Tes Objektif dan Esay
Tujuan, type dan karakteristik
Tes Objektif
Istilah tes objektif sesuai dengan sifat tes, yaitu jelas, terhindar dari unsur rekayasa, dan nilai yang dihasilkan apa adanya dan siapa saja mudah melakukannya (Anwar, 2009: 30).
Tujuan tes objektif, adalah untuk menilai hasil belajar (Sudjana, 1995: 44), yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau oleh dosen kepada mahasiswa, dalam jangka waktu tertentu (Purwanto, 1994: 33), dan dalam pemeriksaannya dilakukan secara obyektif (Arikunto, 1997: 165).
Bentu-bentuk (Sudjana, 1995: 44) atau type tes objektif antara lain: pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, dan melengkapi atau jawaban singkat. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menggunakan bentuk tes, yaitu: ketersediaan waktu, kemampuan siswa, target pembelajaran, dan kemampuan kognitif apa yang akan digali dari siswa atau mahasiswa (Anwar, 2009: 30—31).
Tes Esay
Kubiszyn dan Borich dalam Anwar (2009: 71) soal esay, adalah soal yang menuntut jawaban dengan kemampuan kognitif yang kompleks. Linn dan Grounlund dalam Anwar (2009: 71), soal esay adalah, soal yang digunakan untuk mengukur (tujuan) pencapaian hasil belajar aspek yang kompleks. Dan dianjurkan perancang tes mengukur kemampuan peserta tes dalam bentuk analisis, mengorganisasi dan mengekspresikan ide-ide tentang sesuatu (Anwar, 2009: 71). Disebut juga essay examination merupakan alat penilaian hasil belajar, dalam bentuk pertanyaan tertulis yang menuntut jawaban: menguraikan, menjelaskan, membandingkan, memberi alasan, dengan menggunakan kata-kata dan bahasa sendiri atau mengekspresikan gagasan melalui bahasa tulisan (Sudjana, 1995: 35).
Perbedaan tes objektif dan tes esay adalah (Purwanto, 1994: 36):
| Perbedaan Tes Objektif dan Tes Esay | ||
| Ditinjau dari | Tes Objektif | Tes Esay |
| Taksonomi hasil yang diukur |
|
|
| Sampling isi/bahan | Karena menggunakan item jumlah yang banyak, dapat mencakup atau mewakili bahan pelajaran yang luas pula. | Karena menggunakan jumlah soal yang relatif kecil, hanya mencakup bahan yang terbatas (tidak dapat mewakili isi bahan yang luas). |
| Persiapan membuat soal | Mempersiapkan item adalah yang sukar dan memakan waktu. | Mempersiapkan item yang baik adalah sukar, tetapi lebih mudah daripada mempersiapkan soal objektif. |
| Penskoran | Objektif, sederhana, dan keandalannya tinggi. | Subyektif, sukar, dan kurang andal. |
| Kemungkinan | Mendorong siswa untuk mengingat, menginterpretasikan, dan menganalisis ide-ide orang lain. | Mendorong siswa untuk mengorganisasi dan mengintegrasikan ide-idenya sendiri. |
- Tes Objektif
Karakteristik
| Tes Objektif | |
| Menurut
Ahli Evaluasi |
Karakteristik |
| Purwanto (1994: 34, 36) |
untuk mengukur hasil belajar tingkat pengetahuan, pemhaman, aplikasi, dan analisis.
yang luas karena jumlah item yang banyak.
menginterpretasikan, dan menganalisis ide-ide orang lain.
sama.
menjodohkan, dengan menggunakan tanda-tanda seperti tertera dalam soal atau suruhan. |
| Sudjana (1995: 44) |
|
| Arikunto (1997: 166) |
dapat diberikan 30 – 40 butir soal. |
| Hamalik (1989: 50—51) |
pendeteksi. |
Kelebihan/Kekurangan Tes Objektif
Secara umum kelebihan atau kebaikan dan kelemahan tes objektif adalah tertera pada bagan berikut (Arikunto, 1997: 166):
| Tes Objektif | |
| Kebaikan/kelebihan | Kekurangan/kelemahan |
| Lebih banyak segi-segi positif, representatif mewkili isi, luas bahan, objektif, dapat dihindari unsur subyektif dari siswa maupun segi guru yang memeriksa. | Persiapan untuk menyusun butir tes lebih sulit daripada tes esay karena soalnya banyak, harus teliti. |
| Mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi. | Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja, sukar untuk mengukur proses mental yang lebih tinggi. |
| Pemeriksaannya dapat diserahkan kepada orang lain. | Banyak kesempatan untuk main untung-untungan. |
| Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subyektif yang mempengaruhinya. | “Kerjasama” antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka. |
Arikunto (1997: 166) menyatakan cara mengatasi kelemahan tes objektif, adalah:
- Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan banyak berlatih terus menerus hingga betul-betul mahir.
- Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kelemahan dalam mempersiapkan dan menyusun butir tes dan kecenderungan hanya mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan saja.
- Menggunakan norma (standar) penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulasi.
Ragam tes objektif dan teknik penyusunannya
- Multiple Choice (Pilihan Ganda)
Tes pilihan ganda yaitu tes yang terdiri atas satu pernyataan soal dengan
beberapa alternatif jawaban. Dari alternatif jawaban yang ditawarkan, hanya
satu jawaban yang benar, yang lainya adalah pengecoh. Tes ini juga dikatakan
objektif karena opsi pilihannya hanya ada satu jawaban benar, selain itu opsi
yang salah (Anwar, 2009: 31).
Teknik menyusun tes pilihan ganda
Dalam membuat tes pilihan ganda McBeath (1992) dalam Anwar (2009: 31)
menyarankan tujuh aturan yaitu:
- Buatlah pernyataan soal yang tidak membingungkan.
- Hindari pernyataan soal yang tidak relevan dengan materi.
- Pernyataan soal mengarah kepada satu jawaban benar.
- Hindari pernyataan negatif yang membingungkan.
- Alternatif jawaban yang mungkin tetapi tidak benar.
- Hindari pernyataan soal yang mengarahkan ke jawaban benar.
- Hindari alternatif jawaban “semua di atas benar” atau “semua di atas salah”.
Contoh-contoh soal pilihan ganda (Anwar, 2009: 32–36):
- Buatlah pernyataan soal tidak membingungkan peserta tes
Bandingkan dua soal berikut ini
- Di bagian Barat Daya,….
|
- Di bagian Barat Daya Amerika kota yang terpadat penduduknya adalah,….
|
Keterangan:
Pernyataan soal pertama tidak jelas, sehingga semua alternatif jawaban berpeluang untuk dipilih. Pernyataan soal kedua lebih jelas, sehingga peserta tes lebih mudah untuk memhami arah pertanyaan.
- Buatlah pernyataan soal relevan dengan materi
Bandingkan dua soal berikut ini.
- Kondisi geomorfologi, kesuburan tanah, iklim, dan lingkungan lainnya akan berpengaruh terhadap corak kehidupan masyarakat setempat. Hal ini merupakan faktor,….
|
|
- Geomorpologi suatu tempat dapat dipengaruhi corak hidup masyarakatnya, hal ini disebut sebagai faktor lingkungan,…
Keterangan:
Dengan menyebut geomorfologi saja sudah mewakili indikator keadaan tanah, kesuburan dan sebagainya. Begitu juga alternatif jawaban, cukup menempatkan kata “lingkungan” di akhir pernyataan, sehingga tidak disebut secara berulang kali dalam pilihan.
- Buatlah pernyataan soal mengarah ke satu jawaban benar
Bandingkan dua soal berikut ini
- Kepadatan penduduk di pulau Irian dan pulau Kalimantan termasuk,….
|
- Kepadatan penduduk di pulau Irian termasuk, ….
|
Keterangan:
Pernyataan pertama tidak tegas, karena ada dua pulau yang dikemukakan. Dengan menyebut pulau Kalimantan peserta tes akan bingung karena mungkin saja Kalimantan sudah mulai padat penduduknya. Dengan demikian ada kemungkinan dua jawaban yaitu pulau Irian dan pulau Kalimantan. Sedangkan pernyataan soal kedua lebih tegas, sehingga peserta tes tidak bingung menentukan pilihannya, karena mereka sudah terarah untuk menentukan ke satu pilihan benar.
- Hindarilah pernyataan negatif yang membingungkan peserta tes.
– Negara yang berbatasan darat dengan Indonesia yaitu, kecuali
|
– Negara yang berbatasan laut dengan Indonesia yaitu, kecuali
|
Keterangan:
Pernyataan “kecuali” pada soal pertama tidak tepat/tidak perlu, karena
negara yang berbatasan darat dengan Indonesia ada dua yaitu Brunai dan
Timur Leste. Pernyataan “kecuali” lebih tepat pada soal yang kedua, karena tiga
Negara lain (Philipina, Malaisya, dan Singapura) berbatas laut dengan Indonesia
Kecua di Brunai Darussalam.
- Gunakanlah alternatif jawaban yang berfungsi pengecoh
Bandingkan dua soal berikut ini.
- Apabila Anda mendaki gunung, peralatan yang paling penting dibawa adalah,….
|
- Apabila Anda mendaki gunung, peralatan yang paling penting dibawa adalah,….
|
Keterangan:
Bagi siswa yang sudah mempeljari alat bantu Geografi, pilihan mereka sudah tentu menjawab “d”. Karena sedikitpun di antara pilihan lain tidak ada hubungannya dengan pendakian gunung. Alternatif pada soal kedua punya kemungkinan untuk dipilih, karena semua peralatan tersebut lebih masuk akal untuk dibawa. Tetapi karena yang diminta adalah yang paling penting, maka alat tersebut adalah peta top.
- Hindarilah petunjuk yang mengarah ke jawaban benar
Bandingkan dua soal berikut ini.
- Geografi industri merupakan bagian penting dari:
|
Geografi industri merupakan bagian penting dari:
|
Keterangan:
Bagi siswa yang sudah mempelajari cabang-cabang Geografi, alternatif jawaban membantu siswa untuk memilih jawaban “b”, dan mudah ditebak. Karena di antara alternatif yang ada kata “Geografi ekonomi” berkonotasi “industri”. Soal kedua mempunyai kemungkinan sebagai pilihan, tetapi karena berbicara tentang cabang-cabang ilmu maka Geografi industri adalah cabang dari “Geografi ekonomi”.
- Hindarilah menggunakan alternatif jawaban “semua di atas benar” dan “semua
jawaban di atas salah”.
Bandingkan dua soal berikut ini.
- Media paling utama dalam Pembelajaran Geografi adalah
|
- Media paling utama dalam Pembelajaran Geografi adalah
|
Keterangan:
Pada soal pertama siswa yang suka tergesa-gesa biasanya akan langsung memilih jawaban “d”. Karena semua media terebut memang penting dalam pembelajaran Geografi. Mereka sering lupa yang diminta oleh si pembuat soal adalah media paling utama yaitu “peta”. Pada soal kedua siswa biasanya akan berpikir sejenak, sebelum menentukan pilihannya.
Persyaratan lain yang perlu diperhatikan dalam menyusun tes pilihan ganda (Anwar, 2009: 36), adalah: (1) semua alternative jawaban mempunyai panjang yang sama, dan (2) semua pengecoh berpeluang untuk dipilih, (3) apabila alternative jawabannya dalam bentuk angka, usahakan dengan angka yang mirip (misalnya: A = 1962, B = 1692, C = 1269, D = 1926, E = 1296), (4) usahakan pula angka yang dibuat berurutan (misalnya: A = 1269, B = 1296, C = 1626, D = 1962, dan E = 1992).
Menurut Nitko (1996) dalam Anwar (2009: 36—37) keuntungan dan kelemahan tes pilihan ganda antara lain.
| Tes Pilihan Ganda | |
| Keuntungan | Kelemahan |
|
. Membuat tes obyektif lebih rumit
dan lebih lama dibandingkan tes esay. |
|
kemampuan kognitif tingkat
tinggi. |
|
jawaban spekulatif dan bekerja
sama. |
|
tinggi. (mungkin maksudnya: unsur
objektifitasnya lebih tinggi). |
|
|
- Tes benar – salah (true-false test)
Tes objektif benar-salah terdiri atas satu pernyataan soal, dan untuk menjawabnya peserta tes hanya diminta untuk memberikan keputusan apakah pernyataan soal itu benar atau salah. Bentuk tes benar salah boleh saja diganti dengan istilah ya-tidak, yang penting dengan pernyataan soal yang sesuai pula. Tes objektif benar salah mempunyai sisi kelebihan dan kelemahan tidak jauh berbeda dengan kelebihan dan kelemahan tes objektif pada umumnya (Anwar (2009: 41).
Wiersma dan Jurs (1990) dalam Anwar (2009: 41) menganjurkan ada empat teknik membuat soal dengan jawaban benar – salah. Teknik yang dimaksud antara lain: (1) Buatlah pernyataan soal yang jelas sehingga jawabannya tidak membingungkan. Soal berikut ini merupakan contoh soal yang membingungkan peserta tes. Peningkatan jumlah curah hujan akan meningkatkan hasil panen di suatu wilayah (Benar – Salah). Bagi siswa pintar soal ini membingungkan, karena mereka mengetahui bahwa, tidak semua hasil pertanian meningkat bila curah hujannya meningkat. Bahkan sebaliknya apabila hasil pertanian terus menerus menerima hujan, justru produksi akan menurun, karena hujan yang jatuh sudah di atas ambang kebutuhan. (2) Hindarilah menggunakan bahasa baku. Hal ini menekan sekecil mungkin peluang untuk buka buku selama ujian, dan siswa merasa tertantang untuk belajar. (3) Hindari menggunakan penentu spesifik (selalu, tidak pernah, semua, tidak satupun, dan lain sebagainya). (4) Buatlah panjang soal yang sama (Anwar, 2009: 41–42).
- Tes menjodohkan (mathing test)
Tes objektif menjodohkan yaitu tes objektif yang menutut kemampuan asosiasi siswa. Tes ini ditampilkan dalam bentuk dua kolom. Kolom pertama terdiri atas premis-premis atau pernyataan, dan kolom kedua terdiri atas respon. Premis pernyataan dan jawaban tidak dibuat sejajar, tetapi berbeda urutan. Misalnya, jika premis dibuat pada nomor 1, respon soal dibuat pada nomor tujuh. Untuk fungsi pengecoh, antara jumlah soal dengan jawaban boleh berbeda. Misalnya, jumlah pernyataan ada 10 butir, maka jumlah jawaban boleh 11 atau 12(Anwar, 2009: 42—42).
Syarat menyusun tes menjodohkan di antaranya: (1) pernyataan soal terdiri dari materi yang homogen. Kehomogenan bertujuan untuk menjadikan semua alternatif jawaban berpeluang untuk dipilih. (2) Respon item terdiri atas jawaban yang berfungsi pengecoh. (3) Panjang soal dan respon relatif sama (Anwar, 2009: 42).
Berikut contoh soal menjodohkan tentang karakteristik kota di Indonesia (Anwar, 2009: 43).
____________________________________________________________
Jawaban Pernyataan Alternatif
____________________________________________________________1. …….. 1. Kota besar di luar pulau Jawa A. Palembang
- …….. 2. Kota di pantai Timur Sumatera B. Yogyakarta
- …….. 3. Kota pahlawan di Indonesia C. Solo
- …….. 4. Kota industri batik D. Medan
- …….. 5. Kota pendidikan E. Surabaya
- …….. 6. Kota penghasil kayu, besi F. Pekan Baru
- Jakarta
___________________________________________________________
- 4. Tes melengkapi atau jawaban singkat (completion or short answert test)
Tes jawaban singkat dikelompokkan sebagai tes objektif karena pemberian
skornya dapat dilakukan secara objektif. Tes ini hanya membutuhkan satu
jawaban singkat, sehingga dengan cepat langsung diketahui benar atau
salahnya jawaban peserta tes. Oleh sebab itu syarat menyusun tes adalah
membuat pernyataan yang tegas, spesifik, dan hanya butuh satu jawaban
singkat. Pernyataan yang membingungkan akan membingungkan pula bagi
peserta tes dalam memberikan jawabannya (Anwar, 2009: 43).
Berikut adalah contoh-contoh tes jawaban singkat.
1). Peristiwa naiknya bintik air ke udara akibat panas Matahari disebut? ……..
2). Pengikisan tebing pantai oleh gelombang laut disebut? …………………..
Tes seperti ini juga dapat disusun terbalik namun dalam bentuk asosiatif
(association form) yang sederhana, sebagaimana contoh berikut ini.
1). …………… adalah peristiwa naiknya bintik air ke udara akibat panas Matahari.
2). …………… adalah pengikisan tebing pantai oleh gelombang laut. (Anwar,
2009: 43—44).
- Tes Esay
Karakteristik tes esay
Karakteristik tes esay adalah berikut ini.
| Tes Esay | |
| Pakar evaluasi | Karakteristik |
| Kubisyn dan Borich (2003: 127) dalam Anwar (2009: 71) | Soal yang menuntut jawaban dengan kemampuan kognitif yang kompleks.
Non objektive test karena sifat penilaian atau pemberian skornya berpeluang berbeda jika dinilai oleh orang yang berbeda. |
| Nitko (1996) dalam Anwar (2009: 71) | Metode penilaian yang subyektif. |
| Linn dan Grounlund (1995: 234) dalam Anwar (2009: 71) |
|
Kelebihan dan kekurangan tes esay
Keuntungan dan kelemahan soal esay (Anwar, 2009: 71—72), adalah seperti dalam bagai berikut.
| Tes Esay | |
| Keuntungan | Kelemahan |
|
|
Teknik menyusun soal esay
McBeath (1992) dalam Anwar (2009: 72) menganjurkan lima strategi untuk menghasilkan pertanyaan soal esay yang baik, untuk menghindari kelemahan-kelemahannya, yaitu: (1) Gunakan kata-kata kunci yang mengarah pada proses berpikir spesifik. (2) Kemukakan persyaratan soal secara jelas. (3). Sebutkan panjang/bentuk respon yang diharapkan. (4). Kemukakan limit waktu, dan (5) Beri bobot pertanyaan.
Berikut contoh soal-soal esay (Anwar, 2009: 72–73), yaitu:
- Gunakan kata-kata kunci yang mengarah pada proses berpikir spesifik
Kata-kata kunci untuk pertanyaan tingkat rendah berhubungan
dengan menyebutkan kembali (recall) antara lain: definisikan, sebutkan,
gambarkan, dan jelaskan. Kata kunci pertanyaan tingkat tinggi
berhubungan dengan aplikasi (application) antara lain: aplikasikan,
organisasikan, interpretasikan, dan beri penilaian. Sebagai contoh
bandingkan dua soal esay pada mata pelajaran geografi pokok bahasan
iklim berikut ini:
Pertanyaan 1: Gambarkan keadaan iklim Indonesia secara umum,
dan jelaskan lima unsur cuaca yang Anda ketahui.
Pertanyaan 2 : Perhatikan data cuaca pada tabel di bawah ini, dan
Kemukakan interpretasi saudara berdasarkan data
tersebut.
Keadaan cuaca pada daerah X pukul 17.00 WIB
_________________________________________________
No. Unsur cuaca Keadaan Keterangan____
- Suhu 33 C
- Kelembaban 95 % Keadaan
- Angin 1 knot/hr diperkirakan …. ?
- Jenis awan Commulonimbus
Berdasarkan contoh di atas dapat dilihat bahwa, pertanyaaan pertama tidak membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, karena untuk menjawab soal tersebut hanya membutuhkan kemampuan mengingat informasi. Pertanyaan seperti ini cocok untuk peserta tes pada sekolah tingkat dasar dan menengah. Pertanyaan kedua selain membutuhkan kemampuan mengingat infromasi, tetapi juga membutuhkan kemampuan menginterpretasi data, membuat hubungan-hubungan, dan membuat keputusan. Pertanyaan ini dapat diberikan pada mahasiswa, khususnya yang tengah mengambil subjek iklim dan cuaca (klimatologi) di perguruan tinggi.
Pada bagian berikut ini (Anwar, 2009: 74–75), dikemukakan dua contoh soal esay untuk pertanyaan tingkat rendah dan tingkat tinggi.
Contoh rancangan soal esay dengan pertanyaan tingkat rendah dan kriteria penyekorannya.
| No | Skema
Penyekoran |
Deskripsi | Keterangan |
| 1 | Tujuan | Siswa mampu menyebutkan
dan menggambarkan lima unsur cuaca. |
Bobot soal = 5+5 = 10 |
| 2 | Item soal | Sebut dan jelaskan lima unsur
cuaca yang penting (skor 10, jawaban tidak lebih dari ½ halaman folio). |
|
| 3 | Kriteria |
penyekoran kelima unsur cuaca, masing-masing unsur = 1 poin, maka kelima unsur = 5 poin. 2. Bila siswa dapat 5+5 = 10 menjelaskan kelima unsur cuaca, masing-masing unsur = 1 poin, maka kelima unsur = 5 Poin. |
Untuk soal esay tipe luas dengan kemampuan kognitif yang lebih
tinggi maka kriteria skor yang diberikan menjadi lebih komplek. Contoh
berikut ini.
| No | Skema penyekoran | Deskripsi | Keterangan |
| 1 | Tujuan | Peserta mampu menjelaskan, dan mengemukakan analisisnya tentang keterkaitan antara unsur-unsur sehingga membentuk keadaan cuaca tertentu, serta membuat ramalan-ramalan (minimal dengan dua contoh) | Bobot Soal = 5+5+10+10 = 30 |
| 2 | Item soal | Jelaskan lima unsur cuaca yang penting, kemukakan analisis bagaimana keterkaitan antar unsur cuaca sehingga membentuk kondisi tertentu, dan buat contoh/model ramalan cuaca tersebut (bobot jawaban adalah 30). | |
| 3 | Kriteria penyekoran |
|
- Kemukakan persyaratan soal secara jelas
Hal ini bertujuan untuk menghindarkan kekaburan dan kerancuan bahasa, yang menyulitkan peserta tes memberikan jawabannya. Selain itu, juga memudahkan evaluator dalam memeriksa dan memberi nilai jawaban peserta tes (Anwar, 2009: 76), contoh soal berikut ini.
Pertanyaan 1: Kemukakan pendapat saudara tentang terjadinya tsunami di Aceh.
Pertanyaan 2: Kemukakan beberapa faktor penyebab gempa, macam-macam
gempa di Indonesia dan hubungannya dengan kejadian tsunami di
provinsi Aceh.
Pertanyaan pertama menyulitkan penilai untuk memberi skor peserta tes, karena yang ditanya adalah pendapat. Tidak ada batasan benar-salah apabila seseorang diminta berpendapat. Peserta didik sendiri tentu akan lebih leluasa mengemukakan pendapatnya, karena itulah menurut mereka. Dalam pertanyaan kedua, peserta tes diminta mengeluarkan potensi diri yang menurut level kognitif yang tinggi. Peserta tes akan lebih terarah memberikan jawabannya. Penilai sendiri akan lebih mudah dalam membaca dan memahami jawaban peserta tes. Dalam hal ini yang dinilai adalah kemampuan mengemukakan faktor-faktor penyebab gempa, bentuk-bentuk gempa, potensi gempa di Indonesia, dan bagaimana mereka menghubungkannya dengan kejadian tsunami di Aceh.
- Sebutkan panjang/bentuk respon yang diharapkan
Menyebutkan panjang atau bentuk respon yang diharapkan bertujuan membantu
peserta tes mengembangkan ide-ide pokoknya, sehingga mengurangi peluang
untuk memberikan jawaban yang tanpa arah (Anwar, 2009: 76–77), contoh soal
berikut ini. Dua contoh soal untuk dibandingkan dan dengan soal sebelumnya .
Pertanyaan 1: Kemukakan pendapat saudara tentang terjadinya tsunami di Aceh.
Pertanyaan 2: Kemukakan beberapa faktor penyebab gempa, macam-macam
gempa, potensi gempa di Indonesia dan hubungannya dengan
kejadian tsunami di provinsi Aceh (Jawaban tidak lebih dari 1
lembar folio, atau lebih kurang 500 kata).
Sama dengan soal yang sebelumnya, pada pertanyaan pertama peserta tes berpeluang untuk lebih leluasa mengemukakan pendapatnya, dan tidak disalahkan secara mutlak. Pertanyaan kedua lebih terarah bahkan peserta tes akan hati-hati dengan jawaban yang diberikan, karena ada batasan jawaban yang diharapkan. Peserta tes akan berusaha mengarahkan pada hal-hal yang dianggap lebih tepat, padat dan tidak berbelit.
- Kemukakan batas pengerjaan soal
Mengemukakan batas waktu dalam mengerjakan soal bertujuan membantu
peserta tes memenej waktunya dari waktu yang disediakan. Mengemukakan batas
waktu dapat mengurangi kecemasan tes (tes anxiety). Peserta tes akan berusaha
mengerjakan hal-hal yang mudah terlebih dahulu, kemudian mengerjakan soal-soal
yang dianggap lebih sulit. Biasanya waktu tes dicantumkan pada informasi tes, atau
dengan cara mengumumkannya di depan kelas (Anwar, 2009: 77).
- Beri bobot pertanyaan
Soal yang lebih sulit diberi bobot lebih tinggi, dan soal yang lebih mudah diberi
bobot yang lebih rendah. Memberi bobot pertanyaan bertujuan selain memberi tahu siswa mana soal yang lebih mudah dan mana soal yang lebih sulit, juga memberi bantuan kepada peserta tes dalam memilih strategi menjawab soal, apakah akan menjawab soal yang memiliki bobot yang lebih tinggi terlebih dahulu atau sebaliknya. Untuk mendapatkan bobot soal yang benar sebaiknya perancang tes menyiapkan alat bantu yang disebut dengan rubric skor (scoring rubrics).
Tabel …. memperlihatkan contoh membuat rubrik skor dalam menilai tes esay (Anwar, 2009: 77).
Tipe tes esay
Ahli evaluasi membedakan soal esay dalam dua tipe (Anwar, 2009: 78–79), yaitu tipe respon item restriksi/terbatas dan tipe respon item restriksi/luas. Berikut perbedaan antara dua tipe tes esay.
| Pendapat pakar evaluasi | Tipe tes esay | |
| Tipe respon item terbatas | Tipe respon item luas | |
| Syafri Anwar (2009: 78) | Ada limit kepada peserta tes
tentang jawaban yang diberikan, yaitu:
|
peserta tes.
menjawab pertanyaan beruntun.
|
| Pophan (1995) dalam Anwar (2009: 78) |
|
- |
| Wiersman dan Jurs (1990) dalam Anwar (2009: 78) |
peserta didik tingkat dasar |
|
Berikut contoh-contoh soal esay tipe terbatas dan tipe luas.
Contoh item soal esay tipe terbatas untuk siswa tingkat dasar dan menengah
| No | Skema penyekoran | Deskripsi | Keterangan |
| 1 | Tujuan | Peserta didik mampu menyebutkan dan menggambarkan sekurang-kurangya lima unsur cuaca. | Bobot soal 10.
Jawaban tidak lebih dari ½ halaman folio. |
| 2 | Item soal | Sebut dan gambarkan lima unsur pembentuk cuaca |
Soal yang sama dapat disusun menjadi soal esay tipe luas dengan cara mengubah deskripsi tujuan dan pertanyaan soal.
Contoh item soal esay tipe luas untuk mahasiswa di Perguruan tinggi.
| No | Skema penyekoran | Deskripsi | Keterangan |
| 1 | Tujuan | Peserta didik mampu menjelaskan, dan mengemukakan analisisnya tentang keterkaitan unsur-unsur cuaca lalu merumuskan keadaan cuaca tertentu, serta membuat ramalan-ramalan (minimal dengan dua contoh). | Bobot soal 30.
Jawaban maksimal 1½ halaman folio. |
| 2 | Item soal | Jelaskan lima unsur cuaca, kemukakan analisis saudara bagaimana kelima unsur cuaca tersebut saling mempengaruhi, lalu membentuk suatu kondisi tertentu, dan buat dua ramalan cuaca sesuai analisis saudara tersebut. |
Dari dua contoh soal esay tersebut di atas diketahui bahwa, terbatas dan luasnya sebuah soal ditentukan oleh target pembelajaran/tujuan yang hendak dicapai, yang disesuaikan dengan usia dan tingkat sekolah peserta didik. Makin tinggi level seseorang, makin tinggi tuntutan aspek kognitif yang diharapkan.
Teknik Penilaian Tes Esay
Tugas evaluator yang lain adalah memberi nilai terhadap jawaban tes esay. Untuk mempertahankan penilaian yang objektif, maka penilaian harus terukur (measurable). Untuk mendapatkan penilaian yang terukur si perancang tes terlebih dahulu membuat rubric penyekoran (scoring rubrics) atau kriteria penyekoran (scoring criteria) yang jelas (Anwar, 2009: 79).
Contoh item soal esay tipe terbatas untuk siswa tingkat dasar dan menengah, dan kriteria skornya (Anwar, 2009: 80–81).
| No | Skema
Penyekoran |
Deskripsi | Keterangan |
| 1 | Tujuan | Peserta didik mampu menyebutkan dan menggambarkan sekurang-kurangnya lima unsur cuaca |
Bobot soal 10. Jawaban tidak lebih dari ½ halaman folio. |
| 2 | Item soal | Sebut dan gambarkan lima unsur pembentuk cuaca. | |
| 3 | Kriteria skor | Bila peserta tes dapat:
Bobot soal = 10. |
Untuk soal esay tipe luas dengan kemampuan kognitif yang lebih tinggi maka kriteria skornya menjadi lebih komplek.
Contoh item soal esay tipe luas untuk mahasiswa di Perguruan tinggi dengan kriteria skornya.
| No | Skema penyekoran | Deskripsi | Keterangan |
| 1 | Tujuan | Peserta didik mampu menjelaskan, dan mengemukakan analisinya tentang keterkaitan unsur-unsur cuaca lalu merumuskan keadaan cuaca tertentu, serta membuat ramalan-ramalan (minimal dengan dua contoh). |
Bobot soal 30, jawaban maksimal 1 ½ halaman folio. |
| 2 | Item soal | Jelaskan lima unsur cuaca, kemukakan analisis saudara bagaimana kelima unsur cuaca tersebut saling mempengaruhi, lalu membentuk suatu kondisi tertentu, dan buat dua ramalan cuaca sesuai analisis saudara tersebut. | |
| 3 | Kriteria skor | Bila peserta tes dapat:
Bobot soal = 30. |
Cara lain dalam menilai soal esay adalah membuat rubric skor berdasarkan kelengkapan yang diinginkan oleh pembuat soal. Rubrik skor yang dimaksud adalah sebagai berikut (Anwar, 2009: 82).
|
Rubrik skor: Soal nomor 1 tentang unsur-unsur cuaca. Skor maksimal 5 dan minimum 1
menjelaskan kesaling terkaitan, terjadi kondisi tertentu, dan membuat satu contoh ramalan cuaca.
cuaca, menjelaskan kesaling terkaitan, terjadi kondisi tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.
menjelaskan kesaling terkaitan, tidak mampu menyebutkan kondisi tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.
mampu menjelaskan kesaling terkaitan, tidak mampu menyebutkan kondisi tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.
tidak mampu menjelaskan kesaling terkaitan, tidak mampu menyebutkan kondisi tertentu, tidak mampu membuat ramalan cuaca.
|
Perbedaan Tes Objektif dan Tes Esay
Perbedaan tes objektif dan tes esay (Anwar, 2009: 82–83), seperti berikut.
| Perbedaan tes objektif dan tes esay | |
| Tes Objektif | Tes Esay |
| Jumlah butir soal lebih banyak, sehingga lebih mewakili materi. | Jumlah butir soal sedikit, kurang dapat mewakili materi. |
| Untuk membuat soal yang bermutu, butuh waktu yang lebih lama. | Untuk membuat soal tidak terlalu membutuhkan waktu yang lebih lama. |
| Cara pemeriksaannya lebih mudah. | Cara pemeriksaannya lebih sulit, kecuali membuat rubric scornya terlebih dahulu. |
| Mudah menghindar dari unsur subyektifitas penilai atau pengaruh hallo effect | Sulit menghindar dari unsur subyektifitas penilai atau pengaruh hallo effect. |
| Dapat diolah dan dianalisis menggunakan unsur teknologi (anates, iteman, SPSS, Exel). | Sulit dan bahkan tidak dapat diolah dan dianalisis menggunakan unsur teknologi (anates, iteman, SPSS, dan Exel) sekurang-kurangnya untuk sampai saat ini. |
| Berpeluang unsur rekayasa (tebakan dan menyontek). | Lebih terhindar dari unsur rekayasa (tebakan dan menyontek). |
Uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa masing-masing bentuk tes memiliki keunggulan dan kelemahan. Dianjurkan agar dalam setiap proses pembelajaran dapat mengkombinasikan kedua bentuk tes tersebut. Membuat tes objektif, juga ada esaynya. Dianjurkan jumlah butir tes esay tidak lebih dari 10 butir, atau berkisar antara 5 – 8 butir.
Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Anwar, Syafri. 2009. Penilian Berbasis Kompetensi. Padang: UNP Press.
Hamalik, Oemar. 1989. Teknik Pengukuran dan Evaluasi Pendidikan, Bandung: Mandar Maju.
Purwanto, Ngalim. 1994. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudjana, Nana, 1995. Penilaian Hasil Belajar, Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Leave a Reply