakan, tanggung jawab, dan pikiran.
    • Filsuf eksistensialis selanjutnya mempertahankan penekanan pada individu, tetapi berbeda, dalam berbagai derajat, tentang bagaimana seseorang mencapai dan apa yang merupakan kehidupan yang memuaskan, apa hambatan yang harus diatasi, dan apa faktor-faktor eksternal dan internal yang terlibat, termasuk konsekuensi potensial dari keberadaan atau non keberadaan Tuhan, dari para eksistensialis. Eksistensialis dianggap filsafat sistematis atau sangat akademis tradisional, baik dalam gaya dan isi, karena abstrak dan jauh dari pengalaman berpikir manusia. Eksistensialisme menjadi populer di tahun-tahun pasca-perang dunia sebagai cara untuk menegaskan kembali pentingnya individualitas manusia dan kebebasan.
    • Fokus pada keberadaan pemikir eksistensialis adalah pada pertanyaan eksistensi manusia dan kondisi keberadaan ini daripada hipotesa esensi manusia, menekankan bahwa esensi manusia ditentukan oleh pilihan hidup. Namun, meskipun adanya prinsip dalam eksistensialisme adalah kondisi tertentu umumnya dianggap endemik untuk eksistensi manusia.

Tokoh-tokoh eksistensialisme yang terkenal adalah ; Soren Kierkegaard (1813-1855) dan Jean Paul Sartre (1905-1980)

  1. Progressivisme

Komar (2006 : 158) menyatakan bahwa Berikut ini karakteristik aliran filosofi progresivisme yaitu

  • Progresivisme berakar dari pragmatisme.
  • Sasaran pendidikan ialah meningkatkan kecerdasan praktis (kompetensi) dalam rangka efektivitas pemecahan masalah.
  • Nilai bersifat relatif, terutama nilai duniawi, menjelajah, aktif, evolusioner, dan konsekuensi perilaku.
  • Bersifat evolusioner dengan gaya liberalistik.

Syam (dalam Jaluluddin dan Idi : 2011 : 78) menyatakan bahwa Aliran progressivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progressivisme dalam semua realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan hidup. Aliran proggressivisme memiliki kemajuan yaitu dalam bidang ilmu pengetahuan meliputi : ilmu hayat, bahwa manusia mengetahui semua masalah kehidupan; antropologi, bahwa manusia mempunyai pengalaman, pencipta budaya. Dengan demikian, dapat mencari hal baru; psikologi, bahwa manusia akan berpikir tentang dirinya sendiri, lingkungan, pengalaman, sifat-sifat alam, dapat menguasai dan mengatur alam. Lebih lanjut Jaluluddin dan Idi  (2011 : 79) menyatakan bahwa Adapun tokoh-tokoh aliran progressivisme ini antara lain adalah William James, John Dewey, dan Hans Vaihinger.

Filsafat progressivisme bermaksud menjadikan anak didik memiliki kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.

  1. Asas belajar

Asas progressivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil, melainkan manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang, yang berbeda kemampuannya, aktif, kreatif, dan dinamis serta punya motivasi untuk memenuhi kebutuhannya.

  1. Pandangan kurikulum progressivisme

Filsafat progressivisme menunjukkan dengan konsep dasarnya sejenis kurikulum yang program pengajarannya dapat memengaruhi anak belajar secara edukatif, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Dalam hal ini, tentunya dibutuhkan sekolah yang baik dan kurikulum yang baik pula (Barnadib (dalam Jaluluddin dan Idi : 2011 : 90)).

Jaluluddin dan Idi (2011 : 93) menyatakan bahwa Melalui proses pendidikan dengan menggunakan kurikulum yang bersifat integrated kurikulum (masalah-masalah dalam masyarakat disusun terintegrasi) dengan metode pendidikan belajar sambil berbuat (learning by doing) dan metode problem solving (pemecahan masalah) diharapkan anak didik menjadi maju (progress) mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial sehari-hari dengan baik.

  1. Perennialisme

Komar (2006 : 158) menyatakan bahwa Berikut ini karakteristik aliran filosofi perenialisme yaitu

  • Perenialisme berakar pada tradisi filosofis klasik yang dikembangkan oleh Plato, Aristoteles, dan Santo Thomas Aquinas.
  • Sasaran pendidikan ialah kemampuan menguasai prinsip kenyataan, kebenaran, dan nilai-nilai abadi dalam arti tak terikat oleh ruang dan waktu.
  • Nilai bersifat tak berubah dan universal.
  • Bersifat regresif (mundur) dengan memulihkan kekacauan saat ini melalui nilai zaman pertengahan (renaissance).

Jaluluddin dan Idi (2011 : 106) menyatakan bahwa :

  • Di zaman modern ini, banyak bermunculan krisis di berbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, perennialisme memberikan jalan keluar yaitu dengan mengembalikan pada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itu pendidikan harus lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
  • Perennialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perennialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.
  • Hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah, perennialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan.

Barnadib (dalam Fudyatanta : 25) menyatakan bahwa Perenialisme sebagai suatu sistem filsafat pendidikan tentu mempunyai alasan-alasan mengapa filsafat pendidikan tersebut timbul atau lahir di dunia ini. Sebagaimana filsafat filsafat pendidikan yang lain, filsafat pendidikan perenialisme menghadapi problem, bagaimana menghadapi realita hidup ini, ialah realita perubahan-perubahan nilai-nilai hidup manusia dari zaman-zaman, dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Perubahan-perubahan hidup dan kebudayaan manusia ada yang cepat dan ada yang lambat. Bahkan perenialisme beranggapan, bahwa dunia sekarang ini seperti dalam keadaan yang kacau balau, mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebinggungan ataupun kebimbangan-kebimbangan.

  1. Rekonstruksionalisme

Komar (2006 : 159) menyatakan bahwa Berikut ini karakteristik aliran filosofi rekonstruksionalisme yaitu :

  • Berakar pada perspektif (sudut pandang) sosiologi pendidikan yang digagas oleh Karl Marx dan Karl Mennheim.
  • Sasaran pendidikan ialah menciptakan tatanan demokratis yang universal.
  • Nilai bersifat persetujuan/komitmen yang berkaitan dengan latar belakang sosial dalam era kesejahteraan (welfare state).
  • Bersifat revolusioner yang akan menuju kehidupan yang sejahtera pada kurun waktu tertentu.

Jaluluddin dan Idi (2011 : 116) menyatakan bahwa :

  • Kata rekonstruksionisme berasal dari bahasa Inggris rekonstruct, yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme merupakan suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dengan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perrennialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern.
  • Rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antarsesama manusia agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru. Untuk tujuan tersebut, diperlukan kerja sama antar umat manusia.
  • Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.

 

SEGMEN 4

Tanggapan

Menurut kami pemikiran filosofi /filsafat pendidikan modern pada zaman renaissance mempunyai kelebihan yaitu sudah menggunakan akal (pikiran) sebagai dasar filsafat. Dengan menggunakan pikiran (akal) sebagai dasar filsafat maka masalah-masalah yang terjadi dapat juga diselesaikan dengan menggunakan akal (pikiran) untuk menyelesaikannya. Dengan diselesaikannya masalah maka kegiatan akan berjalan dengan lancar.

Contoh pemakaian akal (pikiran) untuk berfilsafat di sekolah misalnya ada suatu masalah yaitu banyak guru yang datang terlambat ke sekolah. Lalu kepala sekolah lalu berfilsafat dengan menggunakan akal (pikiran) untuk menyelesaikan masalah tersebut. Setelah dengan berpikir (berfilsafat) maka kepala sekolah lalu berencana akan memanggil guru yang sering terlambat ke sekolah dan dilakukan wawancara untuk mengetahui mengapa mereka datang ke sekolah terlambat. Setelah itu kepala sekolah harus menganalisis jawaban-jawaban yang telah diberikan oleh guru tersebut untuk dipikirkan dan membuat solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dengan selesainya masalah di sekolah dan tidak ada lagi guru yang sering terlambat maka siswa pun akan dapat belajar dengan baik di sekolah. Jadi sungguh bagus menggunakan pikiran sebagai landasan untuk berfilsafat dalam upaya menyelesaikan masalah.

Namun ada juga kekurangan dari aliran filsafat renaissance, kekurangannya ada yaitu untuk pelajaran pendidikan agama maka dasar filsafat juga bisa berlandaskan iman. Contoh pelajaran di sekolah tentang Tuhan maka ketika ada siswa yang bertanya apakah Tuhan ada? maka kita harus mengatakan kepada siswa bahwa Tuhan itu ada, kita harus mempercayainya, kemudian kita juga dapat mengatakan bahwa nabi telah memberitahu kita bahwa Tuhan itu ada dan kita harus beriman kepadanya. Dengan menjadikan iman sebagai landasan dalam berfilsafat maka ini membuktikan bahwa kita telah beriman kepada Tuhan yang Maha Esa.

Berdasarkan penjelasan di atas maka dasar filsafat bisa berdasarkan iman dan akal (pikiran). Kedua-duanya benar tergantung pada konteksnya. Ketika di bidang ilmu pengetahuan maka seorang ilmuwan dapat melandaskan pemikiran sebagai landasan dalam berfilsafat untuk menemukan sesuatu yang baru dan yang berguna bagi banyak orang. Kemudian ketika di pelajaran Pendidikan Agama maka dasar filsafat lebih banyak berdasarkan iman kita kepada Sang Pencipta yaitu Tuhan yang Maha Esa.

Tanggapan selanjutnya yang dapat diberikan pada aliran rasionalisme adalah pemikiran filosofi dari aliran rasionalisme mempunyai kelebihan yaitu menggunakan pemikiran untuk berfilsafat. Contohnya di kelas ada siswa yang suka membuat keributan maka untuk menyelesaikan masalah siswa tersebut, guru dapat berpikir untuk menyelesaikan permasalahan dari siswa tersebut. Setelah guru berpikir maka guru mendapatkan cara untuk menyelesaikan permasalahan siswa tersebut dengan melakukan wawancara dengan cara memanggil siswa tersebut untuk menemukan penyebab siswa tersebut melakukan keributan. Ternyata setelah dilakukan wawancara maka didapatkan penyebab siswa tersebut melakukan keributan karena siswa ini ingin mendapatkan perhatian. Setelah guru sudah mengetahui bahwa siswa tersebut melakukan keributan karena kurang mendapatkan perhatian maka guru mulai untuk memberikan perhatian kepada siswa tersebut dan ternyata setelah dilakukan hal tersebut maka siswa tersebut tidak melakukan keributan lagi di kelas.

Dengan menggunakan pemikiran untuk berfilsafat dengan tujuan ingin menyelesaikan masalah maka hal ini akan membawa manfaat bagi orang yang ingin menyelesaikan masalah dengan menggunakan pemikiran untuk berfilsafat. Dengan selesainya masalah maka kegiatan akan berjalan dengan lancar. Jika di kelas muncul masalah dari siswa maka guru dapat menggunakan pemikiran untuk menyelesaikan masalah tersebut. Masalah yang dapat diselesaikan oleh guru maka akan membawa manfaat bagi guru dan siswa. Manfaat bagi guru adalah dengan selesainya masalah siswa maka guru akan dapat mengajar siswanya dengan baik. Kemudian manfaat bagi siswa jika masalahnya diselesaikan oleh guru adalah siswa akan dapat belajar dengan nyaman dan senang di sekolah sehingga siswa juga akan dapat memperoleh keberhasilan dalam belajar di sekolah.

Kelemahan dari aliran rasionalisme adalah tidak selama dengan masalah yang muncul dapat diselesaikan dengan akal pikiran. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan dalam pemikiran manusia. Misalnya di sekolah ada suatu masalah yaitu banyak guru yang malas dalam berkreativitas membuat rancangan pembelajaran  di sekolah yang kreatif. Berbagai upaya sudah diupayakan oleh kepala sekolah untuk berpikir dan memecahkan masalah tersebut. Akhirnya kepala sekolah menyerah karena pemikirannya tidak berhasil dalam menyelesaikan masalah guru-gurunya.

Kelemahan selanjutnya dari menjadikan filsafat sebagai landasan berpikir adalah tidak semua masalah dengan cepat diselesaikan oleh guru mengggunakan pemikiran yang masih terbatas. Contohnya guru ingin menyelesaikan masalah banyaknya siswa yang tidak konsentrasi dalam belajar. Lalu guru dengan cepat mengambil inisiatif untuk menyelesaikan masalah siswanya dengan sering memberikan pujian kepada siswa-siswanya dan diharapkan dengan pujian tersebut para siswanya dapat konsentrasi dalam belajar. Namun setelah dilakukannya hal tersebut masih banyak siswanya yang belum konsentrasi dalam belajar. Dari contoh tersebut maka ini menunjukkan bahwa pemikiran seseorang juga memiliki keterbatasan. Setelah diteliti oleh guru lain ternyata hal yang menyebabkan banyaknya siswa tidak konsentrasi dalam belajar adalah siswa belum mengetahui pentingnya untuk konsentrasi saat belajar. Dengan dijelaskannya pentingnya konsentrasi dalam belajar maka ini menyebabkan siswanya bisa berkonsentrasi dalam belajar agar mereka lebih memahami materi pelajaran yang dipelajarinya di sekolah.

Tanggapan yang ingin diberikan pada aliran empirisme dimulai dari kelebihannya yaitu dengan adanya pandangan dari empirisme maka pendidikan di sekolah dapat diarahkan untuk membentuk siswa menjadi apa yang diinginkan oleh sekolah tersebut. Kemudian dengan adanya paham empirisme maka orang tua juga bisa meminta bantuan kepada sekolah untuk mendidik anak mereka menjadi apa yang diinginkan oleh orang tua mereka. Inilah kelebihan dari aliran empirisme ini jika diimplikasikan dalam bidang pendidikan. Jika sekolah ingin siswanya kelak bisa menjadi arsitek maka sekolah akan memasukkan semua pembelajaran yang kelak berhubungan dengan pekerjaan siswa sebagai arsitek.

Contoh untuk penerapan paham aliran empirisme dalam bidang Pendidikan. Misalnya Sekolah Tinggi Pendidikan Matematika di Kota X, lalu ada mahasiswa bernama Rudi masuk ke sekolah tinggi tersebut maka pihak institusi akan berusaha untuk membimbing Rudi agar kelak bisa menjadi guru matematika. Semua mata kuliah yang diajarkan kepada Rudi adalah mata kuliah yang berhubungan dengan Keperluan Rudi untuk menjadi guru matenatika setelah lulus dari sekolah tinggi tersebut.

Kelemahan teori empirisme adalah tidak semua siswa yang masuk ke sekolah lalu di didik sesuai dengan kehendak sekolah untuk menjadikan siswa tersebut sesuai dengan keinginan dari sekolah. Hal ini disebabkan bakat seseorang juga mempunyai pengaruh dalam menentukan pekerjaan seseorang. Contoh di SMK, ada siswa masuk jurusan Akuntansi, lalu ternyata siswa tersebut tidak mempunyai bakat di bidang akuntansi dan siswa tersebut setelah lulus dari SMK tersebut dan tidak menjadi akuntan, tetapi siswa tersebut memiliki bakat di bidang pendidikan yaitu menjadi pendidik. Dari contoh tersebut maka hal ini menunjukkan bahwa tidak selama sekolah bisa mendidik siswanya untuk menjadi seperti apa yang diinginkan oleh sekolah tersebut. Hal ini disebabkan siswa memiliki bakat yang bervariasi di dalam suatu sekolah.

Tanggapan selanjutnya akan diberikan kepada Aliran Nativisme-Pesimisme. Untuk memulai tanggapannya maka kami akan menanggapi kelebihan dari aliran Nativisme-pesimisme. Kelebihannya adalah dari pandangan nativisme ini adalah dengan diketahuinya bahwa di dalam diri siswa ada unsur-unsur yang baiknya maka kurikulum di sekolah dapat diarahkan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh siswanya yakni dapat menjadi orang yang baik. Dengan banyak orang yang baik maka dunia ini akan tentram dan damai. Jadi sekolah harus bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh siswanya untuk menjadi orang yang baik.

Sebagai contoh Ada seorang siswa bernama Tuti lalu dia sekolah di sebuah SMK kemudian siswa ini lalu diajarkan oleh sekolah tentang hal-hal yang baik maka setelah siswa ini lulus dari sekolah maka siswa ini akan menjadi siswa yang baik. Sama hal dengan siswa yang memiliki bakat di bidang musik lalu masuk perguruan tinggi yang mengambil bidang musik maka setelah siswa lulus dari sekolah musik tersebut maka siswa akan menjadi seorang musisi yang hebat. Jadi potensi yang dimiliki oleh siswa akan dapat dikembangkan oleh sekolah jika para pimpinan dan pendidik tersebut memiliki pandangan atau paham aliran nativisme.

Kemudian kelemahan dari aliran nativisme ini adalah dia tidak terlalu memerhatikan faktor lingkungan dalam menentukan tingkah laku, bakat, dan minat siswa. Sebagai contoh siswa yang tinggal di suatu desa yang orang di sana tidak suka bersekolah maka siswa tersebut tidak akan suka bersekolah walaupun di sana ada sekolah yang gratis dan siswa itu memiliki bakat untuk belajar dan menjadi pintar. Dari contoh tersebut maka hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan juga ikut memengaruhi tingkah laku anak-anak.

Contoh selanjutnya jika ada seorang anak yang tinggal di suatu lingkungan universitas maka anak ini pasti akan mau kuliah setelah lama berada di lingkungan tersebut. Dari contoh tersebut maka ini membuktikan bahwa faktor lingkungan juga ikut menentukan tingkah laku seseorang. Berdasarkan contoh tersebut jika seseorang ingin memengaruhi tingkah laku seseorang maka faktor lingkungan juga harus diperhatikan untuk berhasil dalam memengaruhi tingkah laku seseorang. Kemudian sekolah juga harus menyediakan lingkungan yang dapat mendukung siswa untuk rajin belajar. Dengan adanya lingkungan tersebut maka akan mendukung kesuksesan siswa belajar di sekolah.

Tanggapan selanjutnya diberikan kepada aliran pragmatisme,tanggapannya adalah aliran pragmatisme memiliki kelebihan yaitu sekolah yang mengikuti aliran ini akan maju karena sekolah tersebut akan terus berusaha untuk berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Contoh SMK jurusan Akuntansi maka SMK tersebut akan berusaha untuk mengetahui apa yan diperlukan oleh dunia kerja yang berhubungan dengan akuntansi. Dengan mengikuti perubahan yang ada di dunia kerja maka setelah siswa lulus dari SMK maka siswa tersebut akan siap dipakai oleh dunia kerjanya.

Namun selain kelebihan dari aliran pragmatisme, aliran ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak semua pelajaran di sekolah yang semua harus selalu berubah terus sesuai dengan berkembangan teknologi dan informasi. Contoh pada pendidikan Agama yaitu pada perkataan atau sabda nabi, sabda nabi tersebut tidak boleh diubah sesuai dengan tuntutan zaman. Hal ini disebabkan dari sabda nabi tersebut adalah kata-kata yang sesuai dengan keinginan dan kehendak Tuhan. Jadi sekolah yang menganut aliran pragmatisme juga memiliki kelemahan pada pelajaran tertentu.

Tanggapan selanjutnya diberikan kepada aliran konvergensi, tanggapan ini kami mulai dari kelebihan dari aliran konvergensi. Kelebihan dari aliran konvergensi adalah teori ini menggabungkan faktor bawaan dari lahir seperti bakat dan intelegensi kemudian didukung oleh lingkungan maka hal ini akan menyebabkan seseorang bisa memperoleh kesuksesan. Contoh di sebuah perguruan tinggi ada mahasiswa yang memiliki bakat di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, lalu mahasiswa ini masuk ke suatu perguruan tinggi yang memiliki lingkungan dan dosen yang mendukung terhadap perkembangan bakat mahasiswa tersebut. Setelah mahasiswa ini lulus dari perguruan tinggi tersebut maka mahasiswa ini akan menjadi guru Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang hebat dan kompeten.

Teori ini juga memiliki kelemahan yaitu jika lingkungan tidak mendukung bakat yang dimiliki oleh seseorang maka bakat yang dimiliki oleh seseorang tidak akan dapat berkembang dengan optimal. Contoh jika ada seorang mahasiswa yang memiliki bakat di bidang musik. Kemudian mahasiswa ini masuk ke sebuah perguruan tinggi dan mengambil jurusan Pendidikan Seni Musik, namun di perguruan tinggi tersebut tidak memiliki peralatan yang lengkap untuk mendukung bakat yang dimiliki oleh siswa tersebut. Hal ini akan menyebabkan bakat yang dimiliki oleh siswa tersebut tidak akan dapat berkembang dengan optimal.

Tanggapan yang dapat kami berikan pada aliran essensialisme adalah pertama-tama dimulai kelebihan aliran essensialisme. Dengan adanya sekolah yang menganut aliran essensialisme maka sekolah tersebut akan dapat mengajarkan siswanya sikap cinta tanah air dan pendidikan karakter. Contoh di sebuah sekolah SMK sering diajarkan nilai-nilai sikap cinta tanah air dan pendidikan karakter. Dengan diajarkan nilai-nilai sikap cinta tanah air dan pendidikan karakter tersebut maka setelah siswa sudah tamat dari sekolah tersebut akan menjadi warga negara yang mencintai tanah airnya dan memiliki karakter yang baik.

Selanjutnya kelemahan dari aliran essensialisme ini adalah Dengan hanya difokuskan pada pengajaran nilai-nilai yang ada pada zaman dahulu maka siswa akan ketinggalan dengan informasi dan pengetahuan yang berkembang sangat cepat. Contoh di sebuah sekolah hanya berfokus atau lebih banyak mengajarkan siswanya nilai-nilai sikap cinta tanah air dan aspek kebudayaan lama dari negaranya. Sedangkan perkembangan teknologi dan informasi semakin berkembang pesat dari hari ke hari. Jika sekolah ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan informasi maka ketika siswa tamat dari suatu institusi maka siswanya akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan.

Tanggapan yang dapat kami berikan pada aliran eksistensialisme adalah aliran ini memiliki kelebihan yaitu dengan adanya aliran ini maka seseorang akan mempunyai keyakinan bahwa dia mampu untuk bereksistensi di dunia ini. Contoh di sebuah sekolah ada kepala sekolah maka kepala sekolah ini ingin menunjukkan eksistensinya dalam membangun sekolah ke arah yang baik. Dengan inginnya kepala sekolah bereksistensi dengan membangun sekolah ke arah yang baik maka sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah tersebut akan mengalami kemajuan.

Selain kelebihannya, aliran eksistensialisme ini juga memiliki kelemahan yaitu jika tidak ada lingkungan yang mampu untuk menyalurkan eksistensi seseorang maka keinginan seseorang untuk menunjukkan eksistensi dirinya tidak ada dapat dilaksanakannya dengan baik. Contoh seorang guru yang sudah lama mengajar di sekolah lalu dia ingin menunjukkan eksistensinya menjadi kepala sekolah dan membangun sekolah tersebut. Namun tidak ada tempat atau peluang bagi guru tersebut untuk menjadi kepala sekolah maka ini menunjukkan bahwa seseorang yang ingin bereksistensi dan tidak ada tempat bagi orang ini untuk bereksistensi maka keinginan tersebut tidak akan dapat dilaksanakan dengan baik.

Tanggapan yang dapat kami berikan pada aliran progressivisme adalah aliran tersebut memiliki kelebihan yaitu lembaga yang menganut aliran ini akan berpikir untuk mencapai kualitas yang baik yang sesuai dengan tuntutan zaman. Contoh sekolah yang menganut aliran progressivisme akan selalu melakukan studi banding untuk membuat sekolahnya menghasilkan lulusan yang berkualitas. Dengan lulusan yang berkualitas maka kelak mereka akan mudah untuk mencari kerja. Dengan mudahnya mencari kerja maka tidak akan ada lagi pengangguran dari sekolah yang terus menyesuaikan mutu lulusannya agar berkualitas dan sesuai dengan tuntutan zaman.

Aliran progressivisme juga memiliki kelemahan yaitu Sekolah yang menganut aliran ini akan terus menyesuaikan kurikulumnya dengan tuntutan zaman namun kurang memerhatikan pada aspek kebudayaan pada zaman dahulu seperti kebudayaan. Dengan begitu maka siswa yang lulus dari sekolah tidak akan menghargai kebudayaan yang ada di daerahnya. Kemudian nilai-nilai yang ada di dalam pancasila juga akan kurang dihargai oleh sekolah yang menganut aliran progressivisme dan jika hal itu terjadi maka suatu negara akan kehilangan jati diri dirinya sebagai bangsa.

Tanggapan yang dapat kami berikan pada aliran perennialisme dimulai dengan mengungkapkan kelebihan dari aliran perennialisme. Kelebihan dari aliran ini dengan diajarkan kebudayaan atau hasil pemikiran yang bagus dan telah teruji maka siswa ketika siswa sudah lulus dari sekolahnya akan dapat menjadi orang yang baik dan memiliki karakter. Dengan begitu karakter dan ciri khas dari suatu bangsa tidak akan hilang. Jika lulusan dari suatu sekolah memiliki karakter yang baik maka kelak lulusan tersebut akan dipakai oleh dunia kerjanya. Jadi sekolah perlu mengajarkan nilai-nilai kebudayaan yang lama yang tergolong bagus agar mutu lulusan dapat baik dan bagus.

Selain kelebihannya aliran perennialisme juga memiliki kelemahan yaitu tidak adanya alat ukur untuk menentukan kebudayaan lama yang manakah yang bagus untuk diajarkan kepada siswa. Kemudian dengan fokus pada pengajaran kebudayaan lama maka siswa hanya akan mengenal kebudayaan lama dan dia tidak akan mengenal kebudayaan baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. Jika siswa tidak belajar sesuatu kebudayaan yang sesuai dengan tuntutan zaman maka kelak dia akan ketinggalan dan siswa tersebut tidak akan dapat bersaing secara global di dalam dunia kerja.

Tanggapan yang kami berikan kepada aliran rekonstruksionalisme dimulai dari kelebihan aliran rekonstruksionalisme yaitu dengan disesuaikan kebudayaan yang lama sesuai dengan tuntutan zaman sehingga menjadi kebudayaan yang modern maka suatu bangsa tidak akan ketinggalan zaman. Contoh kalau di kelas guru dulunya hanya mengajar menggunakan metode ceramah maka sekarang guru dapat mengajar muridnya dengan menggunakan berbagai macam metode seperti metode jigsaw, metode diskusi, metode CTL, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan berbagai macam metode pembelajaran maka efektivitas pembelajaran akan dapat tercapai dengan baik.

Namun selain kelebihan dari aliran rekonstruksionalisme, aliran tersebut juga memiliki kelemahan yaitu dengan mengubah kebudayaan yang lama menjadi baru maka ciri khas dari suatu bangsa tidak akan terlihat lagi. Contoh kebudayaan suatu bangsa yaitu misalnya rumah gadang yang menjadi ciri khas rumah adat Sumatera Barat kalau dirubah menjadi rumah yang lain maka ciri khas dari suatu daerah menjadi tidak terlihat lagi. Seharus kebudayaan lama yang menjadi ciri khas dari suatu bangsa harus tetap dipertahankan agar ciri khas bangsa tersebut tetap terjaga sehingga bangsa lain juga akan menghargai bangsa kita.

 

SEGMEN 5

Kesimpulan

Pemikiran filosofi/filsafat pendidikan modern dikenal beberapa aliran yaitu renaissance, rasionalisme, empirisme, naturalisme, nativisme-pesimisme, pragmatisme, konvergensi, essensialisme, eksistensialisme, progressivisme, perennialisme, dan rekonstruksionalisme. Setiap aliran tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan. Guru perlu untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari setiap aliran tersebut.

Jika guru sudah mengetahui tentang kelebihan dari setiap aliran dalam filsafat modern maka guru akan dapat menggunakan filsafat tersebut untuk menyelesaikan berbagai macam persoalan yang ada sewaktu dia menjalankan tugas-tugasnya di sekolah. Dengan diselesaikannya berbagai macam masalah yang ada di sekolah maka proses belajar dan pembelajaran di sekolah akan berjalan dengan lancar dan siswa akan dapat meraih prestasi di sekolah.

Guru perlu untuk mempelajari berbagai aliran filsafat modern dengan baik. Guru harus rajin untuk memahami setiap aliran dalam filsafat pendidikan modern dengan baik. Dengan memahami filsafat pendidikan modern dengan baik maka guru akan dapat memahami dan akan dapat menerapkannya dalam proses pembelajaran siswa dengan baik. Dengan memahami filsafat pendidikan modern maka selain guru mengetahui kelebihan filsafat modern seperti yang sudah dijelaskan di atas maka guru juga akan mengetahui kelemahan dari setiap filsafat modern di atas.

 

 DAFTAR RUJUKAN

 

Abidin, Zainal. 2011. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Cetakan Keenam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Bertens, K. 1979. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Fudyatanta, Ki. 2006. Filsafat Pendidikan Barat dan Filsafat Pendidikan Pancasila: Wawasan secara Sistematik. Edisi Kedua. Yogyakarta: Amus Yogyakarta.

Gie, The Liang. 2010. Pengantar Filsafat Ilmu. Cetakan Kedelapan. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

Hakim, Atang Abdul dan Beni Ahmad Saebani. 2008. Filsafat Umum: Dari Mitologi sampai Teofilosofi. Cetakan Pertama. Bandung: CV Pustaka Setia.

Ihsan, Fuad. 2010. Filsafat Ilmu. Cetakan Pertama. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2012. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Kaufman, Walter. 1976. Extensialism Religion and Death. New York: The New American Library.

Komar, Oong. 2006. Filsafat Pendidikan Nonformal. Edisi Pertama. Bandung: Pustaka Setia.

Kuswana, Wowo Sunaryo. 2013. Filsafat: Pendidikan Teknologi, Vokasi, dan Kejuruan. Cetakan Pertama. Bandung: Alfabeta.

Solomon, Robert C. 1981. Introducing Philosophy. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.

Tafsir, Ahmad. 2005. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. Cetakan Keempatbelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset.

Zuhairini. 1991. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bina Aksara.

Rizal Muntansyir, Filsafat Analitik, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001, hlm.11-12

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam