Paradigma Pendidikan

PAPER MINGGUAN

Paradigma Pendidikan : Filsafat, Teori, Praksis dan Praktik Pendidikan

 

SEGMEN I

RINGKASAN MATERI

1. Paradigma Pendidikan

Sejak manusia ada di muka bumi ini, proses pendidikan, belajar dan pembelajaran juga sudah dimulai, meskipun bentuk dan prosesnya sangat sederhana, namun proses pendidikan itu sudah berlangsung sedemikian rupa, mulai dari proses mengetahui nama suatu benda, terbentuknya bahasa sebagai alat komunikasi, munculnya budaya, terbentuknya sistem nilai, hingga tercipta dan diwariskannya kemampuan-kemampuan teknis dalam berbagai hal, seperti cara membuat alat-alat kebutuhan sehari-hari, peralatan berburu, peralatan keselamatan, hingga cara membuat rumah tempat berlindung dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran.

Perkembangan dunia pendidikanpun seiring dengan perkembangan manusia itu sendiri, ketika tata kehidupan manusia tersebut enuh kesederhanaan, maka proses pendidikanpun berjalan sederhana, namun ketika kehidupan manusia berkembang proses pendidikanpun semakin rumit dan kompleks, munculnya berbagai kajian ilmu, disiplin ilmu yang kemudian berkembang, spesialisasi ilmu yang semakin menjurus adalah bukti proses pendidikan tersebut terus berkembang, ditambah lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka perkembangan dunia pendidikan semakin tidak bisa dibendung dan mencapai perkembangannya yang mencengangkan.

2. Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan memiliki peranan penting terhadap ilmu pendidikan baik praktik ataupun teori. Dan setiap pertanyaan mendasar dalam filsafat pendidikan sebenarnya mencerminkan suatu pendirian pendidikan. juga masalah pengetahuan dan nilai (makna) sebagai suatu bahan ajar yang penting peranannya bagi sekolah dan guru/pendidik. Bernadib (1985) berpendapat bahwa filsafat pendidikan ialah ilmu pendidikan yang bersendikan filsafat atau filsafat yang di terapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan masalah-masalah pendidikan. Dengan kata lain, penerapan pemikiran filosofis dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan yang  bersifat filosofis adalah aktivitas filsafat pendidikan.

3. Teori Pendidikan

Pendidikan memerlukan teori pendidikan, karena teori pendidikan akan memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Teori pendidikan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan dicapai.
  2. Teori pendidikan berfungsi untuk mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktik pendidikan. Dengan memahami teori, kita akan mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.
  3. Teori pendidikan dapat dijadikan sebagai tolak ukur sampai di mana kita telah berhasil melaksanakan tugas dalam pendidikan.
  4. Praksis Pendidikan

Model praksis adalah salah satu pendekatan terhadap teologi kontekstual. Model ini secara intensif dibentuk oleh pengetahuan yang berasal dari aksi dan refleksi. Model praksis membantu pengenalan akan makna dan dapat memberikan sumbangsih bagi perubahan sosial.

Kata praksis sering digunakan sebagai alternatif dari kata praktik atau aksi. Praksis sebenarnya merupakan sebuah istilah teknis yang terdapat pada marxisme dan dalam filsafat pendidikan oleh Paulo Freire. Secara umum, kata praksis menunjuk pada sebuah cara berfikir. Sedangkan secara khusus, kata praksis menunjuk pada sebuah metode atau model teologi.

4. Praktik Pendidikan

Tujuan praktik pendidikan adalah membantu pihak lain mengalami perubahan tingkah laku fundamental yang diharapkan. Proses kegiatan merupakan seperangkat kegiatan sosial/bersama, usaha menciptakan peristiwa pendidikan dan mengarahkannya, serta merupakan usaha secara sadar atau tidak sadar melaksanakan prinsip-prinsip pendidikan. Dorongan atau motifasi untuk melaksanakan praktik pendidikan muncul karena dirasakan adanya kewajiban untuk menolong orang lain.

SEGMEN II

PEMBAHASAN

 Filsafat Pendidikan

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian pertama di atas, bahwa filsafat pendidikan memberikan sumbangan yang sangat penting terhadap ilmu pendidikan baik praktik ataupun teori. Dan setiap pertanyaan mendasar dalam filsafat pendidikan sebenarnya mencerminkan suatu pendirian pendidikan. juga masalah pengetahuan dan nilai (makna) sebagai suatu bahan ajar yang penting peranannya bagi sekolah dan guru/pendidik. Bernadib (1985) berpendapat bahwa filsafat pendidikan ialah ilmu pendidikan yang bersendikan filsafat atau filsafat yang diterapkan dalam usaha pemikiran dan pemecahan masalah-masalah pendidikan. Dengan kata lain, penerapan pemikiran filosofis dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan yang  bersifat filosofis adalah aktivitas filsafat pendidikan.

Pidarta (1997:84) “filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai ke akar-akarnya mengenai pendidikan. Sehingga filsafat pendidikan akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis. Yang terdiri dari pertanyaan apakah pendidikan itu? Bagaimana cara terbaik merealisasikan tujuan pendidikan itu?. Oleh karena itu diperlukan kepercayaan atau pemikiran mendalam mengenai hal tersebut.

Umar Tirtarahardja (2005: 37), mengemukakan gagasan bahwa dalam pendidikan itu harus  menuju kepada pembentukan manusia yang utuh. Lebih jauh dinyatakan Tirtahardja, bahwa pendidikan memperhatikan kesatuan aspek jasmani dan rohani, aspek diri (individualitas) dan aspek sosial, aspek kognitif, afektif, dan psikomotor, serta segi serba keseimbangan manusia dengan dirinya, (konsentris), dengan lingkungan sosial dan alamnya (horizontal) dan dengan Tuhannya (vertikal). Pendidikan nasional yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan Pancasila serta Undang-undang Dasar 1945 diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan serta harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyarakat Indonesia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkualitas dan mandiri, sehingga mampu membangun dirinya dan masyarakat sekelilingnya, serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional  dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan  bahwa pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik, baik potensi fisik, potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak mungkin dapat dijangkau seluruhnya oleh sains atau ilmu pendidikan. Seorang pendidik, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan.

Seorang pendidik perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Pendidik sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan pendidik sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

  1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
  2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
  3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja. Sesungguhnya isi alam yang dapat diamati hanya sebagian kecil saja, diibaratkan mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan laut saja. Semantara filsafat mencoba menyelami sampai ke dasar gunung es itu untuk meraba segala sesuatu yang ada melalui pikiran dan renungan yang kritis.

Sedangkan pendidikan merupakan salah satu bidang ilmu, sama halnya dengan ilmu-ilmu lain. Pendidikan lahir dari induknya yaitu filsafat, sejalan dengan proses perkembangan ilmu, ilmu pendidikan juga lepas secara perlahan-lahan dari dari induknya. Pada awalnya pendidikan berada bersama dengan filsafat, sebab filsafat tidak pernah bisa membebaskan diri dengan pembentukan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia.

  1. Subjek/ Obyek Filsafat Pendidikan

Subjek filsfat adalah seseorang yang berfikir atau memikirkan hakekat sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Seperti halnya pengetahuan, Maka sudut pandangannya ada beberapa objek yang dikaji oleh filsafat adalah :

  1. Obyek material yaitu segala sesuatu yang realitas
  2. Ada yang harus ada, disebut dengan absoluth/ mutlak yaitu Tuhan Pencipta
  3. Ada yang tidak harus ada, disebut dengan yang tidak mutlak, ada yang relatif (nisby), bersifat tidak kekal yaitu ada yang diciptakan oleh ada yang mutlak (Tuhan Pencipta alam semesta)

 

  1. Obyek Formal/ Sudut pandangan

Filsafat itu dapat dikatakan bersifat non-pragmentaris, karena filsafat mencari pengertian realitas secara luas dan mendalam. Sebagai konsekuensi pemikiran ini, maka seluruh pengalaman-pengalaman manusia dalam semua instansi yaitu etika, estetika, teknik, ekonomi, sosial, budaya, religius dan lain-lain haruslah dibawa kepada filsafat dalam pengertian realita.

Menurut Prof Dr. M. J. Langeveld : “……bahwa hakikat filsafat itu berpangkal pada pemikiran keseluruhan sarwa sekalian scara radikan dan menurut sistem”.

  • Maka keseluruhan sarwa sekalian itu ada. Ia adalah pokok dari yang dipikirkan orang dalam filsafat
  • Ada pula pikiran itu sendiri yang terhadap dalam filsafat sebagai alat untuk memikirkan pokoknya
  • Pemikiran itupun adalah bahagian daripada keseluruhan, jadi dua kali ia teradapat dalam filsafat, sebagai alat dan sebagai keseluruhan sarwa sekalian

Menurut Mr. D. C Mulder menulis sebagai berikut :

“ Tiap-tiap manusia yang mulai berpikir tentang diri sendiri dan tentang tempatnya dalam dunia, akan mengahdapi beberapa persoalan yang begitu penting sehingga persoalan-persoalan itu boleh diberi nama persoalan-persolan pokok”.

Pendekatan Filosofi Dalam Pemecahan Masalah Pendidikan

Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.

Pendekatan filosofis untuk menjelaskan suatu masalah dapat diterapkan dalam aspek-aspek kehidupan manusia, termasuk dalarn pendidikan. Filsafat tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, melainkan juga melahirkan filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. John Dewey (1964) berpendapat bahwa filsafat merupakan teori umum tentang pendidikan. Filsafat sebagai suatu sistem berpikir akan menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang bersifat filosofis dan memerlukan jawaban filosofis pula.

Filsafat pendidikan sebagai filsafat terapan, yaitu studi tentang penerapan asas-asas pemikiran filsafat pada masalah-masalah pendidikan pada dasarnya mengenal dua pendekatan yang polaritis, yaitu : pendekatan tradisional dan pendekatan progresif. Pengertian masing-masing pendekatan dan variasi pendekatan daripadanya dan aliran-aliran filsafat pendidikan dihasilkannya akan dijelaskan di bawah ini:

  1. Pendekatan Tradisional

Pendekatan tradisional dalam Filsafat pendidikan melandaskan diri pada asas-asas sebagai berikut:

  1. Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah filsafat, sehingga untuk mempelajari filsafat pendidikan haruslah memiliki pengetahuan dasar tentang filsafat.
  2. Bahwa kenyataan yang esensial baik dan benar adalah kenyataan yang tetap, kekal dan abadi.
  3. Bahwa nilai norma yang benar adalah nilai yang absolut, universal dan obyektif.
  4. Bahwa tujuan yang baik dan benar menenukan alat dan sarana, artinya tujuan yang baik harus dicapai dengan alat sarana yang baik pula.
  5. Bahwa faktor pengembang sejarah atau sosial (science, technology, democracy dan industry) adalah sarana alat untuk prosperity of life dan bukannya untuk welfare of life sebagai tujuan hidup dan pendidikan sebagaimana yang ditentukan oleh filsafat.
  6. Pendekatan Progresif

Sebagai penghujung yang lain dari pendekatan di atas dan dari kontinuitas aliran filsafat pendidikan adalah pendekatan progresif kontemporer dengan dasar-dasar pemikiran sebagai berikut:

  1. Bahwa dasar-dasar pendidikan adalah sosiologi, atau filsafat sosial humanisme ilmiah, yang skeptis terhadap kenyataan yang bersifat metafisis transendental.
  2. Bahwa kenyataan adalah perubahan, artinya kenyataan hidup yang esensial adalah kenyataan yang selalu berubah dan berkembang.
  3. Bahwa truth is man-made, artinya kebenaran dan kebajikan itu adalah kreasi manusia, dengan sifatnya yang relatif temporer bahkan subyektif.
  4. Bahwa tujuan dan dasar-dasar hidup dan pendidikan relatif ditentukan oleh perkembangan tenaga pengembang sosial dan manusia, yang merupakan sumber perkembangan sosial masyarakat.
  5. Bahwa antara tujuan dan alat adalah bersifat kontinu, bahwa tujuan dapat menjadi alat untuk tujuan yang lebih lanjut sesuai dengan perkembangan sosial masyarakat.
  1. Hubungan filsafat dan teori pendidikan

 

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata-mata. Banyak diantara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, analisa filsafat terhadap masalah-masalah pendidikan tersebut, dengan berbagai cara pendekatannya, akan dapat menghasilkan pendangan-pndangan tertentu mengenai masalah-maslah kependidikan  bisa tersebut. Dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan . disamping itu jawaban-jawaban yang telah di kemukakan oleh jenis dan aliran filsafat tertentusepanjang sejarah terhadap problematika kehidupanyg dihadapinya menunjukkan pandangan-pandangan tertentu yang tentunya juga akan memperkaya teori-teori pendidikan. Dengan demikian terdapat hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan.

Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan teori pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut

  1. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, disamping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagi pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek, misalnya filsafat idelisme, realisme, materialisme dan sebaginya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori-teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori-teori pendidikan yang di kembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut.
  2. Filsafat, juga berpungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata.artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat.
  3. Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan kependidikan yang tertentu pula.

Di samping hubungan fungsional tersebut, antara filsafat dan teori pendidikan, juga terdapat hubungan yang bersifat suplementer.
sebagai berikut :

  1. Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
  2. Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan Negara

Definisi di atas merangkum dua cabang ilmu pendidikan yaitu, filsafat pendidikan dan system atau teori pendidikan, dan hubungan antara keduanya adalah bahwa yang satu “supplemen” terhadap yang lain dan keduanya diperlukan oleh setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya sebagai pengajar di bidang studi tertentu”.

 

  1. Teori Pendidikan
  2. Pengertian

Menurut Muhammad Surya (dalam teori merupakan suatu perangkat prinsip-prinsip terorganisasi mengenai peristiwa-peristiwa tertentu dalam lingkungan.

Karakteristik suatu teori ialah :

  1. Memberikan kerangka kerja konseptual untuk suatu informasi, dan dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian
  2. Memiliki prinsip-prinsip yang dapat diuji.

Teori merupakan hubungan antara konsep-konsep. Sedangkan konsep-konsep itu sendiri merupakan hubungan dari kata-kata yang menjelaskan suatu persoalan atau kenyataan. Kata-kata merupakan simbol berupa bunyi dan aksara ketika kita merujuk pada suatu benda atau realitas yang ada di dunia.

  1. Teori-teori Pendidikan
  2. Koneksionisme

Teori koneksionisme (connectionism) adalah teori yang ditemukan dan dikembangkan oleh Edward L. Thorndike (1874, 1949) berdasarkan eksperimen yang ia lakukan pada tahun 1890-an, eksperimen Thondike ini menggunakan hewan-hewan terutama kucing untuk mengetahui fenomena belajar. Dalam eksperimen kucing itu atau puzzle box kemudian dikenal dengan nama instrumental (penolong) untuk mencapai hasil atau ganjaran yang dikehendaki (Hintzman, 1978).

Berdasarkan eksperimen itu, Thorndike berkesimpulan bahwa belajar adalah hubungan antara stimulus dan respon, itulah sebabnya, teori koneksionisme juga disebut “S-R Bond theory” dan S-R psychology of learning”.

Thorndik mengemukakan tiga macam hukum yaitu:
a) Law of effect yaitu jika sebuah respon menghasilkan efek yang memuaskan hubungan antara stimulus dan respon akan semakin kuat, sebaliknya semakin tidak memuaskan (mengganggu) efek yang dicapai respon semakin lemah pada hubungan stimulus dan respon tersebut. Hukum inilah yang mengilhami munculnya konsep reinforcer dalam teori operant conditioning hasil penemuan B.F. Skimer, b) Law of readiness (hukum kesiapsiagaan) pada prinsipnya hanya merupakan asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan conduction units (satuan perantaraan), c) Law of exercise (hukum latihan) ialah generalisasi atau law of use dan law of disuse. Menurut Hilqaret dan Bower (1975), jika perilaku (perubahan hasil belajar) sering dilatih atau digunakan maka eksistensi perilaku tersebut. Akan semakin kuat (law of use) dan sebaliknya jika perilaku tadi tidak akan sering dilatih maka akan terlupakan atau menurun (law of discuses).

  1. Pembiasaan Klasik(classical conditioning)

Teori pembiasaan klasik (classical conditioning) ini berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Povlo (1849-1936) seorang ilmuwan besar Rusia yang berhasil menggondol hadiah Nobel pada tahun 1909.

Pada dasarnya classical conditioning adalah sebuah prosedur penciptaan refleks baru dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya refleks tersebut (Terrace, 1973). Dalam eksperimennya Pavlor menggunakan anjing untuk mengetahui hubungan-hubungan antara conditioning stimulus (CS), unconditioned stimulus (UCS), conditioned response (CR), dan Unconditioned response (UCR).CS adalah rangsangan yang mampu mendatangkan respon yang dipelajari CR adalah respon yang dipelajari itu sendiri UCS adalah rangsangan yang menimbulkan respon yang tidak dipelajari UCR adalah respon yang tidak dipelajari

  1. Pembiasaan Perilaku Respon(operant conditioning)

Teori pembiasaan perilaku respon (operant conditioning) penciptanya bernama Burhus Fredic Skimer (lahir tahun 1904) seorang penganut behaviorism yang dianggap kontroversial. Tema yang mewarnai karyanya adalah bahwa tingkah laku itu terbentuk oleh konsekuensi-konsekuensi yang ditimbulkan oleh tingkah laku itu sendiri (Bruno, 1987).

  1. Teori Pendekatan Kognitif

Teori psikologi kognitif adalah bagian terpenting bagi sains kognitif yang telah memberi konstribusi yang sangat berarti dalam perkembangan psikologi. Pendidikan sains kognitif merupakan himpunan disiplin yang terdiri atas psikologi kognitif, ilmu-ilmu komputer, linguistik, intelegensi buatan matematika, epistemology dan neuropsychological/ psikologi syaraf. Pendekatan psikologi kognitif lebih menekankan arti penting proses internal mental manusia. Dalam pandangan ahli kognitif tingkah laku manusia tampak tidak dapat diukur dan diterbangkan tanpa melibatkan proses mental seperti; motivasi, kesengajaan, keyakinan dan sebagainya.

  1. Teori Kognitive – Gestalt – Field

Teori kognitif dikembangkan oleh para ahli psikologi Kognitif. Teori ini berbeda dengan Behaviorisme, bahwa yang utama pada kehidupan manusia adalh mengetahui dan bukan respons. Teori ini menekankan pada peristiwa mental, bukan hubungan Stimulus-respons. Teori Gestalt, berkembang di Jerman dengan pendirinya yang utama adalah Max Werthaimer, menurut Gestalt belajar siswa harus memahami makna hubungan anatar satu bagian dengan bagian lainnya. Belajar adalah mencari dan mendapatkan prognanz, menemukan keteraturan, keharmonisan dari sesuatu.

 

  1. Praksis Pendidikan

Kata praksis sering digunakan sebagai alternatif dari kata praktik atau aksi. Praksis sebenarnya merupakan sebuah istilah teknis yang terdapat pada marxisme dan dalam filsafat pendidikan oleh Paulo Freire. Secara umum, kata praksis menunjuk pada sebuah cara berfikir. Sedangkan secara khusus, kata praksis menunjuk pada sebuah metode atau model teologi.

Model praksis adalah salah satu pendekatan terhadap teologi kontekstual. Model ini secara intensif dibentuk oleh pengetahuan yang berasal dari aksi dan refleksi. Model praksis membantu pengenalan akan makna dan dapat memberikan sumbangsih bagi perubahan sosial. Dengan demikian model ini tidak hanya menekankan pada teks-teks klasik atau perilaku klasik namun juga memperhatikan realitas-realitas masa kini dan kemungkinan yang terjadi masa depan. Cara kerja model praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Keduanya saling berkaitan dan saling berputar.

Dari perspektif filosofis, keyakinan itu mengisyaratkan adanya pusat perhatian yang utama: manusia (human) dengan segala potensi kemanusiaannya (humanities) yang masih memerlukan proses pendidikan. Dengan berlandaskan pada keyakinan seperti ini berarti bahwa pendidikan haruslah diupayakan untuk membimbing, membantu, atau memperbaiki tingkah laku manusia ke arah tingkah laku yang selaras dengan norma-norma yang berlaku secara umum. Dalam konteks general education, pendidikan diarahkan untuk membimbing manusia menjadi warga negara yang baik. Karena itulah, praksis pendidikan berlandaskan humanisme, hendaknya ditujukan pada pembentukan tingkah laku peserta didik agar menjadi warga negara yang baik, menjadi makhluk sosial yang beretika.

 

 

 

 

  1. Praktik Pendidikan

Praktek pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Praktek pendidikan dapat terselenggara secara informal,maupun diselenggarakan secara formal dan nonformal.

Apabila kita mempelajari gejala pendidikan dalam skala mikro, bahwa praktek pendidikan pada dasarnya berlangsung dalam kegiatan/ interaksi social antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.Adapun untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut,pendidik tentu saja memilih isi pendidikan dan menggunakan alat dan cara-cara/metode pendidikan tertentu. Dengan demikian kita dapat mengidentifikasi unsure-unsur yang terlibat dalam praktek pendidikan,yaitu: (1) tujuan pendidikan, (2) pendidik, (3) peserta didik, (4) isi/kurikulum pendidikan, (5) alat dan cara-cara/metode pendidikan, (6) lingkungan pendidikan.

Sasaran dalam praktek pendidikan yaitu peserta didik yang pada hakikatnya adalah manusia. Manusia mempunyai kedudukan dan nilai tersendiri apabila dibandingkan dengan benda-benda, tumbuhan, maupun hewan. Di samping itu, tujuan pendidikan juga sarat dengan nilai. Sebab itu, isi pendidikan dan alat atau cara-cara pendidikan pun hendaknya dipilih atas pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada peserta didik sebagai objeknya maupun yang melekat pada tujuan pendidikannya.

Praktek pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memfasilitasi peserta didik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Praktek pendidikan dapat terselenggara secara informal,maupun diselenggarakan secara formal dan nonformal.

Pendidikan sebagai suatu ilmu, yaitu bahwa praktek pendidikan tersebut tiada lain adalah aplikasi dari ilmu pendidikan. Implikasinya bahwa untuk menjadi guru atau untuk menjadi pendidik,siapapun untuk mempelajarinya melalui ilmu pendidikan.

Praktek pendidikan diakui sebagai seni, impilkasinya fungsi mendidik yang utama pada poses pembelajaran di sekolah dasar bagi siswa adalah untuk menghasilkan suatu karya yang utuh, unik, sejati (bukan pura-pura atau dibuat-buat, anak tidak boleh dikorbankan sebagai kelinci percobaan), dan tiap pihak memperoleh manfaat.

Pendidikan sebagai seni tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan pendidikan sebagai ilmu. Pendidik merupakan ilmu pendidikan dalam rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek pendidikan, namun dalam prakteknya pendidik harus kreatif, scenario atau persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja, pendidik perlu melakukan improvisasi. Dalam hal ini pendidik harus memperhatikan karakteristik peserta didik. Esensinya, bahwa praktek pendidikan itu hendaknya merupakan paduan ilmu dan seni.

 

SEGMEN III

TANGGAPAN

Masalah pendidikan adalah merupakan masalah hidup dan kehidupan manusia. Proses pendidikan berada dan berkembang bersama proses perkembangan hidup dan kehidupan manusia, bahkan keduanya pada hakikatnya adalah proses yang satu.

Sejak manusia ada di muka bumi ini, proses pendidikan, belajar dan pembelajaran juga sudah dimulai, meskipun bentuk dan prosesnya sangat sederhana, namun proses pendidikan itu sudah berlangsung sedemikian rupa, mulai dari proses mengetahui nama suatu benda, terbentuknya bahasa sebagai alat komunikasi, munculnya budaya, terbentuknya sistem nilai, hingga tercipta dan diwariskannya kemampuan-kemampuan teknis dalam berbagai hal, seperti cara membuat alat-alat kebutuhan sehari-hari, peralatan berburu, peralatan keselamatan, hingga cara membuat rumah tempat berlindung dengan berbagai variasi bentuk dan ukuran.

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.

Pengertian yang luas dari pendidikan sebagaimana dikemukakan oleh Lodge, yaitu bahwa: “life is education, and education is life”, akan berarti bahwa seluruh proses hidup dan kehidupan manusia itu adalah proses pendidikan segala pengalaman sepanjang hidupnya merupakan dan memberikan pengaruh pendidikan baginya. Dalam artinya yang sepit, pendidikan hanya mempunyai fungsi yang terbatas, yaitu memberikan dasar-dasar dan pandangan hidup kepada generasi yang sedang tumbuh, yang dalam prakteknya identik dengan pendidikan formal di sekolah dan dalam situasi dan kondisi serta lingkungan belajar yang serba terkontrol.

 

 

Bagaimanapun luas sempitnya pengertian pendidikan, namun masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang berhubungan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia. Pendidikan merupakan usaha dari manusia dewasa yang telah sadar akan kemanusiaanya, dalam membimbing, melatih, mengajar dan menanamkan nilai-nilai serta dasar-dasar pandangan hidup kepada generasi muda, agar nantinya menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab akan tugas-tugasnya sebagai manusia, sesuai dengan sifat hakikat dan ciri-ciri kemanusiannya dan pendidikan formal di sekolah hanya bagian kecil saja dari padanya, tetapi merupakan inti dan bisa lepas kaitannya dengan proses pendidikan secara keseluruhannya.

Beberapa aliran filsafat pendidikan;

  1. Filsafat pendidikan progresivisme. yang didukung oleh filsafat pragmatisme.
  2. Filsafat pendidikan esensialisme. yang didukung oleh idealisme dan realisme; dan
  3. Filsafat pendidikan perenialisme yang didukung oleh idealisme.

Hubungan antara filsafat dan teori pendidikan sangatlah penting sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin di capai.

Karakteristik suatu teori ialah :

  1. Memberikan kerangka kerja konseptual untuk suatu informasi, dan dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian
  2. Memiliki prinsip-prinsip yang dapat diuji.

Teori merupakan hubungan antara konsep-konsep. Sedangkan konsep-konsep itu sendiri merupakan hubungan dari kata-kata yang menjelaskan suatu persoalan atau kenyataan. Kata-kata merupakan simbol berupa bunyi dan aksara ketika kita merujuk pada suatu benda atau realitas yang ada di dunia.

Tidak semua masalah kependidikan dapat dipecahkan dengan mengunakan metode ilmiah semata-mata. Banyak diantara masalah- masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan- pertanyaan filosofis, yang memerlukan Pendekatan filosofis pula dalam memecahkannya. Analisa teori-teori pendidikan terhadap masalah- masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis dengan teori-teori pendidikan. Disamping itu teori-teori yang telah digunakan dianalisa dan diterapkan sesuai dengan kondisi. Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara filsafat, pendekatan dan teori pendidikan, sehingga hasilnya lebih maksimal.

Model praksis adalah salah satu pendekatan terhadap teologi kontekstual. Model ini secara intensif dibentuk oleh pengetahuan yang berasal dari aksi dan refleksi. Model praksis membantu pengenalan akan makna dan dapat memberikan sumbangsih bagi perubahan sosial. Dengan demikian model ini tidak hanya menekankan pada teks-teks klasik atau perilaku klasik namun juga memperhatikan realitas-realitas masa kini dan kemungkinan yang terjadi masa depan. Cara kerja model praksis mengacu pada penjelasan Paulo Freire dimana terdapat aksi atas refleksi dan refleksi terhadap aksi. Keduanya saling berkaitan dan saling berputar.

Titik tolak praksis pendidikan bermula dari keyakinan, bahwa manusia tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan sendirinya tanpa bantuan orang lain. Dari sejak seorang bayi lahir pada hakikatnya ia memerlukan perlakuan dan bantuan orang lain. Tanpa bantuan ibu atau orang dewasa lain yang mengasuhnya, bayi itu tidak akan dapat memilki kecakapan hidup yang bermanfaat bagi kelangsungan hidupnya kelak.

Praktek pendidikan pada dasarnya berlangsung dalam kegiatan/ interaksi sosial antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Pada proses pembelajaran di sekolah dasar terkadang para guru melakukan proses pembelajaran yang itu-itu saja. Mereka tidak pernah melakukan improvisasi dalam proses pembelajarannya. Hal ini mengakibatkan anak didik merasa jenuh dan tidak ada hasrat untuk belajar. Karena pada dasarnya praktek pendidikan itu tidak hanya memerlukan ilmu tetapi juga merupakan suatu seni yang harus di kuasai oleh para pendidik/guru

Pendidikan dapat dipelajari, studi ilmiah tentang pendidikan telah menghasilkan ilmu pendidikan. Ilmu pendidikan berfungsi sebagai landasan dan petunjuk tentang cara-cara melaksanakan pendidikan. Praktek pendidikan menuntut diaplikasikannya ilmu pendidikan, tetapi di samping itu praktek pendidikan juga sekaligus adalah seni.

Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada hakekatnya manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya, dan tidak langsung dapat berdiri sendiri, dapat memelihara dirinya sendiri. Manusia pada saat lahir sepenuhnya memerlukan bantuan orang tuanya. Karena itu pendidikan merupakan bimbingan orang dewasa mutlak diperlukan manusia.

Sebagai makhluk yang secara kodrati dianugrahi akal pikiran, manusia merupakan sosok makhluk yang memiliki kesadaran dan rasa ingin tahu tentang segala sesuatu yang dihadapi dan dialami dalam kehidupannya. Berbagai cara dan usaha dilakukan manusia untuk memenuhi rasa ingin tahunya tersebut,sehingga kalau mungkin berbagai hal dalam hidupnya ingin diketahuinya. Baik itu segala sesuatu yang berkenaan dengan dirinya, tujuan hidupnya, dari mana ia berasal, dan ia juga ingin mengetahui banyak tentang lingkungan hidupnya, dan bagaimana memanfaatkannya.

Oleh karena itu, untuk menghasilkan hasil belajar yang baik maka seorang pendidik/guru harus memiliki ilmu pendidikan yang dipadukan dengan seni. Agar ketika melakukan proses belajar mengajar mampu menerapkan teori belajar di dalam kelas.

Praktek pendidikan pada dasarnya berlangsung dalam kegiatan/ interaksi sosial antara pendidik dan peserta didik yang berlangsung dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Pada proses pembelajaran di sekolah dasar terkadang para guru melakukan proses pembelajaran yang itu-itu saja. Mereka tidak pernah melakukan improvisasi dalam proses pembelajarannya. Hal ini mengakibatkan anak didik merasa jenuh dan tidak ada hasrat untuk belajar. Karena pada dasarnya praktek pendidikan itu tidak hanya memerlukan ilmu tetapi juga merupakan suatu seni yang harus di kuasai oleh para pendidik/guru.

Dari perspektif filosofis, keyakinan itu mengisyaratkan adanya pusat perhatian yang utama: manusia (human) dengan segala potensi kemanusiaannya (humanities) yang masih memerlukan proses pendidikan. Dengan berlandaskan pada keyakinan seperti ini berarti bahwa pendidikan haruslah diupayakan untuk membimbing, membantu, atau memperbaiki tingkah laku manusia ke arah tingkah laku yang selaras dengan norma-norma yang berlaku secara umum. Dalam konteks general education, pendidikan diarahkan untuk membimbing manusia menjadi warga negara yang baik. Karena itulah, praksis pendidikan berlandaskan humanisme, hendaknya ditujukan pada pembentukan tingkah laku peserta didik agar menjadi warga negara yang baik, menjadi makhluk sosial yang beretika.

 

 

 

 

 

 

 

SEGMEN IV

KESIMPULAN

Hubungan antara filsafat dan teori pendidikan sangatlah penting sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan merupakan aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin dicapai.

Banyak di antara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam memecahkannya. Analisa teori-teori pendidikan terhadap masalah- masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis dengan teori-teori pendidikan.

Mengamati dan melihat praksis pendidikan yang tengah dan terus berlangsung dalam konteks otonomi daerah belakangan ini menghadirkan kekhawatiran serius pada masa depan pendidikan kita, baik dalam skala global maupun nasional. Terjadi pergeseran yang amat mendasar dalam praktik pendidikan dan visi dari sistem pendidikan sentralisasi ke desentralisasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Admin.  2012. “Filsafat Pendidikan”. (online. http://van88.wordpress.com/filsafat-pendidikan/, diakses tanggal 22 September 2014).

Ali Saifullah.HA. 1983. Antara Filsafat dan Pendidikan: Pengantar Filsafat Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Keraf, S. Pragmatisme Menurut William James. Yogyakarta : Kanisisus.

Nurani Soyomukti. 2010. Teori-Teori Pendidikan: Tradisional, (Neo)Liberal, Marxis-Sosialis, Postmodern. Ar-ruzzmedia, Yogyakarta. Cetakan: I.

Sadulloh, Uyoh. 2007. Pilsafat Pendidikan. Bandung : Cipta Utama.

 

Stephen B. Bevans. 1992. Models of Contextual Theology. USA: Orbis Books.

Suwarno. 1987. Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta: Aksara baru.

Syah, Muhibbin. 2008 Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Cet-13. Bandung. Rosdakarya.

Syaripudin, Tatang. 2006. Landasan Pendidikan. Bandung. Sub Koordinator MKDP Landasa Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan Iniversitas Pendidikan Indonesia.

Syarifudin, Tatang. 2007. Landasan Pendidikan. Bandung : Percikan Ilmu.

 

 

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam