Hakikat Pendidikan, Belajar dan Pembelajaran

Supriadi, M.Pd

Supriadi, M.Pd

PAPER MINGGUAN

Analisa Hakikat Pendidikan, Belajar dan Pembelajaran

 

SEGMEN 1

RINGKASAN MATERI

     

Setiap negara di dunia, pastilah mementingkan perkembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)nya, sebagai negara yang baik, tentunya aspek ini akan menjadi perhatian utama, bagaimana tidak pendidikan tentunya merupakan titik tumpu keberhasilan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di masa yang akan datang, karena baik buruknya kualitas pendidikan suatu negara, pastilah akan terlihat beberapa tahun ke depan.

Begitu besarnya harapan bangsa pada sektor pendidikan ini, karena pada dasarnya pendidikan tentulah merupakan peletak fondasi awal kecerdasan, emosional dan sosial peserta didik, di tangan pendidikanlah keberhasilan peserta didik yang kemudian bermuara pada terserapnya lulusan yang terampil dari proses pendidikan yang dijalaninya, begitupun sebaliknya, pendidikan akan menjadi tumbal ketika produk lulusannya tidak berkualitas dan kemudian tidak terserap oleh dunia kerja.

Pada dasarnya pendidikan ialah kegiatan mendidik manusia menjadi manusia sehingga hakikat atau inti dari pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab urusan utama pendidikan adalah manusia. Wawasan yang dianut oleh pendidik tentang manusia akan mempengaruhi strategi atau metode yang digunakan dalam melaksanakan tugasnya. Kita sepakat bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang  tidak  asing bagi kita, terlebih lagi karena kita bergerak di bidang pendidikan. Juga pasti kita sepakat bahwa pendidikan diperlukan oleh semua orang. Bahkan dapat dikatakan bahwa pendidikan ini dialami oleh semua manusia dari semua golongan. Tetapi sering kali orang melupakan makna dan hakikat pendidikan itu sendiri. Layaknya hal lain yang sudah menjadi rutinitas, cenderung terlupakan makna dasar dan hakikatnya.

Karena itu benarlah kalau dikatakan bahwa setiap orang yang terlihat dalam dunia pendidikan sepatutnyalah selalu merenungkan makna dan hakikat pendidikan, merefleksikannya di tengah-tengah tindakan/aksi sebagai buah refleksinya.

Menurut Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 tahun 2003 Bab I, pasal 1 menggariskan pengertian : “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana  belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Beberapa asumsi dasar yang berkaitan dengan hakikat pendidikan sebagai berikut :

  1. Pendidikan merupakan proses interaksi manusia yang ditandai oleh keseimbangan antara kedaulatan  subjek didik dengan kewibawaan pendidik.
  2. Pendidikan merupakan usaha penyiapan subjek didik menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat.
  3.  Pendidikan meningkatkan kualitas kehidupan pribadi dan masyarakat.
  4. Pendidikan berlangsung seumur hidup.
  5. Pendidikan merupakan kiat dalam menerapkan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknologi bagi pembentukan manusia seutuhnya.

            Untuk lebih jelasnya pembahasan mengenai Hakikat Pendidikan, belajar dan pembelajaran ini, mari ikuti bagian kedua yang merupakan pembahasan pada paper ini.

SEGMEN II

PEMBAHASAN

  1. Hakikat Pendidikan

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa hakikat pendidikan diartikan sebagai kupasan secara konseptual terhadap kenyataan-kenyataan kehidupan manusia baik disadari maupun tidak disadari manusia telah melaksanakan pendidikan mulai dari keberadaan manusia pada zaman primitif sampai zaman modern (masa kini), bahkan selama masih ada kehidupan manusia di dunia, pendidikan akan tetap berlangsung. Kesadaran akan konsep tersebut diatas menunjukkan bahwa pendidikan sebagai gejala kebudayaan. Artinya sebagai pertanda  bahwa manusia sebagai makluk budaya yang salah satu tugas kebudayaan itu tampak pada proses pendidikan (Syaifullah, 1981).

Maka pembahasan tentang hakikat pendidikan merupakan tinjauan yang menyeluruh dari segi kehidupan manusia yang menampakkan konsep-konsep pendidikan. Karena itu pembahasan hakikat pendidikan meliputi pengertian-pengertian: pendidikan dan ilmu pendidikan; pendidikan dan sekolah; dan pendidikan sebagai aktifitas sepanjang hayat. Komponen-komponen pendidikan yang meliputi: tujuan pendidikan, pendidik, peserta didik, kurikulum dan metode pembelajaran.

  1. Tujuan Pendidikan

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian ringkasan materi di atas, bahwa Tujuan Pendidikan Naional menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pada periode 2010-2014, Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan visi terselenggaranya layanan prima pendidikan nasional untuk membentuk insan indonesia cerdas komprehensif. Insan Indonesia cerdas komprehensif adalah insan yang cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual dan cerdas kinestetis.Untuk mewujudkan visi tersebut, Kementerian Pendidikan Nasional menetapkan lima misi yang biasa disebut lima (5) K, yaitu; ketersediaan layanan pendidikan; keterjangkauan layanan pendidikan; kualitas/mutu dan relevansi layanan pendidikan; kesetaraan memperoleh layanan pendidikan; kepastian/keterjaminan memperoleh layanan pendidikan.

  1. Pentingnya Pendidik Memahami Hakekat Pendidikan

Peran pendidik merupakan peran yang amat penting dalam proses belajar, keberadaan guru tentunya memberikan inspirasi, pribadi panutan, teladan sikap, penyedia dan pencipta suasana belajar yang kondusif bagi muridnya.

  • Hakekat pendidikan adalah proses aktif mengembangkan diri sebagai pribadi, anggota masyarakat dan sebagai makhluk Tuhan.
  • Jadi pentingnya pendidik memahami hakekat pendidikan adalah sebagai pengendalian. Pengendalian dalam hal ini diartikan, sejak mulai dari awal adalah pemandirian subjek didik
  • Agar pendidik memiliki tanggung jawab belajar kepada peserta didik, untuk terwujudnya kemandirian setahap demi setahap
  • Agar pendidik memiliki keterlibatan mental subjek didik yang maksimal didalam aktualisasikan pengaman belajar
  • Agar pendidik memahami konsep cara belajar siswa aktif ( CBSA ) yang bertujuan untuk peningkatan martabat kemanusiaan yang didasarkan kepada asas pancasila untuk mencapai tujuan pendidik nasional
  • Agar pendidik dapat lebih mudah dalam membantu peserta didik, mendorong serta memberikan kemudahan untuk mengembangkan dirinya
  1. Batasan Tentang Pendidikan

Dibawah ini dikemukakan beberapa batasan pendidikan yang berbeda berdasarkan fungsinya:

  1. Pendidikan sebagai proses transformasi budaya

Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi lain. Seperti bayi lahir sudah berada dalam suatu lingkungan budaya tertentu. Didalam lingkungan masyarakat dimana seorang bayi dilahirkan telah terdapat kebiasaan-kebiasaan tertentu, larangan-larangan dan anjuran, dan ajakan tertentu seperti yang dikehendaki oleh masyarakat. Hal-hal tersebut mengenai banyak hal seperti bahasa, cara menerima tamu, makanan, istirahat, bekerja, perkawinan, bercocok tanam, dan seterusnya.

Nilai-nilai kebudayaan tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada 3 bentuk transformasi yaitu, nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain, yang kurang cocok diperbaiki, misalnyatata cara pesta perkawinan, dan yang cocok diganti misalnya pendidikan seks yang dahulu ditabukan diganti dengan pendidikan seks melalui pendidikan formal.

Dengan menyadari bahwa sistem pendidikan itu merupakan subsistem dari sistem pembangunan nasional maka misi pendidikan sebagai transformasi budaya harus sinkron dengan beberapa pernyataan GBHN yang memberikan tekanan pada upaya pelestarian dn pengembangan kebudayaan, yaitu sebagai berikut ( BP. 7. 1990 : 109 – 110 )

1). Kebudayaan nasional yang berlandaskan pancasila adalah perwujudan cipta, rasa, dan karsa bangsa Indonesia

2). Kebudayaan nasional yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa harus terus terpelihara, terbina, dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak bagi perwujudan cita-cita bangsa di masa depan

3). Perlu ditumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengangkat nilai-nilai sosial budaya daerah yang luhur serta menyerap nilai-nilai dari luar yang positif dan yang diperlukan bagi pembaruan dalam proses pembangunan

4). Perlu terus diciptakan suasana yang mendorong tumbuh dan berkembangnya disiplin nasioanal serta sikap budaya yang mampu menjawab tantangan pembangunan dengan dikembangkan pranata sosial yang dapat mendukung proses pemantapan budaya bangsa

5). Usaha pembaruan bangsa perlu dilanjutkan disegala bidang kehidupan, bidang ekonomi, dan bidang sosial budaya.

  1. Pendidikan sebagai proses pembentukan  pribadi

Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik.

Proses pembentukan pribadi meliputi dua sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa  oleh mereka yang belum dewasa, dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri. Yang terakhir ini disebut pendidikan diri sendiri (zelf vorming). Kedua-duanya bersifat alamiah dan menjadi keharusan. Bayi yang baru lahir kepribadiannya belum terbentuk, belum terbentuk, belum mempunyai warna dan corak kepribadian yang tertentu. Ia baru merupakan individu, belum suatu pribadi. Untuk menjadi suatu pribadi perlu mendapat bimbingan, latihan-latihan, dan pengalaman melalui bergaul dengan lingkungannya, khususnya dengan lingkungan pendidikan.

Bagi mereka yang sudah dewasa tetap dituntut adanya pengembangan diri agar kualitas kepribadian meningkat serempak dengan meningkatnya tantangan hidup yang selalu berubah. Dalam hubungan ini dikenal apa yang disebut pendidikan sepanjang hidup. Pembentukan pribadi mengcakup pembentukan cipta, rasa dan karsa (kognitif, afektif, dan psikomotor) yang sejalan dengan pengembangan fisik.

  1. Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara

Pendidikan sebagai penyiapan warga negara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik. Tentu saja istilah baik disini bersifat relatif, tergantung pada tujuan nasional dari masing-masing bangsa, oleh karena masing-masing bangsa mempunyai falsafah hidup yang berbeda-beda.

Bagi kita warga negara yang baik diartikan selaku pribadi yang tahu hak dan kewajiban sebagai warga negara, hal ini ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 27 yang menyatakan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintah dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tak ada kecualinya.

  1. Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja

Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar untuk bekerja.

  1. ESENSI PENDIDIKAN SEPAJANG HAYAT

Menurut Cropley, PSH didefinisikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman pendidikan, pengorganisasiannya dan penstrukturan ini diperluas mengikuti seluruh rentang usia dari usia paling muda sampai usia paling tua.

Selain itu, pengertian pendidikan sepanjang hayat merupakan saluran pembelajaran sepanjang hidup utama bagi seorang individu, sehaluan dengan sistem pendidikan negara dari peringkat prasekolah, sekolah rendah, sekolah menengah, prauniversitas dan seterusnya pengkajian tinggi, malah PSH merupakan tonggak ke 3 dalam pembangunan modal insan berpengetahuan dan kemahiran tinggi selain dari pendidikan asas dan pendidikan tertiari negara. Secara umum, pendidikan sepanjang hayat adalah sebuah sistem pendidikan yang dilakukan oleh manusia ketika lahir sampai meninggal dunia. Dalam pengertiannya bahwa pendidikan tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetap berlanjut sepanjang hidupnya. Seperti kata pepatah “tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat”. Pendidikan sepanjang hayat menjadi semakin tinggi urgensinya pada saat ini karena manusia terus menerus menyesuaikan diri supaya dapat tetap hidup secara wajar dalam lingkungan masyarakat yang selalu berubah.

  1. PENDIDIK

Pendidik atau guru banyak diartikan orang, ada yang mengatakan di gugu lan ditiru (Jawa), yaitu orang yang harus di gugu dan di tiru oleh semua muridnya. Artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan di yakini sebagai kebenaran oleh semua muridnya dan sekaligus untuk diteladani. Adapun definisi guru menurut :

  1. Zakiyah Daradjat

Mengartikan  guru adalah pendidik professional, karena secara inplisit ia telah menerima dan memikul sebagian tanggung jawab orang tua murid ketika menyekolahkan anaknya ke sekolah atau madrasah, berarti telah melimpahkan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru.

  1. Poerwadarminta

Mengartikan guru adalah orang yang kerjanya mengajar.

Guru dalam islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik dengan mengupayakan seluruh potensinya, baik potensi afektif, kognitif maupun potensi psikomotorik dan mampu mandiri secara makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial dalam memenuhi tugasnya sebagai makhluk Allah.

Penyucian, yakni pembersihan, pengembangan dan pengangkatan jiwa kepada pencipta-Nya, menjauhkan diri dari kejahatan dan menjaga diri agar tetap berada pada fitrah Pengajaran, yakni pengalihan berbagai pengetahuan dan aqidah kepada akal dan nurani kaum muslimin agar mereka merealisasikannya dalam tingkah laku kehidupannya.

Pekerjaan Guru adalah mendidik. Mendidik itu merupakan suatu usaha yang amat kompleks, mengingatkan banyaknya kegiatan yang harus diantisipasi untuk membantu anak didik menjadi orang yang dewasa. Kecakapan mendidik mutlak diperlukan, agar  tujuan pendidikan itu dapat tercapai, untuk itu seorang guru benar-benar dituntut untuk bekerja secara profesional. Dengan kata lain guru adalah pekerjaan profesional.

  1. PESERTA DIDIK

Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik ditinjau dari segi fisik maupun dari segi perkembangan mental. Setiap individu memerlukan bantuan dan perkembangan pada tingkat yang sesuai dengan tugas perkembangan setiap anak didik. Peserta didik berbeda menurut kodratnya di mana ia sedang mendapatkan pendidikan. Dalam keluarga yang berfungsi sebagai peserta didik adalah anak, di sekolah-sekolah adalah murid, di masyarakat yaitu anak-anak yang mebutuhkan bimbingan dan pertolongan menurut lembaga yang mengasuh pendidikan tersebut. Dengan demikian pendidikan harus memahami irama perkembangan setiap peserta didik pada tiap-tiap tingkat perkembangan sehingga memungkinkan memberikan bantuan yang tepat dan berdaya guna. Adapun hubungan antara pendidik dan peserta didik itu dalam proses belajar mengajar itulah yang merupakan faktor yang sangat menentukan.

Setiap kegiatan pendidikan sudah pasti memerlukan unsur anak didik sebagai sasaran dari pada kegiatan tersebut. Yang dimaksudkan dengan anak didik di sini adalah anak yang belum dewasa yang memerlukan bimbingan dan pertolongan dari orang lain yang sudah dewasa, guna dapat melaksankan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu yang mandiri.

Sudah di jelaskan bahwa anak pada waktu lahir mendapkan bekal berupa perbuatan sikap yang di sebut insting. Insting tidak banyak berperan dalam kehidupan manusia. Selain itu, juga mendapatkan bekal berupa benih dan potensi yang mempunyai kemungkinan berkembang pada waktunya dan apabila ada kesempatan dan stimulusnya melalui kegiatan pendidikan yang diberikan padanya. Benih atau potensi tersebut dinamakan pembawaan.

Setiap anak didik mempunyai pembawaan yang berlainan. Karena itu pendidik wajib senantiasa berusaha untuk mengetahui pembawaan masing-masing anak didiknya, agar layanan pendidikan yang diberikan itu sesuai dengan keadaan pembawaan masing-masing.

 

  1. Kurikulum

Banyak para ahli yang mendifinisikan kurikulum, yaitu antara lain:

  1. Lewis dan Meil

Kurikulum adalah seperangkat bahan pelajaran, merumuskan hasil belajar, penyediaan kesempatan belajar, kewajiban peserta didik.

  1. Taba

Kurikulum adalah tak peduli bagaimana rancangan detailnya. Suatu kurikum biasanya mengandung suatu kenyataan mengenai maksud dan tujuan tertentu. Ia memberi petunjuk tentang beberapa pilihan dan susunan isinya. Ia menyuratkan pola-pola belajar dan mengajar tertentu, baik karena dikehendaki oleh tujuannya maupun oleh susunan isinya. Akibatnya ia memerluakn suatu program pengevakuasian hasil-hasilnya.

  1. Stratemayer Sc

Dewasa ini kurikulum dianggap sebagai hal yang meliputi bahan pelajaran dan kegiatan kelas yang dilakukan anak dan pemuda; keseluruhan pengalaman di dalam dan diluar sekolah atau kelas yang di sponsori oleh sekolah: dan seluruh pengalaman hidup murid. Adapun batasan yang di terima pedidikan harus menetapkan ke arah ilmu pengetahuan, pengertian-pengertian, kecakapan-kecakapan yang manakah pengalaman-pengalaman yang baru akan dibimbing. Kebijaksanaan ini menentukan kurikulum berhasil diterapkan di sekolah apa tidak.

 

Isi dari program pendidikan adalah segala sesuatu yang di berikan kepada peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan. Isi kurikulum meliputi jenis-jenis bidang studi yang diajarkan dan isi program masing-masing bidang tersebut, jenis-jenis bidang studi yang di tentukan atas dasar tujuan instruksional lembaga pendidikan yang bersangkutan. Isi program suatu bidang studi yang diajarkan sebenarnya adalah isi kurikulum itu sendiri, atau ada juga yang menyebut dengan nama silabus bagi pendidikan di perguruan tinggi. Silabus biasanya dijabarkan kedalam bentuk pokok-pokok bahasan dan sub-sub pokok bahasan, serta uraian bahan pelajaran. Uraian bahan pelajaran inilah yang di jadikan dasar pangambilan bahan dalam setiap kegiatan belajar mengajar di kelas oleh pihak pendidik. Penentuan pokok-pokok dan sub-sub pokok bahsan didasarkan pada tujuan intruksional.

Suatu tujuan tidak akan tercapai dengan mudah tanpa melalui hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan dalam pengembangan kurikulum dikelas antara lain yaitu:

  1. a)  Guru

Guru dalam berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum. Hal ini di sebabkan beberapa hal, pertama: kurang waktu, kedua: perbedaan pendapat antara guru dan kepala sekolah dalam kurikum yang akan diterapkan dan administatornya, ketiga: kemampuan guru yang terbatas.

  1. b)  Masyarakat

Untuk mengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan dari masyarakat baik dalam pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidik atau kurikulum yang sedang berjalan.

  1. c)  Biaya

Untuk mengembangan kurikulum, apalagi yang berbentuk eksepimen baik metode, ini atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit.

 SEGMEN III

TANGGAPAN

 Pengaruh pendidikan dalam kehidupan manusia itu sangat penting karena pendidikan itu sangat bermanfaat bagi kita semua. apalagi pada zaman sekarang ini, pendidikan itu semakin canggih dan modern. Dengan adanya pendidikan di sekolah sehingga kita dapat mempelajarinya dengan baik dan berhubungan langsung dengan hidup dan kehidupan manusia sehingga kita menjadi manusia yang sadar dan bertanggung jawab atas tugas hidup kita sebagai manusia.

1. Apakah isi kurikulum yang relevan dengan pendidikan yang ideal?

Kurikulum merupakan factor yang sangat penting dalam proses pendidikan.Didalam kurikulum tergambar secara jelas dan terencana bagai mana dan apa saja yang harus terjadi dalam proses belajar-mengajar. Menurut M.Arifin kurikulum adalah segala mata pelajaran yang dipelajari dan juga semua pengalaman yang harus diperoleh serta semua kegiatan yang dilakukan oleh anak didik. Oleh karena itu kurikulum harus didesain berdasarkan pada pada pemenuhan kebutuhan manusia didik dan isinya terdiri dari pengalaman yang sudah teruji kebenarannya, pengalaman yang edukatif, eksperimental dan adanya rencana dan susunan yang teratur.

Yang dimaksud pengalaman edukatif adalah pengalaman apa saja yang sejalan dengan tujuan pendidikan menurut prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam pendidikan, yang setiap proses belajar yang ada membantu pertumbuhan dan perkembangan anak didik. Oleh karena itu tidak ada stantar kurikulum yang sentral, universal, melainkan menganut asas fleksibelitas dan terbuka dan senantiasa memperhatikan sifat, sikap peserta didik dan kebutuhannya masing-masing. Selain itu semuanya diharapkan dapat sesuatu dengan keadaan dan kebutuhan komunitas sekolah.

Kurikulum yang terpusat pada pengalaman itu dibentuk dan dihasilkan dari pertanyaan-pertanyaan emosional, motor intlektual, dan social yang selayak mungkin. Oleh sebab itu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berfungsi seperti laboratorium. Kurikulum selalu sebagai rentetan continue suatu eksprimen, dan semua pelakunya ialah guru bersama murid, yang dalam beberapa aspek melakukan fungsi ilmiawan

2. Bagaimana asas penyelenggaraan pendidikan yang baik?

Asas pendidikan merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berfikir, baik pada saat perencanaan maupun pelaksanaan pendidikan. Pandangan terhadap hakikat manusia merupakan tunpuan berfikir utama yang sangat penting dalam pendidikan. Salah satu azas utama pendidikan adalah bahwa manusia itu dapat didik dan dapat mendidik diri sendiri.

Mengingat begitu urgennya pendidikan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, maka penyelenggaraan pendidikan didasarkan pada falsafah hidupnya. Dalam hal ini setiap negara menentukan sendiri dasar dan tujuan penididikannya sesuai dengan falsafah hidupnya. Di negara Amerika Serikat kita jumpai dasar pendidikan demokratis liberal, oleh karena falsafah bangsa dan negaranya adalah demokratis libral. Dan kita jumpai pula tujuan pendidikan yang bersifat demokratis libral sesuai dengan falsafah negaranya.

Di Indonesia, Pendidikan dan pengajaran berdasar atas asas-asas yang termaktub dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Inonesia.

Menurut aliran perenialisme program  pendidikan yang ideal adalah berorientasi pada potensi dasar agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat dapat terpenuhi.

Masalah pendidikan merupakan persoalan yang sangat penting dalam kehidupan. Baik kehidupan keluarga, maupun dalam lingkup berbangsa dan bernegara. Maju  mundurnya suatu bangsa atau negara tergantung pada kualitas pendidikan di negara itu. Oleh karenanya penyelenggaraan pendidikan disuatu negara harus berorientasi pada tujuan pembangunan di negara tersebut.

C. RASIONAL PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT

Mengapa PSH diperlukan?

Akan meningkatkan persamaan distribusi pelayanan pendidikan, memiliki implikasi ekonomi yang menyenangkan, esensial dalam menghadapi struktur sosial yang berubah terdapat alasan-alasan kejuruan untuk menetapkannya akan menghantarkan peningkatan kualitas hidup. Gagasan dasarnya bahwa pendidikan harus dikonsepkan secara formal sebagai proses yang terus menerus dalam kehidupan individu, mulai dari anak-anak sampai dewasa.
1. Alasan Keadilan : Terselenggaranya PSH di kalangan masyarakat dapat menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan terwujudnya keadilan social dan kemakmuran bagi masyarakat yang ada di wilayah tersebut.

  1. Alasan Ekonomi :Tidak dapat dipungkiri, alasan ekonomi merupakan alasan yang sangat vital dalam penyelenggaraan pendidikan.
  2. Alasan Faktor Sosial : Faktor yang berhubungan dengan perubahan peranan keluarga, remaja, dan emansipasi wanita dalam kaitannya dengan perkembangan iptek.
  3. Alasan Perkembangan Iptek : Uraian sebelumnya telah menjelaskan betapa luasnya pengaruh perkembangan iptek dalam semua sektor pembangunan. Meskipun diakui bahwa pengaruh tersebut di dalam dunia pendidikan belum sejauh yang terjadi pada dunia pertanian, industri, transportasi, dan komunikasi. Namun invensinya didalam dunia pendidikan telah menggejala dalam banyak hal.
  4. Alasan Sifat Pekerjaan : Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan iptek disatu sisi dalam skala besar menyita pekerjaan tangan diganti dengan mesin, tetapi tidak dapat dipungkiri disisi yang lain juga memberi andil kepada munculnya pekerjaan-pekerjaan baru yang menyerap banyak tenaga kerja dan munculnya cara-cara baru dalam memproses pekerjaan. Akibatnya pekerjaan menuntut persyaratan kerja yang selalu saja berubah.
  5. Implikasi dan Aplikasi Pendidikan Sepanjang Hayat

Implikasi dan aplikasi  pendidikan seumur hidup pada program pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu:

  1. Pendidikan baca tulis fungsional

Realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal, yaitu:
Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi   anak didik dan Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya.

  1. Pendidikan vokasional

Pendidikan vokasional adalah sebagai program pendidikan diluar sekolah bagi anak diluar batas usia sekolah, ataupun sebagai pendidikan formal dan non formal, sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang produktif menjadi sangat penting. Namun yang lebih penting ialah bahwa pendidikan vokasional ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai.dengan terus berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi serta makin meluasnya industrialisasi, menuntut pendidikan vokasiaonal itu tetap dilaksanakan secara kontinue.

Diakui bahwa diera globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinue (lifelong education). Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari azas pendidikan seumur hidup.

 SEGMEN IV

KESIMPULAN

Suatu pendidikan di mulai dari keberadaan manusia pada zaman primitif  sampai zaman modern (masa kini), bahkan selama masih ada kehidupan manusia didunia pendidikan akan tetap berlangsung karena itu adalah hakikat manusia dalam kehidupannya.

Dalam pendidikan ada 1). Tujuan pendidikan yaitu: mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 2). Pendidik atau guru banyak diartikan orang, ada yang mengatakan di gugu lan ditiru (Jawa), yaitu orang yang harus di gugu dan di tiru oleh semua muridnya. Artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan di yakini sebagai kebenaran oleh semua muridnya dan sekaligus untuk diteladani.3). Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang baik ditinjau dari segi fisik maupun dari segi perkembangan mental.4). kurikulum adalah rumusan, tujuan mata pelajaran, garis besar pokok bahasan penilaian dan perangkat lainnya.5). metode pembelajaran.

Adapun kesimpulan yang dapat kami paparkan berdasarkan pembahasan sebelumnya, antara lain:

  1. Hakikat pendidikan tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab urusan utama pendidikan adalah manusia, wawasan yang dianut dalam pendidikan dalam hal ini guru, tentang manusia akan mempengaruhi strategi atau metode yang digunakan dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
  2. Pendidikan sepanjang hayat merupakan saluran pembelajaran sepanjang hidup utama bagi seorang individu, sehaluan dengan sistem pendidikan negara dari peringkat prasekolah, sekolah rendah, sekolah menengah, prauniversitas dan seterusnya pengkajian tinggi, malah PSH merupakan tonggak ke 3 dalam pembangunan modal insan berpengetahuan dan kemahiran tinggi selain dari pendidikan asas dan pendidikan tertiari negara.
  3. Adapun unsur-unsur pendidikan seperti tujuan, pendidik, subjek pendidik, isi/materi pendidikan, alat, dan lingkungan itu saling mempengaruhi dan saling berinteraksi sesamanya.

B.Saran

Makalah ini dibuat dari beberapa sumber buku yang berkaitan dengan judul makalah ini. Namun penyusun menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Banyak kekurangan-kekurangan yang ada dalam makalah ini karena berbagai keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan sumber referensi maupun keterbatasan pengetahuan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik para pembaca untuk memperbaiki makalah ini agar lebih baik lagi

 DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama RI, Kendali Mutu Pendidikan Agama Islam, Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 2001

Dirjen Pend.Islam Departemen Agama RI, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas

Dradjat Zakiah, dkk, Ilmu Pendidikan Islam, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, 1996

Hamid Ahmad Syarif, Pengembangan Kurikulum, PT.Bina Ilmu, Jakarta, 1996

Indrakusuma Amir Daien, Pengantar Ilmu Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya,

Jalaluddin, Prof.Dr. dan Abdullah Idi, M.Ed. Dr. Filsafat Pendidikan (Manusia, Filsafat dan Pendidikan), Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, 2009

Maunah Binti, Dr. M.Pd. Ilmu Pendidikan, Sukses Offset, Yokyakarta, 2009

Mulyasa, H.E. Prof. Dr. M.Pd. Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru dan Kepala Sekolah, Bumi Aksara, Jakarta, 2009

Noor syam Muhammad, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya,Cet.4, 1988

Ramayulis, Prof.Dr.H.dan Samsul Nizar, Dr. MA. Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, Kalam Mulya, Jakarta, 2009

Swarno, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta, Aksara Baru, 1985

Mudyahardjo, Redja. 2004. Filsafat Pendidikan: Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Saifullah, Ali. 2004. Antra Filsafat dan Pendidikan. Surabaya: Usaha Offset Printing.

Jalaluddin. 2002. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Ahmadi, Abu dan Joko Triprasetyo, 2005, Strategi Belajar Mengajar, Bandung :   Pustaka setia.

Al Syaibani, Omar Mohammad, 1979, Falsafah Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang.

www.filsafatpendidikanblogs.com

Shahrun Syahmir.1991.Dasar-Dasar Pendidikan.Jakarta

Share Button
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Protected by WP Anti Spam