Author Archive

Klasifikasi Tuna Rungu2

menurut Andreas Dwidjosumarto kalsifikasi tunarungu menurut tarafnya antara lain :

Tingkat  I,      Kehilangan kemampuan mendengar antara 35 sampai 54 dB, penderita hanya memerlukan latihan bicara dan bantuan mendengar secara khusus.

Tingkat  II,     Kehilangan kemampuan mendengar antara 55 sampai 69 dB penderitanya kadang-kadang memerlukan penempatan sekolah secara khusus, dalam kebiasaan sehari-hari memerlukan latihan bicara, dan bantuan latihan berbahasa secara khusus.

Tingkat  III,    Kehilangan kemampuan mendengar antara 70 sampai 89 dB, dan

Tingkat  IV,    Kehilangan kemampuan mendengar antara 90 dB keata.

Penderita dari kedua kategori ini mengalami tuli. Dalam kebiasaan sehari-hari mereka perlu sekali adanya latihan bicara, mendengar, berbahasa, dan pelayanan pendidikan secara khusus. Anak yang kehilangan kemampuan mendengar tingkat III sampai IV pada hakekatnya memerlukan pelayanan pendidikan khusus.

 

SUMBER :

H. T. Sutjihati Somantri, Psikologi Anak Luar Biasa, (Jakarta : Depdikbud, 1896), h. 76

 

KONTRIBUTOR :

Admin/Webmaster

Klasifikasi Tuna Rungu

Klasifikasi anak tunarungu menurut Samuel A. Kirk adalah sebagai berikut :

a.  0            dB      : menunjukkan pendengaran yang optimal.

b.  0  –  26  dB       : menunjukkan seseorang masih mempunyai pendengaran yang normal.

c.  7   – 40  dB       : mempunyai   kesulitan  mendengar  bunyi-bunyi yang jauh, membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi bicara (tergolong tunarungu ringan).

d. 41 – 55   dB      : mengerti  bahasa    percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas, membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara (tergolong tunarungu sedang).

e. 56  – 70  dB      : Hanya   bisa mendengar suara yang dekat, masih mempunyai sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat bantu mendengar serta dengan cara khusus (tergolong tunarungu agak berat).

f. 71  –  90  dB      : hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang-kadang dianggap tuli membutuhkan pendidikan luar biasa yang intensif, membutuhkan alat bantu dengar dan latihan bicara secara khusus (tergolong tunarungu berat).

g   91  dB  keatas       :  mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak tergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuk proses informasi, dan yang bersangkutan dianggap tuli (tunarungu barat sekali).

 

SUMBER :

Permanarian Somad, Orthopedagogik Anak Tunarungu, (Jakarta : Depdikbud, 1996), h. 29

 

KONTRIBUTOR :

Admin/Webmaster

Pengertian Tuna Rungu3

Tunarungu dapat diartikan sebagai suatu keadaan kehilangan pendengar yang mengakibatkan seseorang tidak dapat menangkap berbagai perangsangan terutama melalui indera pendengaran.

 

SUMBER :

Permanarian Somad, Orthopedagogik Anak Tunarungu, (Jakarta : Depdikbud, 1996), h. 27

 

KONTRIBUTOR :

Admin/Webmaster